Indonesia
NovelToon NovelToon
Masih Ada Esok?

Masih Ada Esok?

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Duda / Penyelamat
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Tabina Lutfi

Lima tahun setelah kepergian sang istri, Wijaya berusaha menjadi ayah sekaligus ibu bagi kelima anaknya. Di balik sosoknya yang tampak tegar, ia menyimpan rahasia yang tak pernah diketahui anak-anaknya hubungan dengan seorang perempuan yang telah lama hadir dalam hidupnya.

Owen, si sulung yang selalu memikul tanggung jawab keluarga. Rafa, yang keras kepala dan mudah terbakar emosi. Lily, putri kesayangan ayahnya yang selalu berusaha menjadi penengah. Wafa, anak yang selalu tenang dengan senyum dan tawanya. Dan Ell, si bungsu yang menjadi pelipur lara keluarga.

Ketika satu per satu rahasia mulai terungkap, ikatan keluarga yang selama ini terlihat baik-baik saja perlahan retak. Penyesalan datang terlambat, sementara waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu siapa pun.

Di antara cinta, amarah, dan pengorbanan, mereka akan menyadari bahwa tidak semua kesempatan datang untuk kedua kalinya. Sebab, ada seseorang yang diam-diam sedang menghitung... waktu yang tersisa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tabina Lutfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari ini Wafa bebas

Setelah urusan borong-memborong di supermarket selesai, Jaya, Owen, dan Lily kembali ke rumah dengan bagasi mobil yang nyaris tak muat menampung belanjaan.

Begitu pintu rumah dibuka, suasana ruang tengah sudah ramai luar biasa. Malik, Sean, dan Javin sudah kembali dengan tas ransel besar masing-masing. Bersama Wafa, Rafa, dan Ell, mereka sedang duduk melingkar di atas karpet, dikelilingi barang bawaan yang menumpuk.

"Nah, ini dia tim belanja datang!" seru Javin menyambut kedatangan mereka.

Setelah semua barang belanjaan ditata di sudut ruangan, mereka mulai berkumpul di meja tengah untuk mematangkan rencana keberangkatan besok pagi.

Javin membuka peta di ponselnya dan menunjukkannya ke tengah lingkaran. "Oke, jadi untuk rutenya udah beres. Nah, sekarang tinggal pembagian kendaraannya nih."

"Papi yang menyetir mobil, ya. Nanti semua barang belanjaan, tenda, sama kalian semua masuk ke mobil Papi aja biar aman dan enggak capek," potong Jaya cepat, sudah membayangkan perjalanan santai menggunakan mobil MPV keluarga mereka.

Namun, Wafa mendadak menyela seraya menyunggingkan senyum khasnya. "Yah, Pih... Jangan naik mobil dong. Enggak seru banget camping naik mobil."

Jaya berkerut dahi. "Loh, terus mau naik apa, Waf? Perjalanannya kan lumayan, hampir dua jam."

"Naik motor, Pih!" seru Wafa bersemangat. "Rombongan motoran bareng-bareng! Udah Wafa bagi kok tadi posisinya."

Javin ikut menimpali seraya membaca catatan kecil di kertasnya, "Iya, Om. Nih, posisinya begini: Om Jaya bareng Lily naik motor matic, Rafa boncengan sama Ell, Javin boncengan sama Bang Owen, Sean boncengin Wafa, terus Malik solo rider bawa sisa muatan."

"Enggak, enggak! Papi enggak setuju!" tolak Jaya tegas, menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Raut wajahnya mendadak cemas membayangkan angin pagi dan perjalanan jauh.

"Wafa, kamu itu kondisi badannya lagi enggak boleh kena angin banyak-banyak, Nak. Pokoknya kamu sama yang lain naik mobil aja sama Papi. Biar Rafa sama Javin aja yang naik motor kalau emang mau."

"Pih..." panggil Wafa pelan. Laki-laki itu menggeser duduknya mendekati sang Papi, lalu memegang lengan kemeja Jaya dengan tatapan memohon yang amat dalam.

"Wafa pengin banget ngerasain motoran bareng-bareng kayak gini, Pih... Udah lama banget Wafa enggak naik motor jauh sambil ngeliat pemandangan. Sekali ini aja, ya, Pih? Mumpung Wafa masih bisa..."

Atmosfer di ruang tengah mendadak hening. Kata-kata terakhir Wafa menggantung di udara, membuat dada semua orang yang ada di sana berdesir nyeri.

Jaya terpaku. Sorot mata putranya yang sarat akan binar harapan itu meruntuhkan seketika seluruh benteng pertahanan dan kekhawatirannya sebagai seorang ayah. Ia tahu, ia tak pernah bisa menolak permintaan anak ketiganya itu terutama di saat-saat seperti ini.

Jaya menghela napas panjang yang terasa begitu berat, lalu mengusap lembut kepala Wafa.

"Ya udah..." ujar Jaya akhirnya pasrah, mengalah sepenuhnya. "Tapi janji sama Papi, kamu harus pakai jaket tebal, pakai rompi angin, plus sarung tangan. Kalau di jalan ngerasa sesak atau capek, harus langsung bilang ke Sean biar kita berhenti. Paham?"

Mata Wafa seketika berbinar terang. "Siap, Pih! Janji!" serunya girang.

Rafa, Owen, dan Lily saling berpandangan dengan senyum tipis yang berbaur haru. Meski kekhawatiran masih mengintai di dada mereka masing-masing, melihat cengiran bahagia Wafa sore itu membuat mereka sadar bahwa keputusan mengabulkan setiap impian kecil Wafa adalah hal terbaik yang bisa mereka lakukan.

Keesokan harinya, pukul 05.00.

Langit di luar masih dibalut warna biru pekat yang dingin. Di dalam dapur, suara denting penggorengan dan aroma harum nasi goreng mentega yang gurih sudah memenuhi ruangan. Papi Jaya dan Owen sudah bangun sejak tadi, sibuk berduel dengan bumbu dapur untuk menyiapkan sarapan rombongan.

"Wen, telur dadarnya jangan terlalu kering ya, Wafa sukanya yang agak lembut," ujar Jaya seraya mengaduk sup ayam hangat di panci sebelah.

"Aman, Pih. Ini Owen bikin sesuai pesanan Wafa," balas Owen seraya membalikkan adonan telur.

Setelah semua hidangan siap di atas meja makan, Owen mengelap tangannya dengan serbet lalu melangkah menuju area kamar. "Pih, Owen bangunin adik-adik dulu ya."

Tidak butuh waktu lama untuk memecah keheningan pagi itu. Suara langkah kaki berderap bersama seruan heboh mulai terdengar. Owen sukses membangunkan semua orang. Satu per satu anggota rombongan keluar dari kamar dengan wajah khas bangun tidur, namun penuh dengan binar antusiasme.

"Ayo, ayo! Mandi kilat, terus pakai jaket paling tebal yang kalian punya!" seru Owen menepuk tangannya.

"Bang Rafa! Jaket parasut hitam gue mana?!" teriak Wafa dari pintu kamarnya, rambutnya masih acak-acakan.

"Ada di sofa depan, Waf! Udah gue masukin kantong dry bag!" balas Rafa dari arah kamar mandi.

Pukul 05.45, meja makan sudah dipenuhi oleh sembilan orang yang bersiap pergi. Udara pagi yang dingin seolah tak mempan menembus kehangatan di antara mereka. Semua orang sudah rapi mengenakan jaket tebal, rompi, dan kupluk masing-masing.

"Makan yang banyak, Ell, nanti di jalan kena angin biar enggak mabuk," ujar Jaya seraya menyendokkan nasi goreng ekstra ke piring anak bontotnya.

"Pih, piring Ell udah penuh banget kayak gunung!" protes Ell lucu dengan pipi mengembung, membuat Javin dan Sean terkekeh geli.

"Nih, Waf, diminum sup hangatnya dulu," dorong Lily seraya menggeser mangkuk kecil ke depan adiknya.

"Sama madu dari Julian tadi malam jangan lupa diminum."

Wafa tersenyum manis, lalu langsung menyeruput kuah supnya. "Siap, Kanjeng Mami Lily. Enak banget supnya, Pih!"

"Siapa dulu yang bikin, Papi Jaya gituloh," sahut Jaya bangga seraya menepuk dadanya, memancing sorakan heboh dari Malik dan Sean.

Canda tawa tak berhenti mengalir sepanjang sarapan. Pagi itu terasa begitu sempurna, penuh energi positif dan kehangatan yang melapisi ruang makan keluarga Wijaya.

Setelah selesai makan dan bergotong-royong merapikan piring kotor serta memastikan peralatan camping terikat kencang di motor masing-masing, mereka berkumpul di halaman depan rumah.

Di teras rumah, mesin-mesin motor sudah dipanaskan, mengeluarkan raungan halus di udara subuh. Malik yang sudah rapi mengenakan jaket kulitnya mengibaskan tangan memanggil Sean dan Wafa.

"Waf, Yan! Sini bentar!" panggil Malik seraya mengacungkan ponselnya. "Foto dulu kita, bertiga! Buat kenang-kenangan touring pertama!"

"Gue di tengah! Gue harus paling ganteng!" seru Wafa bersemangat. Ia langsung berlari kecil dan merangkul pundak Malik dan Sean.

"Satu... dua... tiga... cheese!" seru Sean menekan tombol shutter ponsel Malik.

Di sudut lain, dekat pagar rumah, Lily berdiri diam. Matanya berbinar hangat menatap interaksi bertiga itu. Di lehernya, terkalung sebuah kamera tustel klasik kamera peninggalan Mami. Dengan gerakan lembut, Lily mengangkat kamera itu ke depan matanya.

Cklik!

Lensa kamera menangkap tawa lepas Wafa di antara Malik dan Sean. Lily mengulas senyum tipis, mengelus bodi kamera itu pelan. 'Mih... lihat deh, anak Mami hari ini seneng banget,' batinnya haru.

"Ayo semuanya! Pembagian barisan!" teriak Rafa memakai helmnya. "Javin sama Bang Owen di paling depan buat penunjuk jalan. Terus Sean sama Wafa, habis itu Lily bonceng Jaya, terus Malik, dan gue sama Ell paling belakang buat sweeper!"

"Siap, Komandan!" sahut Malik seraya mengacungkan jempolnya.

Rombongan motor itu akhirnya melaju membelah jalanan kota yang masih temaram. Langit subuh masih diselimuti warna ungu kehitaman, diiringi angin pagi yang menusuk tulang. Namun, buat Wafa, ini adalah momen paling membahagiakan setelah sekian lama terkunci di dalam kamar dengan bau obat-obatan.

Sean mengendarai motor matic besarnya dengan sangat hati-hati dan stabil, memastikan Wafa yang duduk di belakangnya merasa nyaman.

Wafa mengenakan jaket tebal berlapis rompi, sarung tangan, dan helm full-face yang kaca depannya sengaja ia buka sedikit.

Saat rombongan melewati trek jalan lurus yang sepi dan dikelilingi pepohonan rimbun, Wafa tak bisa lagi membendung rasa bahagianya. Ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar menembus terpaan angin pagi.

"ANJINGGGG! SERU BANGETTTTT!" teriak Wafa sekuat tenaga, suaranya bergema menembus keheningan jalanan.

"WAF! JANGAN TEREAK-TEREAK, NANTI DADA LO SESAK!" tegur Sean setengah berteriak dari balik helmnya, meski ia sendiri tak bisa menahan tawa lebarnya.

"GUE SENENG BANGET, YAN! GUE BEBASSSS!" teriak Wafa lagi, tertawa lepas tanpa beban sedikit pun. Wajah pucatnya kini merona merah terpapar angin dan kebahagiaan yang meluap-luap.

Tepat di belakang motor Sean, Jaya membonceng Lily dengan kecepatan sedang. Dari balik helmnya, Lily menyaksikan dengan jelas bagaimana adiknya merentangkan tangan dan berteriak kegirangan.

Dengan sigap, Lily merogoh saku jaketnya, mengeluarkan ponselnya. Ia mengarahkan kamera ponselnya lurus ke depan, mengabadikan momen punggung Wafa yang dibalut jaket tebal di atas motor.

"Pih, perlanin dikit Pih, Lily mau merekam Wafa!" seru Lily di dekat telinga Papinya.

"Iya, Ly! Hati-hati pegang hp-nya!" balas Jaya seraya memperlambat laju motornya sedikit.

Lily menekan tombol rekam video. Kamera ponselnya menangkap pemandangan indah di depannya: lampu belakang motor Sean yang menyala merah, langit subuh yang perlahan berubah jingga di ufuk timur, dan sosok Wafa yang tak berhenti tertawa sambil melambaikan tangannya ke udara.

Cklik! Cklik!

Lily juga mengambil beberapa jepretan foto. Air mata haru menyelinap samar di sudut mata Lily di balik kaca helmnya. Namun kali ini, itu bukan air mata duka, melainkan air mata rasa syukur karena bisa menyaksikan senyum lepas sang adik di jalanan yang membentang luas.

Dari barisan belakang, Rafa yang membonceng Ell memandangi punggung adiknya dengan ulasan senyum lebar di balik kaca helm. Suara teriakan kebahagiaan Wafa memantul hangat di dadanya.

"Bang Rafa! Lihat Bang Wafa! Bang Wafa girang banget!" seru Ell menepuk-nepuk punggung Rafa, menunjuk ke depan dengan antusias.

"Iya, Ell! Biarin aja, Abang kamu lagi senang banget itu!" sahut Rafa setengah berteriak menembus angin. Ia mengelus pelan paha adiknya.

'Makasih ya Tuhan... makasih udah kasih Wafa senyum senyata itu hari ini,' batin Rafa penuh rasa syukur.

Perjalanan dua jam itu terasa begitu hidup dan menyenangkan. Rombongan sembilan orang itu membelah jalanan yang tadinya gelap hingga perlahan disiram sinar matahari pagi yang hangat dan keemasan.

Di sepanjang rute, mereka melewati hamparan sawah hijau yang masih diselimuti kabut tipis, jalanan menanjak berkelok yang diapit pepohonan pinus rimbun, hingga akhirnya aroma khas air asin dan desir angin laut mulai tercium samar di udara.

Kombinasi udara sejuk pegunungan dan pantai yang menjadi tujuan mereka membuat perjalanan sama sekali tak terasa membosankan.

Sesekali, saat berada di lampu merah atau persimpangan sepi, Javin dan Owen di depan melambaikan tangan memberi isyarat petunjuk arah, sementara Rafa di barisan paling belakang bertugas mengawasi dan memastikan tidak ada motor yang tertinggal.

Wafa di atas motor Sean tak berhenti menunjuk-nunjuk pemandangan di pinggir jalan dengan mata berbinar-binar seperti anak kecil yang baru pertama kali diajak jalan-jalan.

Sekitar pukul 08.00 pagi, roda-roda motor mereka akhirnya menginjak jalanan berpasir padat. Suara deru ombak dan gemercik aliran sungai jernih yang membelah area camping ground langsung menyambut kedatangan mereka.

Tempat itu benar-benar indah. Area padang rumput hijau yang luas diapit oleh sungai berair jernih di satu sisi, dan hanya berjarak beberapa puluh meter dari garis pantai berpasir putih di sisi lainnya.

Begitu mesin motor dimatikan, Jaya tidak membuang waktu sedetik pun. Tanpa sempat melepas helmnya dengan benar, ia langsung melangkah cepat menghampiri Wafa yang baru saja turun dari motor Sean.

Wajah Jaya terpancar kecemasan luar biasa. Ia langsung memegang kedua bahu Wafa, menatap putranya dari ujung kepala sampai ujung kaki.

"Waf! Kamu gimana? Ada yang sakit enggak? Dada kamu sesak enggak? Mual? Capek?" cecar Papi Jaya bertubi-tubi, tangannya memeriksa suhu dahi dan pipi Wafa yang agak dingin terkena angin. "Kita istirahat dulu ya di saung situ, Papi ambilin minum hangat—"

"Pih..." potong Wafa pelan.

Wafa menghentikan kepanikan Papinya dengan menggenggam lembut tangan Jaya. Laki-laki muda itu melepas helmnya, membiarkan angin pantai menyapu rambutnya yang sedikit berantakan.

Bukannya menjawab rasa khawatir Papinya, Wafa justru memandangi hamparan sungai dan pantai di depannya dengan sorot mata yang penuh keharuan.

Sebuah senyuman yang sangat lebar dan tulus terkembang di wajahnya senyuman paling cerah yang tak pernah mereka lihat selama beberapa bulan terakhir.

"Indah banget tempatnya, Pih..." bisik Wafa lirih, matanya berbinar menatap pantulan sinar matahari di atas air sungai. "Wafa beneran sampai di sini... Wafa bahagia banget hari ini."

Papi Jaya membeku. Kata-kata teguran dan rasa cemas yang tadi memenuhi dadanya mendadak menguap begitu saja, berganti dengan rasa haru yang teramat sangat. Jaya menatap senyum putranya, lalu perlahan mengulas senyum pasrah seraya mengusap lembut kepala Wafa.

"Iya, Nak... Kita udah sampai. Tempat ini milik kamu hari ini," bisik Jaya dengan suara yang agak serak menahan tangis bahagianya.

1
Wawan
Salam kenal untuk Lily 💪✍️
Putry Chan
sedikit saran ya deskripsi paragraf pertama pengenalan anak trlalu panjang
kalimat berderet panjang
konflik lambat terasa kurang tajam
penutup agak samar kurang kuat
alur terasa berjalan lambat
Tabina Lutfi: terimakasih atas sarannya kk
total 1 replies
Anisa Nur Afifah
lanjut kakk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!