Menceritakan dua anak manusia. Yang bersahabat dari kecil hingga dewasa. Disaat beranjak tumbuh menjadi remaja, mulai lah ada benih benih cinta diantara kedua. Tapi seiring nya waktu. Mereka harus berpisah karena urusan pekerjaan kedua orang tua yang mengharuskan pindah keluar kota. Dan mereka pun berjanji akan setia satu sama lain sampai dipertemukan kembali. Benarkah penantian itu akan berakhir bahagia.
Apakah cinta mereka terus mekar sampai mereka dipertemukan kembali?? Atau cinta mereka harus putus ditengah jalan??
ikuti lah kisah cinta mereka dinovel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wida_Ast Jcy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 MELEPASKAN MU (TAMAT)
Sementara itu, di Jepang Arka berdiri di depan jendela apartemen nya. Ia baru saja menerima pesan dari temannya di kampung sebuah foto sederhana Kyra dan Galang berdiri berdampingan di pelaminan yang didekorasi bunga kertas, dengan senyum mengembang di wajah mereka berdua.
Arka tidak langsung menjawab. Tangannya menggenggam ponsel itu erat. Ia menatap lama foto itu, seperti mencoba menebak perasaan di balik senyum Kyra. Ia terlihat bahagia. Sangat bahagia.
Namun sebaliknya Arka merasa hatinya hampa. Bukan karena Kyra memilih orang lain. Tapi karena ia tahu… ia datang terlalu lambat. Mungkin Kyra tidak cukup waktu lagi untuk menunggu.
Beberapa minggu sebelum hari pernikahan Kyra, Arka memang sempat pulang ke kampung. Ia membawa niat besar di hatinya melamar Kyra. Ia bahkan sudah menyiapkan surat pengunduran diri dari pekerjaannya agar bisa menetap di kampung dan hidup bersama perempuan yang dicintainya sejak dulu sejak kecil.
Namun saat sampai, ia menemukan kenyataan yang tak bisa ia ubah Kyra dan Galang sudah dekat. Bukan sekadar rekan kerja, bukan sekadar sahabat tapi dua orang yang tumbuh bersama dalam diam. Dan membangun perasaan dan rasa cinta.
Di teras Rumah Literasi malam itu, Arka dan Kyra duduk seperti dulu, tapi ada jeda panjang di antara mereka yang tak bisa disatukan lagi.
“Aku pikir… kamu akan menungguku,” ujar Arka lirih.
Kyra menunduk. Ia memainkan ujung jarinya, lalu menghela napas panjang. “Aku menunggumu, Ka. Sangat lama. Bertahun-tahun. Namun tak ada kabar tak ada berita. Kamu menghilang tanpa memberi kabar. "jawabnya.
“Aku tahu.” Suara Arka pecah. “Dan aku minta maaf. Aku terlalu fokus pada jalanku sendiri. Sehingga aku lupa akan janji janji kita. " ucapnya dengan menahan tangis.
Kyra menatapnya. “Kamu melakukan hal-hal luar biasa, Ka. Dan aku bangga. Tapi di sini… aku butuh seseorang yang bukan hanya datang sesekali. Aku butuh seseorang yang ada saat lampu padam, saat anak-anak menangis, saat dapur kosong. Dan Galang… dia ada. Dia selalu ada disaat saat aku membutuhkan. "jawab Kyra dengan lirih.
Arka menunduk. Kata-kata itu menamparnya pelan, bukan karena menyakitkan, tapi karena jujur.
“Kamu bahagia?” tanya Arka akhirnya.
Kyra tersenyum lembut. “Aku tenang, Ka. Aku sangat tenang. ” jawabnya.
Arka tersenyum pahit. “Itu cukup. Lebih dari cukup. Walaupun tenang bukan jawaban yang aku mau. "ucapnya.
"Semoga ketenangan itu bisa membawa kebahagiaan untukmu, Ra. " ucapnya lagi sambil meneteskan air mata dan pergi meninggalkan Kyra disana.
Arka pun pergi dengan hati yang penuh luka. Ia tahu luka itu ia sendiri yang menciptakan nya. Semuanya hanya tinggal kenangan. Tapi bagi Arka Kyra adalah kenangan yang terindah. Yang tak akan bisa ia lupakan sampai kapan pun.
Dan malam pernikahan itu berjalan dengan sederhana namun hangat. Galang berdiri dengan wajah penuh syukur saat ijab kabul terucap lancar. Kyra di sampingnya, tampak anggun dan penuh ketegasan. Tak ada gemerlap mewah, tak ada musik bising. Hanya lantunan doa dari para tetua kampung dan ucapan selamat dari mulut-mulut tulus.
Arka tidak hadir. Tapi jauh di kamar hotelnya yang sunyi, ia membuka jurnal catatannya. Di halaman terakhir, ia menulis satu puisi singkat:
“Ada cinta yang menunggu,
lalu pergi saat sadar tak dimiliki.
Ada cinta yang diam,
lalu tumbuh saat diberi tempat.
Dan aku?
Hanya ingin kamu bahagia
meski bukan bersamaku.”
Ia menutup jurnal itu dengan tenang.
Karena cinta sejati tak selalu harus memiliki.
Terkadang, cinta sejati adalah tahu kapan harus melepaskan.
Tahun-tahun berlalu.
Kyra dan Galang menjadi pasangan yang tak hanya mengelola Rumah Literasi, tapi juga membangun perpustakaan keliling, klinik kecil, dan kelompok tani. Mereka dihormati sebagai pelopor gerakan perubahan di kampung.
Sementara Arka terus bekerja untuk proyek-proyek kemanusiaan di berbagai daerah. Namanya dikenal, karyanya diakui. Tapi hatinya tetap menyimpan satu ruang kosong yang tak pernah diisi kembali.
Ia dan Kyra masih sesekali bertukar kabar. Bukan sebagai kekasih. Bukan juga sebagai mantan. Tapi sebagai dua orang yang pernah saling mengisi, saling mendoakan, dan akhirnya memilih jalan berbeda demi menemukan kedamaian Dan kebahagiaan masing-masing.
Dan di suatu senja yang hening, saat Arka berdiri di pinggir pantai setelah menyelesaikan proyek terakhirnya, angin membawa harum tanah kampung dan suara-suara kenangan.
Ia tersenyum. Karena meski tak menikah dengan Kyra,
ia tahu bahwa ia pernah mencintai dengan sepenuh hati dan itu cukup untuk membuat hidupnya berarti.
Galang menggenggam tangan Kyra dengan mata yang penuh ketulusan. Ia tidak menjanjikan dunia, tapi ia berjanji untuk tetap tinggal.
Dalam diam, Kyra tahu, cinta tidak selalu datang dalam bentuk kilau. Kadang ia datang dalam bentuk tangan yang tak pernah pergi saat semua orang mundur. Galang bukan Arka. Tapi ia adalah rumah yang tenang, tempat Kyra bisa kembali pulang dengan hati yang tak lagi menunggu.
Di malam pertama setelah pernikahan, Kyra duduk di beranda yang sama, memandang langit yang kini berbeda. Ia menggenggam liontin bintang yang dulu ia berikan pada Arka kini tanpa rantai, hanya kenangan.
Ia meletakkannya di kotak kayu kecil, menutupnya pelan, dan menyimpannya di rak teratas. Bukan untuk dilupakan. Tapi untuk dikenang, sebagai bagian dari perjalanan yang telah membentuk dirinya.
Dan di sampingnya, Galang duduk diam, menyandarkan kepala di bahunya.
“Aku tidak akan pergi,” bisiknya.
Kyra tersenyum, menatap langit malam.
“Aku tahu,” jawabnya. “Dan kali ini… aku percaya.”
Di kejauhan, suara jangkrik mengisi keheningan malam. Angin berembus pelan, menggoyangkan dedaunan yang memantulkan cahaya rembulan. Kyra memejamkan mata sejenak, membiarkan kehangatan malam itu meresap ke dalam dadanya. Ia tak lagi memikirkan "andai" atau "seandainya".
Ia hanya bersyukur atas perjalanan yang telah membentuknya, luka yang menguatkannya, dan cinta yang akhirnya menetap.
Galang meraih selimut tipis dan menyelimutinya dengan hati-hati. “Besok kita ke sekolah ya, bantu renovasi ruang baca,” ucapnya sambil tersenyum.
Kyra mengangguk pelan. “Kita punya banyak yang ingin kita bangun bersama.”
Dan malam itu, dua jiwa yang saling menemukan duduk berdampingan dalam hening yang penuh makna. Sementara di tempat lain, seseorang mengenang mereka bukan dengan dendam, tapi dengan doa. Karena pada akhirnya, cinta sejati adalah saat kita mampu merelakan, sambil tetap mencintai… dari kejauhan.
Langit malam tetap sama, tapi cerita sudah berbeda.
Dan cinta tetap hidup, meski jalannya tak selalu saling memiliki.
Kyra menggenggam tangan Galang erat. Di hatinya tak lagi ada tanya, hanya syukur dan ketenangan. Sementara jauh di negeri asing, Arka menatap langit yang sama, tersenyum dengan air mata. Cinta mereka tak bersatu, tapi tetap hidup dalam doa, kenangan, dan ketulusan yang abadi.
– Tamat.