Indonesia
NovelToon NovelToon
Selir Figuran Bertahan Hidup

Selir Figuran Bertahan Hidup

Status: tamat
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Moora Lunatia

Zhao Xinyue sadar dirinya bukan villain utama, bukan heroine, melainkan selir berpangkat rendah yang di novel asli mati karena tanpa sengaja melihat rahasia kaisar. Begitu sadar, targetnya cuma satu. "Aku tidak ingin naik pangkat. Aku cuma ingin hidup sampai akhir cerita."
Masalahnya... Semakin dia berusaha tidak mencolok, semakin banyak orang memperhatikannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Seharian itu, aku bertingkah seperti mandor proyek yang sedang dikejar tenggat waktu.

Setelah insiden kontak mata yang mengerikan dari balik jendela tadi pagi, aku segera mengerahkan seluruh tenagaku untuk membarikade kamar. Setiap engsel jendela kuganjal dengan potongan kayu. Pintu utama kukunci ganda dan kudorong sebuah kursi jati berat untuk menahannya dari dalam. Jika ada lalat yang ingin masuk ke kamarku malam ini, lalat itu harus mengisi formulir izin masuk rangkap tiga terlebih dahulu.

Xiu'er, tentu saja, mengartikan kepanikanku dengan kacamata delusinya yang sudah mencapai level kronis.

"Nona sungguh teliti!" puji Xiu'er sambil membantuku menggeser kursi. Wajahnya merona merah. "Nona memastikan tidak ada satu pun dayang atau kasim yang bisa mengintip malam pertama Nona dengan Yang Mulia Kaisar. Ruang privasi yang absolut! Ini adalah taktik jitu untuk membuat Yang Mulia merasa nyaman!"

Aku menatapnya dengan rahang mengeras. "Xiu'er, aku mengunci pintu agar tidak ada yang bisa membunuhku dalam tidur. Termasuk kaisarmu itu."

"Tentu saja, Nona! 'Membunuh' dengan cinta, kan? Hamba mengerti, hamba akan berjaga di paviliun depan agar kalian berdua tidak diganggu!" Xiu'er mengedipkan sebelah matanya sebelum melesat keluar kamar, mengabaikan teriakanku yang menyuruhnya tetap tinggal.

Aku menghela napas putus asa, merosot di atas kasur empuk berlapis sutra yang kini terasa seperti ranjang eksekusi.

Malam perlahan turun, menyelimuti Paviliun Teratai Biru dengan kegelapan. Suara jangkrik mulai terdengar bersahutan dari arah taman. Istana mulai sepi. Aku duduk bersila di tengah ranjang, memeluk lutut dengan kewaspadaan tingkat tinggi. Mataku menatap tajam ke arah pintu dan jendela yang sudah kubarikade.

Satu jam berlalu. Dua jam berlalu.

Udara malam yang sejuk dan kasur bulu angsa yang kelewat empuk mulai mengkhianati tekadku. Kelopak mataku memberat. Mungkin aku terlalu paranoid. Li Jingchen adalah kaisar yang sibuk. Dia baru saja terluka semalam, ditambah lagi dia pasti punya setumpuk dokumen negara yang harus diurus. Mana mungkin dia punya waktu senggang untuk merayap ke kamar selir rendahan sepertiku?

Logika itu berhasil menenangkan sarafku. Aku merebahkan diri, menarik selimut tebal itu hingga ke dagu, dan dalam hitungan menit, aku terlelap.

Entah berapa lama aku tertidur, tapi sesuatu perlahan menarikku kembali ke alam sadar.

Bukan suara bising, melainkan suhu ruangan yang mendadak berubah. Ada hembusan udara dingin yang menyapu wajahku, disusul oleh aroma yang membuat insting bertahan hidupku menjerit hebat. Wangi kayu gaharu yang sangat mahal, bercampur dengan bau obat herbal, dan... aroma samar darah yang mengering.

Mataku terbuka lebar dalam kegelapan.

Di ujung ranjangku, sesosok bayangan tinggi besar berdiri mematung. Cahaya bulan pucat yang menyusup dari celah jendela menyorot separuh wajahnya. Rahang yang tegas, hidung mancung, dan sepasang mata elang yang menatapku dengan intensitas seekor predator yang sedang mengawasi mangsanya yang tertidur.

Aku menahan jeritan di tenggorokan. Kaisar Li Jingchen.

Bagaimana dia bisa masuk?! Pintuku terkunci! Jendelaku kuganjal kayu! Apakah tiran ini punya kemampuan menembus tembok?!

Seolah bisa membaca kepanikanku, Li Jingchen menoleh sedikit ke arah dinding di sisi barat kamarku—dinding yang berbatasan langsung dengan Ruang Belajar Kekaisaran. Di sana, sebuah panel kayu berukir yang tadinya kukira hanya hiasan dinding, kini terbuka setengah, menampakkan lorong gelap yang sempit.

Jalur rahasia. Tentu saja. Pria gila paranoid ini sengaja menempatkanku di kamar yang terhubung langsung dengan ruang kerjanya!

Li Jingchen melangkah maju. Ia masih mengenakan jubah tidur sutra berwarna hitam pekat. Wajahnya terlihat jauh lebih pucat dari semalam, dengan kantung mata tipis yang menandakan ia kurang tidur.

"Y-Yang Mulia," cicitku sambil merayap mundur hingga punggungku membentur sandaran ranjang. Aku menarik selimutku erat-erat. "Malam-malam begini, melanggar batas wilayah wanita... apakah ini perilaku seorang pria budiman?"

"Di istanaku, akulah batasnya," jawabnya serak dan pelan. Suaranya terdengar sangat lelah.

Ia tidak repot-repot berbasa-basi. Tanpa ragu, Li Jingchen naik ke atas ranjangku. Tubuh besarnya membuat kasur empuk ini melesak dalam seketika, membuat tubuhku otomatis tergelincir miring ke arahnya akibat gravitasi.

"Yang Mulia! Apa yang Anda—"

"Diam."

Satu kata itu diucapkan dengan nada datar, tapi cukup untuk membuat mulutku terkunci rapat. Li Jingchen merebahkan tubuh besarnya tepat di sebelahku. Ia tidak menyerangku, tidak juga melepaskan jubahnya. Ia hanya berbaring telentang, menatap kelambu di atas kami dengan dada yang naik turun dengan ritme lambat.

Aku menahan napas, membeku seperti patung lilin. Jarak kami begitu dekat hingga aku bisa merasakan panas tubuhnya.

"Berbaring," perintahnya tanpa menoleh.

"Hamba... hamba rasa posisi duduk ini sangat baik untuk sirkulasi darah hamba, Yang Mulia," balasku dengan suara bergetar, mati-matian mempertahankan posisi dudukku di sudut ranjang.

Li Jingchen menghela napas panjang, sebuah suara yang terdengar sarat akan rasa sakit dan rasa frustrasi. Tiba-tiba, tangannya yang besar dan kasar terulur, mencengkeram pinggangku, dan menarikku dengan tenaga yang tidak manusiawi.

Aku tersentak jatuh. Sebelum aku bisa memberontak, lengan kekarnya telah melingkar kuat di bahuku, memaksaku berbaring tepat di sampingnya.

"Yang Mulia!" desisku panik, berusaha mendorong dada bidangnya. "Ini... ini melanggar etiket! Jika Tabib Zhao tahu Anda beraktivitas berat dengan luka di dada Anda, beliau akan menceramahi kita berdua sampai pagi!"

"Aktivitas berat kepalamu," gumam Li Jingchen dengan mata terpejam. Terdengar nada geli yang sangat tipis di balik suaranya yang parau. "Jika kau tidak berhenti bergerak dan terus mengoceh, aku benar-benar akan mematahkan lehermu dan membuangmu ke sumur."

Ancaman itu sukses membuatku berhenti meronta.

Li Jingchen menarik napas panjang, menenggelamkan wajahnya sedikit ke area rambutku. Ia menegang sejenak, lalu otot-otot di tubuhnya yang sekeras baja itu perlahan mulai mengendur.

Aku menunggu dengan jantung berdebar. Menunggu ia melakukan sesuatu. Menunggu ia menuntut tugas seorang selir. Menunggu ia menginterogasiku tentang kejadian semalam.

Satu menit. Lima menit. Sepuluh menit berlalu.

Tidak ada yang terjadi. Yang terdengar hanyalah suara napasnya yang mulai teratur dan berat.

Aku memiringkan wajahku sedikit demi sedikit, melirik ke arah pria yang sedang memelukku bak guling kesayangannya ini. Mata elangnya tertutup rapat. Garis wajahnya yang keras kini terlihat sangat tenang.

Dia... tidur?

Naga tiran yang terkenal suka memenggal orang jika tidurnya diganggu ini, menyelinap masuk lewat pintu rahasia ke kamar selir rendahan, hanya untuk numpang tidur?!

Otakku berusaha mencerna situasi absurd ini. Di istana utama, ia dikelilingi oleh para penjaga, kasim, dan selir-selir yang entah merupakan mata-mata faksi mana. Sebagai kaisar yang baru saja lolos dari upaya pembunuhan, istananya sendiri pasti terasa seperti sarang ular. Tidak ada tempat yang aman. Tidak ada orang yang bisa dipercaya.

Lalu ada aku. Selir Tingkat Enam yang gila, miskin, dan secara terbuka menangis tersedu-sedu meminta agar hartanya dirampas. Di mata Li Jingchen, aku mungkin adalah makhluk paling tidak mengancam di seluruh daratan Tiongkok ini. Ditambah lagi, kamarku adalah satu-satunya tempat yang baunya tidak dipenuhi oleh parfum memuakkan yang bisa menyamarkan bau racun.

Aku hanya berbau seperti... sabun murahan dan keputusasaan.

Aku menatap langit-langit ranjang dengan pandangan kosong. Tubuhku dijepit kuat oleh lengannya. Kakiku mulai kesemutan, dan punggungku terasa kaku.

Hebat sekali. Di kehidupanku sebelumnya, aku bekerja lembur sebagai staf data entry. Di kehidupan ini, aku kerja shift malam sebagai guling bernapas bertenaga manusia. Gajinya memang tiga peti emas, tapi risikonya adalah mati sesak napas tertindih dada kaisar atau dipenggal jika aku berani bersin.

"Jangan bergerak," gumam Li Jingchen serak dalam tidurnya saat aku mencoba menggeser kakiku yang kram. Eratan lengannya di bahuku semakin mengencang.

Aku memejamkan mata, membiarkan sebulir air mata imajinasi jatuh dari sudut mataku.

Selamat tinggal, masa pensiun yang damai. Selamat datang, insomnia kronis.

1
Aidil Kenzie Zie
sepertinya semenjak ada Shen Yu sang Kaisar lupa sama Selir yg lainnya 🤭🤭🤭🥰🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
selamat Permaisuri Shen🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
semangat Shen Yu 💪🏻💪🏻💪🏻
Aidil Kenzie Zie
Aaa Shen Yu OTW jadi Permaisuri 🥰🥰🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
semakin lama semakin manis sang Kaisar 🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
Shen Yu kamu sekarang sudah jadi kesayangan Kaisar 🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
👍🏻👏🏻👏🏻 Selir Shen
Aidil Kenzie Zie
sepertinya bakalan susah untuk mengelabui Su Wan 🤔🤔🤔🤔
Aidil Kenzie Zie
a a. a Shen Yu si unboxing Kaisar 🥰🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
nggak usah ditipu Kaisar nya Selir Shen wong dia tau kamu pintar tapi masih pura-pura 🤭🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
Merdeka 🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
Shen Yu turut berdukacita 🤭🤭🤭🤭
karena makan buah simalakama 🤭🤭🤭😭😭😭😭
Aidil Kenzie Zie
siap-siap dipenggal Kaisar Selir Shen 🤭🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
cerita di novel sama yang kamu jalani beda Shen Yu atau mungkin kamu yang akan dibawa oleh Kaisar untuk naik ke ranjangnya 🫣🫣🫣🥰🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
apa Kaisar nggak takut kalau Shen Yu di bully atau mau di racun lagi
tapi aku penasaran tor itu "Selir" istri Kaisar juga??? atau apa kurang paham 🤭🤭
Aidil Kenzie Zie: makasih tor soalnya kurang paham
lah ni mau cari selir baru lagi🤔🤔🤔
total 2 replies
Wawan
Hmmmm .....menarik 👍
Aidil Kenzie Zie
kamu sudah jadi kesayangan Kaisar Selir Shen 🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
lagian ada aja kelakuan mu Shen
berharap Kaisar jijik ealah malah tetap nempel 🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
ha ha ha 🤭🤭🤭turut bahagia atau sedih y atas nasibmu 🤔🤔🤔🤔😭🤣🤣🤣🤣
Aidil Kenzie Zie
selamat menikmati hidup dibawah hidung Li Jengchen 🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!