Indonesia
NovelToon NovelToon
Penyesalan Suami: Istriku Ternyata Seorang Konglomerat

Penyesalan Suami: Istriku Ternyata Seorang Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: Hernn Khrnsa

Kinara rela meninggalkan status sebagai anak konglomerat demi bisa menikah dengan kekasih hatinya. Ia rela hidup susah, menemani dari nol dan berjuang bersama dengan sang suami hingga sukses. Namun nyatanya semua pengorbanan itu tidak membuat kehidupan rumah tangga Kinara baik-baik saja. Setelah 5 tahun membina rumah tangga bersama, Rashid justru tega mengkhianatinya. Kinara ditalak dan dibuang begitu saja seperti barang yang tak lagi berguna.

Tak terima dikhianati, Kinara bertekad untuk membalas semua perbuatan mantan suami dan juga selingkuhannya. Mampukah Kinara kembali ke keluarga Santoso dan membalaskan dendam sakit hatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 — Memilih Pergi

Rashid terbangun dengan kepala berdenyut hebat. Ia mengerang pelan, lalu memijat pelipisnya yang terasa nyeri. Mulutnya kering, tenggorokannya terasa pahit, sementara kepalanya seolah dipenuhi ribuan jarum yang menusuk setiap kali ia mencoba bergerak.

Ia memejamkan mata kembali selama beberapa detik sebelum akhirnya memaksakan diri untuk duduk. Pemandangan di sekelilingnya perlahan terlihat jelas. Ia masih berada di sofa ruang keluarga, dengan jas kusut tergeletak di lantai dan gelas kosong di atas meja.

Rashid mengusap wajahnya kasar. “Sial. Aku benar-benar mabuk berat semalam,” gumamnya dengan suara serak dan berat. 

Dengan pandangan yang masih terasa berkunang-kunang, ia mencoba mengingat apa yang terjadi setelah meninggalkan pesta Santoso Group. Tetapi, ingatannya terputus-putus. Ia hanya ingat dirinya pergi ke dalam keadaan marah, menuangkan minuman ke dalam gelas, lalu terus menenggak alkohol seolah berharap semua kekacauan dalam hidupnya bisa menghilang begitu saja.

Namun, semakin keras ia mencoba mengingat, semakin banyak potongan kejadian yang bermunculan.

Kilas kejadian dirinya dan Marissa tiba-tiba melintas di benaknya, disusul bayangan pertengkaran mereka di pesta semalam. Rashid masih bisa mengingat tatapan penuh kemarahan Marissa setelah dirinya menampar perempuan itu di depan banyak orang. Ia juga mengingat bagaimana Marissa membalasnya tanpa ragu.

Rashid mengembuskan napas kasar. Ia tidak tahu apakah Marissa sudah bangun atau masih berada di kamar. Namun, ia tidak memiliki keinginan untuk kembali berdebat dengannya pagi ini. Kepalanya terlalu sakit, tubuhnya terlalu lelah, dan pikirannya sudah cukup kacau tanpa harus mendengar keluhan perempuan itu.

Ia bangkit dari sofa dengan sedikit terhuyung, berniat naik ke lantai atas untuk membersihkan diri. Namun, langkahnya terhenti ketika terdengar suara roda koper bergesekan dengan anak tangga.

Rashid mengangkat kepala dan langsung melihat Marissa sedang menuruni tangga sambil menarik sebuah koper besar. Wajahnya tampak pucat, matanya sembab, dan rambutnya hanya diikat seadanya. Ia mengenakan pakaian sederhana dengan sebuah tas tersampir di bahunya.

Untuk beberapa saat, Rashid hanya memandanginya dengan dahi berkerut. "Apa yang sedang kau lakukan? Kenapa kau membawa kopermu? Kau mau pergi ke mana pagi-pagi begini?"

Marissa tidak menjawab. Ia terus menuruni tangga, seolah tidak mendengar pertanyaan itu.

"Marissa!" panggil Rashid lebih keras.

Perempuan itu akhirnya berhenti di anak tangga terakhir. Tatapannya beralih kepada Rashid, tetapi tidak ada sedikitpun kehangatan di sana.

"Apa yang sedang kulakukan? Apa kau tidak bisa melihatnya?" balasnya dingin. "Aku mau pergi dari rumah ini, jangan coba-coba menghalangiku."

Rashid terdiam sesaat, mencoba mencerna jawaban tersebut. "Apa? Kau mau pergi? Kau mau ke mana dengan perut besar itu?" tanyanya dengan nada merendahkan. 

Marissa menatap perutnya sendiri yang kian membesar. "Itu bukan urusanmu."

Jawaban itu membuat rahang Rashid mengeras. Ia melangkah mendekat, mengabaikan kepalanya yang kembali berdenyut. "Kau pikir kau bisa pergi begitu saja dari rumah ini? Kau benar-benar lancang dan bertingkah sesukamu!"

Marissa tertawa hambar. "Bukankah itu yang selalu kau lakukan kepadaku? Memangnya hanya kau yang bisa bersikap sesukamu? Aku juga bisa, Rashid! Setelah semua hal yang kau lakukan kepadaku, kau berharap aku tetap berada di sini seolah tidak terjadi apa-apa?"

"Jangan mulai membuat keributan pagi-pagi begini. Kepalaku sakit." Rashid berkacak pinggang, lalu memijit pelipisnya lagi. 

"Bagus. Berarti kau masih bisa merasakan sakit." Marissa menatapnya tajam. "Sekarang, minggirlah. Aku tidak ingin menghabiskan waktuku lebih lama lagi di rumah ini."

Rashid berdiri menghalangi jalan menuju pintu utama.

Ia tidak pernah membayangkan Marissa akan benar-benar berkemas dan meninggalkannya. 

Perempuan itu selalu berada di sisinya, selalu menuntut perhatian, dan selalu berusaha memastikan dirinya mendapatkan apa yang diinginkan. Meskipun hubungan mereka belakangan dipenuhi pertengkaran, Rashid mengira Marissa akan tetap bertahan.

Namun, melihat koper besar di tangan perempuan itu, ia mulai menyadari bahwa kali ini Marissa mungkin benar-benar berniat pergi. Entah mengapa, kenyataan itu justru membuat kemarahannya semakin membesar. Ia tak mau egonya terluka untuk kesekian kalinya. 

Kinara telah pergi, dan kini Marissa juga ingin meninggalkannya. Semua orang seolah bisa dengan mudah memutuskan untuk pergi, sementara dirinya harus menghadapi kehancuran yang ditinggalkan satu demi satu.

"Jadi, sekarang kau juga ingin meninggalkanku?" tanyanya dengan suara rendah.

Marissa menatapnya tidak percaya. "Kau masih berani bertanya seperti itu setelah apa yang kau lakukan kepadaku semalam?"

"Semalam? Memangnya apa yang kulakukan?" Rashid mendengus. 

“Kau tidak ingat?” 

Rashid menolak untuk mengingatnya. “Yang aku ingat, kau mempermalukanku di pesta itu! Kau berteriak di depanku, dan membuat semua orang melihat kita seperti sepasang orang bodoh!"

"Dan siapa yang memulainya?" tantang Marissa, melepaskan genggamannya pada koper lalu menatap Rashid dengan berani. "Kau yang menamparku lebih dahulu, Rashid! Di depan banyak orang! Kau bahkan tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan siapa pria yang kau lihat sedang berbicara denganku."

Rashid terdiam sejenak, tetapi hanya untuk mengalihkan pandangannya dengan kesal. Ia masih ingat pria itu. Tetapi, mengakui kesalahannya terasa begitu sulit, terutama ketika pikirannya sendiri sedang dipenuhi kemarahan dan penyesalan yang tidak tahu harus dilampiaskan kepada siapa.

"Kalau kau tidak bertingkah mencurigakan, aku tidak akan bereaksi seperti itu."

Marissa menatapnya seolah baru saja mendengar sesuatu yang paling menyakitkan. "Jadi, sekarang kau menyalahkanku?"

“Memang kau yang salah! Jika saja kau tidak bertingkah seperti wanita murahan di pesta itu, aku pasti tidak akan kehilangan kendali dan menamparmu!” Sentak Rashid, tak terima disalahkan. 

"Kau selalu saja seperti itu!" Suara Marissa mulai meninggi. "Kau tidak pernah mau mengakui kesalahanmu sendiri. Kau bisa berselingkuh dari Kinara, menceraikannya, lalu bersikap seolah perempuan itu yang bersalah karena tidak mau kembali kepadamu. Kau juga bisa memperlakukanku sesukamu, kemudian menyalahkanku setiap kali sesuatu tidak berjalan sesuai keinginanmu!"

Nama Kinara membuat ekspresi Rashid berubah seketika. "Jangan bawa-bawa Kinara!"

"Kenapa? Kenapa tidak boleh? Kau tidak suka mendengar namanya?" Marissa tertawa getir. "Atau kau takut aku mengatakan sesuatu yang memang sudah kau ketahui sejak lama?"

"Diam!" teriak Rashid kencang. Matanya berkilat marah dengan rahang mengatup rapat. 

Marissa menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Kau masih mencintainya, bukan?” 

“Ya! Aku masih mencintainya dan menyesal sudah menceraikannya demi wanita tak tahu diri sepertimu!” maki Rashid jujur, matanya tak berbohong. “Andai kau tidak datang kepadaku dan menggodaku, Kinara pasti masih menjadi milikku sekarang!” 

Marissa menatapnya tak percaya, air matanya jatuh tanpa diminta. Semua ucapan Rashid benar-benar menghancurkan hati dan juga harga dirinya hingga ke titik terendah. "Baiklah, jika kau masih mencintainya, kembalilah padanya sekarang."

Rashid tertawa getir, suara tawanya terdengar hingga ke seluruh ruangan. "Kau pikir semudah itu memintanya kembali sekarang? Apa kau tak tahu siapa dia sekarang?"

1
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
semoga mereka selamat 😣
Dini Anggraini
ini pasti do'a Kirana dan air mata Kirana yang telah jatuh terlalu banyak mangkanya rumah tangga pelakor dan rasyid gak berkah ada saja cobaannya kak. 🥰
Dini Anggraini: kinara kak salah ketik saya 🙏
total 1 replies
Lee Mba Young
laki tukang selingkuh itu kl bikin Salah dng jalang nya selalu minta maaf.
tp kl bikin Salah dng istri sah gk pernh minta maaf.

gedek banget semoga karma nya makin menyakit kan buat Rasyid Dan Marisa
Lee Mba Young
gk seru jalang gk keguguran. hrse keguguran trus gk bisa hamil lagi 🔥 biar nnti Rasyid selingkuh 🤣.

cm gitu tok gk seru banget.
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Cerita yg sangat menyentuh 👍🏻👍🏻👍🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
waduh 😣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kau tidak bisa
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
tidak akan bisa 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Rasakan 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
🥺🥺🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
itu kesalahanmu sendiri 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
baru sadar ya 🤣🤣🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
mengacak rambutnya
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sembarangan, bertemu ortu lah 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Rasain 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kinara
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Lihat sendiri kan kelakuannya 🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kau hanya akan mendapat malu 😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!