Kehidupan penduduk Kampung Surya Kencana, dimana sebagai besar penduduknya bekerja sebagai besar petani. Kampung ini kini gersang karena dilanda kekeringan.
Warga Kampung Surya Kencana bersifat, tradisional, sehingga sulit menerima perkembangan terutama dibidang pertanian. Pemerintah baik dari pusat, provinsi, kecamatan hingga Kampung sudah sering mengadakan Penyuluhan Pertanian agar pertanian masyarakat dapat meningkat, namun di tolak oleh sebagian besar penduduk yang bekerja sebagai petani.
Seorang pemuda bernama Harjo (pemeran utama) adalah salah seorang dari sedikit petani yang mau mengikuti arahan Penyuluh Pertanian. Dia gigih dan ulet dalam bertani serta cerdas dalam mengembangkan pertanian, sehingga hasil pertanian Harjo menjadi berbanding terbalik dengan hasil pertanian warga Kampung. Hasil pertaniannya melimpah sedang petani lainnya sering terkena hama dan gagal panen.
Banyak penduduk yang mulai tertarik dengan cara bertani Harjo yang terkadang diluar kebiasaan penduduk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini Sinaga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28. Cara Makan yang Menggoda.
Slamet mempercepat langkah kakinya setelah sebelumnya beristirahat di bawah pohon rindang di pinggir jalan. Setelah Slamet merasa rasa letihnya hilang, dia segera berjalan dengan cepat untuk menyusul keberadaan Wati yang sudah pergi terlebih dahulu.
Pada saat Slamet melintasi warung Widuri, Slamet awalnya berfikir untuk singgah seperti biasanya, namun saat ini sedikit berbeda sebab dirinya sudah dinantikan oleh Wati di Balai kampung.
"Nanti saja aku singgah dan makan di situ setelah menemui Bapak Kepala kampung. Sekalian menunjukkan kepada warga kampung, bahwa telah berhasil menaklukkan Wati, si guru cantik itu. Mereka semua pasti iri melihat ku bersama Wati, apalagi si Harjo, pasti segera patah hati dia. Ha... Ha... Ha.?" gumam Slamet di dalam hatinya sembari melanjutkan perjalanannya yang sudah sangat dekat itu dari Balai kampung. ***
Di dalam warung Widuri, Wati tampak lebih tenang saat ini, Harjo pun merasa sudah dapat meninggalkannya untuk makan di meja sebelah.
Harjo melihat berbagai hidangan di atas meja, terdiri dari: sepiring nasi porsi besar dengan ikan mujair berukur cukup besar yang di goreng lalu di masak dengan bumbu gulai bersantan kental yang disiramkan keatasnya beserta beberapa butir cabai rawit yang menghiasi bumbu gulai, serta sayur daun ubi yang direbus saja. Di piring lainnya berisi sambal goreng, serta terdapat satu renteng petai dan beberapa buah jengkol tua yang tidak ikut di masak atau mentah.
Melihat hidangan itu perut Harjo terasa lapar sekali. Harjo memulai kegiatan makannya dengan berdoa dan tak lupa mencuci tangannya terlebih dahulu.
Awalnya Harjo hanya memakan nasi yang dibasahi kuah gulai dan potongan kecil ikan. Ikan masuk kedalam rongga mulutnya terasa begitu nyaman dan sedap sekali rasanya sehingga mengeluarkan air liurnya yang cukup banyak.
Harjo kembali memasukkan nasi yang basah oleh kuah gulai ke dalam mulutnya lalu mengambil beberapa buah petai dengan memuteknya dan mencocolnya dengan sambal, kemudian segera memasukkannya ke dalam mulutnya. Bunyi suara kunyahan petai bercampur dengan nasi menambah kenikmatan Harjo dalam kegiatan makannya. Merasa belum puas Harjo kembali memasukkan nasi yang basah oleh kuah gulai ke dalam mulutnya lalu mengambil sebuah jengkol dan mencocolnya dengan sambal, kemudian segera memasukkannya ke dalam mulut sebagian dan menggigitnya hingga terpotong sebagian. Bunyi suara kunyahan jengkol bercampur dengan nasi menambah kenikmatan Harjo dalam kegiatan makannya.
Hal ini secara bergantian dilakukannya dengan baik dan sempurna.
Bunyi krak.. krukk.. silih bergantian bertalu-talu seolah-olah menjadi musik pengiring yang merdu buat Harjo saat ini.
Para pelanggan yang berada di dalam warung Widuri, mendengarkan suara kunyahan dari Harjo, mulai terusik. Awalnya biasa saja, namun akhirnya para cacing di dalam perut mereka sudah mulai tidak tahan meminta di turunkan jenis makanan yang sama dengan yang di makan oleh Harjo. Walaupun mereka sudah menyelesaikan makan siangnya sebelumnya.
Orang pertama yang tampak gelisah adalah Pak Mulya, pertahanannya sudah runtuh. Hati, jiwa dan pikirannya secara kompak sudah memaksanya.
"Wid tolong buatkan makanan yang sama dengan yang dimakan Harjo." pinta Pak Mul sudah tidak sanggup dengan penderitaan yang di rasakannya saat mendengar suara kunyahan Harjo yang berdentang merdu menghiasi suasana warung Widuri.
Widuri segera bangkit dari posisi duduknya yang berada di samping Wati menuju etalase makanan yang dijualnya.
Widuri segera membuatkan pesanan dari Pak Mulya. Dibungkusnya semuanya namun petai dan jengkol disisipkan di samping bungkusan nasi. Lalu segera menyerahkannya kepada Pak Mulya.
Pelanggan lain sebelum Widuri menyerahkan pesanan Pak Mulya, segera membuat pesanan yang sama juga.
"Mbak Widuri, saya dibuatkan juga ya. Tetapi jangan dibungkus." pintanya.
"Saya juga, tidak dibungkus." pinta pelanggan lain lagi.
"Iya." jawab Widuri sembarangan sebab dirinya tidak mengerti dengan maksud mereka.
Pak Mulya melihat pesanannya di bungkus merasa heran,
"Loh..., mengapa di bungkus Wid? Saya mau makan sekarang, loh." ungkap Pak Mul yang dipenuhi rasa keheranan.
Widuri pun tak kala heran, sebab tidak biasanya Pak Mulya makan dua kali...
Melihat Widuri keheranan, Pak Mulya segera berkata,
"Sudah, jangan termenung. Ambilkan saja aku piring dan cuci tangan dan tes manis ya." pinta Pak Mul segera karena perutnya sudah tidak sanggup menahannya lebih lama lagi.
Widuri yang penuh rasa keheranan pun segera melaksanakan permintaan Pak Mulya, lalu membuatkan pesanan pelanggan lainnya dengan hati dan pikiran yang masih dipenuhi rasa tanda tanya yang besar akan peristiwa ini.
Setiap pelanggan menerima pesanannya, mereka menerima pesanan seperti yang di makan oleh Harjo.
Setelah semuanya selesai Widuri pun memberanikan diri untuk bertanya kepada Pak Mulya yang sedang menikmati pesanannya.
"Krakk, Krukk...," bunyi kunyahan silih bergantian antara pelanggan satu dan yang lainnya memenuhi warung itu kIni.
"Pak Mul, saya merasa heran. Bukankah Bapak baru saja selesai makan, namun mengapa saat ini sudah memesan makanan kembali dan memakannya?" tanya Widuri demi menghalau rasa penasaran yang sudah menyiksa pikirannya beberapa saat yang lalu itu.
"Oh itu.., ya karena Harjo. Kamu dengar suara mulutnya mengunyah makanan itu. Sungguh berirama sekali. Perutku dibuatnya sampai tIdak tahan lagi. Aku sungguh tersiksa mendengarnya. Perutku memintaku untuk mengisinya." jawab Pak Mul sambil mengunyah makanannya.
"Oh, pantasan. Saya kira ada apa, sebab porsi makanan yang saya sediakan sepertinya cukup banyak seperti biasa. Mengapa pelanggan saya, malahan makan dua kali, padahal saya tidak menguranginya." jawab Widuri.
"Kamu jangan khawatir, porsi makanan yang kamu jual tidak berubah atau berkurang sama sekali, namun kaminya saja yang tidak sanggup untuk tidak makan kembali." jawab Pak Mul berusaha menenangkan Widuri.
Widuri merasa senang sekali sebab dirinya berhasil menjual lebih banyak dan lebih cepat habis hari ini.
"Ini semua berkat Harjo. Seandainya saja dia mau lebih sering datang makan di warung ku ini, tentu saja akan menguntungkan sekali. Ah.., seandainya Harjo menjadi suamiku tentu saja, Dia akan selalu memakan makanan ku. Oh... Seandainya saja.." Runtuk Widuri di dalam hatinya.
Harjo sudah menyelesaikan acara makannya. Dia segera melihat ke arah Wati yang sedari tadi tenang, tiba-tiba seperti berobah roman air mukanya. ***
Di alam bawah sadar ternyata sedari tadi Wati seperti memasuki suatu tempat yang dipenuhi cahaya berwarna-warni dan sangat terang sekali, sehingga Wati tidak dapat melihat apa pun.
Setelah beberapa lama dalam pusaran warna-warni yang menyilaukan itu, Wati tiba-tiba berada di sebuah padang rumput yang sangat luas sekali, sehingga yang terlihat hanyalah ilalang saja.
Wati memandang ke segala arah berusaha mengetahui apakah ada seseorang di tempat tersebut, namun tidak seorang pun yang dapat Dia dItemukannya.
Beberapa saat kemudian dirinya teringat masa kecilnya, bersama kedua orang tuanya. Kenangan masa kecilnya itu muncul satu persatu seperti layar di udara silih berganti.
Dirinya seperti mendengar sayup-sayup kenangan masa kecilnya hingga dewasa. Tak lama kemudian di antara padang ilalang itu terlihat seorang pemuda tampan. Pria itu berdiri di antara rumput ilalang dan Wati mengenali wajah pria tampan tersebut. ***
Siapakah pria tampan tersebut?
Apakah yang selanjutnya dialami Wati di dalam alam bawah sadarnya itu?
👍
yuk diikutin dan di like
tema yang baru