Indonesia
NovelToon NovelToon
MALAM YANG SUNYI

MALAM YANG SUNYI

Status: tamat
Genre:Misteri / Horor / Balas Dendam / Reinkarnasi / Pembunuhan / Tamat
Popularitas:54.5k
Nilai: 5
Nama Author: yuyun prilia

Sebuah rumah tua peninggalan jaman Belanda di bongkar oleh ahli warisnya.Istri Tuan Subardi mengalami pendarahan dan melahirkan bayi prematur setelah menghadiri peresmian usaha anak tunggalnya.

Wijaya selalu di ganggu oleh mimpi-mimpi buruk di dalam tidurnya. Banyak korban jiwa yang berjatuhan, beberapa pemuda di temukan tewas dalam keadaan tak berbusana.


Benarkah patung 'Dewi Rasa' merupakan reingkarnasi dari penciptanya?
patung gadis itu telah berumur hampir dua ratus tahun. Bagai mana akhir ceritanya??

selamat membaca....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuyun prilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Tanpa berkata-kata lagi Dewi membimbing Pak Rudi ke dalam kamarnya.

Laki-laki ini hanya mengikuti saja bagai kerbau yang dicucuk hidungnya.

Setelah mereka sampai dalam kamar, pintu itu pun menutup dengan sendirinya.

Reingkarnasi patung Dewi Rasa itu selanjutnya melepaskan pakaian yang melekat ditubuh Pak Rudi.

Sedangkan Pak Rudi hanya diam saja dan pandangan matanya kosong memandang pada Dewi tanpa pernah berkedip sedikitpun.

Setelah melepaskan pakaiannya sendiri dia segera merebahkan tubuh Pak Rudi.

Dewi menjatuhkan ciuman bertubi-tubi pada bagian wajah Pak Rudi.

Laki-laki itu hanya merintih-rintih saat gadis berwajah cantik jelita itu menindih tubuhnya dengan segudang kemesraan

Jemari tangan Dewi yang halus dan lembut bergerak liar merayapi tubuh Pak Rudi sambil berbisik.

"Sekarang saatnya bagi Wijaya untuk melihat kejutan yang akan kita lakukan..." Dewi tersenyum dengan mata setengah terpejam.

Namun kemudian terdengar erangan-erangan lirik dari bibir Dewi saat ia melakukan gerakan-gerakan semakin cepat.

Malam terus berlalu tanpa menunggu, di luar rumah itu kelihatan sangat sunyi.

Suara lolongan Anjing terdengar sayup-sayup di kejauhan sana.

Angin berhembus perlahan menyenandungkan dengusan-dengusan kematian dalam belengguh kemisteriusan yang tersamar.

Besoknya suasana di dalam restoran yang selalu dibanjiri oleh pengunjung itu berubah menjadi kepanikan saat salah seorang karyawan restoran itu tersungkur roboh ketika sedang membawa piring-piring bekas ke ruang belakang.

Amelia yang malam itu yang sedang terlibat pembicaraan serius dengan Wijaya di ruang kerjanya, nampak berlari meninggalkan Wijaya yang juga sempat tersentak kaget.

"Ada apa ini?!" tanya Amelia menyeruak disela-sela kerumunan orang-orang lainnya.

"Ia mengalami pendarahan..." sahut Dora yang paling awal mendapatkan tubuh Lina dengan dahi yang berkerut.

"Lebih baik secepatnya dibawa ke rumah sakit!!" perintah Amelia.

Dora menggelengkan kepalanya, wajahnya nampak menyimpan duka yang mendalam.

"Mengapa tidak?!" Amelia merasa heran melihat penolakan itu

Rupanya perhatian Amelia pada saat itu selalu tertuju pada Dora sehingga ia tidak melihat pada Lina yang nampak sangat pucat bahkan tidak bergerak-gerak lagi.

"Dia sudah meninggal..." suara Dora nyaris tidak terdengar.

Namun itu bisa membuat Amelia menjadi terperangah.

Bukan hanya Amelia saja yang nampak terperangah melihat kematian Lina, tapi beberapa karyawan lain yang berada di ruangan belakang nampak meneteskan air mata juga.

Sepanjang yang mereka ketahui, Lina adalah karyawan yang baik dan ramah.

Bahkan teramat sopan terhadap siapapun.

Tapi bagaimana mungkin ia dapat mengalami pendarahan dan meninggal secara tiba-tiba seperti ini??

Wijaya yang menyusul Amelia dan berada di samping Dora nampak terpaku di tempatnya.

Sesekali ia melihat pada Dora seolah ingin meminta pendapat.

Tapi di saat pandangan matanya terpaku pada jasad Lina yang sudah tidak bernyawa lagi,tiba-tiba Wijaya berkata.

"Lia pastikan para pengunjung tidak ada atau kalaupun masih ada tolong kabarkan pada mereka bahwa restoran ini tutup lebih awal, setelah itu kita bawa mayat Lina ke rumah sakit segera!"

Dalam kepanikan itu Wijaya sudah tidak dapat berpikir lebih panjang lagi.

Amelia segera mematuhi perintah Wijaya, kebetulan pengunjung sepi kalaupun masih ada mereka sudah tidak terlihat lagi.

Agaknya mereka tahu diri saat mereka mendengar suara ribut-ribut.

"Mereka sudah meninggalkan tempat ini sejak tadi."

Amelia kembali lagi menemui Wijaya yang terus memperhatikan keadaan jenazah Lina.

Iya hanya sedikit memiringkan kepalanya saat Amelia datang menghampirinya.

"Semua sudah kosong..." kata Amelia.

"Kalau begitu, kita tutup saja sekarang!!" Wijaya segera memberi perintah pada Bi Mur juru masak Restoran untuk memanggil Pak Rudi.

Dengan gugup Bi Mur berkata.

"Pak Rudi sudah pulang sejak sore tadi Pak.."

Wijaya yang dalam keadaan panik dan tegang itu sudah tidak peduli mengapa Pak Rudi pulang lebih awal.

Hanya Dora sajalah yang sempat mengingat dan mencatatnya dalam hati.

"Kalau begitu perintahkan yang lainnya!!" perintah Wijaya dengan suara agak keras.

"Ayo tunggu apalagi kita bawa dia ke rumah sakit.."

"Jangan!!" Dora mencegah.

Dengan heran, sekarang semua mata tertuju memandang pada Dora.

"Mengapa??" tanya Amelia.

"Rumah sakit tidak mungkin dapat menemukan apa-apa, lebih baik kita bawa saja jenazah Lina ke rumah Abang!"

"Kenapa harus begitu?!" tanya Wijaya membelalakkan matanya.

Dora akhirnya menjadi kesal juga melihat sikap Wijaya, sehingga ia merasa tidak sungkan-sungkan lagi dengan mengatakannya.

"Saya memerlukan Lina Bang, dia meninggal dengan cara tidak wajar dan itu harus kita ketahui demi mencegah korban-korban berikutnya. Nah kita tidak punya waktu lagi bawa jenazah Lina ke mobil..!" kata Dora bernada memerintah.

Tanpa berkata lagi Wijaya segera mengangkat mayat Lina.

Tapi Amelia yang menyusul di belakang langsung menjerit saat melihat gumpalan berwarna putih seperti ikan cumi meluncur dari rok Lina bercampur dengan gumpulan-gumpulan darah segar.

Wijaya berbalik melihat, ia nampak berubah pucat begitu melihat gumpalan putih yang sangat mirip dengan cumi itu.

Dora berlari dengan cepat menyambar kain serbet yang terletak di atas meja makan.

Dengan kain itu ia segera membungkus benda berlendir tersebut dan mengikatnya dengan kuat.

"Apa itu?!" tanya Amelia.

Tubuhnya gemetar bahkan hampir terjatuh jika saja Dora tidak cepat-cepat menyanggahnya dengan mempergunakan tangan kirinya.

"Tidak ada waktu lagi bagi saya untuk menceritakan segala sesuatunya di sini, ayo jalan..!!" Dora berjalan cepat sambil memapah tubuh Amelia.

Sementara Wijaya sendiri dengan perasaan ngeri segera bergegas membawa jenazah Lina dan memasuki mobilnya.

Tidak lama mobil BMW warna cream itu telah meluncur di Jalan Raya dengan kecepatan tinggi.

Wijaya yang terus dicekam ketegangan itu nampak seperti sudah tidak memperhitungkan segala sesuatunya lagi.

"Hati-hati Bang, jangan karena memburu waktu kita malah celaka sendiri!!" Dora mengingatkannya.

Amelia yang duduk di sisi kanannya terus memegangi lengan Dora dengan erat.

Tangan itu dingin sekali, rupanya kejadian-kejadian yang disaksikannya telah membuatnya menjadi ketakutan sekali.

Dora kelihatan tenang saja, walau saat itu di sebelah kirinya bersandar jenazah Lina sahabatnya.

Sejenak otak gadis itu bekerja cepat memikirkan kejadian demi kejadian yang berlangsung secara cepat dan tidak terduga-duga kapan datangnya.

Di tangan kirinya masih tergenggam bungkusan yang berisi benda yang berbentuk cumi itu.

Ia heran, mengapa pendarahan itu terjadi secara tiba-tiba?

Dan kenapa benda itu sangat mirip dengan cumi-cumi?

Walaupun tadi Dora hanya sempat melihatnya sekilas, tapi dengan jelas ia dapat memastikan bahwa benda itu tidak lain adalah wujud awal dari sesosok bayi.

Masih belum sempurna memang, tapi Dora melihatnya dengan jelas itu sama artinya Lina mengalami keguguran.

"Gila...!" Dora mendesis.

Bagaimana mungkin hal seperti ini terjadi??

Seingatnya Lina bukan garis sembarangan, bahkan sampai sekarang Dora tahu Lina belum pernah berpacaran.

Sekalipun itu walau hanya sekedar PDKT.

Bagaimana mungkin kehamilan dapat terjadi tanpa Pernah berdekatan dengan seorang laki-laki??

~Hay kak.... makasih udah baca... jangan lupa tinggalin jejak like komen dan vote nya~

1
estycatwoman
Very nice love it 👍💯❤
Fadliyan
padahal masih seru thor tpi udah tamat aja
terus berkarya thor sukses selalu😊😉
Ereza
keren banget si dewi tapi sayang jahat
Ereza
ga ada otak si pak rudi😬😡😠
Ereza
pak rudi ga ada habis habis nya😤 udah bau tanah padahal
Ereza
gatau lagi mau bilang apa wijaya kasihan banget
Mengkel
ngeri sedap
Prapre Chan
bagus bagus🤗🤗
Cahayo Pink
hmmmmm
Bwabwa
bagus💪
Andi Saputra
mantap thor buat karya baru lagi👍👍
ndak tau
mantap thoor
Nisah Siregarr
keren thhorr
Syawal Pren
bagus...
Alexa Putra
makasih thor ceritanya....
gasuka
end....
Piva
tamaaaattt
Piva
hmmmmmm
Piva
hmmmm
Piva
is kok serem
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!