Hidup mati seseorang tidak ada yang tahu.
Begitupun dengan jodoh.
Hawa yang memberontak karena dijodohkan dengan kakak kelasnya akhirnya mencoba menerimanya, dengan perjanjian agar di rahasiakan. mengingat mereka masih duduk di bangku sekolah, tapi qodarullah ibu Hawa sakit dan meminta Hasby mengucap ijab kabul secara rahasia di tempat ibu Hawa dirawat. ibunya meninggal dengan tenang karena Hawa tidak sendiri lagi, sudah ada Hasby dan keluarga barunya.
Dengan berat hati Hawa menerima status barunya itu serta mencoba menjalaninya. Entah mampu bertahan atau berhenti ditengah jalan, Hawa tak tahu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wulan Antya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 28
Senyum manis terpatri indah di kedua wajah muda-mudi yang tengah mekar kisah cintanya. Tidak hilang sepanjang hari, sehingga teman-temannya kebingungan. Tidak biasanya seperti ini.
Mereka hanya menerka-nerka kalau Hasby dan Hawa tengah merasakan indahnya cinta yang halal.
Di gedung sekolah terdengar riuh rendah siswa/i yang menuju lapangan basket. Hawa di tarik Asrina mengikuti lautan murid yang berjalan menuju lapangan basket. Ada pertandingan basket antara Osis dengan tim basket sekolah. Jadi hampir semua ikut untuk melihat dan memberi semangat kedua tim.
Mereka ikut duduk di bangku penonton menantikan di mulainya pertandingan. Jantungnya berdetak lebih kencang, karena berada di kerumunan orang banyak yang membuatnya tidak nyaman. Sebagian dari mereka menatapnya sinis sambil berbisik-bisik.
Membuat risih dirinya, akhirnya Hawa memutuskan pergi diam-diam dengan perasaan kecewa. Kecewa karena tidak bisa ikut menonton suaminya bermain basket.
Pasti Asrina akan mencak-mencak mencarinya, Hawa mengirim pesan singkat pada temannya itu.
Ia memutuskan melipir ke taman belakang sekolah, tempat favoritnya.
Berdiam diri di bawah pohon yang besar dan rindang. Ia mulai membaca buku yang di bawanya tadi. Hawa mulai terhanyut dalam cerita yang di bacanya.
[Dimana Wa? Nggak nonton?]
Ternyata pesan singkat dari Hasby, rupanya dia mencari dirinya.
[Di taman belakang kak, maaf nggak nonton kakak tanding]
[iya, nggak apa-apa. Nanti tunggu aku!]
[siap kak s.u.a.m.i]
Hawa mengetik pesan balasan sambil terkikik lucu karena mengerjai suaminya. Ia sudah mulai berani meledek suaminya.
Cengiran Hasby terlihat tipis, Tian dan Reno yang melirik ke gawai temannya itu hanya geleng-geleng kepala sembari tersenyum.
[apa kamu bilang Wa?]
[ nggak kak, bukan apa-apa. Semangat kak!]
[iya, makasih wa]
Hasby menyimpan gawainya di tas dan akan bersiap memulai pertandingan persahabatan. Suara penonton sudah menggema memenuhi lapangan basket. Membuat sebagian merasa antusias dan gugup. Tak terkecuali anggota yang akan bertanding.
Disti terlihat sumringah karena tidak melihat Hawa di tribun untuk menonton jalannya pertandingan.
Shela terlihat begitu semangat, dia membawa handuk kecil dan air mineral di tangannya. Tatapan matanya tak lepas dari sosok yang di kagumi banyak orang. Tampilannya setiap bermain basket membuat semua mata tidak lepas darinya.
Kaos olahraga yang di kenakannya sudah basah oleh keringat, keringat mengalir di pelipisnya dengan rambut basah yang di sisir ke belakang dengan jari menambah pesona ketua osis itu.
Hampir semua mata murid perempuan tidak berkedip memandang Hasby, ketua osis yang banyak di gandrungi warga sekolah.
Anggota osis yang lain juga tidak kalah mempesonanya. Mereka seolah menghipnotis semua orang dengan wajah tampan mempesonanya.
Tidak hanya tampan tapi kepintaran mereka juga tidak bisa dianggap remeh. Banyak olimpiade yang mereka raih dan membuat harum nama sekolah.
Hasby bertanding melawan tim Dika, mereka memulai pertandingan dengan baik. Sorak-sorai penonton menambah semangat bagi semuanya.
Team cheerleader menambah pertandingan sore siang ini semakin menarik. Sungguh meriah.
"Hasbyyyy,,, se,,ma,,ngaaaat!" teriakan Shela menggema di seluruh lapangan.
Mereka menoleh ke arah suara Shela, Shela terlihat acuh. Disti yang duduk tidak jauh dari tempat Shela mendengus keras.
"Dika,, ayo Dikaa," teriakannya terdengar lebih kencang dari Shela.
"Hasby,, Hasby," Shela tidak mau kalah.
"Dikaa,"
"TIAN,,RENO,,HASBY,,RYAN,, SEMANGAAAATT!" teriakan penonton kian memanas antar kedua team.
Padahal kedua team biasa saja karena mereka bermain santai.
Mereka yang namanya di sebut terlihat tanpa ekspresi, malah terlihat kaku dan tidak peduli.
Seperti biasa Reno dan Ryan tebar pesona kepada adik-adik kelasnya. Tian hanya melihat area tribun, mencari seseorang.
Dan pandangannya tertuju pada seorang gadis yang sering terlihat berdiam diri di perpustakaan.
Sudah dari lama dia memperhatikannya.
Itu adalah adik kelasnya, orangnya terlihat polos, wajahnya tidak terlalu cantik tapi manis dan menarik. Kulitnya kuning langsat. Arum Ningsih namanya.
Pertandingan berjalan dengan sangat seru, karena mereka bermain tidak untuk bersaing siapa yang terhebat. Hanya pertandingan persahabatan saja.
Pertandingan di menangkan oleh osis, mereka bersorak dengan kencangnya. Sampai pertandingan selesai mereka masih berdiam diri di lapangan. Ada yang membahas tentang pertandingan yang barusan terjadi. Ada yang berunding mau liburan kemana. Dan banyak yang bergosip. Saling tukar menukar informasi yang di miliki. Dan banyak yang sudah pulang.
Para pemain sudah banyak yang pergi meninggalkan lapangan.
"Aku duluan, Assalamu'alaikum," ucap Hasby menyandang tas ke bahu dan beranjak pergi. Seolah tenaganya habis terkuras.
"Wa'alaikumsalam, ok, hati-hati By," serempak teman-temannya.
Shela yang melihat Hasby pergi lebih dulu segera menghampirinya, setengah berlari untuk mengejarnya.
"By,, Hasby," panggilnya agak keras.
Hasby berhenti dan menoleh ke belakang sekilas. Tatapannya datar. Dia melanjutkan jalannya untuk segera menemui Hawa di taman belakang.
Tetapi Shela terus memanggilnya, akhirnya Hasby berhenti, memandang Shela dengan datar. Karena Shela telah menghambat jalannya untuk segera pergi.
"Apa?" ketusnya pada Shela.
Shela menahan napas ketika mendengar suara Hasby.
" em, ini By,,, untuk kamu," ucapnya pelan sembari mengulurkan air mineral dan handuk kecil yang sedari tadi di pegang erat.
"Maaf Shel, aku udah bawa," Hasby mengangkat handuk dan air minumnya "Ya sudah, aku duluan. Oiya lain kali nggak usah ngasih aku lagi!" lanjutnya dengan tegas.
Hasby beranjak dengan langkah panjang dan tegas, meninggalkan Shela yang terdiam karena penolakannya itu. Untung saja Shela tidak keras kepala seperti Tiar.
Hasby segera menghilang sebelum di kejar oleh Shela lagi. Ia berbelok ke toilet dan segera berganti kaos hitam dan celana panjang sekolah tadi. Ia membasahi wajahnya dengan sabun pencuci muka, segera membilas dan menyisir jari rambutnya yang setengah basah lalu mengacaknya bebas. Tidak lupa menyemprotkan minyak wanginya sedikit. Setelah di rasa siap segera ia melangkahkan kaki ke taman belakang.
Hendak menemui seseorang yang telah menunggunya lama.
Terlihat seorang gadis duduk sambil membaca sebuah buku yang begitu tebal. Hasby melangkah perlahan mendekati Hawa.
Hawa yang merasa ada seseorang mendekat lantas mendongakkan kepalanya. Tatapannya bertubrukan dengan Hasby. Ujung bibirnya terangkat, matanya menyipit.
"Assalamu'alaikum," Hasby mengucap salam lembut.
"Wa'alaikumsalam," Hawa tersenyum lembut.
"Maaf lama menunggu, yuk," Hasby mengulurkan tangannya menarik pelan tangan Hawa, membantu Hawa berdiri.
"Nggak kak, aku malah keasyikan baca buku," Hawa terkikik lembut.
"Hawa, kita makan dulu ya, perutku berbunyi dari tadi," Hasby menggandeng tangan Hawa berjalan pelan menuju parkir mobilnya.
Suasana sekolah sudah terlihat lengang, jadi mereka bisa santai jalan berdua tanpa harus menghindari teman-temannya atau orang yang dikenalnya.