Genre: Fantasi Modern, Romantis-Komedi, Isekai
Elia said : Gue boleh jadi antagonis, tapi minimal tetep punya akhlak lah ya!
Gimana jadinya kalau seorang gadis Gen Z super santuy bernama Elia tiba-tiba terbangun di dalam dunia webnovel romansa klise yang sering dia baca? Alih-alih jadi tokoh utama yang disayang semua orang, Elia malah apes tingkat dewa: dia masuk ke tubuh si villainess (tokoh jahat) yang punya nasib tragis dan bakal mati mengenaskan di pertengahan cerita!
Novel itu berjudul "Gadis Desa dan Sang Taipan" sebuah kisah cinta menye-menye tentang gadis kampung polos yang dicintai setengah mati oleh seorang taipan muda nan kaya raya. Masalahnya, si taipan kaya ini adalah tunangan Elia di dunia tersebut. Berdasarkan alur asli, Elia harusnya mati karena terlalu bucin dan terobsesi merusak hubungan mereka.
"Yang bener aja?! Masak gue harus jadi villain? Mana mati di tengah cerita lagi. Sial banget!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blumoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 : Pesta Mewah dan Pengejar Bayangan
~ HAPPY READING ~
|
Alunan musik klasik berirama lembut bergema halus, membungkus grand ballroom Hotel Azure dalam atmosfer kemewahan yang megah. Namun, di balik denting gelas kristal dan riuh rendah tawa yang anggun, udara malam itu sesungguhnya sarat akan kepalsuan dan bisikan beracun.
"Aduhh, Nona Clara! Gaunmu cantik sekali... Sayang ya, warna emasnya agak menenggelamkan kulitmu yang pucat itu," celetuk seorang wanita bergaun merah dengan senyum paling manis.
"Oh, ya? Terima kasih sarannya, Jeng. Tapi setidaknya gaun ini dirancang khusus di Paris, bukan gaun edisi musim lalu yang dicoba ditutupi dengan bros besar," balas wanita bernama Clara itu tak kalah tajam, meski bibirnya tetap tersenyum anggun.
Di sudut lain, dua pengusaha paruh baya saling bersulang dengan tawa renyah.
"Selamat atas proyek barumu di Barat, Tuan Johan. Kudengar saham perusahaanmu sempat anjlok pekan lalu? Baguslah kalau masih bisa bertahan sampai malam ini."
"Haha, terima kasih atas kepedulianmu yang berlebihan, Tuan Hendra. Tenang saja, perusahaanku tidak akan bangkrut hanya karena isu kecil. Tidak seperti anak perusahaanmu yang diam-diam sedang diproses lelang, kan?"
Saling sindir berbalut pujian, sapaan ramah bermuka dua, serta transaksi terselubung di balik gelas sampanye memenuhi setiap jengkal ruangan. Semua orang mengenakan topeng terbaik mereka.
Di tengah-tengah panggung sandiwara kelas atas itu, pembawa acara melangkah ke panggung utama dan memegang mik. Suasana mendadak hening seketika. Momen yang ditunggu-tunggu pun tiba: kedatangan Kakek Albert Veradoux sang tokoh utama malam ini. Pria sepuh berwibawa itu langsung disambut oleh tatapan penuh minat dari para kolega, mitra bisnis raksasa, hingga para penjilat yang haus akan kekuasaan tanpa mau bekerja keras.
Gelombang ucapan selamat ulang tahun bergema rapat di udara. Ada yang mengucapkannya dengan ketulusan, ada yang sekadar menggugurkan kewajiban, dan tak sedikit yang merajut doa-doa indah di bibir padahal hatinya menyumpahi hal terburuk.
Srettt.
Lampu sorot utama mendadak bergeser, menyapu sosok Arton Cassian Veradoux yang baru saja melangkah masuk dengan setelan tuxedo hitam sempurna.
"Selamat ulang tahun, Kakek," ujar Arton dengan suara bariton yang dalam, menyerahkan kotak kado berbalut pita elegan.
Ketampanannya yang dingin seketika memicu gelombang bisikan dan jeritan tertahan dari para gadis bangsawan yang hadir.
"Ya Tuhan... tampan banget!"
"Andai saja pria itu calon suamiku..."
"Tuan Arton, aku bahkan rela kalau cuma dijadikan istri kedua!"
Suara-suara bisikan itu menyusup samar ke telinga Arton. Tanpa perlu menoleh, ia sudah bisa menebak tatapan lapar para wanita di sekelilingnya. Pria itu mendesis pelan, meratapi betapa memuakkannya atmosfer pesta ini.
Belum selesai keriuhan itu, lampu sorot kembali bergeser dramatis saat sosok Alex Cassian Veradoux melangkah masuk. Aura dingin, matang, dan elegan milik paman muda Arton itu mendadak menyedot seluruh perhatian di ruangan.
"Astaga... Tuan Alex juga gak kalah memesona dibanding Arton!"
"Kalau Arton gak bisa dimiliki, setidaknya izinkan aku mendapatkan Alex!"
Mendengar desahan kagum yang kembali bersahut-sahut bagai geraman tak menentu, Arton berdecih jijik. Sementara Alex? Pria itu tetap bersikap tenang seolah-olah kebisingan di sekitarnya hanyalah deru angin berlalu.
"Ayah, selamat ulang tahun. Hadiah dariku sedang dalam perjalanan, mohon Ayah sabar menunggu," ujar Alex seraya mengulas senyum tipis yang penuh wibawa.
"Terima kasih Alex, Arton," sahut Kakek Albert tertawa hangat, menggenggam erat jemari anak bungsu dan cucu kesayangannya itu. "Arton, di mana orang tuamu?"
"Kami di sini, Ayah."
Belum sempat Arton menjawab, kedua orang tuanya tampak berjalan mendekat, disusul oleh rombongan keluarga Lauren persis di belakang mereka.
"Helena..." gumam Alex pelan namun sarat penekanan begitu matanya menangkap sosok Elia yang tampil begitu anggun dan berkilau malam ini.
"Paman..." Arton bergeser mendekati Alex, merendahkan suaranya hingga nyaris menjadi bisikan.
"Lakukanlah. Aku yang akan memback-up dirimu kalau situasinya mendadak kacau," bisik Alex menenangkan.
Arton menatap pamannya ragu. "Paman, kuharap itu bukan sekadar kalimat penenang semata."
Alex menoleh tipis, senyuman penuh arti terbit di bibirnya. "Arton... kapan aku pernah membohongimu? Kau tahu persis seperti apa aku."
Arton mengangguk paham. Ia menghembuskan napas pelan, mengumpulkan seluruh sisa keberaniannya untuk menghadapi badai kemarahan keluarga besar mereka sebentar lagi.
"TUAN VERADOUX..." Papa Michel menyapa dengan nada suara berat dan dalam yang kentara sekali menahan emosi. "Selamat ulang tahun yang ke-60, Tuan."
Michel mengulurkan kadonya dengan senyum bisnis.
"Terima kasih, Michel. Jangan repot-repot, sebentar lagi kan kita akan resmi menjadi satu keluarga," jawab Kakek Albert tertawa lebar.
"Keluarga, ya...?" Michel mengulang kata itu seraya melemparkan tatapan sedingin es ke arah Arton. "Sama sekali tidak repot, ini hanya hadiah kecil," lanjut Michel memaksakan senyum ramahnya.
"Kakek, selamat ulang tahun," panggil Elia anggun, menampilkan senyum manis terbaiknya.
"Tuan, selamat ulang tahun. Semoga Anda selalu diberi kesehatan... setidaknya sampai Arton benar-benar menikah," timpal Mama Miler dengan kalimat bersayap yang menyindir Arton habis-habisan.
Meilin tak mau kalah, ia maju seraya tersenyum lebar. "Benar Kakek, selamat ulang tahun! Semoga panjang umur sampai Helena kami menikah nanti, supaya Kakek bisa hadir dan—"
Cubit! "stttttt Hel..."
"Kakak!" Elia spontan mencubit kecil pinggang Meilin, memberi isyarat berbahaya lewat matanya.
Kakek Albert tertawa terkekeh-kekeh. "Helena, kakakmu benar. Kakek harus sehat sampai bisa menyaksikan pernikahanmu dengan Arton!"
Elia meringis, tertawa canggung yang terkesan sangat dipaksakan. ‘Duh, Kakek... jangankan nikah, malam ini pertunangannya langsung bubar jalan dan gue dapat transferan sepuluh triliun!’ batin Elia menjerit gembira.
"Udah, udah... Ayo Kak, Kakek Veradoux pasti masih harus menyapa tamu-tamu penting lainnya. Kami permisi dulu ya Kakek," potong Elia buru-buru memutus pembicaraan sebelum sandiwara ini makin melantur.
"Silakan, silakan Helena, nikmati pestanya. Arton, temani tunanganmu!" perintah Kakek Albert tegas.
Saat Arton hendak melangkah mendekati Elia, gerakan tubuhnya mendadak terkunci. Matanya menajam saat menangkap siluet seorang gadis bergaun pelayan yang melintas cepat di lorong samping ballroom.
"Leila...?" gumam Arton syok.
"Arton?" panggil Elia heran melihat pria itu mendadak mematung bagai patung batu.
"Y-ya?" Arton terkesiap kaget, memutus fokusnya sejenak. "Oh... baiklah, Helena."
Arton berusaha bersikap wajar dan melangkah mendekati Elia. Namun, baru saja bibirnya terbuka hendak memanggil "Hel—", siluet pelayan itu kembali melintas terburu-buru.
Rasa penasaran dan kerinduan yang membakar mengalahkan akal sehatnya. Tanpa peduli lagi pada Elia, orang tuanya, maupun pandangan ribuan tamu, Arton mendadak berbalik cepat dan setengah berlari mengejar bayangan itu.
"Le...!" seru Arton seraya memegang bahu pelayan tersebut dari belakang.
Namun, begitu wanita berseragam pelayan itu berbalik dengan raut bingung, jantung Arton mencelos. Wajahnya asing ia salah orang.
Di panggung utama, Papa Michel mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Kurang ajar! Anak itu... berani-beraninya dia meninggalkan Helena di depan ratusan mata tamu seperti ini?!" geram Michel dengan nada rendah namun penuh ancaman.
Mama Miler memegang dadanya, matanya menatap Arton penuh amarah. "Sangat tidak bersikap sebagai gentleman! Michel, ini benar-benar keterlaluan!"
Berbeda dengan kedua orang tuanya yang mendidih, Elia justru bertepuk tangan pelan di dalam hatinya dengan ekspresi polos. ‘Wagelaseeh... makasih banget Arton! Lu makin memperjelas kalau lu emang gak niat sama gue. Bagus, makin mulus jalan gue buat nilep sepuluh triliun tanpa rasa bersalah!’
Sementara itu, di balik pilar besar yang remang-remang di koridor belakang ballroom, Leila memegangi dadanya yang berdegup gila-gilaan. Napasnya memburu, sesak luar biasa menyiksa tenggorokannya. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Arton bergerak kalap mencarinya di antara kerumunan.
‘Kenapa... kenapa harus malam ini? Kenapa dia harus ada di sini?!’ batin Leila meratap panik.
Dengan tangan bergetar hebat, Leila menyodorkan nampan kosong yang dipegangnya pada rekan kerjanya yang baru saja keluar dari pantry.
"T-tolong pegangkan sebentar ya! Aku... aku mau ke toilet sebentar!" bisik Leila panik setengah mati.
Tanpa menunggu balasan rekannya, Leila berlari kecil menuju toilet karyawan. Begitu pintu toilet terkunci rapat, Leila menyandar pada pintu, merosot perlahan hingga duduk di lantai dingin. Ia menangkup wajahnya yang basah oleh peluh dingin, berusaha keras meredam isak tangis dan detak jantungnya yang siap meledak kapan saja.
Bersambung 🫰🏻🤗
kena tumbal juga dia wkwkwk
bikin kapok ya