Indonesia
NovelToon NovelToon
NARA

NARA

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:747.8k
Nilai: 4.8
Nama Author: Hanna

Nara seorang gadis biasa dan sederhana terpaksa harus menikah dengan pria yang tidak pernah dia kenal sebelumnya karena sebuah surat wasiat dari kakeknya.

Dia harus rela berpisah dengan kekasihnya dan menjalani kehidupan pernikahannya yang bagaikan neraka.


Follow IG Author : @hanania442 😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32

Betapa rumitnya rasa yang bernama cinta. Begitu banyak hal yang menghantui dan kegelisahan yang mengusik. Kaki ini berharap untuk melangkah tanpa harus menoleh kebelakang. Namun, cinta itu selalu mengikuti jejakku kemana pun aku pergi, bahkan saat ini dia sedang jatuh dan terpuruk.

Ferdian mengenang kembali bagaimana saat dia bertemu dengan Nara. Menjadi saksi dari perbuatan Mona yang sangat tidak berperasaan. Mona menjatuhkan harga diri Nara dimuka umum.

Saat itu Ferdian ingin segera membawa Nara pergi dari ruangan itu. Menghilang dari tatapan orang-orang maha suci yang menhujatnya. Tetapi, langkahnya terhenti. Sadar akan posisinya saat ini.

Haruskah aku kembali dan memeluknya. Tetapi jika aku kembali akankah dia akan merasa lebih baik atau akan semakin memperburuk keadaan. Apakah aku bisa bersikap biasa saja padanya tanpa berharap lebih.

Ah! Persetan dengan semua pemikiran itu. Kini yang aku lihat dia hanya butuh seseorang untuk menenangkan hatinya.

Aku berlari dan menepis semua kebimbangan. Mengejar wanita yang selalu tinggal di hati dan jiwaku.

“Sejak kapan kamu jadi atlet pelari? Aku sampai tidak bisa mengejar kamu.”

Dia menatap tajam kearahku dan berubah menjadi tatapan terkejut. Mata indah yang selalu terbayang di benakku sedang menatapku dengan berlinang air mata.

Terasa nyeri dan sesak saat melihatnya menangis begitu dalam.

Aku duduk di hadapannya. Mengamati inci demi inci wanita yang selalu mengganggu pikiranku. Masih sama seperti dulu tapi terlihat sedikit berisi. “Butuh teman?” tanyaku

Aku jadi canggung saat tidak mendapatkan respon darinya. Dia terus saja mengangis dan enggan menatapku. Sepertinya ini keputusan yang salah.

“Hmmm,,, baiklah aku akan pergi jika sedang tidak ingin diganggu.”

“Ikut,” ucapnya singkat

Aku membantunya berdiri. Dia mengusap air mata yang masih mengalir di pipinya.

“Yakin? Lihat itu suamimu.” Aku menunjukkan Revan yang sedang berlari kesana kemari di kejauhan. Ya, Revan sedang mencari keberadaan Nara.

Tentu saja Revan tidak bisa melihat kami. Pengunjung pantai pada jam seperti ini lumayan ramai karena mereka akan menyaksikan matahari yang akan kembali ke peraduan.

Dia menatap kearah Revan sejenak dan ponsel Nara  berdering. Panggilan masuk dari Revan berulang kali. Nara tidak melakukan tindakan apapun.

“Dia punya istri cadangan, maka saat aku pergi dia tidak akan kesepian,” ucapnya seraya melempar ponsel kearah bebatuan dan layarnya retak. Sudah dipasti nomornya tidak bisa dihubungi lagi.

“Mau aku antar kesuatu tempat?”

Nara hanya mengangguk lalu dia mengikuti langkahku. Begitu juga saat dalam perjalanan. Kami hanya diam tanpa bicara sepatah kata pun. Saat akan memasuki daerah sekitar rumahya. Nara memegang lengan bajuku. *** lebih tepatnya.

“Aku tidak mau kesini,” ucapnya

Aku menginjak rem mendadak. “Aku harus mengantar kamu kemana?” tanyaku

Aku membalikkan tubuhku dan menghadap pada Nara begitu juga dengannya “Revan pasti sedang menunggu kamu pulang. Aku sudah tidak memiliki niat untuk membawa kamu kabur seperti dulu.”

Nara hanya terdiam dan mengalihkan tatapanya kerah depan. “Kalau begitu aku turun disini saja” Nara membuka pintu mobil dan turun.

Hati dan pikiranku berkecamuk. Jika aku membawanya, aku takut dengan diriku sendiri yang masih berharap pada Nara. Tetapi jika aku tidak membawanya, maka aku semakin tidak tenang dan takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

“Oke..Oke.. untuk malam ini kamu tidur di apartemenku dan besok, kamu aku antar kerumah orang tuamu. Bagaimana?”

Dia tampak berpikir sejenak lalu kembali masuk kemobil. Sama seperti tadi Nara hanya diam dan menatap kosong. Sengaja aku membuka kaca pintu mobil agar dia merasa lebih baik saat angin menerpa wajahnya.

Tiba-tiba dia menutup kaca mobil dan melihat kearah belakang. Mengawasi keadaan.

“Kenapa?” tanyaku menoleh singkat padanya dan kembali fokus ke kemudi

“Aku tidak mau ada orang yang melihat kita dan melaporkan pada Revan.”

“Tentu aku juga begitu. Bisa dihajar suamimu kalau dia tahu.”

Aku tersenyum kearahnya dan dia membalas dengan sedikit terpaksa.

“Jadi selama ini kamu kemana? Kamu sudah move on dari aku?”

Aku tersentak saat mendapat pertanyaan dari Nara. Move on. Yang benar saja, jika aku sudah melupakanmu untuk apa sekarang aku berani mengambil resiko seperti ini.

“Ya, bisa dibilang begitu. Tadi aku juga diundang Vera, tapi karena aku lihat ada Revan aku duduk diluar saja. Tapi cukup jelas terdengar kegaduhan saat acara itu.”

“Ya, begitulah yang terjadi. Aku rasa tidak perlu menjelaskan karena kamu sudah lihat semuakan.” Nara tersenyum masam. Terlihat cukup jelas kesedihan terpancar diwajahnya. Sepertinya begitu dalam luka hati yang dia dapat. Aku bisa menebak ini sudah kesekian kali Nara tersakiti oleh pria itu.

Sekitar pukul delapan malam kami sampai di apartemen. Aku juga memberitahu kode pintunya agar Nara sewaktu-waktu tidak kesulitan jika ingin keluar dan masuk ke apartemenku.

Aku membawanya ke kamarku dan mempersilahkan dia untuk istirahat. “Kamu bisa pakai bajuku dilemari, peralatan mandi ada di kamar mandi. Aku tidur di ruang tamu, kalau butuh sesuatu panggil aku.”

Saat aku diambang pintu dan akan menutup pintu kamar dia memanggilku “Ferdian”

“Ya, butuh sesuatu?” tanyaku

Dia menggelengkan kepalanya. Dia menatapku dengan senyuman indahnya. Seketika jantungku berdegup. Ah seperti remaja puber saja. Batinku.

“Terima kasih” ucapnya

“Hmm... jangan lupa kunci pintu. Selamat istirahat.”

\*\*\*

“Kamu yakin disana nanti pasti banyak yang mengenali kamu. Apalagi berita tentang kamu udah menyebar di sosial media,” tanya Ferdian sambil menata rambutnya didepan cermin.

“Sampai kapan aku sembunyi. Aku juga bosan di apartementmu ini,”  kata Nara yang sedang memilih-milih jacket hoodie dilemari pakaian Ferdian yang kini dia anggap miliknya juga.

Nara memilih jacket hoodie berwarna navy baginya warna ini cocok untuknya, karena tidak terlalu menarik perhatian.

“Kamu harus bersyukur, masih ada aku yang bersedia menampung kamu,” ucap Ferdian sambil mengedikkan alisnya.

“Terpaksa, kan?”

“Iya, mending kamu pulang saja!” ucap Ferdian

“Yakin? Nanti aku pulang beneran, loh!”

“Jangan deh kalau gitu”

Nara memakai jacket hoodie pilihannya dan berlalu meninggalkan Ferdian yang masih sibuk memantaskan diri di cermin.

Mereka berdua berencana untuk kepusat perbelanjaan untuk membeli beberapa persediaan makanan dan Nara ingin membeli beberapa pasang pakaiannya.

Nara lebih dulu keluar dan masuk ke pintu lift dan diikuti Ferdian berlari kecil mengikuti Nara.

Setelah beberapa menit dalam perjalanan, mereka sampai karena memang apartement Ferdian tidak jauh dari pusat pebelanjaan.

Saat Nara hendak masuk ke toko pakaian. Ferdian menarik hoodienya dan membuat Nara tertarik kebelakang “Ingat ya, Nyonya beli yang kamu butuhkan bukan yang kamu mau.”

Nara mendengus kesal Ferdian baru saja menggagalkan niatnya untuk belanja sesukanya “Iya bawel!”

Ferdian memang sengaja tidak ikut masuk. Dia memilih menunggu Nara diluar duduk di kursi yang memang di sediakan untuk pengunjung mall. Bermain game online di ponsel menjadi pilihannya untuk mengusir kejenuhan.

Beberapa kali dia melirik jam tangannya. Sudah setengah jam berlalu tapi Nara belum juga kembali.

‘Dasar perempuan kalau belanja lupa waktu’ batinya.

Ferdian menghentikan aktifitasnya saat ada seseorang mengampirinya dengan beberapa kantung belanja.

Ferdian mengerutkan keningnya melihat tangan kanan dan kiri Nara sudah penuh dengan belanjaan.

“Maaf... soalnya bajunya bagus semua.” Nara hanya bisa senyum-senyum pura-pura bersalah

Ferdian hanya menghembuskan napas dan menggelengkan kepalanya.

Beberapa orang lalu lalang melihat mereka berdua dan menyadari bahwa itu adalah Nara yang sedang di perbincangkan di media sosial baru-baru ini.

Mereka berbisik-bisik dan ada juga yang terang-terangan menampakkan ketidak sukaan mereka pada Nara.

Salah satunya dua orang wanita yang dengan jelas perkataan mereka terdengar “Lihat itukan perempuan yang viral beberapa bulan lalu, dia itu pelakor.”

“Eh... iya bener. Terus siap cowok itu jangan-jangan itu suami oarang juga.” Wanita itu segera mengeluarkan ponselnya mengambil foto Nara dan Ferdian dan ada juga yang memvideokan kebersamaan mereka.

Nara menundukkan kepala saat orang-orang mulai ramai berkerumun.

Ferdian beranjak berdiri dan menarik hoodie yang di pakai Nara dan menutupi kepalanya. Kemudian dia membawa belanjaan yang ada di tangan kanan Nara dan menariknya pergi dari kerumunan orang-orang yang semakin ramai hendak menghakiminya atau sekedar penasaran ingin melihat wajah Nara secara langsung.

Saat mereka sampai di tempat mereka memarkirkan mobil, Ferdian melepaskan genggamannnya di jemari Nara.

“Aku sudah bilang kamu tidak perlu pergi,” ucap Ferdian sambil mengambil belanjaan di tangan kiri Nara.

Saat hendak membukakan pintu untuk Nara. Nara memeluknya dari samping. Awalnya dia enggan untuk merespon tetapi satu hal yang dia sadari Nara sedang menangis namun tak bersuara.

Ferdian membalikkan tubuhnya dan memeluk Nara. “Menangislah. Walau tangisanmu tidak bisa merubah semua yang sudah terjadi, tapi setidaknya perasaan kamu akan lebih lega.”

Sungguh mereka sudah di permainkan oleh takdir begitu juga dengan Ferdian yang kini semakin terperosok masuk semakin dalam dalam permainan ini.

Hatinya sangat ingin memiliki Nara seperti dulu, bahkan rasa itu semakin kuat saat melihat penderitaan yang dialamai Nara. Beribu maaf terus dilontarkan Ferdian dalam hatinya karena tidak bisa menghapus rasa itu, walaupun Ferdian sangat tahu dan mengerti Nara juga tidak bisa menghapus cintanya pada Revan walau luka di hati yang dia berikan begitu dalam.

Cukup lama mereka berpelukkan. Tanpa mereka sadari seseorang sedang mengambil foto mereka yang sudah mengikuti mereka secara diam-diam sejak mereka memasuki pusat perbelanjaan.

Ferdian melepaskan pelukannya saat ponselnya berdering. Dia mengambil ponselnya dan membuka sebuah pesan singkat.

“Masuklah!” Ferdian meminta Nara segera masuk ke mobil.

Ferdian mengabaikan pesan itu dan duduk di kursi pengemudi lalu melajukan mobilnya membelah keramaian kota.

Nara menyadari ada yang aneh pada Ferdian. Beberapa Nara melihat Ferdian melihat arah belakang.

“Ada apa?” tanya Nara

“Ada yang mengikuti kita. Sepertinya kita tidak bisa langsung kembali ke apartement. Kita perlu mengalihkan perhatian mereka terlebih dahulu,” jawab Ferdian masih mengawasi keadaan.

Nara melihat ke belakang melalui kaca spion. “Mereka... Apakah lebih dari satu?”

“Sepertinya begitu. Bagaimana jika kita makan di tempat favorite kita? Disana cukup ramai dan akan lebih mudah memecah fokus mereka.”

“Usul yang bagus aku juga lapar.” Nara mengelus perutnya yang memang sudah terasa lapar sejak tadi, apalagi energinya sudah berkurang karena menangis.

“Baiklah, Nona gunakan sabuk pengamanmu, kita akan melaju sangat kencang karena aku yakin parasit di perutmu sudah melakukan demo,” ucap Ferdian yang disambut tawa oleh Nara.

Ferdian merasa sedikit berguna, setidaknya dia bisa menghibur Nara untuk melupakan

permasalahannya sejenak.

\*\*\*

Waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Namun aku masih tidak bisa terlelap. Berkali-kali aku mengatur posisi ternyaman berharap bisa tertidur. Mungkin karena harus tidur di sofa tempat yang tidak tepat untuk tidur dengan nyaman tetapi ada yang lebih mengusik pikiranku.

Aku beranjak duduk. Membuka pesan singkat dari seseorang.

‘Cepat kau bawa nona Nara pergi dari sini, beberapa orang sedang mengawasi kalian. Untuk saat ini aku akan biarkan kau bersama nona Nara sedikit lebih lama, tapi ingat aku akan segera menjemputnya’

Begitulah isi pesan yang aku dapatkan beberapa jam lalu. jika tidak ada pesan itu maka aku tidak tahu jika ada orang yang mengikuti kami berdua sejak lama.

Siapapun pengirim pesan singkat itu. Dia pasti sudah tahu keberadaan Nara dan cepat atau lambat Revan pasti akan menemukan Nara dan waktu perpisahan kami akan semakin dekat.

Perpisahan?

Konyol sekali bahkan aku tidak memiliki hak untuk memikirkan itu.

Aku menatap kosong kearah pintu kamarku yang aku yakini Nara sedang tertidur lelap disana.

Aku membuka pintu itu dan berjalan perlahan menghampiri Nara yang memang benar sudah tertidur. Sepertinya dia sedang kedinginan aku pun menurunkan suhu pendingin ruangan lalu menarik selimut sampai menutupi tubuh bagian atasnya.

Aku menatap lekat-lekat wajah Nara yang tidak berubah sejak dulu, selalu menyejukkan hatiku.

“Aku tahu ini salah tapi hatiku tidak bisa perpaling pada wanita lain walaupun sekeras apapun aku mencoba. Kamu tahu aku selalu berangan-angan kamu memilih pergi dari Revan dan kembali padaku. Aku tidak berjanji membuat kamu selalu bahagia tapi aku berjanji akan selalu ada untukmu.”

Ferdian mengecup kening Nara kemudian berlalu dan menutup pintu kamar dengan perlahan agar tidur Nara tidak terganggu. Tanpa dia ketahui bahwa sejak Ferdian memasuki kamar, Nara sedang pura-pura tertidur tentu saja Nara mendengar sangat jelas semua kata-kata yang diucapkan Ferdian.

Nara tidak bisa lagi menahan bulir-bulir bening di matanya yang sejak tadi mendesak untuk keluar. Kini Nara sadar bahwa dirinya akan semakin menyakiti Ferdian jika tetap egois untuk tinggal disini lebih lama lagi.

FOLLOW IG AUTHOR  : @hanania442

1
Nai Christian Kolb
lanjut
Ira Wati
kalau aku pergi aja dari hadapan lelaki seperti itu
Na_ernaauk
aku mampir thor...
sejauh ini memang menarik ceritanya....
Nur Kholifah
mudah2han nara berjodoh sama alvian
Nur Kholifah
nara kamu kok bodoh amaat siih.mau maunya jadi mesin pembuat anak buat revan dan mona.sungguh bodooh
Nur Kholifah
revan mempertahankanmu hny untuk harta papanya
🌼stfaiza
lanjutin dong thor yg novel Raya...kan penasaran...knp kok gk lnjut...pdhl bagus lho thor😄😄😄😄
fina eva devanti
baca novel ini bawaannya emosi terus astagfirullah:(
Tatik Pkl
Asistennya Revan???? Ah tebak2 buah semangka 🤓🤓🤓
Tatik Pkl
Anak tiri ga tau diri...
farida ainur
bagus banget
Lanny Tan
Seru thor, jadi baper...

Mampir jg ke novelku ya : HARD TO SAY GOODBYE, ini bikin baper jg lho... Thx...
Zilvi Purnama
lanjut
Irna wisudawati
lanjut Thor...
Bentang Azza
monoton ceritanya gk seruuuu cwe nya kyk murahan
ᶠˡᵃ•Fit.ry_Hiatus☘️
Nunghu ceritanya si Sean Kak,.. 😁
Diajenk Yanti
jujur menurutku tdk ada 1 wanitapun yg mau berbagi suami, jika ada dia munafik
Vida Kasim
Ferdian. .aq padamu. .wkwkkkk
Vida Kasim
agak mendingan aq baca.nya...emosi berkurang hehehe
Vida Kasim
nara..kayaknya kmu terpikir mo kembali ke revan lg yh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!