Indonesia
NovelToon NovelToon
REINKARNASI PANGERAN YANG HILANG

REINKARNASI PANGERAN YANG HILANG

Status: tamat
Genre:Misteri / Petualangan / Reinkarnasi / Spiritual / Fantasi Timur / Roh Supernatural / Barat / Tamat
Popularitas:30.7k
Nilai: 5
Nama Author: myARTZOOM

Kehidupan Rohan berubah ketika bayangan hitam misterius mulai menghantuinya, terus meneriakkan nama pangeran yang hilang. Ketakutan bercampur penasaran membawanya kembali ke tempat kelahirannya, di mana ia menemukan sebuah ramalan kelam tentang bencana besar yang hanya bisa dicegah oleh kebenaran di balik hilangnya seorang pangeran setelah perang besar.

Saat menyadari dirinya adalah reinkarnasi pangeran yang dicari oleh sosok bayangan itu, Rohan bersama dua sahabatnya, Ratih dan Riki, memulai petualangan melintasi waktu. Mereka terlempar ke masa lalu, ke zaman di mana pangeran itu masih hidup, membawa harapan untuk mencegah bencana atau mungkin mengubah sejarah selamanya. Namun, diperjalanan justru mereka menemukan pengkhianatan yang mengubah segalanya.

Akankah mereka berhasil memecahkan misteri yang terpendam atau justru terjebak dalam lingkaran takdir yang tak terhindarkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon myARTZOOM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BATU MERAH MUDA DAN BATU KUNING

Riki terbangun di antara tumpukan semak belukar. Dia mengerjap, mencoba menyesuaikan mata dengan gelapnya malam. Suasana di sekelilingnya sunyi, hanya ditemani cahaya rembulan yang menembus celah-celah daun.

"Drako sialan! Baru juga duduk udah disambar petir," gerutunya sambil meraba-raba jaket yang masih melekat di tubuhnya. Untunglah jaket anti-angin itu cukup hangat, melindunginya dari hawa dingin malam hutan yang menusuk.

Dia mulai berjalan menyusuri hutan. Semakin dalam melangkah, cahaya rembulan semakin redup, seolah enggan menemaninya lebih jauh. Hawa dingin semakin pekat, menggelitik tulang-tulangnya. Pohon-pohon besar berdiri menjulang seperti makhluk hidup yang mengawasi setiap langkahnya.

Kenangan masa kecil tiba-tiba menyeruak di benaknya. Saat itu, Riki baru berusia lima tahun, terlalu kecil untuk memahami keberanian. Sekolahnya mengadakan acara pramuka di sebuah hutan kecil dekat desa. Namun, rasa takut pada kegelapan dan bayangan-bayangan menakutkan membuatnya tak mau pergi.

"Ayah, Riki takut. Bagaimana kalau ada hantu?" tanyanya dengan air mata menggenang, menatap ayahnya yang mengenakan seragam tentara.

Sang ayah, dengan senyuman hangat, memeluk Riki erat. "Riki, putraku, ayah percaya kau anak yang pemberani dan kuat. Jika ada hantu, ayah akan memukul mereka sampai babak belur. Ayah akan berteriak, 'Jangan dekati Riki, dia anak yang kuat, kalian bakal dipukul olehnya!'"

Riki kecil tertawa, rasa takutnya perlahan menghilang saat sang ayah menggendongnya. Keduanya tertawa lepas, menikmati momen kebersamaan yang hangat. Kenangan itu kini menjadi kekuatan kecil yang menemaninya di tengah kegelapan.

Kreekkkk....

Suara gemerisik dari semak-semak di belakangnya membuyarkan lamunan Riki. Dia menoleh dengan cepat, namun tubuhnya gemetar saat melihat sosok yang muncul dari balik kegelapan.

"Drako..." bisiknya, suaranya bergetar.

Drako berdiri diam, tubuhnya mengintimidasi dalam bayang-bayang malam. Dia tidak mengatakan sepatah kata pun, hanya mengangkat tangan dan menunjuk ke arah sebuah pohon besar dengan rongga gelap di dasarnya. Setelah itu, sosoknya menghilang begitu saja, seolah larut dalam kabut.

Riki menelan ludah. Matanya terpaku pada pohon besar itu. "Apa lagi ini? Jebakan, ya? Yaelah, tapi... penasaran juga."

Dia melangkah mendekati pohon dengan hati-hati, napasnya terengah-engah. Rongga di bawah pohon itu cukup besar, cukup untuk dimasuki seseorang. Riki menunduk, berjongkok di depannya.

"Apa aku benar-benar harus masuk? Kalau ini jebakan, habislah aku..." gumamnya, tapi rasa ingin tahu mengalahkan rasa takutnya.

Dengan nekat, Riki melangkah masuk ke dalam rongga pohon itu, meninggalkan malam yang dingin dan misterius di belakangnya.

***

Rohan menahan pedang erat di belakang tubuhnya, matanya menatap tajam ke arah Arashi yang berdiri di depannya.

“Berikan pedangnya!” bentak Arashi, suaranya tegas, penuh tekanan.

Namun Rohan tidak bergerak. Dia berdiri tegak meski tubuhnya bergetar menahan rasa sakit di kakinya. “Aku bilang, tidak! Pedang ini adalah satu-satunya jalan kami pulang, malam ini juga!”

Tatapan Arashi berubah dingin, penuh kemarahan. Dia melangkah maju, membuat Rohan perlahan mundur. Namun kakinya yang terluka membuat setiap langkah terasa berat.

"Hmm... baiklah," ucap Arashi, kali ini dengan nada lebih tenang dan senyum samar di wajahnya. “Pinjamkan pedangnya. Setelah perang di selatan selesai, aku berjanji akan mengembalikannya.”

Rohan terdiam. Senyum itu membuatnya bingung, tidak percaya bahwa pria yang dikenal tegas dan keras kepala itu tiba-tiba terlihat manusiawi.

“Aku membutuhkan kekuatan pedang ini untuk melindungi kerajaanku,” lanjut Arashi. “Ayahku belum kembali sejak kemarin, jadi aku yang harus maju ke medan utama.”

Ada keraguan di hati Rohan, tapi rasa iba pada cerita Arashi membuatnya melunak. Dengan berat hati, dia menyerahkan pedang itu.

“Terima kasih,” kata Arashi seraya menerima pedang itu.

Rohan berbalik, berniat mencari teman-temannya yang terpisah. Namun, baru beberapa langkah dia melangkah dengan terpincang-pincang, tubuhnya tumbang. Kegelapan menyelubungi penglihatannya, dan jatuh pingsan.

Arashi menghela napas panjang. “Hah... sudah kuduga, efek obatnya secepat itu. Aku tidak menyangka reinkarnasiku ini terlalu lemah,” gumamnya, menggeleng pelan. Dia menggendong tubuh Rohan ke punggungnya dengan sigap.

Langit yang sebelumnya cerah perlahan tertutup awan gelap. Cahaya rembulan memudar, membuat malam terasa lebih kelam. Arashi berjalan perlahan, hanya mengandalkan insting untuk menyusuri jalan di tengah hutan yang semakin gelap.

Dia menatap wajah Rohan yang terkulai di bahunya. Raut itu, meskipun tampak lebih muda, begitu familiar. Itu wajah yang dia lihat setiap kali bercermin di masa lalu.

Namun ingatan kelam menyeruak, membawa Arashi kembali pada hari itu. Hari di mana segalanya berubah.

Dia teringat Raja Dourli, ayahnya, yang membunuh adik kandungnya tanpa alasan. Saat itu, di usianya yang ke-17, Arashi mencoba mencari jawaban. Dia menuliskan pertanyaan di secarik kertas, memberikannya pada ayahnya berharap mendapatkan balasan. Tapi Raja Dourli hanya mengabaikannya, bahkan melempar kertas itu sebelum pergi meninggalkannya.

Arashi tidak bisa menerima kenyataan itu. Dengan hati yang penuh kemarahan, dia melarikan diri dari istana. Malam itu, dia tiba di Hutan Kegelapan tanpa sadar. Dia duduk di dekat batu besar, menatap aliran sungai yang tenang, mencoba meredam tangisnya.

Tiba-tiba, dia menyadari ada sosok berjubah hitam berdiri di dekatnya. Itu Drako. Tapi bukannya merasa terancam, Arashi hanya diam, membiarkan Drako berdiri di sana sepanjang malam hingga mentari pagi muncul. Anehnya, Drako tidak menyerangnya, tidak juga membunuhnya. Bahkan, dia tetap menjaga jarak, seolah-olah hanya mengawasi.

Ingatan itu membuat Arashi bertanya-tanya. Mengapa Drako membiarkannya hidup?Lamunannya buyar ketika dia merasakan tangan Rohan melingkar di lehernya.

"Ibu... aku ingin pulang... Ayah pasti khawatir aku bolos sekolah...” gumam Rohan dalam igauannya.

Arashi menghentikan langkahnya. Dia menatap wajah Rohan yang terpejam, tubuhnya yang terkulai lemah di punggungnya.

Senyum kecil tersungging di wajahnya. “Ternyata… kau masih sama. Seorang anak kecil yang memimpikan rumah.”

Dia melanjutkan langkahnya, membawa Rohan melintasi kegelapan hutan dengan hati yang sedikit lebih ringan, meskipun peperangan besar menantinya di depan.

***

Ratih menatap batu berwarna merah muda di tangannya, sinar lembutnya terpancar di antara debu dan retakan dinding batu segidelapan. Chandra sibuk menyisir rak kayu yang hampir runtuh, mencari sesuatu yang berharga di ruang bawah tanah tersebut.

“Tidak kusangka, di bawah rongga pohon besar itu ada ruangan seperti ini,” gumam Citrea, matanya tertuju pada lembaran-lembaran kertas kuno yang rapuh di tangannya.

“Sudah cukup kita di sini,” ujar Chandra tiba-tiba, suara tenangnya memecah kesunyian. “Mari kita susul Riki yang ada di ujung lorong.”

Ratih memandangnya ragu. “Bagaimana kau tahu kalau Riki ada di sana?” tanyanya curiga.

Chandra hanya tersenyum tipis, lalu melangkah lebih dulu ke depan tanpa menjawab. Citrea dan Ratih saling bertukar pandang sebelum mengikuti dari belakang.

“Citrea,” bisik Ratih pelan sambil melirik Chandra, “Sebenarnya kemampuan Chandra itu apa saja?”

“Membaca pikiran orang dari jarak tertentu,” jawab Citrea sambil mendekatkan suara. “Tapi, tidak selalu berguna. Ada batasan waktu, tempat, dan siapa orang yang ingin dia baca. Kalau itu di luar jangkauannya, dia tidak bisa apa-apa.”

Ratih mengangguk kecil, lalu kembali menatap batu merah muda di tangannya. “Oh ya, tadi kau bilang ini salah satu dari tiga segel segidelapan, kan? Apa yang akan terjadi kalau kita tidak menaruhnya di tempatnya tepat waktu?”

“Bencana,” jawab Citrea tegas. “Menurut cerita kuno yang aku baca tadi, segel ini harus dipasang di sebuah tempat di puncak bukit sebelum waktunya habis, atau dunia akan dilanda kehancuran.”

“Dan batu berwarna kuning ditemukan Riki di ujung sana,” tambah Chandra tanpa menoleh.

Ratih mengerutkan dahi. “Mengapa Drako memberitahu kita letak batu ini?” tanyanya penasaran.

“Aku tidak tahu,” jawab Chandra datar. “Tapi yang jelas, kita baru menemukan dua batu. Kita masih belum tahu di mana batu biru itu.”

Ratih menghela napas panjang. Tiba-tiba dia teringat seseorang. “Bagaimana dengan Rohan? Apa dia baik-baik saja?” tanyanya, nada suaranya penuh kekhawatiran.

Chandra berhenti sejenak, lalu menjawab sambil menggeleng. “Aku tidak tahu. Sepertinya dia berada cukup jauh. Kabut ini juga membuatku sulit melacaknya.”

Ratih semakin gelisah. Namun, sebelum dia bisa berkata lebih jauh, suara langkah kaki terdengar dari ujung lorong.

“Hey, kalian baik-baik saja?” suara Riki terdengar, membuat mereka semua menoleh. Di tangannya, dia memegang batu kuning yang bersinar redup.

“Bagaimana kau tahu ada lorong ini?” tanya Ratih, memandangi batu di tangan Riki dengan mata lebar.

“Tadi, Drako menunjuk ke arah rongga pohon besar. Aku penasaran dan masuk ke dalam. Ternyata aku menemukan batu ini. Semakin ke dalam, aku melihat lorong lain, jadi aku telusuri saja,” jelas Riki santai. “Ngomong-ngomong, di mana Rohan?”

Pertanyaan itu membuat Ratih tersentak. “Aku tidak tahu. Sepertinya dia terpental ke tempat lain, atau jangan-jangan...” Matanya membesar. “Drako membawanya?! Rohan!” jeritnya histeris.

Citrea segera memeluk Ratih, mencoba menenangkannya. “Dia akan baik-baik saja. Kita pasti akan menemukannya,” bisiknya lembut.

Chandra memejamkan mata, berusaha merasakan keberadaan Rohan. Setelah beberapa saat, dia membuka matanya kembali dengan wajah serius. “Kita harus keluar dulu. Tempat ini terlalu berbahaya untuk tinggal lebih lama.”

Mereka semua mengikuti Chandra kembali ke permukaan. Namun, ketika mereka mencapai atas, pemandangan yang menunggu mereka lebih aneh. Kabut tebal menyelimuti hutan, membuat jarak pandang hanya sekitar satu meter.

“Kita harus bergandengan tangan agar tidak terpisah,” perintah Chandra, menggandeng tangan Citrea terlebih dahulu.

Citrea menatap kabut dengan ragu. “Apakah kemampuan kakak terhalang oleh kabut ini?” tanyanya, suaranya gelisah.

Chandra menggeleng pelan. “Aku tidak yakin. Tapi ini bukan kabut biasa. Rasanya, ada sesuatu yang mengawasi.”

Mereka mulai berjalan perlahan, tangan mereka saling menggenggam erat. Namun, kabut semakin pekat, hampir seperti tirai tebal yang hidup. Bahkan Riki, yang berada di barisan belakang, tidak bisa melihat siapa pun di depannya.

“Hati-hati...” bisik Chandra tiba-tiba, suaranya penuh kewaspadaan. “Ada sesuatu di sini bersama kita.”

1
Agunk Putra
woke
Aldi: Y doang lah
total 1 replies
vanillaatack
thor up lgi dan kurangin typo yaaa
Aldi: udah tamat guys sama typonya udah dikurangin, tapi kalau masih ada ya ngantuk berati mweheheh🤭
total 1 replies
Ayuzakura
kamu kemana Thorrr kenapa menghilang
Aldi: udah tamat ya guys sekarang🤭
total 1 replies
Anti
lanjut thoor
Aldi: udah tamat guys🤭
total 1 replies
SoftMambo
lh kok smpe sini,,,??? thor mna lanjutanx,,,kok kgk ad juga hari updatex,,,?
Aldi: udah tamat ya beb🤭 kemarin ilang gegara fokus studi🤣
total 1 replies
M Reika Prasetyo
Semangat Thor
Aldi: di like lah masa stiker doang😀
total 1 replies
👑Xa🌟
Lanjut up thor! jangan lupa mampir
"Anathema in Replica World: Lybrinth"
nayla
next
mampir lady devil ya ditunggu feedbacknya
Aldi: oke say
total 1 replies
nayla
lanjutkan thor semangat
Aldi: ty domido
total 1 replies
nayla
nextnext
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!