Indonesia
NovelToon NovelToon
CINTAKU DI PRAMBANAN

CINTAKU DI PRAMBANAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Kutukan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

NOVEL INI ADALAH FIKSI (Alternate Universe) DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT

Haruma dan Harumi, dua kakak beradik yang kini sudah kuliah semester 5 di salah satu universitas yang cukup ternama di Indonesia, tak lama lagi akan mengikuti sebuah lomba seni drama yang bertempat di Candi Prambanan.

Lomba itu mengangkat tema tentang kisah cinta Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang.

Akan tetapi, momen perlombaan yang diikuti oleh Haruma-Harumi justru akan menjadi sebuah pertunjukan yang MENUMPAHKAN DARAH MANUSIA ATAS NAMA DENDAM.

Seolah, kutukan Bandung Bondowoso kepada Roro Jonggrang, menimbulkan kutukan mengerikan.

Apa yang akan terjadi dengan Harumi saat tampil di atas panggung sakral di depan Candi Prambanan itu?

Dan apa yang akan dilakukan oleh Haruma?
.
.
.
DISCLAIMER‼️

Jika ada unsur sejarah, latar tempat, seni, budaya, nama tokoh, ritual, kepercayaan, dan mitos yang sama dengan kehidupan nyata, itu semua murni hanya untuk dijadikan bagian dalam cerita saja.

SELAMAT MEMBACA... ☺

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30 MENUJU TEMPAT MBAH KLIWON LAGI

Malam beranjak semakin pekat di kediaman Zaki. Suasana ruang tamu yang tadinya dibalut histeria perlahan-lahan mengendap menjadi keheningan yang serba canggung dan mencekam.

Harumi telah dipindahkan ke kamarnya di lantai atas, tertidur lelap setelah Zaki dan Nisa membimbingnya membaca doa dan memastikan pintu serta jendela kamar dikunci rapat dari luar. Nisa memilih untuk berdiam di samping tempat tidur putri bungsunya, mengusap kepala Harumi yang sesekali masih mengigau gelisah.

Di ruang tamu, Yuda berdiri di depan cermin berbingkai kayu jati di dekat pintu utama. Kain kompres dingin yang diberikan Zaki perlahan ia jauhi dari lehernya. Di atas kulit leher Yuda yang pucat, memar kebiruan berbentuk cengkeraman lima jari manusia terlihat semakin jelas, membengkak dan meninggalkan rasa panas seperti terbakar.

Dion melangkah mendekati Yuda dari belakang, menyandarkan tubuhnya pada kusen pintu dengan kedua tangan terlipat di dada. Matanya menatap leher sahabatnya dengan raut wajah sangat cemas.

"Masih sakit banget, Yud?" tanya Dion dengan suara rendah, takut suaranya terdengar sampai ke lantai atas.

Yuda meringis pelan, memegang bagian samping lehernya yang ngilu setiap kali ia menelan ludah. "Nyeri, Yon. Tapi yang bikin gue lebih merinding bukan rasa sakit fisiknya."

"Tapi kenyataan kalau Harumi benar-benar berniat bunuh lo tadi?" tebak Dion, menaikkan sebelah alisnya.

Yuda menggelengkan kepala, lalu berbalik menatap Dion lurus-lurus. "Bukan Harumi. Gue lihat sendiri pas matanya berubah hitam total. Itu makhluk yang sama kayak yang ngelempar kita di ruang sekretariat. Makhluk itu sadar kalau kita lagi nyari jalan buat menyegel dia. Dia tahu kita ketemu Mbah Kliwon."

Dion mendesah berat, mengusap wajahnya yang masih menyisakan bekas keringat dingin. Ia menarik sebuah kursi kayu dan duduk di hadapan Yuda.

"Itu sebabnya gue panggil lo ke sini, Yud," bisik Dion dengan nada sangat serius. "Gue punya firasat buruk. Serangan di kampus tadi siang bukan sekadar amukan acak. Itu pesan peringatan. Iblis itu mulai panik karena waktu kita tinggal sedikit sebelum pagar gaib Haruma runtuh total."

"Maksud lo gimana, Yon?" Yuda memajukan posisinya, memfokuskan perhatian pada Dion.

"Kita nggak bisa nunggu sampai besok pagi buat nemuin Mbah Kliwon lagi," tegas Dion. "Kita harus balik ke Klaten malam ini juga. Kita harus cerita soal serangan tadi siang dan ancaman iblis itu yang mau memanfaatkan Harumi buat membunuh lo. Mbah Kliwon harus tahu kalau iblis dari Prambanan itu udah bisa ngendaliin fisik Harumi secara penuh, bahkan di tempat umum yang terang benderang."

Yuda mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Pikiran pemuda itu berputar cepat. Ucapan Dion ada benarnya. Menunda perjalanan hingga besok pagi sama saja memberikan waktu bagi sang iblis untuk menyusun rencana serangan berikutnya—yang mungkin jauh lebih mematikan dari sekadar cekikan di taman kampus.

Zaki melangkah turun dari tangga kayu. Langkah kakinya yang berat mengalihkan perhatian Yuda dan Dion. Pria paruh baya itu tampak sangat lelah, garis-garis keriput di sekitar matanya semakin mempertegas beban batin yang sedang memikul keselamatan dua putri kembarnya.

"Bagaimana kondisi Harumi di atas, Pak?" tanya Yuda cepat.

Zaki menghela napas panjang, mendudukkan dirinya di sofa tunggal. "Sudah tidur nyenyak setelah diminumkan air doa sisa dari Dion tadi. Tapi Ibunya tidak mau turun, dia memilih menjaga Harumi di kamar." Zaki menatap Yuda dan Dion bergantian. "Saya tadi mendengar percakapan kalian. Kalian benar-benar mau kembali ke Klaten malam-malam begini?"

"Harus, Pak Zaki," jawab Dion mewakili Yuda. "Kejadian tadi siang membuktikan kalau makhluk itu tidak lagi sembunyi-sembunyi. Kita butuh arahan Mbah Kliwon secepatnya sebelum besok kita mengambil pisau pusaka di kantor polisi."

Zaki menatap Yuda dengan pandangan penuh rasa khawatir. "Perjalanan ke Klaten lewat jalur pedalaman itu sangat sepi kalau sudah lewat jam sembilan malam, Nak. Ditambah lagi aura gaib yang menyelimuti keluarga kita sedang sangat pekat. Jalanan malam bisa sangat berbahaya untuk kalian berdua."

"Saya tahu bahayanya, Pak," timpal Yuda dengan mata menyala oleh tekad yang tak tergoyahkan. "Tapi makin lama kita menunda, keselamatan Harumi dan Haruma makin terancam. Saya nggak takut sama rintangan di jalan. Saya cuma takut kalau saya terlambat menyelamatkan Harumi."

Melihat kekuatan tekad di mata pemuda yang berada di hadapannya, Zaki hanya bisa mengangguk pelan. Ia menyadari bahwa di balik tubuh Yuda yang biasa saja, terdapat keberanian luar biasa yang menjadi benteng utama bagi putrinya.

"Baiklah kalau itu keputusan kalian," Zaki berdiri, melangkah ke meja kecil di dekat lemari dan mengambil sebuah kunci mobil. "Pakai mobil saya saja. Jangan pakai sepeda motor malam-malam begini. Udara dingin dan risiko serangan di jalan jauh lebih besar kalau kalian naik motor."

Yuda dan Dion saling bertukar pandang sejenak sebelum Yuda menerima uluran kunci mobil dari tangan Zaki.

"Terima kasih banyak, Pak. Kami janji akan kembali sebelum subuh," ucap Yuda mantap.

"Hati-hati di jalan, Yuda, Dion," pesan Zaki seraya menepuk bahu kedua pemuda itu. "Gunakan doa apa saja yang kalian hafal. Kalau ada sesuatu yang aneh di jalan, jangan pernah berhenti."

"Siap, Pak," balas Dion.

.....

.....

Pukul sepuluh malam lewat sedikit, sebuah SUV hitam milik Zaki bergerak perlahan membelah keheningan jalanan kota Yogyakarta. Yuda memegang kemudi dengan kedua tangan mencengkeram erat setir, sementara Dion duduk di kursi penumpang depan, memegang peta jalan cetak dan sebuah senter besar.

Setibanya di jalan raya Solo-Yogyakarta yang menghubungkan Kabupaten Sleman dan Klaten, suasana jalanan mendadak berubah drastis. Truk-truk kontainer besar sesekali melintas dengan raungan mesin yang memecah malam, namun jumlah kendaraan pribadi bisa dihitung dengan jari. Lampu-lampu penerangan jalan umum yang remang-remang memancarkan cahaya kuning kemerahan, menciptakan bayangan-bayangan panjang pepohonan di tepi jalan yang tampak seperti deretan raksasa sedang berdiri berbaris.

Di dalam kabin mobil, hening menjebak mereka berdua. Hanya ada suara deru mesin dan gesekan roda karet dengan aspal basah sisa hujan sore tadi.

"Yud," panggil Dion, memecah keheningan seraya menoleh ke arah jendela samping.

"Kenapa, Yon?" sahut Yuda tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan lurus di hadapannya.

"Lo ngerasa aneh nggak sama udara malam ini?" tanya Dion. Ia memajukan tubuhnya, menempelkan telapak tangannya pada kaca jendela. "AC mobil Pak Zaki padahal cuma disetel di angka satu, tapi kaca jendela samping ini dingin banget. Kayak ada es yang ditempelin dari luar."

Yuda melirik singkat ke arah pendingin udara di dashboard. Indikator suhu menunjukkan angka normal, namun rasa dingin yang menusuk perlahan-lahan mulai merayapi pergelangan kakinya.

"Fokus aja, Yon. Kita sebentar lagi lewat daerah sekitar Candi Prambanan," ujar Yuda, menginjak pedal gas sedikit lebih dalam untuk menambah kecepatan mobil.

"Justru itu yang bikin gue cemas," gumam Dion seraya memperbaiki posisi duduknya. "Kompleks candi itu kan ada di pinggir jalan raya ini. Mau nggak mau kita harus melintas persis di depan kawasan itu buat menuju ke desa Mbah Kliwon."

Beberapa kilometer kemudian, siluet hitam menara-menara Candi Prambanan mulai membayang di sebelah kiri jalan.

Di bawah naungan langit malam tanpa bintang, tumpukan batu andesit purba itu berdiri megah sekaligus mengerikan, diselimuti oleh kabut tipis keabu-abuan yang bergulung-gulung rendah di atas rerumputan kompleks candi.

Saat mobil yang dikendarai Yuda melintas persis di bagian depan gerbang masuk Candi Prambanan, lampu utama mobil mendadak berkedip-kedip liar.

Bzzzt... Bzzzt...

"Lho? Lampunya kenapa, Yud?!" seru Dion kaget, tangannya refleks mencengkeram sabuk pengaman.

"Gue nggak tahu! Padahal ini mobil baru!" Yuda menepuk-nepuk dashboard mobil dengan panik.

Lampu utama mobil sempat padam total selama dua detik, melempar mereka ke dalam kegelapan yang gulita, sebelum akhirnya menyala kembali dengan cahaya yang tampak lebih redup dari biasanya.

Bersamaan dengan menyalanya kembali lampu mobil, bau busuk yang sangat tajam mendadak menyeruak masuk ke dalam kabin kendaraan yang tertutup rapat itu.

Bau daging membusuk yang dipadukan dengan bau kemenyan terbakar dan amis darah.

"Ugh! Bau apaan ini?! Parah banget!" Dion menutup hidung dan mulutnya dengan kerah kaus, wajahnya menunjukkan rasa mual yang hebat.

"Tahan, Yon! Jangan dibuka kuncinya!" gertak Yuda dengan rahang mengeras. Matanya menatap tajam ke depan melalui kaca depan.

Di luar sana, jalan raya Solo-Klaten yang tadinya merupakan jalan aspal dua jalur yang luas, perlahan-lahan mulai tertutup oleh kabut hitam pekat yang merayap turun dari arah kompleks candi.

Kabut itu begitu tebal hingga jarak pandang lampu mobil anjlok drastis menjadi kurang dari lima meter.

"Pelan-pelan, Yud! Gue nggak bisa lihat jalanan depan!" cicit Dion dengan suara bergetar ketakutan.

Yuda menginjak rem perlahan, mengurangi kecepatan mobil hingga merayap di angka dua puluh kilometer per jam. "Tenang, Yon. Kita tinggal belok kiri di persimpangan depan buat masuk ke jalan desa tempat Mbah Kliwon."

Namun...

Persimpangan jalan desa yang seharusnya berjarak dua ratus meter di depan... TAK KUNJUNG TERLIHAT.

Mobil terus merayap menembus kabut hitam yang semakin memadat. Suara mesin mobil terdengar teredam secara aneh, seolah-olah mereka sedang berkendara di dalam sebuah selubung kedap suara. Jarum jam digital di dashboard mendadak bergerak kacau, angkanya meloncat-loncat tidak beraturan.

"Yud... ini udah lewat lima menit lebih," panggil Dion dengan napas memburu. Tangannya menunjuk ke arah luar jendela. "Harusnya persimpangan desa itu udah kelewat dari tadi!"

Yuda menghentikan mobilnya tepat di tengah jalan. Ia memindahkan tuas transmisi ke posisi netral dan menarik rem tangan. Matanya menyapu kegelapan di luar kaca depan.

"Gak mungkin, Yon. Jalurnya cuma lurus dari Candi Prambanan tadi," desis Yuda.

"Coba lo lihat luar, Yud!" teriak Dion seraya menunjuk ke sisi kiri mobil.

Yuda menoleh ke arah yang ditunjuk Dion. Darahnya seketika membeku.

Di balik kaca jendela samping tempat Yuda duduk, di balik ketebalan kabut hitam yang bergulung-gulung, terlihat siluet gerbang batu Candi Prambanan yang sama persis dengan yang baru saja mereka lewati sepuluh menit lalu.

"Kita cuma muter-muter di tempat..." bisik Yuda dengan tenggorokan kering.

"Penyesatan gaib!" seru Dion histeris. "Iblis itu nggak mau kita sampai ke rumah Mbah Kliwon, Yud! Dia ngunci jalanan ini!"

Belum sempat Yuda merespons ucapan Dion, tiba-tiba sebuah guncangan hebat menghantam bagian belakang mobil SUV tersebut dengan kekuatan yang luar biasa.

BUMMM!!!

Tubuh Yuda dan Dion terdorong keras ke depan, menabrak sabuk pengaman masing-masing. Alarm mobil menjerit nyaring, memecah keheningan malam yang aneh dan dingin.

"Ada yang nabrak kita dari belakang?!" jerit Dion seraya menoleh ke kaca spion tengah.

Namun di kaca spion tengah, tidak ada kendaraan apa pun. Yang terlihat hanyalah gulungan kabut hitam yang kian memadat.

Tiba-tiba...

Suara ketukan perlahan terdengar dari atas atap mobil.

Tugh... Tugh... Tugh...

Suara ketukan itu tidak terdengar seperti ketukan jari manusia, melainkan seperti gesekan kuku-kuku tajam berukuran besar yang sengaja digoreskan di atas pelat besi atap mobil.

Sreeek... Sreeek... Sreeek...

"Di... di atas atap ada sesuatu, Yud..." panggil Dion dengan suara yang nyaris tak terdengar, matanya melotot menatap bagian plafon dalam mobil yang tampak sedikit melekuk ke bawah seolah sedang ditindih oleh beban ratusan kilogram.

Yuda mencengkeram erat kunci mobil di tangannya, dadanya naik turun dengan cepat. "Dion, dengar gue. Jangan pernah keluar dari mobil ini. Apa pun yang lo lihat di luar, tetap duduk!"

"Yud, lihat kaca depan!" bisik Dion penuh teror, jarinya yang gemetar menunjuk ke arah kaca depan mobil.

Dari atas atap mobil, perlahan-lahan sesosok makhluk menggelantungkan tubuhnya ke bawah, muncul tepat di hadapan kaca depan.

Makhluk itu wujudnya menyerupai wanita dengan tubuh yang hancur berdarah-darah, mengenakan sisa-sisa kain kemben Jawa kuno yang terkoyak-koyak. Rambutnya yang panjang, hitam, dan basah oleh cairan kental berbau busuk menjuntai menutupi sebagian besar wajahnya.

Dan saat wanita itu mendongakkan kepalanya, sepasang mata yang seluruhnya berwarna merah menyala menatap lurus ke dalam kabin mobil, tepat ke arah Yuda dan Dion.

Gadis itu menyeringai, memamerkan deretan gigi runcing yang meneteskan darah segar ke atas kaca depan mobil.

CRASH!

Kedua tangan makhluk itu yang berkuku panjang kehitaman menghantam kaca depan mobil SUV tersebut dengan kekuatan besar, menciptakan retakan-retakan bersarang laba-laba yang menjalar cepat di permukaan kaca.

"AAAAAAGHHHH!" Dion menjerit histeris, menutupi kepalanya dengan kedua tangan.

"IBLIS SIALAN!" raung Yuda kalap.

Tanpa membuang waktu, Yuda memindahkan tuas transmisi kembali ke posisi drive, melepas rem tangan, dan menginjak pedal gas dalam-dalam!

VRRRROOOOOMMM!

Mesin mobil mengaum keras. Roda-roda mobil menepis aspal dengan brutal, melesat maju menerobos kabut hitam pekat dan makhluk mengerikan yang bertengger di kaca depan. Makhluk itu meraung marah, suaranya melengking tinggi memecahkan kesunyian malam saat tubuhnya terlempar dari atap akibat akselerasi mendadak kendaraan tersebut.

Namun, rintangan belum berakhir.

Saat mobil melesat dalam kegelapan, pemandangan di depan mereka bukannya membaik, melainkan berubah menjadi seperti lautan api imajiner.

Di sepanjang tepi jalan yang tertutup kabut, puluhan bola api berukuran besar—banaspati—berhamburan melayang di udara, menari-nari liar dan siap menghantam mobil mereka dari segala arah.

"Yud! Bola api, Yud! Hindari!" teriak Dion seraya menunjuk ke arah kiri di mana tiga bola api meluncur cepat menuju kap mobil.

Yuda membanting setir ke kanan dengan liar. Mobil membanting ke samping, berdecit keras di atas aspal basah, nyaris menghantam pohon akasia besar di tepi jalan sebelum Yuda mengoreksi arah kemudi kembali ke tengah.

"Yud, kita bakal mati di sini kalau cuma muter-muter dalam ilusi ini!" jerit Dion, matanya liar mencari celah.

"Dion! Kertas mantra dari Mbah Kliwon!" teringat sesuatu, Yuda berteriak di tengah suara raungan gaib yang mengepung mobil mereka. "Kertas mantra bahasa rahasia Kerajaan Baka di saku jaket gue! Ambil!"

Dion dengan tangan gemetar hebat langsung merogoh saku jaket Yuda, mengeluarkan gulungan kertas lipat bergambar aksara Jawa kuno yang diberikan Mbah Kliwon kemarin.

"Buka jendela sedikit! Bacakan atau lempar kertas itu ke arah luar!" perintah Yuda seraya terus beralih mengendalikan mobil menghindari gempuran bola-bola api gaib yang terus bermunculan.

"Tapi Mbah Kliwon bilang mantra ini cuma boleh dibaca saat ritual di candi, Yud!" bantah Dion ragu.

"Nggak ada waktu lagi, Yon! Kalau kita mati di sini, ritual itu nggak akan pernah kejadian!" bentak Yuda.

Dion menelan ludah. Dengan keberanian yang dipaksakan dari kedalaman keputusasaannya, ia menurunkan kaca jendela samping sejauh tiga jari. Hawa dingin luar biasa dan bau kemenyan busuk langsung menyeruak masuk, memedihkan mata.

Dion menggenggam kertas mantra itu, mendekatkannya ke celah jendela, lalu berteriak dengan nada suara paling lantang yang bisa ia hasilkan.

"DENGAN NAMA SANG PENCIPTA! BUKA JALAN KAMI!" raung Dion, lalu melempar kertas mantra itu ke luar jendela menuju gulungan kabut hitam.

Saat kertas lusuh itu melayang keluar dan menyentuh kabut pekat di luar mobil, sebuah keajaiban spiritual terjadi.

SERRRRRRRR!

Kertas itu mendadak terbakar oleh kobaran api berwarna keemasan yang sangat terang di udara.

Cahaya emas itu meledak bagaikan kilatan petir di tengah malam, memancarkan gelombang kejut spiritual yang menyapu bersih seluruh kabut hitam, bola-bola api banaspati, dan bayangan-bayangan makhluk mengerikan yang mengepung jalanan tersebut.

GWOOOOOONNGGG...!

Suara raungan kesakitan dari puluhan lelembut bergema melengking di udara saat cahaya keemasan itu membakar ilusi penyesatan gaib tersebut.

Dalam hitungan detik, ilusi itu runtuh total.

Kabut hitam menguap tak berbekas, mengembalikan jalan raya Solo-Klaten ke wujud aslinya yang diterangi oleh lampu-lampu jalan. Dan tepat seratus meter di depan kap mobil mereka, papan petunjuk jalan berbahan besi bertuliskan "Desa Karangturi - Pedalaman Klaten" berdiri kokoh di persimpangan jalan desa.

Yuda menginjak rem dengan sekuat tenaga. Mobil SUV itu berhenti mendadak dengan posisi miring beberapa sentimeter dari tiang penunjuk jalan tersebut.

Ckiiiiirrkkk! Suara derit ban mobil mereda.

Kebisingan gaib yang tadinya memekakkan telinga lenyap seketika, digantikan oleh suara rintik hujan gerimis yang mulai turun menimpa atap mobil secara teratur.

Di dalam kabin mobil, Yuda dan Dion cengkeramannya melonggar dari setir dan pegangan pintu.

Keduanya bersandar pada jok mobil, napas mereka memburu hebat seolah baru saja berlari maraton puluhan kilometer. Keringat dingin membasahi seluruh pakaian mereka.

"K-kita... kita lolos, Yud...?" bisik Dion dengan suara tercekat, matanya menatap papan petunjuk jalan desa di depan mereka.

Yuda mengusap dadanya yang naik turun, lalu menoleh ke arah Dion. "Iya, Yon... Kita lolos."

Yuda menatap ke arah jalan desa yang sempit dan gelap di depan mereka. Pohon-pohon bambu rindang menaungi jalan setapak itu, namun di ujung sana, cahaya remang-remang lampu senthir dari rumah Mbah Kliwon tampak menyala tenang, bagaikan mercusuar di tengah lautan kegelapan.

Tanpa membuang waktu lagi, Yuda kembali memindahkan transmisi mobil dan mengarahkan kendaraan itu memasuki jalan desa, menuju rumah sang sesepuh yang kini menjadi satu-satunya tempat berlindung dan sumber jawaban atas pertempuran hidup dan mati mereka.

Beberapa menit kemudian, mobil SUV hitam itu berhenti di halaman rumah kayu limasan milik Mbah Kliwon.

Suasana di sekitar rumah tua itu tampak sangat tenang, seolah-olah gempuran gaib yang baru saja mereka alami di jalan raya tidak pernah terjadi.

Belum sempat Yuda dan Dion mematikan mesin mobil dan melangkah keluar, pintu kayu depan rumah Mbah Kliwon telah berderit terbuka secara perlahan dari dalam.

Mbah Kliwon berdiri di ambang pintu, mengenakan pakaian serba hitam lengkap dengan ikatan kepala batik.

Pria tua renta itu menggenggam sebuah tongkat kayu ukir, matanya yang cekung menatap lurus ke arah mobil Yuda dengan raut wajah yang sangat berat dan penuh keprihatinan.

Yuda dan Dion bergegas keluar dari mobil, melangkah menembus rintik gerimis menuju teras rumah Mbah Kliwon.

"Mbah Kliwon..." panggil Yuda dengan suara parau, menghentikan langkahnya di depan sang sesepuh. "Kami..."

Mbah Kliwon mengacungkan tangan tuanya, memotong ucapan Yuda sebelum pemuda itu selesai berbicara.

"Aku sudah tahu apa yang terjadi pada kalian di jalan tadi, Anak Muda," suara Mbah Kliwon berat dan dalam, menggetarkan hawa dingin malam itu. Ia menatap leher Yuda yang memar kebiruan, lalu beralih menatap Dion. "Dan aku juga sudah merasakan bahwa iblis dari Prambanan itu telah menyentuh raga gadis itu secara utuh siang tadi."

Dion melangkah maju. "Mbah... Harumi nyaris membunuh Yuda di kampus. Iblis itu memerintahkan Harumi buat menggorok leher Yuda kalau Yuda mendekatinya lagi. Bagaimana ini, Mbah? Pagar gaib Haruma di rumah sakit juga hampir habis waktunya!"

Mbah Kliwon menghela napas panjang, memutar tubuhnya perlahan dan berjalan kembali ke dalam rumahnya yang remang-remang.

"Masuklah," panggil Mbah Kliwon dari dalam. "Waktu bercanda kita telah habis. Badai yang sesungguhnya sudah berdiri tepat di depan pintu rumah kalian, dan malam besok... darah harus ditumpahkan di atas tanah Prambanan."

Yuda dan Dion saling bertukar pandang dengan raut wajah tegang, lalu menyusul langkah sang kakek tua menembus kepulan asap kemenyan yang menyambut mereka di dalam ruangan.

1
SecretS
sungguh membuat terkejut kak 🫨aku baru baca lengkap sinopsisnya 😔 aku pikir kutukan nya itu nyata looh, tapi alurnya bagus sih udah serem sih hampir mirip tirakat 3 pas pertemuan Nisa sama gendis. lanjut lagi kak 😄😄
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Satu langkah lagi puncaknya brarti ya... mangats bwt kalian, semoga bisa menyelamatkan rumi dari panglima jin kerajaan baka
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
ini kek doa naik kendaraan apa bepergian yaa, tawaf ruwat
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
ya zaky nya juga knpa kudu di kunci gitu kamarnya trs percaya aja sama Rumi
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Sabar ya Rumi, orang orang terdekat mu sedang berusaha untuk menyelamatkan mu
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Aku kira bakalan ketauan Zaky atw membangunkan panglima jin yg ada di dalam tubuh Harumi
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Klo yudha nggak ada keturunan garis darah Bandung Bondowoso, bisa dipastikan dia udah nggak selamat
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
jangan jangan bener yuda masih ada turunan darah bandung
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Klo semisal rumah nggak nyelametin Rumi, masa iya Rumi mo di kurung trs, nunggu apa? nunggu sii yudha itu kah?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
kata panglima jin yg di tubuh Rumi
akhirnya aku nggak perlu jauh jauh mendatangi sang perisai
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Mangsa yang nyamperin umpan... 😭😭😭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
berat yaa perjuangan sblom berperang berpacu dengan waktu juga.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
nahh bener tuh kata mbah kliwonn jangan nunggu keajaiban murahan tapi... berperang langsung. tapi dengan segala persiapan saya dan upaya ya yud wkwkwk nggak asal perang.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Semoga mbah klien tidak dibelakang kan iblis prambanan itu juga, klo iya ntar nggak ada yg nolongin
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
tebakan aku dari awal ya yudha ini
Ilham
lanjut bg
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Siap, Kak Ilham... 💪💪💪
total 1 replies
My.mitsubishi.triton Adventure X
Kenapa nama tokoh pemerannya sama dengan tirakat tp cerita nya berbeza bahkan tidak ada perewangan milik nisa dn haruma
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Karena novel "CINTAKU DI PRAMBANAN" ini adalah versi Alternate Universe (AU) dari Universe novel "TIRAKAT", Kak...

Jadi cerita utamanya berbeda, namun sebagian besar tokohnya sama.

Semoga Kakak juga suka ya... Dan, terima kasih banyak Kak, sudah komentar... 😍😍😍
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
di babb 20 keatas baru menangkap alur nya wkwkwk
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Iyakah??? Hehehe... 🤭🤭🤭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Bagus, rekomendasi juga buat yang suka bacaan horror.
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: TERIMA KASIH, KAK ASMARA... 😍😍😍
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
iyalah nisa sebagai ibu nggak bakalan diam sama iblis itu, jadi percaya saja harumi biar sulit pasti bisa dilawan
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Hehehe...

"SAYA AKAN LAWAN!!!"
#KataSalahSatuLelakiDariSolo
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
yang ini serem ya apalagi baca nya malem
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ : iyaa serem
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!