Setelah semua berakhir, ternyata masalah baru datang menimpa mereka. Sama seperti kita, mereka juga merasakan tua. Anak-anak para penyelamat desa meneruskan tugas orang tua mereka. Apakah mereka mampu?
Simak kisah mereka!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIMS OFFICIAL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Daijoubu
Beberapa hari setelah peristiwa menyedihkan itu, mereka kembali menjalani hidup normal. Kaito hari itu secara diam-diam kerumah sakit dan ingin menemui Taruzuki.
“Taruzuki-san” panggil Kaito ketika melihat Taruzuki disana, “Ahh Kaito-kun ada apa?” tanya Taruzuki, “Bisa kita berbicara berdua saja sebentar?” tanya Kaito.
Dan akhirnya Kaito memulai topik, “Penyakit Akari-chan yah” gumam Taruzuki dengan ragu-ragu. Akari memang sudah berapa kali memberitahu pada Taruzuki kalau misal keluarganya tahu dia sakit, jangan beritahu penyakit yang dia idap.
“Kumohon Taruzuki-san” ujar Kaito dengan wajah khawatir dan memohon sepenuhnya pada Taruzuki, “Akari-chan terkena penyakit Jantung... ada pembekuan darah dan seharusnya dia bisa sembuh kalau dia bisa mendapat transfusi Jantung” jawab Taruzuki dan itu membuat Kaito memucat.
“Sebenarnya Akari-chan sudah memberiku larangan agar penyakitnya tidak di umbarkan ke publik... tapi sepertinya kau benar-benar ingin tahu” tambah Taruzuki tertawa kecil.
“Kalau begitu... arigatou atas waktunya Taruzuki-san” ujar Kaito. Kemudian dia pamit lalu pergi meninggalkan rumah sakit.
Hari itu dia mengambil hari libur untuk menghabiskan waktu bersama keluarganya serta mencari tahu apa penyakit Akari dan cara agar Akari bisa cepat sembuh.
“Tadaima” ujar Kaito, “Okaeri papa” sambut Kaichira, “Otoosan bagaimana apa kata Taruzuki-san?” tanya Yonezo penasaran.
“Akari... Akari dia terkena penyakit jantung dan jalan agar dia sembuh, dengan transfusi jantung” jawab Kaito. Yonezo yang mendengarnya syok berat, “Niisan” ujar Kaichira menenangkan kakaknya itu.
Yonezo seketika memucat dan akhirnya dia mengambil jaketnya lalu membanting pintu keluar dengan keras, “Y-Yonezo” panggil Yara hendak mengejar putranya itu. Kaito menahan Yara karena dia paham dengan perasaan putranya itu yang sekarang benar-benar syok.
Sementara Yonezo...
Yonezo duduk ditepi sungai dengan wajah melamun dan seperti orang linglung. Dia akhirnya sadar setelah Mayumi terus memanggilnya, “Kau kenapa?... ceritalah denganku, aku bisa membantu dirimu” ujar Mayumi dan akhirnya itu membuat Yonezo tersadar dari lamunannya tadi.
“Sejak kapan kau ada disini?” tanya Yonezo terkejut, “Sejak 5 menit lalu... apa yang kau lamunkan?” tanya Mayumi. Pertanyaan Mayumi itu sejenak membuat Yonezo terdiam.
Dia kemudian menghembuskan nafasnya dan mulai menceritakan semua. Mayumi merasa kasihan pada Yonezo dan juga Akari. Mayumi benar-benar tahu, kalau Yonezo begitu mengidolakan sosok bibinya itu.
Bibi yang selalu mendengar keluh kesah keponakannya yang memanggilnya dengan sebutan kakak perempuan.
“Aku tidak tahu harus bagaimana” gumam Yonezo dengan wajah bingung, “Hei!!” ujar Mayumi menepuk pundak sahabatnya itu.
“Coba kau pikir... kalau kau tidak melakukan sesuatu yang membahagiakan, maka sensei akan terus sakit... cobalah untuk meraih sebuah prestasi besar, maka neesan pasti cepat sembuh” ujar Mayumi menyemangati Yonezo yang putus asa.
Yonezo sejenak menatap Mayumi yang menatapnya dengan kesal, “Aku menantang mu sekarang... kalau kau bisa memenangkan pertandingan antar desa setiap tahun untuk pangkat atas maka aku akan menuruti keinginanmu, kalau gagal kau yang harus menuruti keinginanku” ujar Mayumi menantangnya, “Kau bisa tidak?” tanya Mayumi dengan nada sombong yang dia buat-buat agar Yonezo semangat.
“Tentu saja aku bisa” jawab Yonezo dengan nada kesal. Dia merasa seperti diremehkan oleh sahabatnya itu, “Deal?” tanya Mayumi menyodorkan tangannya untuk berjabat dan, “Deal” jawab Yonezo menjabat tangan Mayumi. Tanpa mereka sadari, Surinato sudah memperhatikan mereka berdua.
“Sepertinya kau berhasil menyemangati pria yang kau kagumi putriku” batin Surinato sambil tersenyum simpul. Secara diam-diam, Surinato pulang kerumah untuk makan siang. Setiap makan siang itu, Mayumi dan Misae tidak dirumah.
Dia sering masuk kekamar putrinya itu dan melihat buku diary Mayumi. Dia pernah melihat salah satu halaman yang terdapat foto Yonezo, dan sejak itu dia tahu kalau Mayumi pasti menaruh hati pada putra Tsukikage itu.
Akhirnya Surinato memilih membiarkan putrinya bersama Yonezo lalu pergi meninggalkan mereka.
Siangnya mereka berdua berkeliling desa. Daichiru dan Sanosuru yang melihat kedua teman mereka itu berjalan berdua, menyemburkan air yang mereka minum.
“Ini pasti ada sesuatu” ujar Daichiru dengan nada menginterogasi, “Mmm... aku setuju denganmu, pasti ada sesuatu” jawab Sansouru. Mereka berdua bersembunyi agar tidak ketahuan oleh Yonezo dan Mayumi.
Sanji yang baru saja keluar toko buku berbalik masuk ketika melihat Yonezo dan Mayumi yang jalan berdua, “Apa-apaan itu?” gumam Sanji terkejut.
Akhirnya Yonezo dan Mayumi memutuskan pergi ke kedai ramen langganan ayahnya itu. Setelah itu mereka berpisah untuk kembali kerumah masing-masing.
Kemudian Yonezo bisa merasa tenang dan tidak terlalu khawatir lagi. Dia memutuskan sebelum kembali kerumah, dia kerumah bibinya itu.
“Chottomatte” jawab seseorang dari dalam rumah ketika Yonezo mengetuk pintu rumah, “Ahh Yonezo” dan itu ialah Akira, “Ayo masuk” sambut Akira kemudian Yonezo melepas sendalnya kemudian masuk kedalam.
“Pertandingan antar desa yang diadakan tiap tahun untuk ninja tingkat atas itu?” tanya Akari yang mendengar permintaan keponakannya itu, “Benar... tolong datang dan jadi penonton” jawab Yonezo bersemangat.
“Tentu saja... pertandingan itu akan diadakan 3 bulan lagi, apa Kaichira sudah masuk pangkat atas?” tanya Akari penasaran, “Ujian itu ditunda dan kemungkinan akan dilaksanakan 6 bulan lagi atau tahun depan” jawab Yonezo, “Ahhh artinya aku bisa menonton kalian juga nanti” jawab Akari dengan wajah gembira.
Yonezo membalas itu dengan senyuman penuh semangat, “Terimakasih karena selalu berada disamping kami... neesan” batin Yonezo. Mereka berbincang hangat lalu Yonezo memutuskan pulang ketika hari sudah sore, “Mata ne yo” ujar Akari melambaikan tangannya itu.
“Akira akhir pekan nanti bisa temani aku kerumah sakit?” tanya Akari setelah Yonezo cukup jauh, “Ahh baiklah... tapi kau juga harus menemani diriku untuk memimpin rapat pangkat atas persiapan pertandingan nanti” jawab Akira dan Akari membalas itu dengan tertawa yang puas.
Malamnya dirumah Yonezo...
“Otoosan apa aku sudah boleh mempunyai seorang kekasih?” tanya Yonezo selesai makan. Kaito yang sedang minum tersedak mendengar itu, “Kekasih?” tanya Yara terkejut.
“Iya kekasih... apa aku sudah boleh punya pasangan?” tanya Yonezo. Kaito akhirnya mengatur dirinya agar tenang, “Otoosan memperbolehkan dirimu mempunyai pasangan jika usiamu sudah menginjak 17 tahun” jawab Kaito dengan bijak.
Dia tidak ingin putranya nanti jadi fokus pada pasangan bukan cita-citanya, “Ahh begitu yah... tapi minggu depan kami ada pesta dansa, dan aku tidak punya siapapun untuk diajak berdansa” jawab Yonezo mengeluh.
“Dengan Kaichira bukankah bisa?” tanya Yara, “Azekaya sudah mengajakku lebih dulu mama” jawab Kaichira terkekeh, “Mengejutkan sekali... kalau begitu Yonezo, pilihlah salah satu temanmu” jawab Kaito dengan tenang sekaligus terkejut ketika tahu Azekaya meminta Kaichira jadi pasangan dansanya.
“Aonara dengan Yamato... Sanosuru dengan Akainori, Daichiru dengan Hanori... Tsunari dengan Kaizen aku jadi bingung” jawab Yonezo sembari merebahkan tubuhnya diatas sofa yang bisa dia gunakan untuk tidur.
“Mayumi?” tanya Yara dan itu membuat tubuh Yonezo tersentak terkejut, “Sepertinya sesuatu sudah ada dihati putraku sekarang” goda Kaito dengan nada sombong yang dia buat-buat.
“Toosan” jawab Yonezo mengubah posisinya menjadi duduk dengan wajah merah, “Tanya saja niisan... sulit situasinya kalau kamu tidak punya pasangan dansa nanti” jawab Kaichira dengan bijak agar kakaknya itu berpikir lagi.
“Ada benarnya juga... baiklah aku akan menanyainya besok” jawab Yonezo dan wajahnya pun kembali tenang.
Akhirnya Yonezo pergi ke kamarnya, “Dia benar-benar berpikir dewasa sekarang” ujar Kaito sambil tertawa setelah Yonezo memasuki kamarnya, “Papa dan mama sendiri kapan berkencan?” tanya Kaichira dengan polos. Kaito dan Yara yang mendengarnya, menjadi terdiam dengan wajah memerah.
“Kenapa?” tanya Kaichira masih penasaran, “Lebih baik kamu tidur besok kita akan berkunjung kerumah Yamanori-jisan” jawab Yara sambil tertawa kecil, “H-hai” jawab Kaichira menurut lalu dia masuk kamar.
Setelah Kaichira memasuki kamarnya, Kaito dan Yara hanya bisa tertawa melihat kelakuan putra putrinya yang mirip seperti mereka pada masa muda mereka dulu.
Paginya...
“Semua sudah siap?” tanya Yara sambil memasukkan beberapa bungkusan, “HAI” jawab mereka kemudian rumah pun dikunci. Ryuji dan keluarganya juga sudah menunggu diluar rumah, “Selanjutnya rumah si kembar” ujar Yamamoto dan mereka yang mendengarnya tertawa kecil.
Ketika mereka hampir sampai didepan rumah Akari dan Akira, “HIAA” teriak mereka mengejutkan keluarga yang lain, “E-ehh niisan” ujar Akira terkejut ketika dia tahu Kaito dan Yamamoto juga ikut.
Mereka pikir mungkin itu Yonezo Kaichira atau Ryuji, ternyata mereka semua disana. Kaito dan Yamamoto menatap kedua adik mereka itu dengan tatapan seram, “Masih diulangi?” tanya mereka dengan nada kejam, senyuman sinis yang menakutkan dan tatapan mata hitam mereka yang mematikan.
“T-TIDAK” teriak mereka berdua ketakutan. Yonezo, Kaichira dan Ryuji menahan tawa mereka. Dan akhirnya perjalanan pun dilanjutkan menuju rumah Yamanori.
Sesampainya di stasiun...
“Kereta kita akan sampai 5 menit lagi” ujar Akira memberikan tiket kereta yang sudah mereka booking dari 2 hari lalu. Kereta lun datang setelah mereka menunggu 5 menit.
Sesampainya di stasiun utara desa itu, mereka mulai berjalan. Dan betapa terkejutnya mereka ketika melihat seribu tangga dihadapan mereka, “Aku yakin penduduk disini depresi dan bisa saja sakit jiwa jika harus naik turun tangga ini kalau ingin pergi” gumam Ryuji memandang tangga itu hingga ke akhir bagian tangga itu yang begitu jauh.
Karena baru kali ini mereka kesana bersama, Akari dan Akira sengaja tidak memberitahu kalau mereka bisa naik kereta terbang. Akhirnya mereka semua berjuang menaiki tangga itu dan perjuangan itu membuahkan hasil yang mereka inginkan.
“Aku yang berjalan.. lututku yang merasakan” ujar Yonezo dengan lelah. Mereka masih harus berjalan kaki kerumah Yamanori.
Sesampainya...
Akari mengetuk pintu pagar yang tinggi itu dan, “Chottomatte” ujar seorang pria dari dalam. Pintu pagar pun dibuka dan, “Otanjoubi omedetou” bisik Akari dan itu membuat Yamanori yang membuka pintunya.
“OTANJOUBI OMEDETOU” teriak yang lain dan itu membuat Yamanori berbinar senang, “Ahhh kalian... ayo masuk” jawab Yamanori menyambut keluarga besar itu.
Mereka akhirnya duduk diruang tamu, “Ini cucumu jiisan” ujar Yamamoto memperkenalkan ketiga remaja itu, “Ohh astaga kalian sudah besar ternyata” ujar Yamanori memeluk cucunya itu.
Walau bukan cucu kandungnya, tapi dia tetap bahagia mengingat mendiang kakaknya selalu memperkenalkan anak-anaknya padanya dulu. Ketiga remaja itu membalas pelukan kakek mereka itu.
Akhirnya mereka duduk dan mulai merayakan ulang tahun Yamanori ke-51 tahun, “Ji-sama... apa tidak ada transportasi ke tempat ini yang lebih cepat?... lututku benar-benar lelah untuk sampai kesini” tanya Yonezo heran.
Akari dan Akira yang sedang menikmati kue dengan krim vanila itu tersentak, “Bukankah kalian bisa menaiki kereta terbang?... apa Akari dan Akira tidak memberitahu kalian?” tanya Yamanori dengan polos dan seketika Akari dan Akira menerima tatapan seram dari keluarga mereka itu.
“Heh... kami kemarin sampai kesini juga jalan kaki tahu dari stasiun sampai rumah jiisan” jawab Akari membela dirinya dan Akira, “Jangan samakan kami dengan kalian neesan” jawab Kaichira terkekeh.
Dan akhirnya Akari dan Akira memilih melanjutkan makan kue mereka tanpa rasa bersalah, “Sudahlah... dulu sebelum ada kereta terbang itu, aku juga berjalan kaki” jawab Yamanori agar mereka tenang sambil terkekeh menanggapi kelakuan keponakan kembarnya itu yang selalu merepotkan.
“Tapi itu tidak adil ji-chan” jawab Ryuji tidak setuju, “Baiklah sebagai gantinya biar aku dan Akari latih tanding” jawab Yamanori, dia juga ingin tahu seberapa besar kemampuan Akari.
Akari yang sedang minum tersedak seketika, “Tapi Kira yang memberiku ide itu jiisan” jawab Akari tidak setuju. Akira yang merasa mendapat keberuntungan tersenyum bangga.
“Setelah denganmu... aku juga akan melawan Akira” jawab Yamanori dan Akira yang sedang minum ikut tersedak seketika ketika mendengar itu, “Bukankah Akari itu yang berulah?” tanya Akira tidak setuju, “Kamu yang memberi ide.. dan kamu lebih tua” jawab Yamanori dengan bijaksana.
Kedua anak kembar itu memasang wajah lesuh dan tidak bersemangat serta perasaan dengan penuh penyesalan.
Dan akhirnya mereka keluar rumah. Halaman rumah Yamanori cukup besar dan luas, “MULAI” teriak Yonezo menengahi mereka.
Mereka hanya menggunakan beladiri saja serta mata Hoshime mereka. Akari paling khawatir jika harus berhadapan dengan Yamanori, karena Yamanori ini mempunyai mata Hoshime yang berbeda.
Mata milik Yamanori setara dengan mata mendiang ayah Akari yaitu Yakato. Yamanori mulai meluncurkan serangan beladiri yang cepatnya bukan main.
“Biarpun usia ji-sama sudah 51 tahun.. tapi kemampuannya benar-benar diatas rata-rata” ujar Ryuji kagum. Akari bahkan harus beberapa kali mendapat serangan dari pamannya itu yang benar-benar cepat.
Akari terus mengelak serangan pamannya itu, “Ayolah dimana kemampuanmu yang sudah kau asah selama bertahun-tahun itu?” tanya Yamanori meledek keponakannya itu agar bisa menunjukkan kemampuannya.
“AHHH KUSSO” teriak Akari marah hampir berhasil meninju pamannya itu. Tinjuan itu mengeluarkan debu dan memberi kehancuran yang cukup besar. Kemudian Akari keluar dari balik debu itu dengan rambut hitamnya yang sudah terbang.
Ryuji dan Yonezo yang ketakutan bersembunyi dibalik Kaichira. Kaito dan Yamamoto bahkan harus saling memeluk ketika melihat adik perempuan mereka itu mengeluarkan ekspresi yang bagi mereka sangat lah seram.
“Ini alasan kenapa aku tidak pernah mau membuatnya marah dirumah” ujar Akira bersembunyi dibalik Hinari yang tetap tenang. Yamanori sebenarnya sedikit merinding melihat itu, “Majulah” ujar Yamanori.
Akari akhirnya memberi serangannya dengan gerakan yang semakin lama jadi terlalu cepat. Ryuji dan Yonezo yang terus menerus melihat gerakan mereka akhirnya terjatuh lemas karena pusing karena kepala mereka seakan-akan ikut berputar.
“Baka niisan” gumam Kaichira terkekeh dengan kelakuan kedua kakaknya itu yang tidak ada habisnya. Akhirnya Akari memberikan serangan terakhirnya namun, “Nani?!” gumam Akari terkejut ketika pamannya itu berpindah ketempat lain dan menahan tubuh Akari, sehingga Akari tidak bisa bergerak kemana-mana lagi.
“Pemenangnya jiisan” ujar Yamamoto mengumumkan pemenangnya, “Sepertinya aku belum bisa melampaui jiisan” ujar Akari setelah dia dilepaskan Yamanori.
“Baiklah Akira lagi” ujar Yamanori memanggil Akira, “MULAI” teriak Ryuji sebagai penengah. Sama seperti Akari, Akira juga kerepotan menghadapi pamannya itu.
Dia beberapa kali terkena serangan yang cepat itu dan Akira yang teliti sekalipun tidak bisa menghadapi pamannya itu dengan mudah. Hingga ketika Akira hampir berhasil meninju pamannya, Yamanori lebih dulu menahan tangannya dan membuat Akira terjatuh. Kemudian Yamanori menahan Akira dan akhirnya Akira juga harus kalah.
“Ahh ayolah” gumam Akira dengan lesuh. Yamanori hanya bisa tertawa melihat keponakannya itu yang mendadak lesuh, kemudian dia membantu keponakannya itu agar bisa bangkit berdiri.
“Pemenangnya ji-sama” ujar Ryuji, “Ternyata neesan dan niisan yang sudah sangat cepat sekalipun tidak mampu melampaui ji-chan” ujar Kaichira terkejut.
Mereka bertiga pernah melawan Akari secara serentak, tapi Akari tidak bisa mereka lampaui. Begitu juga dengan Akira. Bahkan mereka bertiga pernah bergabung dengan ketiga sepupu mereka tapi tetap saja gagal.
Dan baru kali ini mereka melihat Akari dan Akira mendapat kekalahan, “Tunggu dulu” ujar Yamanori menyadari sesuatu.
“Kalian berdua yang asli keluarlah” perintah Yamanori berbalik kebelakang. Seketika kedua bayangan tubuh itu menghilang dan ternyata Akari dan Akira yang asli duduk berdekatan di dahan pohon yang terdapat ditengah halaman rumah Yamanori itu.
“Sejak kapan kalian menipuku?” tanya Yamanori, “Sejak didalam debu itu... kemudian Akira ikut membuat bayangannya, lalu yang asli duduk disini” jawab Akari dengan wajah berpura-pura bodoh.
“Yang penting sudah jelas... kalau kami bukan lawan yang bisa menyetarai jiisan” ujar Akira tersenyum. Yamanori hanya bisa terkekeh dengan pikiran kedua keponakannya itu.
“Baiklah turun sekarang” perintah Kaito. Akira lebih dulu turun, “Ada apa imotou?... ayo turun” ujar Yamamoto terheran. Sejenak Akari terdiam kemudian, “Aku tidak tahu cara turun” jawab Akari dengan polos.
“Itulah kenapa aku selalu melarang dirimu agar tidak memanjat pohon” jawab Kaito mengepal tangannya sambil tersenyum sinis, “Ayolah turun saja” ujar Yamamoto sambil tertawa.
“Lewat mana niisan?” tanya Akari bingung sambil mencari jalan, “Apa kamu ingat cara naik?” tanya Kaito dengan senyuman penuh dendam, “Tidak” dan seketika mereka semua menepuk jidat mereka karena bingung.
“Bukankah neesan bisa teleportasi?” tanya Yonezo dengan akalnya, “Ahh aku lupa” jawab Akari kemudian dia berpindah dalam sekejap kebelakang Ryuji.
Akari yang hendak masuk, tertahan karena rambut panjangnya ditarik Kaito, “Bisa-bisanya aku mempunyai imotou yang menyebalkan seperti dirimu” ujar Kaito sambil tersenyum.
“Niisan neesan lihatlah putra putri kalian... mereka benar-benar mewarisi sifat kalian” batin Yamanori sambil tersenyum.
Akhirnya hari itu mereka habiskan dengan berbincang, bermain, dan memasak bersama. Mereka juga tidak segan-segan untuk membersihkan rumah besar itu.
Rumah itu dulunya ditempati Yamanori bersama keluarganya. Tapi sejak Yakato menikah, yang tinggal disana tinggal dia dan kedua orang tuanya itu. Lalu ketika perang dunia kedua, orang tuanya tewas
Tapi kembali dia juga harus kehilangan sosok kakak yang menyayangi dirinya itu. Saat sedang melihat-lihat buku lama di ruang baca rumah itu, Yonezo menemukan sebuah album.
Ketika dia membuka album itu, Yonezo menemukan foto-foto ayah paman dan bibinya itu saat masih kecil.
Dari situ dia sadar kalau mereka lebih banyak dirawat Yamanori saat masih kecil. Sejenak Yonezo bisa melihat wajah muda kakeknya yang sedang menggendong Akari, Akira, Kaito, dan Yamamoto.
Namun dia akhirnya tertegun ketika melihat foto Akari kecil yang tersenyum sambil memegang foto kakeknya dan dia duduk dipangkuan Yamanori muda.
Tidak hanya itu dia juga melihat foto Akari yang tersenyum bersama kedua kakaknya di pemakaman kakeknya.
Beberapa foto Yamanori dengan Akari jadi lebih terlihat seperti kakak dan adik bukan paman dan keponakan. Akhirnya dia mengambil foto itu dan menemui Yamanori.
“Jadi kamu penasaran dengan masa kecil Akari?” tanya Yamanori, “Dimulai dari mana yah?” gumam Yamanori mengingat kembali semua ingatan masa mudanya dengan ketiga keponakannya itu.
“Kamu pasti tahu kalau Ahiru-san sehabis melahirkan Akari... dia harus meninggal?” tanya Yamanori, “Ahh iya itu pasti menyakitkan setelah Akari-neesan tahu kenyataan itu” jawab Yonezo mengingat cerita ayahnya.
“Sebenarnya 5 tahun setelah itu oniisanku juga meninggal... setelah dia menyelamatkan Akari dan menjadikan Akari sebagai wadah Akira” ujar Yamanori. Yonezo yang mendengar itu terkejut dan tidak menyangka hal itu.
“Dan setelah itu akulah orang yang selalu merawat mereka... saat pulang misi, aku selalu menyempatkan kerumah mereka dan membuat makan siang untuk mereka, kadang aku juga membuatkan mereka sarapan... tapi karena aku sempat menggantikan kedudukan niisan sebentar, aku menitip mereka pada Gyuro-sensei” tambah Yamanori dengan perasaan yang tidak bisa dia jelaskan.