Hukum tidak berpihak pada Anggita, jadi aku yang akan jadi hukumnya. Satu misi yang menjadi tujuanku hancurkan Arvin Teriaz. Aku Nabila Azzahra, topengku sekretaris, senjataku kode. Rencana sempurna begitu sempurna sampai Galen Teriaz, dokter yang membenci darahnya sendiri, mengulurkan tangan dalam misiku.
Apakah misi mereka berhasil dalam, menghancurkan seorang Arvin Teriaz ?
Baca selengkapnya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah Mayaddah f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 TESTPACK DAN PELURU
"Kabar ini adalah jawaban doa yang tak terhitung jumlahnya. Terima kasih Tuhan, Engkau titipkan amanah terindah"
\_ Galen Teriaz \_
Pagi itu Rumah Singgah dengan suasana aneh, bukan karena sirine, bukan karena surat tapi karena Nabila muntah 3 kali bulak-balik ke kamar mandi. Karena merasa khawatir Galen mengetuk pintu, karena pintu kamar mandi di kunci dari dalam oleh Nabila.
TOK… TOK… TOK…
"Sayang, kamu gak apa-apa?" Tanya Galen khawatir
Nabila suara dari dengan lemah
"Gak apa-apa mas, mungkin aku masuk angin kali" Jawab Nabila
Galen masih nunggu di luar
"Jangan bohong" Jawab Galen
Begitu Nabila keluar, wajahnya pucat, bibirnya juga pucat. Galen langsung gendong ala bridal style dengan hati-hati ke bahunya.
"Kita ke klinik aja yah, sekarang" Ucap Galen sangat khawatir, apalagi saat melihat wajah pucat sang istri
Nabila nolak pelan …
"Sayang, aku gak mau ningalin mereka dan nanti jam 10 ada rapat sama bu Dewi” Jawab Nabila
Galen tatap tajam
"Kamu lebih penting dari semuanya, titik" Ujar Galen tanpa mau di bantah
*****
Setelah berdebat dan Nabila merasa capek berdebat, akhirnya dia menyetujui untuk pergi ke klinik untuk di periksa.
Di klinik Cisarua, dokter sedang memeeriksa Nabila.
"Ibu udah telat berapa lama?" Tanya Dokter
"2 minggu, dok" Jawab Nabila
Dokter ngulur testpack
"Coba dulu ya, biar pasti"
10 menit Nabila di toilet itu rasanya 10 tahun, sedangkan Galen duduk di luar tapi lututnya gemetar. Dia berdoa.
`Tuhan Yesus... apapun hasilnya... kuatin kami...` Batin Galen
Pintu kebuka, Nabila keluar dan di tangannya 2 garis merah begitu jelas. Air matanya jatuh karena merasa bahagia
"Sayang..." Panggil Nabila sambil mneyerahkan testpack
Galen langsung berdiri dan memeluk kenceng banget
"Puji Tuhan... Puji Tuhan..." Ucap Galen
"Kita... kita mau punya anak, Nab" Tambah Galen yang sudah meneteskan air mata
Di perjalanan pulang Galen diam, tapi tangannya genggam tangan Nabila terus. Sampai rumah dia kumpulin semua, Bu Dewi, Anggita, Dito, Bu Marta, 40 anak.
"Temen-temen... kita punya kabar baik" Ucap Galen dengan senyumannya yang tidak luntur
Galen mengelus perut Nabila
"Tuhan titipkan ke kami, adik buat kalian semua" Lanjut Galen
Aula hening 2 detik, tak lama Riko dan Dito teriak
"YEAYY AKU PUNYA KEPONAKAN!" Teriak Riko
Yang lain langsung tepuk tangan dan peluk Nabila.
"Selamat kak!" Ucap Mereka
Bu Marta nangis
"Tuhan maha baik, di tengah kondisi seperti ini Tuhan kasih berkat" Ujar Bu Marta
“Iya bu, mungkin Tuhan ingin kita lebih semangat dalam menghadapi semua ini” Jawab Galen
“Nabila, mulai sekarang jangan membawa beban yang berat-berat dan jangan terlalu capek karena trimester awal itu sangat rawan” Ujar Bu Marta dengan semangat
“Iya bu, terima kasih perhatiannya” Jawab Nabila tersneyum sambil mengelus perutnya dengan penu kasih sayang
Tapi malamnya sukacita itu ketimpa batu, tepat pukul 23 malam terdengar suara tembakan.
DOR ! DOR ! DOR !
Dua suara tembakan dari arah bukit, pelurunya nancep di tembok depan gerbang dan membuat Semua kebangun merasa panik. Galen langsung lindungin Nabila pake badannya.
"MASUK! SEMUA MASUK KE AULA! MATIIN LAMPU!" Titah Galen berteriak
Satpam teriak lewat HT
"Ada orang di bukit! Lari ke hutan!" Lapor Satpam
Anak-anak nangis dan Riko peluk Nabila
"Kakak jangan takut..." Ucap Riko
"Tuhan jaga kita... Tuhan jaga kita..." Ucap Nabila
Galen di pojokan pegang HT dan napasnya berat
"Ini peringatan, mereka mau bilang: kami bisa nyentuh kapan aja" Kata Galen
Polisi datang 20 menit kemudian untuk olah TKP.
Bu Dewi dengan wajah tegang …
"Ini bukan pencuri, ini sebuah teror" Ucap Bu Dewi
Malam itu gak ada yang tidur, Galen duduk di lantai aula dan Nabila di pangkuannya.
"Maafin aku, Nab. Karena aku... karena aku bawa bahaya ini ke kamu dan ke anak kita" Bisik Galen
Nabila usap pipi Galen
"Bukan, ini bukan salah kamu. Ini peperangan dan kita akan menang bareng, buat dia” Jawab Nabila sambil nunjuk perutnya
*****
Ke esokkan paginya tepat hari senin, sidang online kasus Bram. Layar gede di ruang tamu, Bram terlihat dengan rambutnya gondrong, janggutnya lebat dan matanya kosong.
"Terdakwa Bram, ada yang mau disampaikan?" Tanya Hakim
Bram senyum liat langsung ke kamera, seolah melihat Galen
"Ada, Yang Mulia" Jawab Bram
Bram tepuk tangan pelan
"Selamat ya, Galen mau jadi ayah" Ucap Bram
Galen mengepal saat mendengar ucapan dari Bram …
Bram: "Sayang ya, anaknya gak akan kenal bapaknya. Karena bapaknya akan mati duluan" Ucap Bram sambil tersenyum smirk.
Ruangan itu menjadi riuh
"Terdakwa! Jaga ucapan!" Ucap Hakim
Bram ketawa
"Aku cuma ngasih selamat, 5 bulan 21 hari lagi dan aku tunggu di luar" Jawab Bram tanpa rasa bersalah
Dan sidang pun di mulai dengan sangat tertib.
*****
Galen memukul meja
"BAJINGAN!" Umpat Galen
"Sayang, tahan diri kamu. dia hanya menggertak kamu saja” Ucap Nabila sambil memeluk Galen
Galen nangis dipelukkan istrinya
"Aku takut, Nab. Aku takut gak bisa jagain kalian" Jawab Galen
Nabila cium punggung tangan Galen
"Kita punya Tuhan, yang akan selalu membersamai kita” Ucap Nabila
*****
Malamnya Galen gak bisa tidur, dia diam di atap lagi dan Nabila nyusul bawa Alkitab. Mereka buka Mazmur 27:1. "Tuhan adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut?"
Galen baca pelan
"Tuhan adalah benteng hidupku..."
Nabila sandarin kepala
"Kita bukan lawan sendirian."
*****
3 hari kemudian
"Kita dapat surat dari Polda, kita dikasih 2 anggota Brimob untuk menjaga 24 jam dan kita pasang kawat listrik di pagar" Ucap Bu Dewi
"Aku lacak nomor yang nelpon, ada transfer ke rekening atas nama `S` dan dugaan kuat itu kaki tangannya Bram di luar" Timpal Anggita
"Kita harus grebek sebelum dia grebek kita" Ucap Dito
Galen berdiri
"Berarti kita serang balik, bukan pake kekerasan tapi pakai hukum dan pakai bukti kebenaran. Kita umbar semua ke media, biar semua tau ada sindikat yang mau hancurin panti" Ujar Galen
Nabila genggam tangan Galen
"Aku ikut" Kata Nabila
*****
Di lapas …
"Galen... kamu punya sesuatu buat dilindungi sekarang dan itu akan jadi kelemahanmu" Ucap Bram