Bagi Aris dan ibunya, Tita adalah istri sempurna: kaya, penurut, dan sabar. Saat Tita divonis tak bisa memberi keturunan, mereka berlagak menerima dengan lapang dada. Padahal di belakangnya, Aris diam-diam menikah siri demi mendapatkan anak sambil terus menikmati kemewahan dari uang Tita.
Mereka pikir Tita bodoh. Padahal, Tita sudah tahu segalanya.
Tanpa air mata atau labrakan emosional, Tita tersenyum dingin. Ia mulai memutus aliran dana, merebut asetnya, dan menjebak bisnis Aris ke jurang utang.
"Kalian pikir bisa hidup mewah di atas penderitaanku? Mari kita lihat seberapa lama kalian bertahan tanpa sepeser pun uangku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SKENARIO KEHANCURAN UNTUK SUAMIKU
Penerbangan dua jam berlalu tanpa terasa. Burung besi yang kutumpangi akhirnya mendarat dengan mulus di Bandara Changi, Singapura. Setelah mengurus proses imigrasi dan mengambil seluruh tumpukan koper besarku melalui jalur prioritas, aku, Ko Felix, dan Kak Olan melangkah keluar menuju area kedatangan penerbangan internasional.
Begitu pintu kaca otomatis terbuka, sebuah lambaian tangan yang antusias langsung menyita perhatian kami.
"Tita! Kak Olan!" teriak seorang gadis cantik berambut gelombang dengan gaun musim panas yang anggun. Itu Valerie.
Di belakang Valerie, berdiri pasangan paruh baya yang tampil sangat berkelas namun memancarkan kehangatan luar biasa. Papa dan Mama Felix. Wajah mereka berdua tampak berbinar terang begitu melihat kami mendekat.
"Tita, Sayang!" Mama Felix langsung melangkah lebar melewati anak laki-lakinya sendiri, lalu merengkuhku ke dalam pelukan yang sangat erat.
Aku sempat tertegun sejenak, namun dalam hitungan detik, aku membalas pelukan itu. Usapan lembut tangan Mama Felix di punggungku, aroma wangi vanila yang menenangkan, serta ketulusan yang mengalir tanpa rekaan membuat mataku mendadak berkaca-kaca.
Memeluk Mama Felix terasa sangat berbeda. Dulu, setiap kali aku berusaha memeluk atau mencium tangan Ibu Rahma, yang kurasakan hanyalah kekakuan, keangkuhan, dan tatapan menilai yang penuh tuntutan materi. Namun di sini, di dalam dekapan wanita kaya raya ini, aku hanya merasakan kasih sayang murni dari seorang ibu yang menyambut anaknya. Tidak ada kepalsuan. Tidak ada niat memanfaatkan.
"Terima kasih sudah datang ya, Nak," bisik Mama Felix lembut sembari melerai pelukan dan mengusap pipiku yang merona. "Kamu makin cantik dan segar. Tante senang sekali melihatmu."
"Tante... terima kasih banyak sudah menyambut Tita," jawabku dengan suara yang sedikit bergetar haru.
Papa Felix ikut tersenyum hangat. Beliau menyapa Olan yang memang sudah lama menetap di Singapura, lalu memelukku singkat dengan penuh rasa bapak.
"Selamat datang di Singapura, Tita. Anggap saja rumah sendiri ya."
"Titaaa! Kangen banget!" Valerie memelukku riang, memutar tubuhku dengan tawa renyah. "Akhirnya ketemu lagi! Oh iya, ini buat kamu!"
Valerie menyodorkan sebuah buket bunga mawar peach dan baby's breath yang dirangkai begitu indah dan elegan dengan pita satin berwarna pastel.
"Wah, cantik banget bunganya, Val! Terima kasih ya," ucapku berbinar, menghirup aroma harum bunga segar itu dengan gembira.
Valerie terkekeh geli sembari melirik kakak laki-lakinya yang berdiri kaku di sebelah Kak Olan. "Sama-sama, Tita! Tapi... sejujurnya aku cuma jadi kurir khusus kok. Bunga ini bukan dari aku."
Aku mengedipkan mata bingung. "Lho? Terus dari siapa?"
Kak Olan yang berdiri di samping Felix langsung bersedekap, menyunggingkan senyum jahil yang amat lebar.
Ko Felix berdehem pelan, membetulkan letak jam tangan di pergelangan tangannya untuk menutupi rasa canggung. Daun telinganya yang perlahan memerah tidak bisa berbohong di bawah sorotan lampu bandara.
"Bunga itu... aku yang memesannya, Tita," aku Ko Felix dengan suara beratnya yang tenang dan sedikit kaku. Ia menatap mataku secara langsung, seolah ingin memastikan tidak ada kesalahpahaman. "Valerie hanya membantuku mengambilnya di toko bunga bandara tadi. Jangan salah paham, ini hanya... ucapan selamat datang dari keluarga kami karena kamu sudah tiba dengan selamat di Singapura."
"Iya, ucapan selamat datang dari keluarga, tapi yang milihin jenis bunganya detail banget sampai nyuruh florist-nya cari mawar peach impor cuma Ko Felix sendiri," celetuk Valerie tanpa dosa, disusul tawa kecil dari Papa dan Mama Felix.
Olan tertawa paling keras sembari menepuk-nepuk pundak Felix. "Duh, santai Lix, jelasinnya kagak usah pakai bahasa sidang gitu dong! Tita kagak bakal menuntut lu kok!"
Aku tersenyum malu-malu, menggenggam buket bunga itu makin erat di dadaku. Ada desiran hangat yang meletup-letup indah di dalam dadaku. Perhatian-perhatian kecil Ko Felix yang dikemas dengan sikap kaku itu justru terasa sangat manis dan tulus.
"Terima kasih banyak ya, Ko Felix," bisikku pelan, menatapnya dengan binar mata penuh rasa terima kasih.
Ko Felix hanya mengangguk singkat, menyunggingkan senyuman tipis yang sangat menawan. "Sama-sama, Tita.".
"Sudah-sudah, kasihan Tita baru selesai penerbangan," potong Papa Felix menengahi godaan anak-anaknya dengan wibawa yang ramah. "Mobil sudah menunggu di luar. Kita langsung ke restoran saja, Papa dan Mama sudah menyiapkan makan siang istimewa untuk menyambut kedatangan Tita."
Dua mobil van mewah sudah bersiap di area penjemputan. Seluruh koper besarku dipindahkan oleh pengemudi pribadi keluarga Tan dengan sigap.
Dalam perjalanan menuju restoran, aku duduk di dalam mobil bersama Mama Felix dan Valerie, sementara Ko Felix, Kak Olan, dan Papa Felix berada di mobil satunya. Sepanjang jalan menyusuri jalanan Singapura yang bersih dan hijau, Mama Felix tak henti-hentinya memegang tanganku, menanyakan kenyamanan penerbanganku, dan menceritakan rencana jalan-jalan kami selama di sini.
"Nanti selesai acara pernikahan Valerie, Tante mau ajak kamu belanja ke Orchard Road ya, Tita. Tante tahu butik-butik langganan yang bajunya pasti cocok sekali dengan anggunnya kamu," ujar Mama Felix dengan antusias.
"Iya, Tita! Kita harus shopping bareng!" timpal Valerie riang.
Aku tersenyum haru, mengangguk pelan. Rasa asing yang sempat aku khawatirkan sebelum terbang ke negara ini menguap sepenuhnya. Keluarga Ko Felix memperlakukanku dengan begitu terhormat dan penuh kehangatan sebuah pemandangan yang dulu hanya bisa kubayangkan saat masih menjadi menantu di rumah Aris.
Iring-iringan mobil berhenti di depan sebuah restoran fine dining bernuansa privat yang terletak di kawasan Marina Bay. Restoran itu memiliki pemandangan langsung ke arah danau dan gedung-gedung megah khas Singapura.
Rupanya, ruang makan VIP utama di restoran tersebut telah disewa khusus oleh Papa dan Mama Felix untuk menyambut kedatanganku.
Meja makan panjang berpenutup kain putih bersih telah dihiasi dengan lilin-lilin aromaterapi dan rangkaian bunga segar. Tak lama setelah kami duduk, para pelayan mulai menghidangkan berbagai sajian kuliner kelas atas mulai dari chilli crab khas Singapura, sup sarang burung, hingga hidangan laut segar yang ditata sangat cantik.
"Ayo dimakan, Tita, Olan," panggil Papa Felix ramah, mengangkat gelasnya untuk memimpin toast singkat. "Untuk kesehatan, kebahagiaan, dan awal yang baru bagi kita semua."
"Cheers!" sahut kami bersamaan, mengentakkan gelas jus dan teh hangat pelan.
Suasana makan siang berlangsung sangat hangat dan meriah. Gelak tawa berulang kali pecah saat Kak Olan menceritakan kisah-kisah konyolnya selama tinggal di Singapura, sementara Valerie sibuk memamerkan konsep dekorasi pernikahannya yang tinggal menghitung hari.
Di tengah riuhnya obrolan, aku tak sengaja melirik ke arah Ko Felix yang duduk di seberang mejaku. Pria itu sedang mengupas cangkang kepiting dengan sangat rapi dan telaten menggunakan capit khusus. Setelah daging kepiting itu bersih dari cangkangnya, Ko Felix menggeser piring kecil berisi daging kepiting empuk itu ke hadapanku tanpa banyak bicara.
"Makanlah yang banyak. Kamu masih terlalu kurus," kata Ko Felix pelan dengan raut kaku yang menggemaskan.
Valerie yang melihat hal itu menyenggol lengan mamanya sembari berbisik-bisik goda, membuat Mama Felix tersenyum-senyum penuh arti.
Aku meresapi momen ini dengan helaan napas bahagia. Di tengah keluarga yang begitu hangat, menyantap makanan lezat tanpa ada tekanan, dan diperhatikan oleh seorang pria yang tulus menjagaku sejak dulu, aku akhirnya menyadari satu hal.
Luka masa laluku benar-benar telah sembuh. Dan di tempat ini, di antara orang-orang yang tepat, kebahagiaan yang sesungguhnya baru saja dimulai.
boleh laa bonchap ny kak ,,
aku sll merasa dapat kejutan tamat 😥
ko udh tmat aja....krain msh puanjanggg crtanya....tp msih ada bonchap kn kk???
untng d sbelah ga ada orang....🤭🤭🤭
pepet trs ko,jgn smp d tkung cwok lain lg....😁😁😁