Gadis cantik keturunan sultan yang berakhir menjadi seorang pembantu. Kisah cintanya dimulai ketika pria yang notabene nya sebagai majikan mulai menyimpan ras padanya. Perbedaan kasta menjadi penghalang hubungan mereka. Akan kah hubungan keduanya bisa dipertahankan? Atau harus berakhir dengan perpisahan? Jika ingin jawaban segera buka dan lanjutkan membaca.
Sebenernya ini udah pernah di up di noveltoon. cuma udah aku hapus dan aku pindah ke sini aja.
Hanya beda judul.
selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WILDA A., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Daffa yang tak bisa masuk, karena perintah daddy Nara. Akhirnya ia tetap berdiri didepan hotel seraya terus merapalkan segala doa agar pertunangan mereka benar-benar batal. Ia takut kalau Adrian bakal mengingkari perkataannya.
Flashback
Sebelum hari H,
Adrian meminta Daffa untuk bertemu di sebuah kafe dekat kampus Daffa.
" Ada perlu apa anda meminta bertemu dengan saya? " tanya Daffa to the point.
" Apa kamu bener-bener cinta Nara? "
" Buat apa bertanya? Apa anda ingin memamerkan kalau sekarang anda ma bertunangan?"
" Nggak. Justru saya mau bertemu anda karena ingin bilang kalau saya berniat untuk membatalkan pertunangan ini " jawab Adrian.
Daffa menatap tak percaya pada perkataan yang baru saja Adrian lontarkan. Semudah itukah?
" Anda jangan geer dulu, saya lakukan ini karena Nara. Saya mau dia bahagia, saya juga sadar kalau dia bersama dengan saya dia pasti akan menderita " ucap Adrian.
" Kenapa baru bilang sekarang? Bahkan acaranya akan diadakan besok malam "
" Karena hati saya sudah mantap ingin membatalkan acara ini " ujar Adrian.
" Besok datang lah ke hotel GIANT, di sana tempat kami akan menggelar acara pertunangan " *lanjutnya.
flashback off*
Daffa masih kurang percaya sebenarnya. Namun malam ini ia benar-benar akan membuktikan ucapan Adrian.
Hampir dua jam lamanya Daffa menunggu dengan harap cemas, karena baik Nara maupun keluarganya tak ada yang keluar.
" Apa dia berbohong??" Gumama Daffa.
Tak lama kemudian, keluarlah Nara bersama daddy dan juga mommynya.
" Dia gak bohong " batinnya ketika melihat mereka.
Daffa pun mengikuti mobil mereka hingga apartemen. Daffa sengaja tak menunjukkan dirinya, takut jika saja daddy Nara akan mengira kalau ini adalah rencananya.
Sementara didalam apartemen, Ardelino tak berhentinya mengomel merutuki perbuatan Adrian yang membuat namanya malu.
" Udahlah dad..semuanya udah terjadi. Sadarkan, kalau kehendak tuhan itu tak bisa dibantah, Adrian memang bukan jodoh Nara " ujar sang istri menenangkan Ardelino.
" Tapi mom, aku malu!! Apa kata rekan bisnis ku nanti, seolah kalau putri kita dicampakkan. Mereka akan membicarakan ku " ujar Ardelino yang masih dipenuhi emosi.
" Itu salah kamu yang memaksa, begini kan jadinya? Jangan salahkan siapapun, karena disini daddy lah orang yang bersalah. Ah! Sudah lah percuma bicara sama daddy, gak ada gunanya. Lebih baik mommy tidur sama Nara " ucap mommy Nara beranjak dari tempat duduknya, melenggang pergi masuk kedalam kamar Nara.
" Argghh!! " teriak Ardelino menjambak rambutnya merasa frustasi.
" Sayang kamu udah tidur belum?" Panggil mommynya saat menghampiri Nara yang telah berbaring di kasur.
" Belum mom, ada apa?" sahut Nara.
" Gak papa, mommy cuma mau tidur sama kamu aja. Males ngeladeni daddy kamu, keras kepala " jawab mommynya langsung berbaring disebelah Nara.
" Maaf ya mom, karena Nara daddy jadi malu "
" Kamu nggak salah sayang, ini teguran untuk daddy kamu supaya dia sadar. Kalau paksaan itu gak akan membawa kebahagiaan, mommy malah bersyukur kalau kalian batal tunangan. Jadi mommy gak akan khawatir soal kebahagiaan kamu lagi "
Nara jadi terharu dengan perkataan mommynya, ia langsung memeluk erat sang mommy.
" Makasih ya mom..udah ngerti Nara " ucapnya nya sembari menelusupkan kepalanya didada mommy nya.
" Sama-sama sayang " jawab mommynya mengelus lembut punggung Nara hingga ia terbuai dan tertidur didekapan sang mommy.
Beberapa saat kemudian..
Nara merasa malam ini begitu gerah, bahkan tak ada ruang untuk tubuhnya bergerak. Seperti ada yang menghimpit tubuhnya. Saat dia menoleh kebelakang..
" Daddy!! " Nara terkejut kala ia melihat sang daddy tertidur disebelahnya. Ya, Nara sekarang berada ditengah-tengah daddy dan mommynya. Seperti saat ia kecil dulu.
" Ya ampun dad, kenapa tidur disini juga sih! " Nara menepuk-nepuk pelan pipi daddynya agar bangun.
" Apasih Nara, tidur aja. Jarang-jarang kan bisa tidur bertiga,jangan ganggu daddy " sahut daddynya bergumam.
" Nara kan udah dewasa, ck..ya udah deh Nara tidur di kamar bang Delvin aja " Nara pun akhirnya mengalah dan turun dari ranjang. Meski kasurnya itu berukuran king size, namun masih terasa sempit jika untuk tidur bertiga. Dan Nara sangat tidak bisa jika ia harus tidur ditempat yang sempit.
Jam masih menunjukkan pukul satu dini hari. Rasa kantuknya pun kini sudah menghilang.
" Kak Daffa bangun gak ya kalau aku telpon " ucapnya menatap layar ponsel.
" Coba deh, siapa tau di angkat " kemudian ia menelpon Daffa.
Tuut..tuut..
" Halo "
Benar saja Daffa langsung mengangkat telpon dari Rara.
" Belum tidur kak?" tanya Nara.
" Udah sih tadi, tapi berhubung kamu telpon ya bangun lagi. Ada apa?"
" Gak papa, kangen aja. Aku gak bisa tidur "
" Aku besok mau nemuin daddy kamu Na "
" Hah! Ngapain kak? Jangan deh daddy lagi sensi soalnya ntar yang ada malah daddy marahin kakak lagi "
" Nggak akan, aku tau kalau pertunangan kalian batal. Dan kesempatan ini gak boleh terlewatkan, ntar kamu diambil orang lagi "
" Bisa aja kak Daffa " Nara tersipu malu mendengarnya.
" Doain kakak ya supaya daddy kamu bisa kasih restu ke kakak "
" Pasti kak "
" Nara tidur! " teriak daddynya dari luar kamar, membuat Nara reflek menjatuhkan ponselnya.
" Astoge, daddy udah kayak setan aja sih. Gak bisa bikin hidup gue tenang sekali aja setiap mau pacaran sama kak Daffa" gerutu Nara.
Tadi aja waktu dibangunin susah banget, lah sekarang malah daddynya itu nongol tiba-tiba. Nara terdiam sejenak dan memastikan tak ada lagi daddynya diluar.
" Nara...Nar..ada apa??" panggil Daffa dari sana.
Nara yang tersadar kalau ia masih menelpon Daffa, buru-buru ia mengambil ponselnya. Untung jatuh diatas tempat tidur.
" Maaf kak, tiba-tiba ada daddy tadi. Hampir aja Nara jantungan! "
" Ya udah, buruan tidur udah malem. Tunggu kakak besok ya! Good night.. "
" Iya..selamat tidur juga pacar!! Muuaachh.." jawab Nara sembari mencium ponselnya. Anggap saja ia sedang mencium Daffa.
Tbc.
cuman sayang hamil duluan sebelum nikah
pak guru yg baik😄😄