Berkali-kali gagal dalam hubungan membuat ia menutup akses bagi siapapun yang mendekati bahkan datang melamarnya. Jika nenek moyangnya berkata pamali terus menerus menolak lamaran karena konon katanya tidak akan mendapatkan jodoh seumur hidup. Peduli apa dia? Toh takdir seorang manusia telah di tentukan jauh sebelum terlahir ke dunia. Begitulah pemikiran gadis pemilik nama Arunika Binar Senja.
Tapi, bagaimana jadinya jika seorang Pria yang ia kenal datang membawa serta seluruh keluarga untuk melamarnya? Tanpa rasa takut untuk di tolak, Pria tersebut justru dengan senang hati dan menerima dengan sabar syarat-syarat yang di ajukan Senja?
Apakah Senja akan kembali memulai kisah dengan Pria itu? Mampukah mereka menjalani sampai batas waktu yang telah ditentukan? Atau justru Senja Kembali gagal dalam hubungan kesekian kalinya ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Nirmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan Bersalah
Senja memandang nanar pesan Daye. Pernikahan Sahabatnya sudah di depan mata, perasaannya campur aduk antara senang dan sedih. Dia lah orang yang menemani dan melihat langsung betapa hancurnya Dafyah hari itu. Jelas ia tau bagaimana perasaan sahabatnya. Kedepannya, Senja sadar, tidak ada hak baginya ikut campur urusan rumah tangga sahabatnya. Terlebih statusnya sebagai mantan Kamal jauh lebih sensitif di pandangan orang-orang.
Haruskah ia mengucapkan selamat pada undangan tersebut? Waktu terlalu ngebut untuk menyatukan dua insan yang sama-sama enggan menjalani sebuah pernikahan. Cukup memikirkannya saja Senja rasa tidak mampu, lantas bagaimana kehidupan sahabatnya nanti?
Jauh sebelum itu, sekarang Afyah sudah harus menghadapi Daye yang menerornya berbagai pertanyaan.
Daye
‘Jadi kamu terima perjodohan itu dan sekarang sebar undangan gitu?’
‘Ini Kamal bukan mantannya Aru-kan, Yah?’
‘Afyah! Kamu serius? Kamal orang yang sama? Hah?’
‘Jawab woi, jangan ngilang gini!!’
“Aru? Kamu juga sudah tau? Apa ini? Jangan bilang aku sendiri yang baru tau?’
Afyah
‘Berisik banget sih!’
‘Satu-satu kalau nanya, aku masih sibuk ini’
Daye
‘Muncul juga kau akhirnya’
‘Sekarang jawab, itu Kamal mantannya Aru?’
Afyah
‘Iya’
Daye
‘An jir, Kau gila Afyah?? Ngga mau tau pokokknya kita wajib ketemuan, kau harus ngejelasin secara langsung!’
Afyah
‘Terserah, tentukan tempatnya biar aku kesana’
Helaan nafas Senja memancing Rafka mencuri pandang ke arahnya. Rafka sadar perubahan wajah gadis di sampingnya setelah melihat sesuatu di hp. Pelan tapi pasti, tepukan pelan menyadarkan Senja dari pikirannya yang berkecamuk. “Kenapa?” Tanya nya pelan.
Senja memandang Rafka sendu “Sahabatku mau nikah” ucapnya lirih. Di sambut kerutan samar di kening Tunangannya. “Sama Kamal” lanjutnya dengan suara tercekat.
Rafka terpaku, Kamal? Pria yang menjadi mantan tunangan Senja. Kini akan menikah bersama sahabat dekatnya Senja? Bisakah ia sebut ini sebagai plot twist hidup? “Senja” ucapannya terhenti di tenggorokan.
“Aku bukan sedih karena Kamal nikah! Bukan juga karena dia nikah sama sahabatku!” bantah nya tiba-tiba. “Bukan, aku ngga mempermasalahkan itu, Ka!” Rafka tersentak kaget. Genangan bening siap tumpah di pelupuk mata gadisnya.
“Afyah terpaksa, Ka! Ini bukan kemauan mereka. Aku ngga bisa bantu dia terlepas dari pernikahan ini" bahunya luruh, menyerah pada rasa bersalah yang mendera perasaannya.
Mobil di pinggirkan ke tepi jalan. Rafka melepas sabuk pengamannya, mendekatkan tubuh menarik Senja dalam pelukannya. Urusan di tonjoknya nanti biarlah ia pikirkan di belakang. Senja membutuhkan sandaran.
“Jangan menyalahi diri karena tidak bisa merubah takdir seseorang, Senja. Cukup kamu mendoakan kebahagiaan untuknya, dan tetap mendukung dia” Mata Senja perih menahan tangis.
“Tapi dia ngga pernah merasakan kebahagiaan selama ini” suaranya bergetar, Senja berada di dekapan Rafka. “Bukan salahmu, Senja” jawabnya lembut.
“Tenagin diri, perbanyak Istigfar. Yakinlah, apa yang sedang Allah berikan sekarang balasannya adalah kebahagiaan tak tertandingi di depan sana” Senja menghembuskan nafas, mengikuti saran Rafka.
Tubuh Senja bergetar, Rafka dapat merasakannya “Aku merasa bersalah, Rafka” Pria itu menutup mata kala mendengar ucapan Senja lagi. Dia adalah Senja, gadis yang rentan oleh perasaan bersalah, meskipun bukan kesalahannya.
“Ssst, tenangin diri, Senja. Kamu ngga salah! Ya?” usapan lembut Rafka menyalurkan rasa hangat dan menenangkan Senja. Perlahan ia bisa mengendalikan emosi dalam dirinya.
Senja melepaskan rengkuhan Rafka, “Sudah mendingan?” Ujar Rafka bertanya. Senja mengangguk, kembali ke posisinya semula dan merapikan jilbabnya yang sedikit berantakan.
“Tolong antarkan aku ke alamat ini. Daye dan Afyah mengajak ketemuan sekarang” Pinta nya pelan, di sodorkannya hp yang menampilkan lokasi pertemuan. “Setelah mengantarku langsung pulang saja. maaf jalan-jalannya di tunda dulu”
Rafka diam, tidak mengiyakan tidak juga menolak. Tapi mobil sudah ia jalankan kembali ikut bergabung bersama pengguna jalan lainnya.
Café pilihan Daye tidak lah jauh dari lokasi mereka. Sehingga mereka tiba lebih dulu sebelum kedua sahabat Senja.
Mobil berhenti di parkiran Café, Senja merapikan penampilannya buat senormal mungkin dan menghapus kesedihannya. “Makasi ya, langsung pulang aja. Nanti aku naik Taxi atau minta antar mereka juga bisa” gadis manis itu mengabsen semua barang bawaannya, tidak membiarkan satu pun tertinggal. Di rasa sudah semua, di bukanya pintu mobil dan keluar.
Sebuah sapaan tangan menyapu telapak tangannya, lonjakan kaget reflek tubuhnya menatap pelaku. Itu Rafka, tunggu, Rafka? “Aku tunggu sampai selesai, ayo”
“Huh?” reaksi khas Senja, Rafka sudah hapal dan menduga hal itu. Reaksinya lucu sekali.
“Iya, aku tunggu. Tenang saja, aku nunggu di meja berbeda dari kalian kok” Apakah ini masuk kategori ‘pemantauan’ ala Rafka. “Sudah jangan banyak mikir, keburu teman-temanmu datang. Ayo!” pria itu sudah menarik pelan tangan Senja memasuki Café dan pisah ke meja masing-masing, tidak begitu jauh. Hanya berjarak dua meja saja. Rafka justru leluasa memerhatikan Senja dari tempatnya.
Di rogohnya kantong celana tempat disimpannya hp. Diam dan pelan membidik camera ke arah Senja, tanpa sepengetahuan gadis itu. Tidak lama mereka menunggu, dua gadis yang Rafka yakini sahabat Senja menghampiri meja tempat gadisnya berada.
Tebakannya itu benar, lihatlah kehebohan perempuan tidak berhijab itu. Samar-samar suara mereka terdengar sampai ketelinganya. Tidak terlalu jelas dan bukan ranahnya untuk mengetahui.
Di meja tiga gadis itu tampak ramai di isi kehebohan Daye yang sudah sibuk memboyong semua pertanyaan ke Afyah. Dua manusia dengan sifat saling bertolak belakang.
“Kamu kok mau sama Kamal sih, Afyah? Kaya ngga ada laki-laki lain aja di dunia ini!” Daye mengomel-ngomel mirip merecon, tidak memberikan jeda untuk Afyah menjawab. “Padahalkan ada Abangku, Om ku juga ada!”
Afyah menatapnya jengah, membiarkan sahabatnya mengeluarkan semua ocehan yang tidak ada habisnya. “Apa kata orang coba, kalian ini sahabatan! Masa mantan sahabat jadi suami, ihhh” perasaan merinding menggrayangi badan Daye.
“Ngga bisa di cancel emang?” Pluk. Lemparan gumpalan tisu bekas mendarat cantik di badan depan Daye. Pelakunya jelas adalah Afyah. “Afyah! Jorok banget!” pekik tertahan Daye, wajahnya menunjukkan rasa kesal yang hakiki.
“Kau nyuruh cancel kaya nyuruh ngepel lantai noh!” Balas Afyah sengit. “Udah ngomelnya? Cosplay wartawan udah? Cerewet banget!”
Daye mendelik tak terima, tidak tahukah sahabatnya ini? Apa yang sedang dia lakukan sekarang karena dia sangat khawatir pada keselamatan Afyah. “Ngga usah melotot gitu!” cetusnya.
“Aku lagi sibuk banget, jadi apapun yang sudah terjadi tolong di terima saja ya, Daye sahabatku yang cerewet!” ucap Afyah seraya tersenyum begitu manis tapi mematikan di mata Daye. “kalian mau jadi Bridesmaid – ku atau ngga?”
Daye melirik Senja yang anteng-anteng saja dari tadi. “Yang bener aja, masa Aru jadi Bridesmaid di nikahan mantannya, aneh nih” todong Daye tak terima.
Sejenak Senja menarik nafas perlahan sebelum membantu menjelaskan ke Daye yang terlihat kesal. Padahal yang mantan di sini adalah dirinya, tapi yang kesal Daye. “Kamu mau kita jadi Bridesmaid – mu, Yah?” tanya nya pada Afyah.
“Mau, kalau kalian ngga keberatan. Benar yang di katakan Daye, bagaimanapun calonku merupakan mantanmu, Ru” Bukan, bukan ini yang di maukan Senja. Ini acara istimewa, entah istimewa atau drama di belakang layar. Tapi pasti harus terbaik buat sahabatnya.
“Kita bakal jadi Bridesmaid di acaramu nanti” putusnya cepat “Ru!” seruan penuh protes Daye layangkan.
Senja beralih menatap Daye, jika Afyah merasa berat buat memberi tahu Daye, maka izinkan dia menjelaskan sesuai porsinya. “Pernikahan itu buat sekali seumur hidup, Daye. Biar sekalipun calonnya adalah mantan suamiku kalau mereka di takdirkan bersama kita ngga bisa melawannya. Kamu mau melawan Tuhanmu?” kalimat Senja berhasil membuat Daye bungkam kehilangan kata-kata.
“Sekarang Afyah membutuhkan kita buat jadi bagian terpenting di nikahannya nanti, apa kamu tega menolakknya karena calonnya mantanku?” Daye menggelengkan kepala pelan “Aku ngga papa, Daye. Hubunganku dengan Kamal putus karena kemauan bersama bukan karena dia selingkuh. Justru aku senang Afyah bersama dengan orang yang aku tau walaupun tidak begitu mengenalnya tapi aku tau pria itu bisa memperlakukan Afyah lebih baik kedepannya” Penjelasan bijak Senja menyadarkan Daye dari rasa ketakutannya. Kini ia sadar, kelakuannya tadi begitu implusif karena tidak mau kedua sahabatnya berantem perkara laki-laki seorang.
Senja sendiri belajar dari Rafka yang menenangkannya tadi di mobil kala pikirannnya kalut, pria itu menyadarkannya dari rasa takutnya, kalutnya mengenai kondisi sahabatnya. Rafka begitu dewasa di bandingkan dirinya yang sering kali di hampiri rasa labil.