Indonesia
NovelToon NovelToon
Dipaksa Menikahi Bidadari Surga

Dipaksa Menikahi Bidadari Surga

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Pernikahan Kilat / Cintamanis / Teen / Romantis
Popularitas:50.4k
Nilai: 5
Nama Author: Hayati Sarmita

Zaahra Aisyah Khairina adalah Seorang Wanita Bercadar. Sejak kecil sudah tinggal di dalam Pesantren. Dia di ajarkan agar menjadi Wanita Penghuni Surga..

Tapi saat waktunya kuliah, iya memilih untuk kuliah di luar jalur pesantren, lalu dia bertemu dengan seseorang pria yang membuat hatinya berdegup lebih kuat dari biasanya.


Bagaimana kelanjutannya ceritanya? Yok kita ikuti bersama-sama 🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayati Sarmita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bucin berkedok Hidayah

✨✨

Pesantren Darussalam sore itu sedang ramai. Anak-anak santri berseliweran, ada yang mengaji, ada yang menyapu halaman, ada yang... berdiri sok sibuk sambil nyender ke tiang masjid.

Itu Akhtar.

Dengan peci agak miring, tangan bersedekap, dan tatapan lurus ke arah… aula putri.

“Masya Allah... hari ini bidadari turun lagi ke bumi,” bisiknya sendiri, saat sosok Kak Zahra lewat, membawa tumpukan buku tebal dan mushaf besar.

Zahra melintas pelan, tidak melihat ke arah Akhtar. Tapi bagi Akhtar, itu saja sudah cukup membuatnya deg-degan seperti baru disiram wudhu pakai es.

Beberapa hari sebelumnya...

Mami Dinda sedang duduk di ruang tamu rumah Zain, ngobrol dengan Bunda Qinka.

“Saya tuh heran, Qinka… ini anak saya, Akhtar, tiba-tiba tiap hari ngajak ke pondok. Katanya mau ikut ngaji sore. Saya pikir dia kena demam… ternyata nggak,” ujarnya sambil geleng-geleng.

Bunda Qinka tertawa kecil. “Syukuri saja, Din. Siapa tahu ini hidayah.”

“Iya… hidayah bentuknya cantik, kayaknya,” bisik Nyai Azizah setengah berbisik, membuat ketiganya saling pandang lalu tertawa pelan.

Kembali ke Akhtar...

Setiap sore, Akhtar selalu datang lima belas menit lebih awal. Kadang ikut bantu bersihin halaman, kadang pura-pura ikut ngaji bareng para santri laki-laki. Tapi kalau Kak Zahra lewat, fokusnya langsung terbelah dua.

Kadang-kadang, dia sengaja duduk dekat tiang mushola karena dari situ dia bisa melihat jendela ruang musyawarah putri, tempat Zahra biasa duduk.

“Subhanallah... itu cahaya auranya atau cahaya lampu neon, ya?” gumamnya pelan.

Sampai suatu hari, Ustaz Lutfi menepuk bahunya saat dia lagi bengong.

“Akhtar?”

“Eh—iya, Ustaz!” Akhtar refleks berdiri seperti habis ketauan nyontek.

“Kamu kayaknya semangat banget akhir-akhir ini. Mau jadi santri mukim sekalian?” goda Ustaz Lutfi.

“Wah… bisa dipertimbangkan, Ustaz,” jawab Akhtar dengan senyum canggung.

.....

Malamnya, di rumah Zain...

Zain memelototi Akhtar saat mereka nonton bola bareng di ruang tengah.

“Lo ngapain sih tiap hari ke pondok? Jujur.”

Akhtar tersenyum kalem, tapi matanya berbinar.

“Bro... lo percaya nggak sama cinta pandangan pertama... tapi dari jarak 50 meter?”

Zain mendecak. “Gue tahu! Lo naksir siapa?”

Akhtar menatapnya serius.

“Zahra.”

Zain langsung nyaris tersedak cemilan.

“Lo... naksir Kakak Ipar Gue?!”

“Sssttt... jangan kenceng! Gue belum siap ditendang keluar dari Jogja!”

Di pesantren, keesokan harinya...

Zahra sedang mengajar santri putri mengaji. Dari balik pagar pemisah, Akhtar lagi-lagi duduk sok fokus mendengarkan kajian. Tapi sesekali matanya melirik ke arah Zahra dengan ekspresi bodoh yang berusaha dia tutupi dengan tasbih di tangan.

Dan entah bagaimana, sekali waktu Zahra menoleh… dan mata mereka bertemu.

Deg.

Akhtar kaku seperti tiang listrik.

Zahra tersenyum kecil di balik cadarnya, terlihat dari matanya yang menyipit. Lalu kembali menunduk ke kitab.

Akhtar menatap langit.

“Ya Allah... ini sinyal, kan? Tolong jangan PHP…”

.....

Hari ketiga belas berturut-turut Akhtar datang ke pesantren. Dan anehnya, dia selalu pulang pas setengah sesi ngaji.

Zahra, yang diam-diam mengamati, akhirnya bertanya pada rekan sesama pengajar putri.

"Si Akhtar itu kenapa sih? Kok sering banget ke sini, tapi nggak pernah ikut sampai habis?"

Temannya nyengir. "Katanya sih dia lagi nyoba belajar dikit-dikit dulu."

Zahra mengerutkan alis. “Tapi kenapa kayak lagi audisi jadi santri favorit? Duduknya di tempat strategis, ngangguk tiap dua menit, terus ngilang.”

Sementara itu, di kamar Zain...

Saat Aisyah sedang tidak di rumah, karena Aisyah lagi di rumah utama bermanja-manja bersama Ummi nya.

Zain sedang rebahan saat Akhtar nyelonong masuk dengan ekspresi serius.

“Bro. Gue udah nggak kuat.”

Zain mendelik. “Lo kenapa? Niat jadi ustaz full time?”

Akhtar duduk di ujung kasur. "Gue butuh arahan. Gue mau serius... ngelamar Zahra.”

Zain langsung bangkit duduk. “WOI. Lo baru suka doang, bro!”

“Tapi lo nggak tahu rasanya!” Akhtar memeluk bantal, dramatis. “Setiap dia lewat, angin berhenti. Dunia kayak slow motion. Dan setiap dia senyum, gue ngerasa dosa-dosa gue luntur.”

Zain menatapnya dalam. “Gue heran lo masih banyak dosa padahal Kak Zahra lewat terus.”

Esoknya...

Akhtar nekad konsultasi ke Ustaz Lutfi, ustaz muda di pesantren yang terkenal kalem tapi tajam kalau urusan cinta-cintaan.

Sore itu, Akhtar mondar-mandir di depan kantor kecil bertuliskan "Ustaz Lutfi – Pembimbing Akhlak dan Bimbingan Konseling Santri". Keringat dingin mengalir padahal AC alam sedang adem-ademnya. Tangannya bergetar seperti mau daftar ujian praktik.

“Masuk, Akhtar,” suara tenang dari dalam terdengar.

Deg. Ustaznya bisa baca gerak-gerik dari balik dinding, pikir Akhtar. Dengan ragu, dia membuka pintu dan masuk.

“Assalamu’alaikum, Ustaz,” sapanya sambil duduk kikuk.

“Wa’alaikumussalam. Duduk, Nak. Saya udah lihat kamu mondar-mandir kayak maling mikirin dosa. Ada apa?”

Akhtar menarik napas dalam-dalam. “Ustaz… saya pengen tanya. Misal nih, misal, kalau kita suka sama seseorang, tapi kita mau serius, yang syar’i gitu… gimana, ya, caranya?”

Ustaz Lutfi mengangguk pelan, wajahnya tetap tenang. “Suka pada lawan jenis adalah hal yang manusiawi. Pertanyaannya, kamu serius atau cuma baper musiman?”

Akhtar langsung menjawab, “Serius, Ustaz. Saya bahkan udah mikirin nama anak. Eh maksud saya... niatnya ke pernikahan.”

Ustaz tersenyum tipis. “Siapa orangnya?”

Akhtar berdeham, “Zahra, Ustaz… Kakaknya Aisyah.”

Seketika Ustaz Lutfi menutup buku catatannya.

“Pantesan. Kamu datang terus ke pengajian tapi hilang sebelum selesai. Saya kira kamu pakai ilmu teleportasi. Ternyata kamu pakai ilmu cinta.”

Akhtar tertunduk malu. “Maaf, Ustaz…”

“Kalau kamu memang serius,” lanjut Ustaz.

Ustaz Lutfi menatap Akhtar dalam-dalam. “Pertama, niatkan karena Allah.”

Akhtar angguk. “Udah.”

“Kedua, jangan modus berkedok ngaji.”

Akhtar: “…Ustaz tahu ya?”

Ustaz tersenyum. “Santri lain ngaji sampai habis, kamu ngilang tiap ba’da maghrib.”

“kamu harus kenali dia bukan dengan mengintai, tapi dengan bertanya pada keluarganya. Kamu bisa minta bantuan Zain. Dan sebelum itu… jaga pandangan, jangan banyak drama. Ngaji dulu sampai tamat baru boleh nikah.”

Akhtar angguk cepat. “Siap, Ustaz. Jadi, saya harus lebih baik dulu, ya? Biar layak jadi calon suami.”

Ustaz tertawa ringan. “Minimal layak jadi calon santri tetap dulu. Habis itu baru kita bicarakan calon menantu.”

Akhtar tersenyum malu-malu. “Siap, Ustaz. Bismillah saya mulai dari ikut ngaji penuh dulu.”

Saat Akhtar keluar dari ruangan, langkahnya mantap. Di satu tangan dia bawa buku catatan, di kepala dia udah ngebayangin baju akad warna putih tulang.

Dan benar saja...

Sore itu, Zahra sengaja mengatur jadwal ngaji lebih awal, dan—seperti biasa—Akhtar datang. Duduk manis. Matanya berkilat melihat Zahra lewat dengan gamis biru pastel lengkap dengan cadar di wajahnya.

Tapi kali ini Zahra menghampiri... langsung.

“Mas Akhtar, ya?”

“Eh—iya, Kak Zahra! Eh, Kak, eh, Ibu, eh, Ukhti!”

Zahra tersenyum sopan. “Saya cuma mau nanya. Mas Akhtar ngaji-nya sampai mana ya? Kayaknya tiap ngaji sore, Mas pulang duluan terus.”

Akhtar langsung berkeringat dingin.

“Eh, anu… saya tuh sebenarnya… sedang… melakukan metode… tadabbur mobilitas terbatas.”

Zahra mengerutkan alis. “Apa itu?”

“Ngaji... tapi... sambil... merenung... di jalan... pulang?”

Zahra nyengir, nyaris nggak tahan ketawa.

“Ya udah, besok ikut ngaji sampai selesai ya. Biar renungannya nggak putus-putus.”

Akhtar langsung berdiri tegap. “Siap, Ukhti Zahra! Saya akan jadi santri paling fokus minggu ini!”

Malamnya, curhat lagi ke Zain...

“Gue dilabrak. Tapi dengan senyum. Dan sekarang gue harus ikut ngaji full seminggu. Gue takut dosa gue nambah karena mikirin Zahra terus waktu ngaji!”

Zain ngakak di tempat.

“Gue doain lo dapet hidayah beneran, Tar. Tapi serius, good luck. Lo satu-satunya orang yang ngajinya dimulai karena cinta dan lanjut karena ditegur cewek.”

.....

Sudah seminggu ini, Akhtar jadi santri paling rajin di Darussalam. Rajin datang maksudnya, bukan rajin duduk diam atau rajin mencatat. Tapi… lumayanlah, progress-nya bikin para asatidzah terharu dan curiga sekaligus.

Setiap sore, dia muncul lebih cepat lima menit sebelum pengajian dimulai. Duduk paling depan, lengkap dengan peci, sarung, dan catatan kecil yang entah isinya benar atau cuma doodle nama “Zahra” dalam berbagai font.

Tapi… begitu ustaz mulai menjelaskan tafsir surat An-Nur, mata Akhtar mulai ngambang. Fokusnya pecah tiap ada langkah melewati serambi—siapa tahu itu Zahra lewat. Kadang dia pura-pura nyari halaman kitab, padahal cuma mau ngintip ke arah dapur santriwati.

Ustaz Lutfi yang melihat itu hanya menghela napas panjang.

“Akhtar,” tegur Ustaz di tengah pelajaran.

“Iya, Ustaz!” jawabnya cepat, refleks seperti anak ketahuan nyontek.

“Coba ulangi tafsir tadi. Yang tentang menjaga pandangan.”

Akhtar menggigit bibir. “Eh… menjaga pandangan itu penting, Ustaz. Supaya kita nggak... eh, tergoda hawa nafsu dan... dan... fokus?”

“Fokus sama siapa?” timpal Ustaz.

Beberapa santri cowok lainnya cekikikan.

“Fokus pada Allah, Ustaz!” jawab Akhtar mantap, setelah sempat menunduk malu.

Ustaz Lutfi mengangguk, meski dari wajahnya jelas dia menahan tawa. “Alhamdulillah. Sedikit-sedikit mulai sadar.”

Keesokan harinya, Akhtar datang lebih awal lagi. Bawa tas selempang isinya cuma Qur’an, catatan, dan satu botol parfum.

“Astagfirullah, kamu bawa parfum apaan, Tar?” tanya Toriq, salah satu santri senior, sambil tutup hidung.

“Wewangian biar segar pas ngaji. Siapa tahu... eh... biar semangat!” jawab Akhtar sambil nyemprot-nyemprot baju.

Wangi parfumnya menyerupai gabungan minyak kayu putih dan aroma toko pakaian baru. Santri lain mulai menjarak.

Tapi dia tetap tekun. Kali ini dia hafalin ayat semalaman. Sayangnya, saat disuruh maju ke depan, hafalannya malah berubah jadi lirik nasyid.

“Bismillah... Alaa kulli haal... eh, bukan. Bismillah... An-Nur ayat... eh…”

Semua mulai ketawa. Ustaz Lutfi cuma menggeleng, “Ini bukan konser, Akhtar.”

Akhtar pun duduk kembali dengan wajah merah padam, tapi senyum-senyum sendiri. Karena dari kejauhan, dia sempat lihat Zahra tersenyum tipis sambil menunduk. Dan itu cukup buat jadi motivasi sepekan ke depan.

....

Pagi itu, Zain duduk di gazebo pesantren, buka laptop, ngetik sambil minum kopi. Gaya-gayaan banget, padahal yang diketik baru tiga kalimat email buat dosen.

Tiba-tiba, dari kejauhan muncul Akhtar. Mukanya serius, tapi langkahnya kayak ninja yang kepleset sandal.

“Brooo…” Akhtar manggil dengan suara dalam, duduk berat di sebelah Zain. “Kita harus bicara.”

Zain mengangkat alis. “Kenapa? Zahra nerima kamu? Atau kamu akhirnya bisa ngaji satu halaman full tanpa salah ayat?”

Akhtar menatap kosong ke depan. “Zain… aku rasa… aku mulai mencintai dengan cara yang benar. Dengan cara Islam. Dengan niat yang… suci.”

Zain mendengus. “Heh, lu kira ini sinetron Ramadhan?”

“Tapi serius, bro. Setiap aku ngeliat dia jalan pelan sambil bawa kitab, rasanya tuh kayak ada background nasyid. Jantungku deg-degan, tanganku keringetan, terus... aku jadi pengen ikut kajian tiap hari!”

Zain meneguk kopinya, sok cool. “Itu namanya semangat thalabul ‘ilmi. Bagus. Tapi lu jangan niat ngaji karena santriwati, Tar.”

“Eh, bukan sembarang santriwati, bro. Ini... Zahra. Kakaknya Aisyah! Cantik, sopan, suaranya adem kayak murottal. Kalau ngomong tuh... kayak azan subuh, bikin hati tenang.”

Zain hampir nyembur kopinya.

“Lu bucin akut, Tar.”

“Tapi kan aku ngikutin jejak lu, bro. Lu juga sekarang nggak bisa ninggalin Aisyah. Tiap pagi nanya, ‘Aisyah udah sarapan belum?’ Tiap siang, ‘Aisyah udah makan siang belum?’ Malem dikit, ‘Aisyah ngantuk nggak?’ Cieeee...”

Zain menegakkan badan, pasang wajah bijak. “Itu tanggung jawab suami, bukan bucin.”

“Ah elah, bilang aja kita sama-sama bucin, cuma aku bucin pemula, lu udah level master!”

Zain pura-pura sibuk ngetik.

Akhtar merapat, nyolek bahunya. “Bro... lu harus bantu gue. Gue mau serius. Tapi Zahra tuh... cool banget. Kalem. Kaku. Kayak password WiFi orang tua—susah ditembus.”

Zain mikir sebentar, lalu berkata, “Gue bantu. Tapi dengan satu syarat.”

“Apa?”

“Mulai besok, lu ikut ngaji full. Gak boleh setengah-setengah. Dan... stop semprot parfum kayak mau akad nikah tiap hari.”

Akhtar mengangguk mantap. “Deal! Demi cinta dan demi Allah!”

“Demi Allah dulu, cinta nomor dua.”

“Siap, guru bucin!” Akhtar semangat!

Zain cuma geleng-geleng kepala, tapi hatinya hangat. Karena ia tahu, meski kocak dan penuh drama, Akhtar sedang belajar sesuatu yang besar: mencintai dengan cara yang di ridho-nya.

.....

Suasana sore itu tenang di halaman pesantren Darussalam. Langit agak mendung, angin berhembus pelan, dan burung-burung bersiul syahdu. Tapi hati Akhtar? Ribut. Resah. Seperti pasar malam dalam dada.

Ia baru saja selesai ngaji satu juz penuh—rekor tertinggi selama hidupnya—dan hendak menyapa Zahra dari kejauhan dengan senyum paling Islami yang ia latih selama seminggu.

Tapi sebelum ia sempat melangkah…

Sebuah mobil Alphard putih masuk ke pelataran pondok. Kaca filmnya turun perlahan. Keluar dari dalam mobil, seorang pria dengan gamis putih bersih, janggut rapi, wangi aroma kasturi, dan senyuman meneduhkan.

Di belakangnya, seorang wanita paruh baya turun sambil membawa map berisi dokumen. Disambut oleh Ummi Afifah dan Kiai Ahmad, yang langsung tersenyum ramah.

Akhtar memicingkan mata. “Siapa tuh? Ustadz seleb? Atau pimpinan rombongan haji?”

Zain, yang baru datang dari masjid, ikut menatap dan menjawab datar, “Itu namanya Ustadz Fahmi Ar-Razzaq. Hafidz 30 juz, lulusan Al-Azhar, punya pesantren di Jawa Timur. Pernah masuk majalah Islami sebagai ‘Ustadz Idaman Ibu-ibu se-Indonesia’.”

Akhtar: “…”

Zain: “Dan katanya… dia datang ke sini buat melamar Zahra.”

Ceklek.

Jantung Akhtar terasa seperti patah jadi dua belas bagian.

“Apa? Zahra? Kak Zahra-ku yang itu? Yang tiap hari aku tungguin keluar kelas? Yang aku kasih teh manis diam-diam lewat santri kecil? Zahra yang... aku doakan di setiap tahajudku yang mulai rutin itu?”

Zain tepuk bahu sahabatnya. “Tenang, Tar. Ini ujian. Jangan langsung kufur nikmat.”

Akhtar panik. “Bro! Gimana kalau dia diterima? Gimana kalau Zahra ternyata lebih suka tipe cowok sempurna, saleh, stabil, dan sukses begitu?!”

“Yaaa... siapa yang gak suka?”

Akhtar menatap langit. “Ya Allah, ini kenapa saingan gue kayak bintang tamu Kajian Ustadz Hanan Attaki sih? Gak adil!”

Tiba-tiba, ia ambil wudhu lagi. Lari ke musholla. Solat istikharah sambil menangis—padahal baru tau nama saingan satu menit yang lalu.

Sementara itu, Zahra yang baru diberitahu niat lamaran tersebut hanya menjawab pelan ke Ummi Afifah, “Kalau memang serius, izinkan Zahra istikharah dulu ya, Ummi.”

Suaranya tenang. Tapi siapa sangka… di hatinya pun ada tanda tanya. Karena diam-diam… ia menyadari, anak laki-laki yang sok nyebar senyum di depan kelas ngaji, yang selalu muncul tiba-tiba dengan dalih “mau ambil air”, telah meninggalkan jejak di hatinya juga.

1
riya chan
Lah kok aisya nggak pake cadar sampai bisa di lihat sama akhtar bukan muhrim kan kok giru
david 123
oh...begitu kisah awal nikah mendadak...mantap .
david 123
Awal kisah kenapa menikah secepat ini ya Thor,blm di pisahkan.Hy mendadak menikah karna ada kesalahan...atau insiden kecil .Kisahx bagus ...ttp semangat Thor.
Nenni Astika
knp ga update ya padahal kutunggu² aisyah dan zain
𝓹𝓮𝓷𝓪𝓹𝓲𝓪𝓷𝓸𝓱: halo kak baca juga d novel ku 𝙖𝙙𝙯𝙖𝙙𝙞𝙣𝙖 𝙞𝙨𝙩𝙧𝙞 𝙨𝙖𝙣𝙜 𝙜𝙪𝙨 𝙧𝙖𝙝𝙖𝙨𝙞𝙖 atau klik akun profilku ya, trmksh 🙏
total 1 replies
Happyy
😘😘😘
Tina Martina
jangan ada drama orang ketiga thor
Ropiyati Ropi
romantisnya zain
online reader
lanjut kaka author,,,
xia~xiaoling
alhamdulillah akhirnya unboxing jg...
Ayirin Syaqila
/Good/
Ayirin Syaqila
ooo begitu toh ceritanya
Ayirin Syaqila
lucu menarik
hmm orang Sunda y
Ayirin Syaqila
hehehe kamu lucu deh
Inarairlan 0811
ko tlg jgn selamatkan. gmn sii mksdny..
Amirullah Hidayat
bagus dan mendidik
Nurul Khomariyah
semangat thor di tunggu up nya
Erni Zahra76
lanjut ka
Haysa ❤️: Siap kak 🏹♥️
total 1 replies
Haysa ❤️
bagaimana?
Soraya
kok bisa ya gmn caranya pipis tp bajunya dipegangin dari belakang
Haysa ❤️: Susah emnk. Coba dulu, deh.. 😌
total 1 replies
Soraya
Assalamu'alaikum ku numpang mampir thor
Haysa ❤️: Waalaikumsalam
Dipersilahkan 😘
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!