Demi menyelamatkan keluarganya, Alina terpaksa menerima pernikahan kilat dengan pria asing yang bahkan belum sempat ia kenal. Ia mengira pernikahan itu hanya formalitas, hingga hari pertama bekerja di perusahaan impiannya mengubah segalanya.
Pria dingin yang duduk di kursi CEO itu ternyata adalah suaminya sendiri.
Di depan semua orang, pria itu bersikap seolah mereka orang asing. Namun diam-diam, ia selalu melindungi Alina dari setiap fitnah dan bahaya yang mengintainya. Saat identitas mereka akhirnya terbongkar, rahasia besar, perebutan kekuasaan, dan pengkhianatan mulai mengancam rumah tangga mereka.
Mampukah cinta tumbuh di balik pernikahan yang dipenuhi rahasia? Atau justru semuanya akan berakhir sebelum benar-benar dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keromantisan di pulau Dewata
Alina tersenyum lelah di dada suaminya.
“Aku sudah lupa,” jawabnya pelan. “Sejak kamu memelukku di teras tadi.”
Devan terdiam beberapa detik.
Kemudian, senyum kecil muncul di sudut bibirnya.
“Kalau begitu, aku tidak perlu khawatir.”
Alina mengangkat wajah. “Khawatir tentang apa?”
“Kalau besok kamu kembali mengingat semua pekerjaanmu.”
Alina terkekeh pelan. “Oh, jadi itu masalahnya?”
“Masalah besar.” Devan mengusap ujung rambut istrinya yang masih lembap. “Kamu terlalu sibuk. Bahkan saat sedang bersamaku, pikiranmu sering masih berada di kantor.”
“Itu karena seseorang memberiku pekerjaan yang terlalu banyak.”
“Seseorang?”
“CEO yang sangat menyebalkan.”
Devan mengangkat alis. “Berani sekali istriku menyebut suaminya menyebalkan.”
“Faktanya memang begitu.”
“Baik.” Devan mengangguk seolah menerima keputusan penting. “Besok aku pecat.”
Alina langsung tertawa.
“Jangan!”
“Kenapa?”
“Karena kalau kamu memecat dirimu sendiri, siapa yang akan membayar gajiku?”
Devan ikut tertawa. Suara mereka bercampur dengan gemuruh hujan yang masih terdengar dari balik kaca besar kamar.
Untuk beberapa saat, tidak ada lagi percakapan.
Hanya keheningan yang terasa nyaman.
Alina menyandarkan kepala di dada Devan. Jari-jarinya menggambar pola kecil di dada pria itu tanpa sadar. Sementara Devan terus mengusap rambutnya perlahan.
Malam itu terasa berbeda.
Bukan hanya karena kedekatan yang baru saja mereka bagi, tetapi karena untuk pertama kalinya setelah perjalanan panjang yang melelahkan, Alina merasa benar-benar aman.
Tidak ada tuntutan.
Tidak ada pertanyaan tentang masa lalu.
Tidak ada orang yang mencoba menariknya kembali ke kehidupan yang sudah ia tinggalkan.
Hanya dirinya dan Devan.
“Aku bahagia,” bisiknya.
Tangan Devan berhenti sesaat.
“Apa?”
“Aku bilang aku bahagia.”
Devan menatap wajahnya.
Kalimat sederhana itu entah mengapa membuat dadanya terasa penuh.
Selama ini ia selalu mengira kebahagiaan adalah sesuatu yang harus diperjuangkan dengan ambisi, uang, jabatan, dan keberhasilan. Ia membangun perusahaan, memperluas bisnis, memenangkan berbagai persaingan, dan membuat orang-orang takut sekaligus menghormatinya.
Namun, semua itu tidak pernah membuatnya merasakan ketenangan seperti malam ini.
“Kenapa diam?” tanya Alina.
Devan menggeleng.
“Aku cuma sedang mengingat sesuatu.”
“Apa?”
“Pertama kali aku melihatmu.”
Alina tersenyum. “Kamu ingat?”
“Semua.”
“Padahal waktu itu kamu bahkan tidak terlalu ramah.”
“Aku memang tidak ramah.”
“Bukan tidak ramah.” Alina mendongakkan kepala. “Kamu menyebalkan.”
Devan terkekeh. “Bedanya tipis.”
“Beda.”
“Baiklah. Aku menyebalkan.”
Alina tersenyum puas.
Devan menatapnya lama.
“Waktu itu aku tidak tahu.”
“Tidak tahu apa?”
“Kalau perempuan yang berdiri di depanku saat itu akan menjadi orang yang paling sulit aku lepaskan.”
Senyum Alina perlahan menghilang.
Matanya menjadi lebih lembut.
“Devan …”
“Aku serius.”
Pria itu mengangkat tangan, menyentuh pipi Alina.
“Aku pernah berpikir aku bisa mengendalikan semuanya. Karierku, perusahaan, keputusan orang lain, bahkan hidupku sendiri.”
Ia berhenti sejenak.
“Ternyata aku salah.”
“Karena aku?”
“Karena kamu.”
Alina menatapnya tanpa berkedip.
“Sejak kamu masuk ke hidupku, semua rencana yang sudah kususun menjadi berantakan.”
“Buruk sekali.”
“Buruk.”
“Lalu kenapa kamu masih bertahan?”
Devan tersenyum.
“Karena ternyata berantakan bersamamu jauh lebih menyenangkan.”
Alina tertawa kecil.
Ia kemudian memeluk Devan lebih erat.
Pria itu membalas pelukannya.
Di luar, hujan mulai sedikit mereda.
Suara air yang jatuh dari atap terdengar lebih lembut dibandingkan sebelumnya.
“Aku takut,” ujar Alina tiba-tiba.
Devan langsung menegang.
“Takut apa?”
“Takut semua ini hanya sementara.”
Devan menunduk.
“Lihat aku.”
Alina mengangkat wajah.
“Ini bukan sementara.”
“Bagaimana kalau suatu hari kamu bosan?”
“Aku tidak akan bosan.”
“Bagaimana kamu bisa yakin?”
“Karena aku mengenalmu.”
Devan mengusap pipinya.
“Aku mengenal sisi keras kepalamu. Aku mengenal kebiasaanmu ketika sedang gugup. Aku tahu kamu akan menggigit bibirmu ketika sedang memikirkan sesuatu. Aku tahu kamu pura-pura kuat ketika sebenarnya sedang terluka.”
Alina terdiam.
“Dan aku tahu,” lanjut Devan, “bahwa kamu selalu berusaha membuat semua orang baik-baik saja, bahkan ketika dirimu sendiri sedang tidak baik-baik saja.”
Mata Alina mulai berkaca-kaca.
“Jangan menangis.”
“Aku tidak menangis.”
“Matamu berkata lain.”
“Ini karena kamu terlalu pandai bicara.”
Devan tersenyum.
Ia menghapus sudut mata Alina dengan ibu jarinya.
“Mulai sekarang, kamu tidak perlu selalu kuat.”
“Lalu?”
“Kalau lelah, bersandar padaku.”
“Kalau takut?”
“Pegang tanganku.”
“Kalau marah?”
“Marahi aku.”
Alina terkekeh.
“Kalau aku keras kepala?”
“Aku akan lebih keras kepala.”
“Kalau aku salah?”
“Aku tegur.”
“Kalau kamu yang salah?”
Devan terdiam.
Alina langsung menyipitkan mata.
“Nah.”
“Aku minta maaf.”
“Semudah itu?”
“Kalau perlu, aku belikan kamu satu toko bunga.”
Alina tertawa.
“Satu toko?”
“Dua.”
“Kamu pikir uang bisa menyelesaikan semuanya?”
“Tidak.”
Devan mendekatkan keningnya pada kening Alina.
“Tapi aku tahu permintaan maaf yang tulus harus diikuti usaha.”
Alina tersenyum.
“Jawabanmu benar.”
“Berarti aku aman?”
“Untuk malam ini.”
“Besok?”
“Kita lihat.”
Devan menggeleng sambil tertawa.
“Dasar.”
Alina kembali menyandarkan kepala di dadanya.
Beberapa menit kemudian, tubuhnya mulai terasa semakin berat karena rasa kantuk.
Devan menyadarinya.
“Kamu mengantuk?”
“Sedikit.”
“Tidurlah.”
“Kalau aku tidur, kamu pergi?”
“Tidak.”
“Janji?”
“Janji.”
Alina memejamkan mata.
Devan menarik selimut hingga menutupi tubuh mereka dengan rapi. Kemudian ia mematikan lampu utama, menyisakan cahaya lembut dari lampu samping tempat tidur.
Kamar menjadi lebih tenang.
Hujan masih turun di luar, tetapi tidak lagi deras.
Devan memandangi wajah istrinya.
Ada ketenangan yang sulit dijelaskan di wajah Alina.
Ia mengusap rambutnya sekali lagi.
“Alina.”
“Hm?”
“Aku mencintaimu.”
Mata Alina tetap terpejam.
Namun bibirnya membentuk senyum kecil.
“Aku juga.”
“Tidak mau melihatku?”
“Besok saja.”
“Kenapa?”
“Kalau aku melihatmu sekarang, nanti kamu mulai menggangguku lagi.”
Devan terkekeh.
“Padahal aku suamimu.”
“Justru itu.”
Devan mengecup keningnya.
“Tidurlah.”
Beberapa saat kemudian, napas Alina berubah teratur.
Ia benar-benar tertidur.
Devan masih terjaga.
Tatapannya beralih ke kaca besar yang memperlihatkan halaman taman di luar. Titik-titik air hujan mengalir perlahan di permukaan kaca, memantulkan cahaya lampu taman yang samar.
Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, pikirannya tidak dipenuhi rapat, angka, kontrak, atau masalah perusahaan.
Ia hanya memikirkan satu hal.
Alina.
Perempuan yang dahulu tidak pernah ia bayangkan akan menjadi bagian terbesar dalam hidupnya.
Devan tersenyum kecil.
“Dua minggu,” gumamnya pelan.
Ia teringat rencana liburan mereka.
Dua minggu tanpa kantor.
Dua minggu tanpa rapat.
Dua minggu tanpa gangguan.
Dan untuk pertama kalinya, Devan merasa keputusan mengambil cuti panjang bukanlah sesuatu yang sia-sia.
Ia menatap Alina lagi.
“Sepertinya aku yang akan dibuat lupa olehmu,” bisiknya.
Kemudian ia memejamkan mata.
Tangannya tetap menggenggam tangan Alina di atas seprai.
Tidak ada lagi yang perlu mereka buktikan malam itu.
Tidak ada janji besar yang harus diucapkan.
Cukup dengan tetap berada di sana.
Bersama.
Ketika pagi datang, mereka masih akan menghadapi dunia yang sama.
Akan ada pekerjaan.
Akan ada keluarga.
Akan ada masalah yang mungkin menunggu.
Namun malam itu memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar pelarian.
Ketenangan.
Dan bagi Devan serta Alina, setelah semua yang mereka lalui, ketenangan itu adalah bentuk kebahagiaan yang paling mereka butuhkan.