Indonesia
NovelToon NovelToon
Anak Dewa Penghancur Terlalu Kuat

Anak Dewa Penghancur Terlalu Kuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Masa Depan / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:341
Nilai: 5
Nama Author: catsickle

Di sebuah lembah tersembunyi yang jarang dikunjungi siapa pun, hiduplah sebuah keluarga kecil yang tampak biasa saja — seorang ibu lemah yang bekerja keras sebagai pembantu, seorang paman nelayan yang ramah, dan seorang putri kecil bernama Angel. Tidak ada yang tahu siapa mereka sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon catsickle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Hari Pertama yang Penuh Cemooh

Matahari baru saja mengintip di ufuk timur, namun udara di sekitar rumah kecil mereka sudah penuh dengan kegelisahan yang samar. Rebeca merapikan seragam baru Angel — kain yang sederhana, tidak sehalus seragam anak-anak bangsawan, namun sudah disetrika licin dan bersih. Kael berdiri di ambang pintu, menatap ke arah gerbang akademi yang tampak jauh di kejauhan, matanya penuh kewaspadaan.

"Sudah siap, sayang?" tanya Rebeca lembut sambil mengikat pita di rambut putrinya.

Angel mengangguk, meski jantungnya berdebar kencang. Ia memegang erat tangan ibunya, lalu tangan pamannya. "Siap, Ibu. Angel janji akan berani."

Perjalanan kali ini terasa lebih singkat namun lebih berat. Begitu mereka tiba di gerbang Akademi Langit, suasana di sana sudah ramai — dan perbedaannya langsung terlihat jelas. Kereta-kereta kuda yang dihiasi emas dan permata berhenti satu per satu, menurunkan anak-anak yang berpakaian indah dengan jubah bersulam lambang keluarga mereka. Mereka tertawa dan berbicara dengan suara lantang, sementara pelayan-pelayan mereka membawa tas dan perlengkapan mereka.

Saat Rebeca, Kael, dan Angel melangkah masuk — dengan pakaian sederhana yang sudah dicuci berkali-kali, tangan Kael yang kasar, dan Rebeca yang berjalan dengan langkah yang sengaja dibuat lemah — pandangan semua orang langsung tertuju pada mereka. Keheningan sesaat menyelimuti gerbang, lalu bisik-bisik mulai terdengar, semakin lama semakin keras.

"Lihat mereka... dari mana saja anak itu datangnya?"

"Pakaiannya lusuh sekali. Apakah mereka benar-benar datang ke sini?"

"Ibu-ibu itu terlihat seperti pembantu. Dan pria itu... tangannya penuh kapur dan bau ikan, ya?"

"Kenapa anak rendahan boleh masuk ke Akademi Langit? Ini pasti salah satu kesalahan pendaftaran."

Wajah Angel memerah. Ia menunduk, merasakan ratusan mata yang menilai dan merendahkan. Beberapa anak yang berdiri di dekatnya menunjuk-nunjuk sambil menyeringai. Seorang anak laki-laki dengan rambut keemasan dan jubah berwarna ungu — yang tampak berasal dari keluarga paling berpengaruh di sana — melangkah maju, menatap mereka dari atas ke bawah dengan tatapan jijik.

"Hei, gadis kecil," suaranya terdengar lantang agar semua orang mendengar. "Kau yakin masuk ke sekolah yang benar? Ini bukan tempat anak jalanan, tahu. Ayahku adalah Panglima Pasukan Langit! Kalau ayahmu siapa? Pasti tidak ada yang tahu namanya, kan?"

Tawa meledak di sekeliling mereka. Rebeca merasakan amarahnya kembali berkobar, namun ia menahan diri dengan sekuat tenaga. Ia merangkul bahu Angel pelan, berusaha tetap tersenyum lembut. "Ayo, sayang. Jangan dengarkan mereka. Yang penting kau tahu siapa dirimu, dan kau datang ke sini untuk belajar."

Namun kata-kata itu seolah tidak cukup. Di sepanjang jalan menuju kelas, tatapan merendahkan dan bisikan-bisikan itu terus mengikuti mereka. Bahkan beberapa orang tua yang sedang mengantar anak-anak mereka ikut berkomentar dengan nada sinis.

"Kasihan sekali akademi ini sekarang. Siapa saja bisa masuk."

"Mungkin mereka punya sedikit uang, tapi keturunan tidak bisa dibeli dengan emas."

"Anak seperti itu hanya akan menurunkan standar di sini."

Kael berjalan di sisi lain Angel, menatap tajam ke arah siapa pun yang berani berkata kasar. Namun karena mereka tampak seperti orang biasa, tatapan Kael justru dianggap sebagai keberanian yang tidak pada tempatnya.

"Lihat siapa yang berani menatap kami begitu," ejek seorang pria berjas hiasan renda. "Nelayan sepertinya tidak pantas menatap mata orang terhormat."

Sesampainya di depan kelas, Rebeca berlutut di hadapan Angel, menyeka keringat di dahi putrinya yang berkeringat dingin. Matanya penuh kasih sayang namun juga penuh kekhawatiran. "Angel, dengarkan Ibu. Hari ini mungkin berat. Mereka tidak tahu siapa kita, dan mereka menilai hanya dari apa yang terlihat mata. Tapi ingatlah — nilai seseorang bukan dari pakaiannya, dan kekuatan bukan dari gelarnya. Kau lebih hebat dari yang mereka tahu. Tetaplah rendah hati, tapi jangan pernah merasa lebih rendah dari siapa pun."

Angel menahan air matanya, mengangguk pelan. "Baik, Ibu. Angel akan berusaha."

Kael mengelus kepala keponakannya. "Jika ada yang berani menyakitimu, entah dengan kata-kata atau perbuatan... ingatlah bahwa Paman dan Ibu selalu ada untukmu. Dan kau lebih kuat dari yang kau bayangkan."

Setelah berpamitan, Rebeca dan Kael berbalik pergi. Namun sebelum mereka melangkah jauh, mereka mendengar suara ejekan kembali terdengar dari arah pintu kelas.

"Lihat, orang tuanya pergi begitu saja. Tidak ada kereta, tidak ada pelayan. Benar-benar keluarga jelata!"

Rebeca berhenti sejenak, tangannya mengepal erat. Di dalam hatinya, ia ingin sekali berbalik dan memperlihatkan siapa dirinya — membuat mereka semua berlutut dengan gemetar. Namun ia menelan amarahnya, menarik napas panjang, dan terus berjalan. Belum saatnya, pikirnya. Untuk Angel, aku harus bertahan.

Di dalam kelas, Angel berdiri sendirian di sudut ruangan. Semua tempat duduk yang baik sudah diambil. Satu-satunya kursi yang tersisa ada di sudut paling belakang, dekat jendela yang kacanya retak dan angin bertiup masuk. Saat ia melangkah ke sana, beberapa anak melempar kertas ke arahnya sambil tertawa.

"Hei, gadis ikan! Pasti kau membawa bau laut ke sini, ya?"

Angel duduk pelan-pelan, memeluk tas kecilnya di pangkuan, dan menundukkan kepalanya. Air matanya jatuh perlahan ke atas lantai. Ia tidak mengerti — kenapa mereka begitu jahat? Kenapa karena pakaiannya sederhana, mereka menganggapnya tidak berharga? Padahal ia datang untuk belajar, sama seperti mereka.

Pelajaran pertama terasa sangat panjang — setiap menit terasa seperti satu jam. Setiap kali ada anak yang lewat di mejanya, mereka selalu berbisik atau menunjuk-nunjuk.

"Itu dia anak jelata..."

"Ibu-ibu itu pembantu, ayahnya tidak tahu siapa..."

"Kasihan, dia tidak seharusnya di sini."

Angel menunduk dalam, berusaha memusatkan perhatian pada tulisan-tulisan di papan tulis. Namun setiap kali ia mengangkat kepala, ia bertemu dengan mata-mata yang penuh penghinaan.

Namun di tengah kesedihannya, ia teringat kata-kata ibunya. "Kau lebih hebat dari yang mereka tahu." Angel mengusap air matanya, menarik napas dalam-dalam, dan menegakkan punggungnya. Ia tidak akan membiarkan kata-kata mereka mengalahkannya. Ia akan belajar lebih rajin dari siapa pun. Ia akan membuktikan bahwa meskipun mereka menganggapnya jelata, ia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki siapa pun di ruangan itu.

Saat jam istirahat tiba, semua anak bergegas keluar dengan riuh, meninggalkan Angel sendirian di kelas. Ia berjalan perlahan ke halaman sekolah, berharap bisa menemukan tempat tersembunyi di mana saja agar tidak ada yang melihatnya. Namun ke mana pun ia pergi, tatapan itu selalu mengikutinya.

Beberapa anak berkumpul di dekat pohon besar, menatapnya sambil tertawa kecil. "Lihat dia berjalan sendirian. Tidak ada yang mau berteman dengannya, kan?"

"Tentu saja. Kalau berteman dengannya, nanti kita dianggap jelata juga."

Angel berhenti di sudut halaman yang sepi, duduk di atas rumput, dan mengeluarkan bekal sederhana yang dibuat ibunya. Ia memandang roti di tangannya, teringat betapa lelahnya ibunya bekerja setiap hari demi membeli bahan makanan itu. Air matanya kembali menetes. Ia tidak sedih karena makanannya sederhana — ia sedih karena orang-orang tidak mau melihat siapa dirinya, hanya melihat apa yang ia miliki.

Sementara itu, di balik gerbang akademi, Rebeca dan Kael tidak benar-benar pergi. Mereka berdiri di balik pepohonan yang agak jauh, mengawasi halaman sekolah dengan hati yang cemas. Melihat anak-anak menatap putrinya dengan pandangan merendahkan, tangan Rebeca mengepal erat hingga buku jarinya memutih. Aura gelap samar kembali mengelilinginya, membuat dedaunan di sekitarnya bergoyang tanpa angin.

"Tahan, Rebeca," bisik Kael lembut, meletakkan tangannya di bahu wanita itu. "Belum saatnya. Jika kita bertindak sekarang, semua pengorbanan ini sia-sia."

Rebeca menutup matanya, menelan amarahnya dengan susah payah. "Aku tahu... tapi melihat mereka memperlakukan Angel seperti itu... rasanya ingin aku menghancurkan tembok sekolah ini dan membawa Angel pulang."

"Angel kuat," kata Kael menatap ke arah putri kecil yang duduk sendirian di sudut halaman. "Dia mewarisi darah kita. Suatu hari nanti, mereka semua akan tunduk padanya. Tapi biarkan dia tumbuh dulu. Biarkan dia membuktikan nilainya dengan caranya sendiri."

Dan di sudut halaman itu, Angel perlahan memakan rotinya, menatap ke arah gerbang dengan mata emasnya yang berbinar penuh tekad. Ia tidak tahu seberapa besar kekuatan yang mengalir di dalam dirinya. Ia hanya tahu satu hal: ia tidak akan menyerah. Hari ini mungkin berat, tapi ia akan membuktikan — kepada mereka, dan juga kepada dirinya sendiri — bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh apa yang ia kenakan, melainkan oleh siapa ia sebenarnya.

1
holong manti Sirait
kembangkan lagi broo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!