Indonesia
NovelToon NovelToon
Zuraida & Si Kembar

Zuraida & Si Kembar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Ibu Tiri
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Kuswara

Hanya karena menolong seorang pria Zuraida difitnah sampai diusir dari desa dan dinikahkan dengan pria itu. Pria yang menjadikannya seorang ibu bagi kedua anak laki-laki.

Bagaimana Zuraida yang dari desa menjalani hidup di kota di tengah rasa tidak suka anak-anak tiri dan pihak keluarga suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kuswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Arfan yang dekat dengan handphone Zuraida langsung menjawab panggilan telepon dari seorang pria yang tertera di layar. Mas Firman.

"Assalamualaikum, Da."

"Aku suaminya." Ketus Arfan tanpa menjawab salam Firman.

"Kamu siapa?."

"Maaf, Pak, aku Firman. Tetangga desa Zuraida di desa."

"Ada perlu apa sama istriku?."

"Zuraida minta dikabari kalau aku lagi di desa. Sekarang aku sudah di dekat rumahnya. Ayahnya Zuraida..."

"Nanti kami datang mengunjungi beliau."

"Baik, Pak."

Tanpa sopan Arfan memutus begitu saja sambungan telepon. Terdengar gerutuan pria itu.

"Sembarangan saja menghubungi istriku tanpa izin."

Zuraida yang baru keluar dari kamar mandi menatapnya heran.

"Mas?."

"Siapa Firman, sayang?." Walau kesal namun Arfan berusaha lembut pada Zuraida.

Zuraida menjelaskan sedetail mungkin tentang siapa Firman supaya tak ada kesalahpahaman di antara mereka.

"Bagaimana kalau Firman masih punya perasaan itu padamu?." Seraya memeluk istrinya. Mencium ceruk leher yang putih mulus disertai menghirup dalam-dalam aroma wangi yang menguar dari tubuh istrinya. Begitu segar menenangkan.

Namun membangkitkan sesuatu yang di liar di bawah sana. Arfan terkekeh, ia tak pernah bisa tak menyentuh istrinya saat berduaan seperti ini.

Ritual bersama suami sudah selesai. Zuraida kembali mandi lagi sebelum belajar bersama Sean. Sean terperangah saat kamarnya sekarang dipenuhi huruf vokal yang baru ditempel Zuraida.

Sena apalagi, anak itu sampai mengejeknya.

"Yang benar saja, Zuraida, kami bukan anak TK lagi. Kami tak butuh semua ini."

"Kamu memang nggak butuh, Sen. Tapi aku butuh. Kamu ke ganggu kalau kamar ini menjadi penuh tempelan?." Sean sangat menghargai usaha Zuraida untuknya.

"Kamu yakin bisa?," ejek Sena.

"Yakin, aku yakin bisa. Aku percaya sama Zuraida."

Sena terdiam.

"Kalau kamu ke ganggu, biar aku pindah kamar saja."

"Nggak perlu," lalu Sena pergi dari kamar itu dengan wajah di tekuk.

Di tangga ia bertemu dengan daddynya.

"Mau ke mana, Sen?."

"Mau main, Dad."

"Sama siapa?. Sean nggak diajak?."

"Sama teman-teman aku, Dad. Sean lagi belajar baca."

Sena menutup mulutnya. Hendak berlalu dari hadapan daddynya. Tetapi tubuh kecil itu terlalu mudah untuk digendong sama daddynya.

"Apa maksudmu belajar baca?. Bukannya itu dulu sewaktu Susan mengajari kalian?."

"Aku sudah bisa, Dad. Tapi Sean belum. Di sekolah Sean diejek teman-teman. Tapi aku juga kena ejek, Dad. Aku malu."

Lalu Arfan menurunkan tubuh Sena. Membiarkan anak itu pergi bermain bersama teman-temannya. Ia naik lagi ke kamar Sean. Dari celah pintu yang terbuka ia melihat Sean sedang belajar menghafal. Zuraida mengajarinya sangat detail.

Arfan kembali ke kamar, duduk di kursi kerjanya. Mengingat semua yang dikatakan Wilona adalah sebuah kebohongan belaka. Sean sudah pandai ini, itu. Nyatanya anaknya itu masih harus bekerja keras supaya bisa seperti Sena. Ada amarah dalam dada, rasanya ingin memaki mantan istrinya.

Namun disisi lain amarah itu tertutupi rasa bahagia karena Zuraida begitu baik terhadap putranya. Mau membantu mengajari, bahkan ia sendiri belajar.

Beralih kepada Sena yang sedang berada di rumah teman satu kelasnya bersama teman-temannya yang lain. Main handphone, main game bareng-bareng.

"Nggak bosan Sen main game terus?," tanya Akbar yang sudah menaruh handphonenya.

Sena melirik kemudian menyudahi permainnya.

"Mau main apa kita sekarang?," tanyanya antusias.

"Main uno, tapi yang kalah harus dihukum." Jawab yang lain.

"Ayo, siapa takut." Sahut Sena.

"Tapi hukumannya apa?." Tanya Akbar.

"Minum ini," menunjukkan botol besar berwarna gelap sehingga tak tampak warna serta tak terlihat isinya masih banyak atau tinggal sedikit.

"Minuman apa itu?," tanya Sena penasaran.

"Ini minuman biasa, Sen, aman buat kita." Yang lain meyakinkan.

"Kamu cium aja," Akbar menyodorkan botol yang sudah dibukanya. Tak ada aroma apapun yang tercium oleh hidung Sena.

"Seperti air putih?," tanya Sena polos.

"Iya," jawab teman-temannya serempak.

Sena versus kakak kelas main uno dimulai. Pada awal permainan Sena unggul lebih dulu. Ia melihat pemain terakhir yang kalah dan yang pertama meneguk langsung minuman dari botolnya. Permainan kedua berlanjut. Di sini Sena masih menang meski bukan yang pertama. Hingga temannya yang kalah yang meneguk minuman itu.

Permainan itu terus berlangsung. Sena mulai tak dikasih celah untuk menang oleh kakak kelasnya. Alhasil Sena meneguk minuman itu untuk pertama kalinya. Sena terdiam, terus mengecap rasa dari air tersebut. Tanpa ada aroma atau rasa.

"Aman," celetuk Sena. Teman-teman hanya mengangguk enteng.

Seterusnya sampai minuman dalam botol habis diteguk Sena sebab tak ada lagi kemenangan yang diraihnya. Hanya kalah dan kalah. Begah, itu yang dirasakan Sena saat pulang ke rumah. Di kamarnya sudah tak ada Zuraida namun tempelan itu masih memenuhi kamarnya.

Sean berdiri menetap huruf-huruf penuh warna tersebut. Perlahan ia belajar menghafalnya.

"Masih belum bisa hafal, Se?." Tanya Sena sembari menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur.

"Aku sedang berusaha."

Sena tersenyum mengejek lalu ia memejamkan mata karena mengantuk.

*

"Kamu nggak sarapan, Sen?." Tanya Zuraida melihat Sena hanya diam di meja makan.

"Aku masih kenyang," sahutnya lemas.

"Makan apa? Semalam kamu tidur pulas." Kini daddynya yang bertanya.

"Nggak ada, Dad." Sahutnya.

"Aku makan bekal aja di sekolah." Katanya kemudian.

Zuraida dan Arfan hanya mengangguk.

Sena berangkat bersama Arfan. Pulangnya baru dijemput Zuraida. Sean sendiri belajar di rumah bersama Zuraida.

Sena turun dari mobil. Belum juga sampai di kelas, beberapa kakak kelas sudah meminta bekal dan uang jajan Sena. Sebab merasa tak enak pada teman akhirnya apa yang diminta mereka Sena berikan. Walau ia juga butuh buat mengisi perutnya.

Kembali Sena hanya bisa gigit jadi. Rasa lapar diganjalnya dengan terus minum air putih yang dibawanya. Berharap sekolah segera selesai. Ia ingin segera pulang dan makan yang banyak.

Namun sayangnya, detik berganti jam terasa begitu sangat lama. Tubuh Sena berkeringat, ia tak fokus belajar. Beberapa soal latihan dijawabnya salah.

"Kenapa Sena?. Kamu belum mengerti apa yang ibu jelaskan?."

Sena segera menggeleng.

"Dari sepuluh soal latihan hanya benar dua saja. Kalau belum mengerti ibu bisa jelaskan lagi."

"Aku sudah mengerti, Bu." Jawab Sena tak mau berlama-lama lagi mendengar penjelasan Ibu Guru. Perut membuat pikirannya tak fokus.

Ibu Guru tak menjelaskan lagi, memberi Sena beberapa PR sebagai pengulangan yang tadi.

Sena sudah di gerbang. Masih harus menunggu Zuraida yang belum datang menjemputnya. Sena dibuat semakin kesal. Tak lama mobil Zuraida datang, ia segera naik dan langsung mengomel.

"Kenapa baru datang, Zuraida?. Aku sudah lama berdiri di sana."

"Macet, Sena. Saya tadi sudah cepat dari rumah."

"Sekarang ngebut bawa mobilnya," suruhnya.

"Bahaya, Sen. Lagi pula untuk apa ngebut?."

"Aku lapar, Zuraida, perutku sakit."

"Kita bisa makan di depan kalau kamu mau."

"Mau...aku mau banget Zuraida...aku lapar sangat." Sena sudah sangat lapar.

Bersambung

1
Mai_mai
cepat lah ketahuan tentang sena kalo bisa pindah sekolah saja
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjuut thor cerita bagus bgt .
𝐈𝐬𝐭𝐲
sena udah salah jalan semoga orang tuanya segera menyadarinya... dan Sena masih bisa di selamatkan kalo bisa pindah dari sekolahan itu...
Soraya
q mampir thor lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!