Ada pepatah terkenal, "Jangan menilai seseorang dari luarnya."
Theodore Arvan Ilyas. Semua wanita akan setuju kalau dia tampan bak jelmaan malaikat. Namun, apakah hatinya juga sebaik malaikat? Sayangnya iya. Itulah yang membuat Farah merasa dirinya tak pantas untuk sekedar berharap Theo melihat ke arahnya.
Karya kedua setelah Hutang Kepada Mr. Devil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wardah Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu Undangan
Adrian dan Corrie—sekretaris Theo—mengatur gala dinner di New York. Theo memperkenalkan Farah kepada para teman bisnisnya, juga beberapa teman semasa kuliah. Tentu saja Gwen dan Zach hadir membantu menyambut tamu. Teman semasa kuliah Theo hadir, Gwen mengenali beberapa di antaranya. Zach yang sebelumnya menjalankan perusahaan sebelum Theo juga mengenal dekat para tamu undangan.
Ada seorang tamu laki-laki yang datang tanpa ditemani pasangan wanita yang menarik perhatian Farah, karena jarang sekali seorang laki-laki datang sendiri ke pesta macam itu. Usianya mungkin lebih tua sedikit darinya dan Theo, wajahnya benar-benar menarik perhatian kaum hawa justru itulah yang membuat Farah penasaran. Namun, ada semacam aura menakutkan yang mengelilinginya. Theo mengajak Farah mendekat dan memperkenalkan keduanya. “Ini Mr. Emiliano. Dan Emiliano perkenalkan istri saya, Farah.”
Ada aksen Italia yang kental saat Emiliano bicara. Farah masih penasaran dengan sosok Emiliano, tapi ia tak ingin terlihat terlalu ingin tahu. Mereka hanya basa-basi sebentar lalu kemudian Emiliano menanyakan sesuatu yang membuat Farah terkejut, “Apakah istri kamu ini yang dulu ingin kamu lindungi dari perempuan bernama Sandra?”
Theo juga sama tampak terkejut dengan pertanyaan itu, seketika darah seakan meninggalkan wajahnya. “Bukan.” Theo merapat ke telinga Emiliano lalu bicara dengan pelan. “Emiliano, apa yang kita bicarakan dulu antara kita saja. That matter is over. We both gain something out of it and even.”¹
Dengan santai Emiliano mengangguk sambil mendekatkan gelas wine ke mulutnya. Theo masih menatapnya tajam ketika Emiliano menyesap cairan berwarna merah gelap itu. Farah tak mengerti apa yang mereka bicarakan, tapi nama Sandra membunyikan sebuah bel dalam ingatannya. Gwen, peristiwa yang mereka rahasiakan berhubungan dengan Gwen. Farah menyusun sendiri skenario di dalam kepalanya. Theo ingin melindungi Gwen, dan itu melibatkan Emiliano.
Theo kemudian tak membiarkan mereka berada dalam situasi yang menegangkan. Ia meninggalkan Emiliano setelah berpamitan untuk menyambut tamu yang lain.
Farah menatap nanar para tamu yang hadir. Mendadak ia tak bersemangat kembali meneruskan acara malam itu. Tidak sebelum Theo mengatakan kepadanya apa yang terjadi. Siapa Emiliano ini? Seberapa pentingnya orang ini hingga mengetahui masalah Gwen. Atau lebih jauh lagi, apa Theo melakukan sesuatu kepada Sandra?
“Kita duduk dulu,” kata Theo. Ia segera menarik mundur sebuah kursi pada tempat yang sudah ditentukan sehingga Farah bisa duduk. Seorang pelayan mendekat dan mengatakan kalau hidangan pembuka akan diantar sepuluh menit lagi.
Farah kemudian mengedarkan pandangan kepada beberapa tamu, ia melihat wajah-wajah yang cukup familiar. Teman seapartemennya dulu sewaktu kuliah Lea dan Cammie. Lea masih tetap seapartemen ketika mereka kerja, tapi Cammie pindah ke negara bagian lain mengikuti tunangannya. Juga Mr. Warren. Dialah pemilik restoran yang mengetahui masalah selfharm Farah. Ternyata Mr. Warren masih mengenali Farah dengan baik. Farah tak punya banyak teman sewaktu di New York, dan ia ragu mengundang mereka. Hanya ketiga orang itu saja yang menurut Farah masih tetap berhubungan baik dengannya.
Setelah hidangan demi hidangan selesai dinikmati, beberapa tamu ada yang berpamitan dan masih banyak yang menunggu Farah dan Theo. Mereka menunggu sepasang suami-istri itu untuk berdansa ke tengah ballroom, seperti sebuah tradisi di sana.
Theo mengulurkan lengannya, meminta Farah untuk menyambut ajakannya berdansa. Farah ragu dan ia bilang, “Aku gak bisa dansa Theo.”
“It’s ok. I'll lead you.”²
“I might step on your feet.”³
“That would be an honor for me, my dear wife,”⁴ jawabnya dengan senyum lebar.
Beberapa tamu menyoraki Farah agar tak membuat suaminya menunggu. Pipi Farah bersemu, tapi ia memberanikan diri untuk menyambut uluran tangan Theo. Farah tak pernah berdansa ataupun berinisiatif untuk ikut les dansa. Theo melangkah sekali, kaki Farah ikut melangkah, begitu terus. Theo sengaja melakukannya dengan pelan mengikuti alunan musik yang sangat lembut. “Apa aku sudah bilang kalau malam ini istriku sangat cantik?” tanya Theo.
Farah mengangguk dan tersenyum. “Ini ketiga kalinya.”
Theo tersenyum lalu mengatakan, “Aku lupa, tapi aku tak akan keberatan untuk mengatakannya sekali lagi.”
“Thank you, atas pujiannya,” balas Farah.
“You’re welcome, Beauty.”
“Hentikan Theo.” Farah tertawa kecil. “Aku jadi curiga kalau kamu ada maunya.”
“You know me very well, Honey,”⁵ kata Theo dengan sebuah cengiran.
“Ya ampun, bahkan kamu gak menyangkal,” raut wajah Farah berubah menjadi keheranan.
Theo kemudian menghentikan gerakan dansanya. “Ok Honey, sekarang waktunya kita pulang dan menidurkan Galen.” Kemudian ia meraih telapak tangan Farah dan menghelanya untuk menjauhi area dansa.
“Theo malu ih, masa kita kabur lagi dari pesta?” tanya Farah dengan suara pelan. Meskipun orang lain mungkin tak mengetahui pembicaraan mereka karena menggunakan bahasa yang asing bagi para tamu. Namun tetap saja Farah merasa malu.
“Lagi?”
“Bukannya pas kita di Indonesia juga kabur duluan sebelum acara selesai?”
“Oh iya,” jawab Theo dengan wajah tanpa dosa membuat Farah geleng-geleng.
“Kamu gak dandan saja sudah jadi godaan yang sulit dihindari, apalagi kalau dandan begini,” ujar Theo yang melazimkan tindakannya.
“Terus gimana pestanya?”
“Biarkan tamu undangan berdansa atau pergi terserah mereka. Mereka bisa pulang sendiri. Sekarang kita kabur dulu sebelum Adrian menahan kita.”
Farah tertawa kecil mengingat kelakuan suaminya yang selalu kucing-kucingan dengan Adrian. Kadang kasihan juga asistennya itu harus mengatasi semua urusan pesta yang ditinggalkan Theo.
Theo menarik Farah ke lift khusus untuk pemilik penthouse. Ia mengetikkan pesan kepada Zach kalau-kalau sepupunya itu mencari mereka. Farah melihat jam pada ponselnya, belum terlalu malam. Galen mungkin sudah tidur tapi Farah ingin memastikannya.
Saat lift berdenting, keduanya segera pergi menuju unit salah satu maid karena Galen dijaga olehnya. Setelah dua kali membunyikan bel, pintu unit itu terbuka.
“Hai Amanda,” sapa Farah.
“Hai, did you guys finish dinner?”⁶ Maid yang berumur lebih dari empat puluh tahun itu keheranan. Farah dan Theo belum mencari seorang pengasuh untuk Galen.
“We have our own plans,”⁷ jawab Theo.
Amanda menaikkan alis dan menahan diri agar tak memutar bola matanya. Farah tertawa melihatnya. “He sleeps well,”⁸ kata Farah lalu ia memberikan satu kecupan di pipi Galen. Kemudian Theo juga.
Kemudian keduanya berpamitan dan berterima kasih kepada Amanda. Kemudian maid itu bertanya jam berapa Galen harus dibawa ke atas, maksudnya ke tempat Farah. Theo menjawab kalau mereka yang akan menelepon Amanda lebih dulu, karena Theo belum tahu jam berapa ia ingin mengakihiri petualangannya bersama Farah. Tentu saja alasan itu hanya ada di kepala Theo, kalau ia mengatakannya pasti Farah akan malu. Lagipula Amanda pasti sudah paham meskipun tidak diberi tahu.
--------------
¹ Masalah itu sudah usai. Kita berdua mendapatkan sesuatu darinya dan impas.
² Tidak mengapa, aku akan menuntunku.
³Aku mungkin akan menginjak kaki kamu.
⁴ Itu akan menjadi suatu kehormatan bagiku, istriku.
⁵ Kamu sangat mengenalku.
⁶ Apa kalian sudah menyelesaikan makan malam?
⁷ Kami punya rencana sendiri.
⁸ Dia tidur nyenyak sekali.
besttt
semangat author 💞💞💞💞💞💞💞
kebayang g sih wajah Zach yg ituuu truss senyum2 gaje🤣🤣
bumi kepada othor
bumi kepada othor
tapii
Theo nya kurang gahar dikit
ganteng pinter tapi kok aga be... dlm mslh asmara sich
gemeshh dweh
thd siapa saja
terutama anak dan pasangan kta
kan cerita ini ada mafia2nya juga.