Indonesia
NovelToon NovelToon
Rahasia Yang Ditinggalkannya

Rahasia Yang Ditinggalkannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta
Popularitas:385
Nilai: 5
Nama Author: Momowen

Dia kehilangan segalanya dalam sekejap.
Kecelakaan merenggut nyawa pria yang paling mencintainya, meninggalkan hanya rekaman suara terakhir...yang tiba-tiba menghilang.

Di balik air mata dan luka, Silvia Pliis menemukan rahasia besar yang tidak pernah dia ketahui dari pria yang mencintainya.

Antara cinta yang tak sempat tersampaikan, persahabatan yang setia, dan intrik keluarga penuh ambisi...ia harus memilih:
Tetap jadi gadis polos yang dilindungi, atau membuka pintu menuju kebenaran yang akan menghancurkan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momowen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alice Bronio

Kelvin mengangkat tangan dan menunjuk beberapa hidangan di atas meja, “Dua hidangan ini masih perlu sedikit diasah lagi teknik memasaknya. Ikan kukus dan ayamnya sudah bagus, yang ini bisa dipertahankan.”

Manajer segera mengeluarkan kertas dan pena dari sakunya, lalu dengan serius mencatat satu per satu saran yang diberikan Kelvin.

Silvia menggenggam ponsel di tangannya. Entah teringat sesuatu, ia tiba-tiba bertanya, “Resep Bakso Sapi Besar Semur-nya sudah diganti, ya?”

Gerakan manajer seketika terhenti.

Silvia tidak mengangkat kepala. Tatapannya hanya tertuju pada piring di atas meja yang sudah setengah kosong, “Bukankah Bakso Sapi Besar Semur yang dulu biasanya akan diberi tambahan water chestnut di dalamnya?”

Manajer mengangguk, “Benar. Hanya saja, setelah Kakek Herman pensiun karena usianya sudah lanjut, dapur ini menggunakan koki baru. Resepnya juga sedikit diubah olehnya.”

“Pantas saja.” Silvia menurunkan bulu matanya. Ujung jarinya perlahan mengusap sisi ponselnya, “Rasa renyahnya jadi kurang.”

Kelvin mengangkat pandangan ke arah sang manajer, “Suruh koki baru itu mengembalikan resepnya seperti sebelumnya.”

“Baik, Tuan Muda Kelvin.”

Setelah diantar oleh sang manajer, mereka bertiga meninggalkan restoran Suwane.

Kelvin berbalik dan menatap Silvia, “Kalian masih ingin pergi ke mana?”

Minnie memasukkan kedua tangannya ke dalam saku, “Sepertinya Tuan Muda Kelvin sangat senggang hari ini.”

Nelia menundukkan kepala sambil diam-diam tertawa. Telapak tangannya perlahan menyentuh lengan Silvia, lalu ia berbisik di telinga Silvia, “Sil, kamu sadar nggak kalau abangmu dan Kak Minnie benar-benar seperti musuh bebuyutan? Akhirnya ada seseorang yang bisa mengatasi sifat buruk abangmu itu.”

Tatapan Kelvin jatuh pada keduanya, “Emang kebetulan sekali. Beberapa hari ini aku memang sedang senggang.”

Kelvin berjalan mendekati Silvia dan Nelia, “Ayo. Kalian mau ke mana? Aku bawain.”

“Tidak—”

Nelia langsung menyela, “Oceanarium!”

Silvia menatap Nelia dengan bingung.

Nelia menggoyang-goyangkan lengan Silvia, “Ayo, ayo. Temani aku sekali saja.”

Mata Nelia berbinar-binar menatap Silvia. Mulutnya juga terus menggumam memohon.

Silvia mengetuk pelan keningnya dengan ujung jari, lalu menghela napas tak berdaya, “Baiklah.”

Di depan Oceanrium.

Nelia menjadi orang pertama yang berlari sampai ke pintu masuk. Kedua tangannya dibentangkan lebar di udara, wajahnya penuh kegembiraan, “Oceanarium, aku datang!”

Silvia diam-diam menurunkan topi yang menutupi kepalanya. Tatapannya tenang melihat Nelia yang berlari di depan, sementara Minnie mengikuti tepat di belakangnya.

“Tidak masuk?” Suara Kelvin tiba-tiba terdengar dari belakang.

Silvia melirik Kelvin, lalu mengenakan kacamata hitamnya, “Ini.”

Cahaya biru berkilauan memenuhi ruangan oceanarium. Berbagai macam makhluk laut tampak mengelilingi lorong dari segala arah.

Nelia mengangkat ponselnya dan sibuk mengabadikan setiap momen yang menarik.

Kelvin berjalan di samping Silvia. Ia menunjuk sebuah kios kecil di sebelah mereka, “Mau makan cumi-cumi bakar?”

Silvia mengangkat pandangan ke arah kios kecil yang dikerumuni banyak orang sampai hampir tidak terlihat. Tenggorokannya bergerak pelan.

Belum sempat Silvia menjawab, Kelvin sudah berbalik dan pergi, “Tunggu aku di sini. Jangan ke mana-mana.”

Silvia menatap punggung Kelvin yang perlahan menjauh hingga semakin kecil di kejauhan. Entah kenapa, dadanya tiba-tiba terasa kosong. Tanpa sadar, ia mencengkeram dadanya. Napasnya perlahan menjadi tidak teratur.

Nelia segera menopang lengannya, “Sil, kamu kenapa?”

Dahi Silvia mulai dipenuhi keringat dingin. Tatapannya tetap tenang, tertuju pada arah Kelvin pergi.

Minnie berjalan ke sisi lainnya dan merangkul tubuh Silvia, “Kelvin ke mana? Kok tinggalin kamu sendirian disini.”

“Dia pergi beli cumi bakar.”

Minnie mengangkat pandangan ke arah kerumunan yang padat.

Di tengah lautan manusia itu, Kelvin memang terlihat cukup mencolok. Dia tipe orang yang bisa langsung menarik perhatian hanya dengan sekali pandang.

Nelia dan Minnie membantu Silvia duduk perlahan di sebuah kursi di samping.

“Cekrek—”

Suara tajam botol plastik yang diremas tiba-tiba terdengar dari dekat mereka.

Minnie dan Silvia sama-sama terkejut. Keduanya serempak menoleh ke arah Nelia.

Mata Nelia terpaku pada pemandangan di depan.

Minnie dan Silvia saling bertukar pandang dengan bingung, lalu mengikuti arah tatapan Nelia.

Di sana, di samping Kelvin, entah sejak kapan sudah berdiri seorang perempuan.

Perempuan itu mengenakan pakaian yang mewah dan elegan. Fitur wajahnya tegas, dengan riasan wajah yang cukup tebal. Rambut panjangnya berwarna pirang keemasan dan bergelombang, berkilau samar terkena cahaya.

Jarak mereka hanya sekitar dua meter.

Pipi perempuan itu tampak kemerahan, membuatnya terlihat semakin memikat.

Kedua tangan Nelia mengepal erat. Wajahnya tampak sangat buruk.

Jaraknya terlalu jauh...

Mereka sama sekali tidak bisa mendengar apa yang sedang dibicarakan keduanya.

“Wah! Abangmu itu ternyata masih punya pesona juga, ya, Sil,” goda Minnie.

“Apa maksudmu?” Silvia mengangkat pandangan ke arah Minnie yang bersandar di dinding.

Minnie menjawab dengan santai, “Ya seperti yang kukatakan.”

“Perempuan itu sedang meminta kontak abangmu.”

Minnie berhenti sejenak sebelum melanjutkan, “Cewek itu bukan orang sembarangan. Dia putri angkat dari Keluarga Bronio yang terkenal di Eropa.”

Minnie mengangkat dagunya sedikit, “Namanya Alice Bronio.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!