Tiga tahun menikah, Rendy selalu dihina, diperlakukan seperti pembantu, dan dibeda-bedakan oleh ibu mertua serta iparnya karena hanya dianggap seorang sopir miskin tak berpendidikan. Clarissa, sang istri, hanya bisa diam menahan tekanan keluarga besarnya. Puncaknya, saat bisnis keluarga mengalami krisis, Rendy difitnah mencuri, dipaksa menandatangani surat cerai, dan diusir di tengah hujan deras tanpa membawa apa pun.
Namun, keluarga itu tak pernah tahu bahwa Rendy sebenarnya adalah satu-satunya ahli waris Pradipta Group—konglomerat terbesar yang sengaja menyamar demi menguji ketulusan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Mita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Fitnah Pencurian Jam Tangan
Suara derit lantai kayu di luar kamar seketika membuat Rendy menghentikan gerakan jemarinya. Dengan sigap, ia melipat kembali kertas cek puluhan miliar tersebut dan menyelipkannya dengan cepat ke saku rahasia di dalam jas hitamnya. Ia menarik napas panjang, menetralkan ritme jantungnya yang sempat berpacu cepat sebelum perlahan melangkah kembali ke tepi tempat tidur.
Di bawah remang cahaya lampu meja, Clarissa masih tertidur lelap. Napas istrinya berembus halus dan teratur, membuat seprai yang menutup sebagian gaun tidur satinnya naik turun perlahan. Rendy membelai rambut hitam panjang Clarissa dengan sangat lembut, menatap wajah anggun yang terlihat begitu lelah.
Hanya sedikit lagi, Sa, bisik Rendy dalam hatinya. Sebentar lagi penderitaanmu akan berakhir.
Namun, ketenangan malam itu tidak bertahan lama.
Keesokan paginya, baru saja matahari terbit dan menyinari sudut-sudut kontrakan, kemelut kembali meledak. Rendy baru selesai menyapu halaman belakang ketika suara pekikan Dion menggelegar dari dalam rumah, memecah kesunyian pagi.
"Mana jam tanganku?! Ibu! Jam tangan Rolex milikku hilang!" teriakan Dion terdengar panik bercampur murka saat ia berhamburan keluar dari kamarnya menuju ruang tengah.
Rosma yang sedang menyiram tanaman di teras depan langsung menjatuhkan gayung plastiknya. "Apa?! Jam tangan hadiah dari bosmu itu hilang, Dion?"
"Iya, Bu! Semalam masih ada di atas meja hias kamar! Pagi ini sudah tidak ada!" Dion mengedarkan pandangan penuh tuduhan ke sekeliling ruangan, lalu matanya tertambat lurus pada Rendy yang baru melangkah masuk membawa sapu. "Pasti kamu, kan?! Jam tangan itu harganya lima puluh juta! Kamu sengaja mencurinya karena dendam soal kemarin!"
Rendy menaruh sapunya di sudut dinding dengan tenang. Wajahnya tetap datar menghadapi tuduhan itu. "Aku dari subuh ada di dapur dan halaman belakang. Aku tidak pernah masuk ke kamarmu, Dion."
"Alasan!" bentak Rosma yang sudah melangkah masuk dengan napas memburu. Wajah mertua Rendy itu merah padam, berkilat oleh rasa amarah yang meluap. "Siapa lagi pencuri di rumah ini kalau bukan kamu? Kemarin kado yang kamu berikan cuma minyak sampah, sekarang kamu mau ambil barang berharga anakku untuk kamu jual, kan?!"
"Bu, tolong jangan asal menuduh!" Clarissa keluar dari kamar tidur dengan mata menyipit karena baru terbangun. Gaun rumahannya terpasang rapi, tetapi raut wajahnya menyiratkan kecemasan luar biasa. "Mas Rendy baru saja bangun. Dari kemarin dia bersamaku!"
"Kamu selalu menutup-nutupi kejahatan suamimu, Clarissa!" omel Rosma tanpa ampun. "Dion, geledah dia! Jangan biarkan dia keluar rumah sebelum jam tangan itu ketemu!"
Dion maju dua langkah dengan berkobar emosi, hendak mencengkeram kerah kaos Rendy. Namun sebelum jemari Dion menyentuh bajunya, Clarissa bergerak lebih cepat. Dengan sentakan kuat yang dipicu oleh rasa panik dan keputusasaan, Clarissa menarik tangan Rendy, mendorong suaminya mundur menuju kamar mereka.
"Mas, masuk ke kamar sekarang!" seru Clarissa.
"Clarissa! Jangan coba-coba melindungi pencuri itu!" teriak Dion dari luar saat Clarissa mendorong tubuh Rendy masuk dan membanting pintu kayu kamar mereka hingga terkunci rapat dari dalam.
Sreeek! Kunci engsel diputar secara kasar oleh Clarissa.
Di dalam kamar yang sempit itu, keheningan mendadak terasa begitu mencekik. Clarissa bersandar pada pintu kayu yang tertutup, napasnya memburu cepat, dadanya naik turun tak teratur. Matanya berkaca-kaca menatap Rendy yang berdiri membisu di hadapannya.
"Mas... katakan padaku dengan jujur," bisik Clarissa dengan suara bergetar hebat. "Kamu tidak mengambilnya, kan? Tolong katakan padaku..."
"Sa, Mas tidak mencurinya. Mas berani bersumpah," sahut Rendy tegas, melangkah mendekat.
Tetapi kepanikan Clarissa sudah tidak bisa dibendung lagi. Rasa takut akan keselamatan suaminya memicu tindakan spontan yang di luar kendali. Clarissa mencengkeram bagian bawah kaos polos yang dikenakan Rendy, lalu menariknya ke atas dengan gerakan tergesa-gesa.
"Clarissa, apa yang kamu lakukan?" tanya Rendy terkejut.
"Aku harus memastikan, Mas! Jika Ibu dan Dion memanggil warga atau polisi, kamu bisa dipenjara!" racau Clarissa panik.
Clarissa melepaskan kaos Rendy hingga terlempar ke atas kasur, meninggalkan dada bidang Rendy yang telanjang dan terekspos udara dingin kamar. Dengan jemari yang gemetaran hebat, Clarissa mulai memeriksa setiap inci tubuh Rendy. Jemari lentiknya yang dingin mengusap kasar dada pelanjang Rendy yang tegap, turun menyusuri pinggang, dan meraba saku celana kain suaminya dengan tergesa-gesa.
Sentuhan jemari Clarissa yang gemetar dan liar di atas kulit dadanya yang bertelanjang memicu aliran panas yang mendadak membakar tubuh Rendy. Dada bidangnya yang terangkat oleh napas dalam bergeser langsung dengan telapak tangan Clarissa. Desir gairah yang kuat menyelinap di antara kepanikan mereka. Rendy bisa merasakan betapa dingin dan bergetarnya tangan istrinya, namun gesekan kelembutan kulit Clarissa di dadanya menciptakan kehangatan yang tak mampu ditolak.
"Sa... tenanglah," bisik Rendy serak. Tangannya bergerak menangkap kedua pergelangan tangan Clarissa yang sedang menggeledah bagian pinggangnya.
Tetapi Clarissa tidak berhenti. Ia menengadahkan kepala, menatap wajah Rendy dengan matanya yang mulai meneteskan air mata. "Aku takut, Mas... Aku sangat takut mereka memenjarakanmu..."
Rendy menarik Clarissa merapat ke dadanya yang bertelanjang. Kulit dada Rendy yang hangat dan kokoh menempel rapat pada tubuh Clarissa, menyalurkan detak jantung suaminya yang tenang dan teratur. Clarissa menyandarkan dahinya di dada telanjang Rendy, menangis sesenggukan seraya jemarinya meremas pelan otot pinggang Rendy yang tegang.
Rendy menundukkan kepala, mendaratkan ciuman dalam di puncak kepala istrinya, lalu beralih menyusuri dahi dan pipinya yang basah oleh air mata. Sentuhan bibir Rendy yang hangat membuat Clarissa meremang. Dalam desakan rasa takut dan gairah protektif yang campur aduk, Clarissa mendongak dan menyatukan bibir mereka dalam pagutan yang mendesak.
Ciuman itu begitu intens, dipenuhi rasa haus akan kepastian. Gesekan antara dada telanjang Rendy yang hangat dengan pakaian Clarissa membuat suasana kamar yang sempit itu membara oleh kehangatan fisik yang intim. Rendy merengkuh pinggul Clarissa dengan lengan kirinya, menekan tubuh istrinya agar semakin menyatu dengannya, seolah ingin melindungi wanita itu dari bahaya apa pun yang mengintai di balik pintu.
Clarissa mendesah halus di celah ciuman mereka, jemarinya yang semula gemetaran kini mengusap punggung kekar Rendy dengan kepasrahan penuh. Rasa panas yang mengalir di perut bawah mereka membuat kedua pasangan suami istri itu sejenak tenggelam dalam pusaran cinta yang mengaburkan ancaman di luar.
Namun, perlindungan kehangatan di dalam kamar itu mendadak hancur berkeping-keping.
BRAK!
Pintu kayu kamar mereka tidak hanya diketuk, tetapi didobrak dengan sentakan kasar hingga selot kuncinya terlepas dan terlempar ke lantai!
Clarissa menjerit kaget, buru-buru melepaskan ciumannya dan bersembunyi di balik dada telanjang Rendy dengan napas terengah-engah. Rendy secara refleks merangkul Clarissa erat-erat, membelakangi pintu untuk melindungi tubuh istrinya.
Dion berdiri di ambang pintu yang terbuka lebar dengan senyum culas yang mengembang lebar di wajahnya. Namun Dion tidak datang sendirian.
Di belakang Dion dan Rosma, berdiri dua orang pria berseragam cokelat ketat dengan rompi kepolisian dan borgol besi yang tergantung di pinggang mereka.
"Itu dia pak polisi!" seru Dion keras sambil menunjuk lurus ke arah Rendy yang masih bertelanjang dada. "Lihat kan? Mereka bersembunyi di dalam kamar sambil berniat menyembunyikan barang buktinya! Seret dia ke kantor polisi sekarang!"