salam kenal semuanya
pernikahan kecilku dengan ceo adalah karya novel pertama aku. semoga readers suka ya, terimakasih.
Naomi Putri Diana adalah gadis yang berumur 18 tahun yang memiliki kepribadian ganda yang tidak diketahui semua orang. Ia tidak mengetahui bahwa dirinya sangat diinginkan oleh seorang wanita tua yang menguasai segala bidang seperti halnya dunia hitam yang digelutinya.
Reyhan Pradirga adalah seorang ceo yang perusahaannya sangat terkenal di dunia. Namun banyak orang tidak mengetahui bahwa ia hanyalah pion ibunya hanya untuk kekuasaannya. Ia harus menikahi gadis pilihan ibunya dengan keterpaksaan.
Namun pernikahannya yang terpaksa ini malah membawanya dan mengenalkannya arti cinta pada gadis ini.
Bagaimanakah akhir kisah ini, terus like komen dan vote yah readers. Terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aul rachma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi ke sawah
"Apa kau menikmati angin sore ini honey?"
Suara si brengsek ini ternyata, Diana mendongak lalu tersenyum ramah ke Reyhan. "Yah, disini sangat indah untuk dinikmati. Ku kira kau sibuk honey, tidak biasanya kau pulang sore hari begini. Apa terjadi sesuatu?" pundak Diana terasa hangat saat tangan kekar Reyhan mengelus dan terdengar hembusan nafasnya di telinganya sang empunya. "Apa kau lupa bahwa kau akan membawaku ke suatu tempat yang tidak pernah aku kunjungi honey, kita sudah sepakat." hal itu membuat Diana mengernyitkan dan berusaha mengingatnya kembali.
Dia bahkan masih ingat kesepakatan itu, aku harus membawanya kemana. Ah aku tau.
"Apa kau yakin akan datang ke sana, kuharap kau tidak akan menyesal."
"Tentu tidak honey." satu kecupan manis mendarat di pipi sang istri. "Bersiaplah, kita akan pergi sekarang." ucapnya lalu pergi meninggalkan Diana sendiri di sana. Huh, kita lihat saja nanti. batin Diana.
"Aku ingin kita naik motor, berdua saja." ucap tegas Diana saat semua orang telah siap dengan mobilnya, bodyguard pun telah berbaris rapi seperti biasanya.
"Tidak, itu berbahaya kau mengerti itu." jawab dengan tatapan tajam dari Reyhan yang sedang membukakan pintu mobil untuk istrinya.
"Kalau begitu, kita tidak jadi saja lagipula pesta akan dimulai beberapa jam lagi." dengan santainya Diana melihat jarum jam di lengannya. Ia memakai baju kasual dan sepatu sneakers nya. Terlihat Reyhan menutup kembali pintu mobil dan menghampiri Diana, ia juga memakai baju couple dengan istrinya.
"Aku bilang tidak maka tidak kau mengerti itu dan itu peraturannya."
"Ck kau hanya takut menaikinya kan?" tantang Diana dengan melipat kedua tangannya. Reyhan yang mendengar itu memanggil Rudi sekertaris nya dan mulai membisikkan sesuatu.
"Baiklah, karena kau berkata seperti itu maka aku akan menurutinya."
"Itu bagus, ayoo." ucap Diana dengan semangat sambil pergi mencari motornya. "Hei, kau mau pergi kemana?"
"Mengambil motor." teriak Diana sambil tetap berjalan ke arah garasi. Reyhan segera berlari lalu memegang tangannya dan menghentikan langkah Diana. "Apa kau bodoh, biarkan pengawal mengambilnya. Kita tunggu saja disini." Reyhan membalikkan badannya lalu menepuk tangannya dan para bodyguard datang menghampiri keduanya, terlihat Reyhan menyuruh mereka membawakan motor.
Tidak menunggu waktu yang lama akhirnya motor pun datang, yang dibawa oleh salah satu bodyguard. Motor itu juga terlihat sangat mahal, dari mereknya yang keluaran terbaru dan warnanya yang tidak kalah bagus.
Keduanya menaiki motor dengan memakai pakaian lengkap untuk keselamatan. "Apa kau sudah siap." tanya Reyhan saat dirinya sudah siap menyalakan motornya. "Iya, aku sudah siap."
"Kau belum, pegangan padaku agar kau selamat." ucap Reyhan dengan tegas, dengan terpaksa Diana berpegangan pada Reyhan dengan melingkarkan tangannya di pinggang Reyhan. Hal itu membuat Reyhan menyunggingkan senyumnya.
Motor pun berjalan dan mulai pergi menjauhi mansion, tanpa Diana ketahui Rudi dan bodyguard pun lainnya mengikuti mereka namun dengan jarak yang cukup jauh. Sedangkan Diana berfokus pada Reyhan yang sedang menyetir, ia memberitahu arah ke tempat tujuannya. Terkadang keduanya bertengkar karena teriakan Diana saat memberi tahu arah, terkadang bertengkar karena Reyhan tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Diana karena ia mengecilkan suaranya. Serba salah itulah yang dirasakan Diana, wajahnya yang terlihat menahan marah itu sering menarik nafasnya agar tetap tenang.
Beberapa putaran mungkin telah dilalui oleh keduanya, entah apa yang dipikirkan oleh Rudi dan bodyguard lainnya yang terus menggeleng melihat tuan dan nyonya mudanya. Sampailah mereka di suatu tempat dengan warna senja yang terlihat begitu indah untuk di pandang. Sawah adalah tempat yang dikunjungi, patutkah mereka bersyukur pergi ke tempat tersebut. Dengan jalan kecil, sepi dan angin sepoi-sepoi, suara burung berkicau, padi yang terombang-ambing karena angin, warna oranye langit yang dihiasi dengan matahari terbenam. Semua itu membuat keduanya diam meresapi ciptaan Tuhan, alam yang seharusnya dijaga malah dihancurkan oleh manusia dengan mendirikan bangunan-bangunan yang membuat tanah semakin sedikit.
"Aku hanya ingin bertanya, apa kau pernah ke sini, sendiri. Menikmati semua ini."
"Tidak, aku hanya melihat dan melewatinya saja."
"Bagus, itu artinya kesepakatan kita berakhir. Ayo kita pulang." baru saja Diana membalikan badan terlihat Rudi dan bodyguard berdiri dari ujung sawah dekat motor yang terparkir di jalan. Mereka menunduk kepala membuat Diana juga tersenyum pada mereka, Reyhan membalikan badan melihat istrinya yang tersenyum pada bawahannya, ia langsung menarik lengan Diana dengan sedikit kasar. Reyhan membawanya pergi masuk mobil dan kembali ke mansion.
Disisi lain sesaat setelah mobil Rudi dan bodyguard pergi dari mansion, terlihat mobil Morzee memasuki halaman mansion. Ia keluar dengan gaya modisnya yang seperti biasa, terlihat juga para pelayan yang menghampirinya sambil melayani nyonya nya.
"Apa nyonya muda kalian ada dikamar nya?"
"Nyonya muda dan tuan muda sedang pergi bersama menggunakan motor, nyonya."
"Apaa."
"Iya nyonya.."
"Dimana pak mun." ucap Morzee sambil berjalan cepat memasuki mansion, diikuti pelayan dan bodyguard pribadinya.
"Pak mun sedang bersama orangtua nyonya muda ditaman sambil menanam tanaman, nyonya."
"Suruh dia keruangan kerjaku, dan juga jika tuan muda kalian kembali suruh datang ke perpustakaan. Persiapkan juga nyonya muda kalian, terus awasi Yani dan Cahya. Cepaat." dengan nada yang kasar dan tajam, Morzee pergi berlalu ke kamarnya.
tok tok tok
"Masuklah." ucap Morzee di layar tabletnya yang terhubung dengan pintu ruangan kerjanya. Terlihat pak Mun yang datang lalu menyapa nyonya nya, namun di acuhkan. Ia berdiri dan melangkahkan kakinya ke rak buku yang disana ternyata tersimpan senjata api yang di bungkus dengan berasalan buku tebal. Ia mulai memasangkan peluru dalam senjata api tersebut, lalu ia mengarahkan ke kepala pak mun.
"Bukankah sudah aku perintahkan kau untuk membawa Yani dan Cahya pergi dari sini, kenapa tidak kau lakukan huh." dengan sikap yang tenang, pak mun menghela nafas. "Nyonya Yani dan suaminya akan pergi setelah pesta pernikahan berakhir karena nyonya muda telah meminta padaku untuk mengijinkannya tetap bersama orangtuanya untuk sementara. Saya melakukan hal itu karena itu adalah perintah nyonya muda."
"Kau sekarang membantahku, kenapa kau tidak melakukan apa yang ku perintahkan huh."
"Maafkan saya nyonya, tapi didalam peraturan jika tuan muda sudah memiliki nyonya muda, maka nyonya muda memiliki hak dan wewenang di dalam dan diluar mansion."
"Kauu, berani sekali kau, sekarang pergi dari sini cepaat."
"Baik nyonya."
Berani sekali dia, baiklah kita tunggu siapa yang akanu menang di permainan ini.
"Dimana gadis itu menyimpan kotaknya, aaaaaa." teriak Morzee di ruang kerjanya sambil ia menghancurkan berkas kerjanya.
*Bersambung*