Dijadikan ladang emas oleh sang paman. Fio yang semula setuju dijodohkan oleh anak politisi sekaligus pengusaha besar oleh pamannya memilih berontak.
Fio bersekutu dengan Gio, mafia yang ternyata sudah lama memendam perasaan padanya. Hingga, perlahan semua tabir keluarganya terungkap.
"Aku bukan laki - laki yang bisa menyentuh perempuan sembarang. Tapi, aku juga bukan laki - laki yang bisa menahan untuk tidak menyentuh kamu." -Giorgio Abraham-
Sequel Gairah Cinta Sang Pembalap
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elis Kurniasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyihir
“Bi, apa tidak ada obat demam di sini?” Fio mengecek kotak obat yang besar menggantung. Tapi isinya, kosong.
“Tidak ada, Nyonya.”
Fio menari nafasnya kasar. “Masa, kotak sebesar ini tidak ada obatnya. Percuma kalau begitu. Lebih baik diturunkan saja!”
“Ini kotak obat leluhur, Nyonya.”
“Leluhur?” tanya Fio dengan mengernyitkan dahi. “Memang ada leluhur yang meninggalkan kotak obat? Aneh.”
Fio meninggalkan Bibi yang senyum sendiri. Kemudian, perempuan itu menoleh lagi. “Kalau begitu, suruh siapa saja untuk ke apotek sekarang.”
“Baik, Nyonya.”
Dengan patuh dan tidak lupa sedikit membungkuk sebelum pergi, Bibi mencari tukang kebun atau supir pribadi Gio, mengingat Tuannya sedang tidak diluar. Itu artinya, supirnya menganggur.
Lima menit kemudian, pria itu datang ke hadapan Fio dengan sopan.
“Siapa namamu?”
“Sugiyono, Bu. Eh, Mbak. Eh, Nyonya.”
Bibi yang ikut berdiri di sini menatap pria itu dengan membulatkan matanya. Pasalnya, berulang kali dia salah memanggil Fio.
“Panggilanmu? Sugi apa Yono?’ tanya Fio lagi.
“Sugi, Mbak. Eh, Bu. Eh, Nyonya.”
“Sugi! Yang benar kalau bicara!” bentak Bibi pada supir Gio yang terlihat usianya masih sangat muda.
“Mm – Maaf, Nyonya.”
Fio tersenyum. “Iya, tidak apa. Mau panggil saya Mbak, Ibu, ga masalah. Saya akan tetap sama. Rambut saya tetap hitam, mulut saya tetap satu, telinga saya tetap dua, dan jari saya tetap sepuluh.”
Tiba – tiba, Sugi tertawa. “Hahahahaha … Nyonya lucu.”
Namun, hanya dia yang tertawa. Sementara, Bibi dan Fio tidak. Melihat yang lain tidak tertawa, Sugi pun langsung bungkam. Dia menutup mulutnya rapat dan siap untuk menerima perintah.
“Ini, tolong ke apotek sekarang. Semua catatan yang harus di beli ada di sini.”
“Baik, Nyonya.”
Aura Fio tidak kalah dengan suaminya, lalu ia memberikan selembar resep dan sepuluh lembar ratusan ribu pada Sugi.
Sugi menatap uang itu. “Ini tidak kebanyakan, Nya?”
“Kalau masih ada lebih, kamu bisa beli makan untuk yang lain. jangan lupa, untuk Bibi juga.” Fio melirik ke perempuan setengah baya di sebelahnya.
“Siap, Nyonya. Saya jalan sekarang.”
Lalu Sugi mengarahkan matanya ke Bibi. “Mau dibeliin apa, Bi? Somay lima ribu ya.”
Plak
Bibi memukul Sugi. “Lebih banyak begitu, saya Cuma dikasih somay lima ribu? Tega kamu!”
Sugi tertawa dan pergi. Sebelumnya, ia tetap pamit pada Fio dengan sedikit membungkukkan tubuhnya. Fio mengangguk dan tersenyum. Ternyata, pekerja di rumah Gio lucu – lucu. Fio tidak merasa kesepian di sini.
“Nyonya, biar saya bawakan buburnya,” tawar Bibi pada Fio saat perempuan itu hendak kembali ke kamar.
“Tidak usah, biar saya saja. Bibi bisa melakukan pekerjaan lain.”
“Baik.”
“Oh ya.” Dengan membawa nampan di tangannya, Bibi menoleh lagi pada Bibi. “Terima kasih sudah ditawarkan.”
Senyum Bibi mengembang. “Sama – sama, Nyonya.”
Fio meninggalkan asisten rumah tangga yang bukan hanya Bibi di sana. Ada dua perempuan lainnya. Setelah, Fio pergi mereka pun bergunjing.
“Sejak ada Nyonya, rumah ini jadi hidup.”
“Iya, Nyonya juga baik.”
“Iya, selalu bilang tolong kalau nyuruh dan tidak lupa bilang terima kasih.”
“Beruntungnya kita menjadi asisten rumah tangga Tuan Gio.”
Bibi mendengarkan semua perkataan itu dan mengangguk tersenyum karena dia juga termasuk orang yang beruntung.
Kring
Kring
“Bi Nani, teleponnya bunyi,” ucap salah satu asisten yang muda.
Bibi merogoh celemek yang berkantung itu dan menerima panggilan.
“Dia menggunakan pakaian apa?”
“Kerudung cokelat. Kulutnya putih bersih.”
“Apa dia sudah tua?”
“Belum terlalu tua. Bi Ida bilangnya begitu.”
***
Dengan membawa nampan yang berisi bubur ayam buatan tangannya, Fio membuka perlahan pintu kamar. Lalu, duduk di samping Gio yang masih terlentang.
“Gio, ayo makan dulu!”
“Nanti saja,” jawabnya dengan mata tertutup.
Rasanya, Gio masih ingin tidur. Jika seperti ini, biasanya dia akan tidur seharian tanpa gangguan. Tapi, sekarang dia tidak sendiri. Terlebih, Fio orang kesehatan yang tidak bisa melihat orang di sekelilingnya sakit, apalagi suami sendiri.
“Gi, makan dulu. Ini udah jam sepuluh loh. Perutmu belum ke isi. Kamu juga harus minum obat supaya demamnya turun. kalau didiamkan saja, ga akan sembuh. Tidak ada penyakit yang datang tiba – tiba, tapi memang karena pemilik tubuhnya yang tidak siaga.”
“Mana ada …”
“Iya, aku makan.” Gio memotong perkataan Fio yang tak berhenti, jalan terus seperti kereta api.
Seketika, Fio tersenyum. lalu, dengan semangat mengangkat mangkuk. “Nah, gtu dong! Mafia g boleh sakit. Nanti, musuh – musuhmu pada senang dan bersorak.”
Senyum tipis itu terbit. Untuk sesaat, Gio menjadi pria penurut. Mulutnya terbuka saat Fio menyuapinya. Namun, senyum dan tatapan itu tidak luput. Sampai membuat Fio malu.
“Kenapa menatapku begitu?” tanyanya dengan gerakan tangan yang masih menyuapi sang suami.
“Bubur ini buatanmu?” Gio malah balik bertanya.
“Iya. Kenapa? Tidak enak?”
“Enak. Enak sekali. Apa karena dibuat dengan cinta?”
Fio melengos. “Pasien dilarang gombal. Udah, ayo habiskan makanannya!”
Gio tertawa. Meski tawanya tidak bersuara tapi entah mengapa rasa sakitnya tidak terasa.
“Kamu lucu,” ucapnya.
“Aku bukan badut.” Jawaban itu membuat Gio gemas dan menarik pinggang Fio hingga mereka kembali tak berjarak.
“Dan, satu yang aku baru tahu sekarang. Kamu bawel.”
Tok
Tok
Tok
“iya, masuk!” Fio memerintahkan.
Sontak, pegangan tangan Gio di pinggangnya pun melonggar.
“Maaf, Nyonya. Ini obatnya.”
Sugi datang dan menyerahkan jinjingan.
“Oke, terima kasih Sugi.” Fio menerima bungkusan itu dan tersenyum.
“Sudah sana pergi!” pinta Gio pada Sugi usai melihat istrinya tersenyum pada anak muda itu.
“Sugi, ini … Ck, kenapa langsung di suruh pergi sih?”
“Biar saja. Aku tidak suka kamu tersenyum padanya.”
“Ya ampun. Gio. Ini aku mau tanya obatnya ke beli semua apa ngga. Hm!”
Fio kesal, Gio pun tampak cemburu. Hingga mau tidak mau Fio membujuknya. Bukan hanya untuk itu, tapi mengajak Gio untuk minum obat.
“Gio, obatnya belum di minum?”
“Iya, nanti.”
“Sekarang.”
“Nanti, sayang.”
Gio phobia obat. Apalagi, yang berbentuk kapsul. Seumur hidup, dia tidak pernah meminum obat. Hanya obat melalui infus yang bisa dia gunakan.
“Ya udah, aku ke kamar mandi dulu. Jangan lupa, obatnya diminum.”
Gio mengangguk. “Ya.”
Sampai Fio selesai dan keluar dari kamar mandi. Obat yang Fio sisihkan masih terlihat.
“Gio, obatnya belum diminum?”
“Lupa.”
“Ck, kamu! Ayo, minum sekarang!”
“Nanti.”
“Ngga. Pokoknya, sekarang!”
“Sayang.” Gio masih menahan dengan nada tenang. “Biasanya, tidak minum obat pun, aku sembuh. Percayalah.”
“Ngga. Mana ada seperti itu. Ayo, minum!”
“Ngga.”
Mereka berjibaku hanya karena sebuah obat. Tangan Fio ditahan. Akan tetapi, Fio tidak diam. Dia berusaha agar obat itu sampai ke mulut Gio hingga …
“Yah kan jatuh. Kamu sih!”
“Aku tidak suka obat.” Akhirnya, Gio mengatakan.
Fio menatapnya.
“Iya, seumur hidup aku tidak pernah minum obat. Apalagi, yang bentuknya cacing seperti ini.”
Sontak, Fio tertawa. “Tawanya nyaring dan terbahak sampai memegang perutnya. Gio kesal dan mengalihkan pandangan.
“Kalau begitu, bagaimana sebuah ciuman? Kamu suka bibirku kan?”
Pandangan Gio kembali tertuju pada Fio dan ….
Hap
Fio mencium bibir itu hingga kedua mata Gio membulat karena dia merasa menelan sesuatu.
“Fio …”
Fio bangkit dan berlari. “Setelah ini, kamu pasti akan menyukai obat.”
Tring
Fio mengedipkan satu matanya. Biasanya, Gio yang melakukan itu padanya, tapi …
Gio tersenyum dan menggeleng. “Dasar penyihir!”
***
Fio melangkah kembali menuju dapur sembari untuk mengembalikan nampan yang berisi mangkuk kosong. Namun. Langkah kakinya terhenti saat melihat perempuan paruh baya berjilbab cokelat sedang mengedarkan pandangan.
untung fio ga jdi tuh....eh jgn2 tuh bunda ny fio lagi...
ayah anak sama bejatnya...
Alhamdulillah up...
kan secara dia udah lama gak ketemu mama nya
ih tanggung trs sih k? fio ktm sm ibunya
ketemu sama bunda nih ..
lnjut kk...aq ampe.ngebut baca saking ketnglan bnyak😁