Sejak ibunya menikah lagi, Aria terpaksa tinggal serumah dengan kakak tirinya, Lucien Ashford, pria yang nyaris sempurna di mata semua orang. Tampan, sopan, dan selalu hadir saat Aria membutuhkan bantuan.
Awalnya, Aria mengira Lucien hanya menjalankan perannya sebagai seorang kakak.
Sampai ia menyadari satu hal.
Lucien selalu tahu ke mana ia pergi.
Selalu muncul di waktu yang tepat.
Dan perlahan, semua orang yang mencoba mendekatinya mulai menghilang dari hidupnya.
Saat Aria berusaha mencari jawaban, ia justru menemukan rahasia yang jauh lebih mengerikan.
Lucien ternyata telah mengenalnya jauh sebelum mereka menjadi keluarga.
Kini Aria harus memilih, tetap tinggal di rumah yang perlahan berubah menjadi sangkar, atau melarikan diri dari seseorang yang tidak pernah berniat melepaskannya.
"Di rumah ini, tidak ada yang lebih berbahaya daripada seseorang yang mengaku ingin melindungimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatimah Azzahra Al-aini Sarabiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Pagi di Mexico menyambut Clara dengan sunyi yang menekan. Sudah dua minggu berlalu sejak makan malam perjamuan itu, dan nama Kenzo tak lagi bergema di lorong-lorong kediaman rumah mereka. Pria itu seolah telah menguap dari realitasnya, menyisakan ruang hampa yang secara perlahan diisi oleh ketenangan semu.
Di sudut kafe kampus yang tenang, Clara duduk menatap cangkir teh kamomilnya yang telah mendingin. Di hadapannya, Erick duduk dengan kemeja kasual yang digulung hingga siku, menampilkan senyum hangat tanpa ada jejak kesombongan seperti malam di club malam itu.
"Kau melamun lagi, Clara,"
tegur Erick lembut, menggeser sepotong cheesecake stroberi ke arahnya.
"Cobalah minum tehmu. Aku sengaja memesankan ini untuk meredakan stresmu."
Clara menatap Erick ragu. Tatapannya memancarkan kewaspadaan yang telah terlatih selama bertahun-tahun hidup di bawah bayangan Kenzo.
"Erick..."
bisik Clara pelan.
"Soal malam di Club waktu itu..."
Erick mendesah pelan, raut wajahnya berubah bersalah. Ia meletakkan cangkirnya dan menatap mata Clara dengan ketulusan yang tampak begitu nyata.
"Tolong maafkan aku soal malam itu, Clara,"
ujar Erick tulus, jemarinya terulur menyentuh punggung tangan Clara di atas meja dengan sangat hati-hati, seolah takut menyakitinya. "Malam itu aku terlalu banyak minum dan terbawa suasana tempat berisik itu. Aku tidak tahu kalau kau adalah wanita yang akan dijodohkan denganku. Aku sungguh menyesal jika caraku saat itu membuatmu takut atau menganggapku pria nakal."
Clara menatap punggung tangannya yang disentuh Erick. Tidak ada cengkeraman possessif yang menyakitkan seperti Kenzo. Tidak ada bisikan ancaman yang membekukan darah. Sentuhan Erick terasa hangat, biasa, dan... manusiawi.
"Aku hanya belum terbiasa,"
balas Clara lirih, perlahan menarik tangannya dengan halus.
Erick tersenyum memaklumi.
"Aku tahu. Aku tidak akan memaksamu untuk mencintaiku sekarang. Aku hanya ingin kita mulai dari awal. Biarkan aku membuktikan bahwa aku bisa menjadi pria yang menjaga dan membahagiakanmu, Clara."
Melihat kesabaran dan kelembutan Erick, benteng pertahanan di hati Clara mulai tergoyang. Mungkin Erick memang pria yang baik, batin Clara mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Malam itu hanyalah kekhilafan alkohol. Dia bukan iblis seperti Kenzo.
Hari-hari berikutnya berlalu dengan warna baru dalam hidup Clara. Erick membuktikan ucapannya. Pria itu tidak pernah memaksakan kehendak. Setiap sore usai jam kuliah, Erick selalu menyempatkan diri menjemput Clara, membawakannya bunga favoritnya, atau sekadar mengantarnya menikmati matahari terbenam.
Kevin, yang masih bertugas mengawasi Clara dari kejauhan, hanya bisa mematung memperhatikan kedekatan mereka. Tidak ada perintah pembantaian dari London, tidak ada telepon yang masuk. Kenzo benar-benar membiarkan hubungan itu berkembang bebas.
Sore itu, Erick mengajak Clara berjalan-jalan di galeri seni modern. Di antara pendaran lampu sorot dan lukisan-lukisan abstrak yang memukau, Clara merasakan hembusan napas lega yang sudah sangat lama tak ia rasakan.
"Kau menyukai lukisan ini?"
tanya Erick seraya berdiri di sampingnya, mengamati sebuah lukisan bertema burung yang terbang keluar dari sangkar emas.
Clara menatap lukisan itu lama. Tatapannya meredup oleh memori pahit yang enggan hilang sepenuhnya.
"Burung itu... akhirnya bebas. Tapi dia harus belajar terbang di langit yang asing."
Erick menoleh menatap profil wajah samping Clara. Ia meraih jemari Clara, dan kali ini, Clara tidak menarik tangannya.
"Kau tidak terbang sendirian, Clara,"
bisik Erick hangat seraya menggenggam jemari dingin gadis itu.
"Aku akan ada di sampingmu. Kita bisa melewati semua rasa sakit masa lalumu bersama."
Kata-kata itu menghantam bagian terdalam di dada Clara. Air mata hangat hampir menetes di pelupuk matanya. Selama ini, Kenzo selalu mengurungnya, mengklaim bahwa kebebasan di luar sana hanyalah ancaman. Namun kini, di samping Erick, Clara mulai percaya bahwa dunia luar tidak semenakutkan itu.
Walau jujur di dalam hatinya yang terdalam, tidak ada getaran cinta yang membakar seperti saat ia ditatap oleh mata gelap Kenzo. Tidak ada desir kerinduan yang mendalam. Namun Clara lelah. Ia lelah menangisi pria yang telah bahagia di London bersama tunangan barunya.
Aku harus move on, tekad Clara di dalam hatinya, meremas balik jemari Erick pelan. Aku harus melepaskan Kenzo, sebagaimana dia telah melepaskanku.
Malam harinya, Erick mengantar Clara pulang hingga ke depan pintu kediaman rumahnya. Udara malam berhembus sejuk menyapu pelataran rumah mewah tersebut.
"Terima kasih untuk hari ini, Erick,"
ucap Clara seraya tersenyum tipis, senyuman tulus pertama yang ia berikan pada pria itu.
Erick menatap Clara dengan binar mata yang penuh damba. Ia melangkah mendekat, perlahan mendaratkan kecupan lembut di dahi Clara. Clara memejamkan matanya, membiarkan kehangatan itu menyapu trauma masa lalunya.
"Istirahatlah yang cukup, Clara. Sampai jumpa besok,"
bisik Erick lembut sebelum berbalik menuju mobilnya.
Clara berdiri mematung di pelataran rumah, memperhatikan mobil Erick yang perlahan menghilang menembus gerbang utama. Ada sedikit kedamaian yang melingkupi dadanya. Ia akhirnya melangkah masuk ke dalam rumah, menaiki tangga menuju kamarnya dengan perasaan yang jauh lebih ringan.
Clara membuka pintu kamarnya, menyalakan lampu dinding yang temaram. Ia berjalan menuju meja rias, meletakkan tasnya, dan menatap pantulan dirinya di dalam cermin.
Aku bisa hidup tanpa Kenzo, bisiknya pada diri sendiri di depan cermin. Aku pasti bisa.
Wajah di balik cermin itu tak lagi sepucat beberapa minggu lalu. Bayangan hitam di bawah matanya perlahan memudar, menggantikan raut lelah dengan kehangatan tipis yang mulai kembali. Clara menyentuh dahinya, tempat di mana bibir Erick baru saja mendaratkan kecupan lembut yang menenangkan.
Tidak ada rasa takut, tidak ada ancaman yang membekukan darah. Pertama kalinya setelah sekian lama, Clara merasa dihargai sebagai manusia seutuhnya, bukan sekadar objek kepemilikan mutlak seorang pria gila.
"Aku bisa hidup tanpamu, Kenzo,"
bisik Clara sekali lagi, pelan pada pantulan dirinya sendiri. Suaranya bergetar tipis, memancarkan keteguhan yang belum pernah ada sebelumnya.
"Aku bukan milikmu lagi."
Clara melepas gelang perak pemberian Kenzo yang selama ini melingkar di pergelangan tangannya. Dengan jemari yang mantap, ia meletakkannya di dalam laci teratas, menyimpannya bersama seluruh kenangan pahit dan cinta beracun yang telah mengoyak jiwanya.
Ia memejamkan mata, membiarkan hembusan napas lega lolos dari dadanya. Memilih percaya pada Erick memang sebuah pertaruhan besar, dan rasa cinta itu mungkin belum tumbuh di hatinya. Namun, berjalan ke depan bersama pria yang memberikannya kedamaian jauh lebih baik daripada terus terkurung meratapi bayangan pria yang telah bahagia bersama wanita lain di London.
Malam itu, Clara mematikan lampu meja riasnya. Di balik kegelapan kamar yang tenang, ia akhirnya bisa tertidur lelap tanpa bayang-bayang teror Kenzo yang biasanya menghantuinya.