Taufan Ravael, seorang pemuda yang selalu menebar senyum dan keceriaan pada orang orang di dekat nya. Setidaknya itu yang orang lain lihat dari nya, tanpa mengetahui jika itu hanyalah topeng belaka.
menyembunyikan duka dan rasa sakit karena kehilangan kedua orang tua nya, dan menghabiskan 6 tahun hidupnya tanpa kasih sayang.
Orang tua nya meninggal akibat kebakaran di rumah nya dan kedua saudara nya membenci nya sejak saat itu.
Harus terus bertahan melawan penyakit yang semakin lama kian menggerogoti dirinya, apa Taufan bisa terus bertahan dan kembali mendapatkan kebahagiaan dan kehangatan keluarga seperti apa yang selalu ia impikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilaura Callisto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Hati Yang Keras
Kamar itu tak lagi sepi semenjak Arga membawa sepasang kurcaci Sevan dan Leon. Membiarkan Leon mengisi atmosfer dengan sesi curhatan yang terlampau tidak bermutu yang kemudian akan dibalas oleh jawaban Sevan yang kadang tak terduga.
Setidaknya keberadaan mereka sedikit memberi warna di sepetak ruang yang semula suram karena dibiarkan beku oleh tuannya.
Sementara sang empunya masih bertahan dalam bisu nya. Pandangannya terpaku keluar jendela, di mana awan gelap bergulung tebal tapi tak kunjung menumpahkan bebannya. Sosoknya kala itu nampak begitu asing bagi mereka yang mengenal Taufan lebih dari sekedar nama.
Sekeras apapun mereka berusaha membangun interaksi, menjalin obrolan, nampaknya atensi pemuda itu terlalu jauh untuk bisa kembali mereka rangkul.
Seakan jiwanya ikut terhempas angin, dan hanya menyisakan raga yang masih tinggal bersama mereka. Tatapan nya kosong tanpa arti. Ratapan yang tak seorangpun mampu pahami.
"Kelihatan nya kau lagi capek. Istirahat gih. Kita balik aja." Setelah sekian lama terkungkung atmosfer tak mengenakan, Arga angkat bicara pun sekaligus mengakhiri perjumpaan mereka. Ia muak dengan keheningan tak berkesudahan ini.
Barangkali memang ketenanganlah yang Taufan inginkan, maka ia tak punya alasan untuk tetap tinggal.
"Ah-bener juga. Udah berapa lama kita di sini? Sorry, jam istirahatmu jadi terganggu ya?" Timpal Leon yang lantas membereskan sampah makanannya.
"Kalau gitu kita balik dulu deh. Besok-besok kita ke sini lagi." Sevan menjadi yang terakhir berdiri, kemudian menepuk bahu Taufan dua kali sebelum beranjak menyusul Arga yang sudah lebih dulu berjalan bersama Leon di depan.
"Apa kalian nggak bisa di sini sedikit lebih lama lagi?" Serak itu berhasil menahan langkah ketiganya. Saat itu mereka tahu, warna suara yang terdengar kelabu, dari getar suara lemah terucap, ada rasa putus asa yang mungkin tak sanggup la tunjukan.
Leon dan Sevan saling bertukar pandang, merasa iba jika harus meninggalkan Taufan seorang diri. Tapi suasana yang terlanjur canggung membuat mereka enggan, bahkan tak nyaman untuk menetap lebih lama.
"Kalian balik duluan nggak papa. Aku balik agak entaran aja," putus Arga. Memahami kode itu, Leon dan Sevan hanya mengangguk. Hubungan pertemanan mereka memang cukup dekat, tapi dalam situasi seperti ini, tak ada yang bisa menangani Taufan sebaik Arga.
Dan bilik itu kembali senyap, sesaat setelah kepergian Leon dan Sevan. Lagi-lagi hanya menyisakan mereka berdua, dengan Taufan yang kembali bungkam dan Arga dengan gusarnya.
la lantas menarik kursi tepat di samping ranjang, mendudukan diri sambil menerka-nerka apa yang akan terjadi berikutnya. "Jadi, apa kau akan membagi beban yang mengganggu pikiranmu itu? Atau kau bakal tetep diem kayak patung Moai gitu?"
Kalimat itu terdengar sarkas. Jujur saja, Arga juga lelah jika terus diminta untuk memahami, tanpa pernah dihargai. la khawatir, tapi tak bisa dipungkiri ada rasa dongkol setiap kali Taufan mendiamkannya. Ia hanya ingin membantu, setidaknya mengurangi beban perasaan yang mungkin menyakitkan untuk disimpan seorang diri. Tapi Taufan selalu saja membuat dinding pembatas tanpa mengizinkan orang lain mengintip isi pikirannya dan membuatnya seakan semakin sulit didekati.
"Jangan bikin penyakit, Fan. Badanmu yang gak kuat kalo disuruh nahan terus."
la yakin Taufan menahannya untuk suatu alasan. Namun sayang sampai detik ini ia masih belum bisa menerawang luka apa yang kali ini disembunyikan. Hingga satu kalimat singkat menyekat nafasnya. "Arga, apa aku terlihat seperti pembunuh?"
"Hah? Kenapa malah kau bertanya begitu?"
Hanya beberapa saat sebelum Taufan memutus kontak mata secara sepihak dan membuang pandangan ke sudut ruangan.
"Nggak, bukan apa-apa. Lupain aja pertanyaan ku tadi. Kau juga balik aja sana. Aku capek, mau istirahat."
"Apa? Tadi kau minta buat ditemenin, sekarang kau mengusirku? Kau sehat?" Ujar Arga tak terima, merasa telah membuang waktunya untuk hal sia-sia.
"Please Arga, jangan hari ini. Aku lagi nggak mau ribut. Aku capek."
Arga terperangah. "Siapa yang ngajak ribut? Aku cuma ngikut apa mau mu. Kau minta ditemenin, ya aku temenin. Aku cuma berharap, seenggaknya kau bisa mengatakan hal yang mengganggumu atau apapun yang kau rasakan, biar aku juga tahu mesti gimana. Udah berapa kali sih aku bilang? Kau nggak harus menghadapi semuanya sendiri. Kita bisa cari solusinya sama-sama. Walau mungkin pada akhirnya aku nggak bisa bantu, seenggaknya itu bisa membuatmu merasa lebih baik karena kau nggak sendiri."
Arga meneguk ludah kasar. Entah harus bagaimana lagi agar Taufan mengerti bahwa hadirnya di sana bukan untuk penghias ruangan. Ia akan dengan senang hati memasang telinga untuk mendengar segala kesah yang pemuda itu keluhkan. Ia di sana untuk itu. Namun ternyata jawaban Taufan jauh melebihi ekspektasi.
Jawaban yang justru menambah goresan panjang bagi Arga. "Kau nggak perlu repot-repot merhatiin aku. Nggak ada yang mengharuskanmu peduli padaku. Aku cuma minta ditemenin. Ngga ada yang minta buat dibantu atau diceramahin. Ngga ada yang minta kalian buat khawatirin aku." Ucap Taufan begitu Arga menuntaskan kalimatnya.
Arga tak tahu, apakah Taufan mengatakan hal itu dengan sungguh-sungguh atau karena terbawa emosi sesaat. Mungkin karena hujan yang tak lama lagi akan turun, udara sekitar membuat keduanya gerah dan kesulitan mengontrol emosi. Tapi tak mampu ia sembunyikan kecewanya atas ucapan Taufan.
"Oke kalau itu mau mu. Silahkan lakukan semuanya sendiri. Ternyata selama ini aku cuma buang-buang waktu buat hal yang nggak penting." Maka sebelum kata-kata menciptakan lara yang lain dan kesabarannya habis terkikis, Arga memilih untuk segera enyah. Sementara Taufan tetap bergeming saat pintu berderit, dan sosok Arga menghilang sepenuhnya dari pandangan. Tak sepatah kata ingin ia ucap.
Bahkan hingga saat terakhir sekalipun, tak seorang dari mereka hendak merendahkan ego. Masing-masing keras pada hati yang sejatinya sama-sama terluka.
Kini Taufan benar-benar sendiri. Sisinya kembali hampa, membiarkan hangat di sana perlahan pupus. Mata terpejam untuk sesaat, meredam sisa amarah yang sempat terpatik. Mencari damai di sela pikiran yang berkecamuk.
Di tengah hening mutlak yang merayapi dinding-dinding putih, jarum jam berdetak lebih keras dari biasanya, seperti mengejek. Kemudian tetes air langit datang menyerbu. Riuh hujan mengisi seluruh ruang, seakan tak mau kalah. Beradu dengan ribut yang timbul tenggelam di kepala. Ia muak dengan ribut yang tak menyisakan ruang tenang dalam dirinya.
Alasan ia tak ingin ditinggal sendiri, karena dengan keberadaan orang lain di sekitarnya, pikirannya akan sedikit teralihkan. Tapi baru saja ia membuang harapan terakhirnya. Padahal ia hanya ingin ditemani, tanpa perlu memberi penjelasan apapun.
Hembusan nafasnya terhela berat. la lelah, tapi terlalu takut untuk terlelap. la takut akan mimpi yang tak ia harapkan. Kalau dipikir sekali lagi, mengapa ia bisa jadi seperti ini? Dari mana semua persoalan ini berakar? Sebenarnya di mana letak salahnya?
Otaknya merangkai satu persatu peristiwa, memproyeksikannya dalam bentuk ingatan. Jika saja keluarganya tidak pindah rumah, atau ayahnya menerima project besar itu, apakah keluarganya akan tetap baik-baik saja?
Tidak seorangpun mengira kalau teman ayah nya sendiri adalah seorang psikopat. Sampai pada kebakaran itu terjadi. Kalau saja ia bisa melakukan sesuatu walau hanya sedikit, apa benar tragedi itu bisa terhindarkan?
Jikalau demikian, bukankah Mervin akan tetap mengerahkan segala cara untuk menghancurkan keluarganya? Dan lagi, kenapa hanya dirinya yang masih hidup dari peristiwa mengerikan itu? Kenapa ia harus hidup dalam kebencian dan menderita karena penyakit sialan yang hanya akan sembuh saat ia sudah mati.
Kenapa harus dirinya, bukan orang lain yang mengalami ini semua? Kepalanya terasa penuh, dadanya bergemuruh. Sekeras apapun ia membenturkan kepalanya di tembok, sekuat apapun ia memukul dadanya.
Tak satupun pertanyaan mampu ia jawab. Tak sedikitpun sesak mampu ia lepas. Ingin berteriak, mengatakan jika dirinya lelah dengan sandiwara dunia.
Agar semesta tahu, bahwa dirinya tak sekuat seperti yang garis takdir suratkan untuknya. Tapi bahkan pita suaranya menolak untuk mengadu. Ia lelah. Ia muak dengan segala hal dalam hidupnya. la butuh sesuatu untuk pelampiasan.
Seketika pandangannya tertuju pada nakas. Sebuah pisau buah yang tergeletak di sana menarik perhatian nya. Mungkin memang seharusnya ia tak pernah ada.
bonchap ya thor
beneran ini Taufan meninggal...
koq pemeran utamanya meninggal
di satu sisi boleh kah taufan egois dengan apa yg pernah dilakukan Hali dan ken... apa yg pernah ia rasakan dulu tak pernah sebanding dengan kata maaf dari mereka...