Update setiap hari, insyaallah.
500 like = 1 gambar ilustrasi
5000 like = update cover baru
****
Kisah berawal dari seorang pria bernama Hans Wijaya dan 4 teman kuliahnya ingin pergi ke salah satu pantai untuk mengisi libur panjang mereka.
Namun siapa sangka, nasib buruk menimpa mereka saat mobil yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan.
Saat sadar Hans seperti berada di dunia lain dengan sistem game MMORPG dan tidak tahu bagaimana caranya ia untuk kembali pulang.
Petualangan panjang menanti Hans dan teman-teman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Feri Radiansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jamuan Makan Malam
Hans, Terra, Ren, Alex, Lyon, Max, Brenda, Cici, Rick berjalan sambil berbincang ringan untuk menemani langkah kaki mereka.
“Gimana kondisimu hari ini Ren? Apa lukamu sudah tidak sakit?”
“Baik. Eits, jangan coba-coba menyentuh lukaku penjahat.” Ren menjauh dari Hans berjalan membelakangi Terra.
“Hahahahaha.”
“Akhirnya aku bisa keluar dari ruanganku, menyenangkan sekali,” ucap Ren.
Rick mendekati Hans lalu berbisik. “Hans, kenapa kakakku bisa bersamamu? Kita mau makan kemana jalan sampai sejauh ini?”
“Tanyakan langsung saja ke Cici. Dikit lagi kita sampai.”
“Baiklah, nanti aku akan tanyakan.”
Mereka sampai di depan gerbang besar dengan 4 penjaga di depan.
“Ini mah bukan rumah tapi istana,” gerutu Hans.
Seorang pengawal datang menghampiri Hans. “Tuan Hans, terima kasih sudah datang. Yang mulia sudah menunggu di dalam, silahkan naik ke dalam kereta kuda yang sudah kami siapkan, untuk kami antarkan sampai ke depan istana.”
Mereka semua masuk ke dalam kereta kuda.
“Hans, kenapa tadi kamu tidak bilang kalau mau makan malam di tempat Raja Highway, kalau tau begitu tadi aku pakai baju yang lebih bagus lagi,” ucap Rick gelisah.
Hans hanya tertawa kecil.
Mereka turun dari kereta kuda dan masuk ke dalam istana.
Seorang pelayan mengarahkan mereka ke meja makan, sambil berjalan mereka terlalu takjub melihat kemewahan yang ada di dalam istana.
Arthur yang sedang duduk langsung berdiri berlari ke arah Hans.
Hans memperkenalkan semua teman yang ia bawa satu-persatu.
“Hai, aku Arthur, jangan terlalu kaku kepadaku, karena kalian adalah teman Kak Hans. Oh iya, aku kira kalian tidak jadi datang, aku sudah menunggu hampir 25 menit.”
“Maaf kalau kita terlambat, tadi nunggu dia beres-beres dulu baru berangkat kesini,” tunjuk Hans ke Rick.
Wajah Rick langsung putih memucat.
“Tuh malah aku yang di salahkan, padahal kan tadi kamu suruh aku bu...” Hans menutup mulut Rick.
“Hahaha, kalau begitu langsung duduk saja, sebelum semua makanan disini dingin semua,” ajak Arthur.
Berbagai macam makanan tersaji di atas meja membuat semua teman Hans begitu senang melihat pemandangan di depan mereka.
Mereka semua berbincang ringan sampai makanan mereka habis.
“Kenyang sekali.”
“Aku sudah tidak kuat makan lagi.”
“Terima kasih Yang Mulia, untuk makanannya.”
Arthur terlihat senang dengan kehadiran mereka malam ini.
Tidak lama kemudian masuk beberapa pelayan membawa buah, kue dan makanan penutup lainnya.
“Masih ada lagi!” kaget Max.
“Ya kalau sudah di sediakan seperti ini, mana mungkin aku menolak,” ucap Rick.
“Kak Terra aku mau kue,” pinta Ren sambil memainkan Miu.
Hans hanya menggelengkan kepala melihat tingkah teman-temannya.
“Kak Hans, ikut aku ke balkon sebentar. Ada yang mau aku bicarakan,” ajak Arthur.
Hans menyetujui lalu mereka berjalan ke lantai dua menuju balkon istana.
Mereka duduk di bangku yang ada di sana.
Arthur memberikan sebuah kertas kegiatan untuk Hans kerjakan selama menjadi perwakilan petualang Kota Highway. "Ini kertas yang sudah Alice buat."
Hans melihat secara rinci kertasnya.
“Hah! Tugasnya sebanyak ini? Bagaimana bisa aku menjalankan misi dengan tenang kalau urusanku dengan kerajaan sebanyak ini,” gerutu Hans.
“Tidak perlu di selesaikan dengan sendiri juga tidak masalah kak, cari salah satu temanmu yang bisa kamu percaya untuk mengurus sebagian pekerjaanmu di kerajaan,” terang Arthur
“Begitu rupanya, yaudah aku terima.”
“Jadi untuk masalah hadiah menerima gelar perwakilan petualang apa yang Kak Hans mau? Sama untuk pembayaran hadiah dari tiap misi perwakilan kamu minta berapa ribu Golz per misinya kak?”
“Hmmm, apa aku boleh minta tolong untuk mengurus pembuatan serikatku dan juga mencarikan lahan kosong? Kalau boleh carikan aku lahan kosong yang jauh dari kota untuk membuat serikat.”
Arthur mulai berpikir.
"Untuk masalah serikat aku akan sampaikan ke Alice, paling lama pembuatan biasanya 2 hari."
“Untuk lahan, sebenarnya ada tempat yang bagus wilayahnya juga di kelilingi padang rumput dan danau yang indah karena sebelum raja iblis bangkit disana merupakan salah satu tempat wisata terkenal di dunia ini, tetapi mungkin sekarang disana sudah banyak monster yang tinggal.”
“Apa nama lokasinya?”
“Swan Lake Basin.”
Hans melihat jam tangannya.
Wilayahnya berada di tengah-tengah Kota Greenhill dan Highway, batin Hans.
“Tapi kalau kamu tinggal disana nanti jika Kota Highway ada masalah bagaimana?”
Hans hanya cengengesan. “Aku bisa datang kesini dalam 1 detik jadi kamu tenang aja.”
“Oh iya, aku lupa kak. Baiklah kalau begitu, nanti aku akan sampaikan ke Kaisar Malvis untuk memberikan wilayah Swan Lake Basin menjadi milikmu, untuk monster yang ada disana silahkan kamu selesaikan sendiri dengan teman-temanmu, karena aku tidak bisa membantu untuk urusan itu kak, hehehe.”
Mungkin akan menjadi tempat yang bagus untuk menaikkan level disana, batin Hans.
“Raja, gimana kita bisa komunikasi nanti?”
Arthur menepuk kedua tangannya memanggil pelayan.
Pelayan datang membawa sebuah kartu khusus kerajaan berwarna emas yang sudah bertali lalu memberikannya ke Hans.
Di kartu tersebut sudah terdapat semua nomor orang penting di dunia ini dan juga terdapat fitur telepon dan video di dalam kartunya.
Sebenarnya fungsi kartu petualang dan kartu kerajaan jika di satukan fiturnya kurang lebih sama seperti ponselku di dunia sana, batin Hans mengalungkan kartu kerajaan.
"Apa ada lagi yang raja ingin bicarakan kepadaku?"
"Tidak ada Kak Hans, sepertinya cukup hari ini."
"Yaudah, aku akan pulang sekarang. Besok aku ingin menjalankan misi raid supaya bisa cepat upgrade kelas."
"Okay, terima kasih ya sudah datang malam ini, aku sangat senang sekali hari ini rumahku jadi sangat ramai."
"Sering-seringlah undang kami kalau raja kesepian."
"Siap!" Arthur senang.
Mereka kembali masuk ke dalam menemui yang lain.
"Yang mulia, terima kasih jamuannya."
"Terima kasih, yang mulia."
Arthur hanya tersenyum.
"Eh, kita mau pulang? Foto dulu sebentar, aku sudah bawa kamera," ajak Terra.
"Baiklah, kalau begitu lebih baik di ruang tengah."
Arthur mengajak mereka ke ruang tengah lalu memanggil pelayannya untuk memotret mereka yang sudah berdiri sejajar.
Selesai berfoto mereka keluar dari istana dan naik ke atas kereta kuda yang mengantarkan mereka sampai tengah kota.
Mereka semua duduk di bangku yang ada di pinggir jalan.
"Oh iya mumpung semuanya lagi berkumpul disini, sebelum bubar ada yang ingin aku tanyakan."
"Silahkan Hans," sahut Max.
"Terima kasih kalian sudah percaya kepadaku dan juga mau bergabung kepadaku. Namun, ada satu hal yang aku ingin pastikan ke kalian, targetku di dunia ini bukan untuk hidup damai ataupun menjalankan misi dengan sampai seperti yang petualang lain lakukan."
"Semenjak aku datang ke dunia ini dan mendapatkan kekuatan spesial, target utamaku adalah membunuh Raja Iblis demi mendapatkan kedamaian abadi di dunia ini. Untuk itu aku ingin meminta tolong kepada kalian semua untuk membantuku melawan raja iblis, karena aku tidak mungkin bisa mengalahkan mereka semua sendirian."
"Tentu saja, aku akan menggoreskan namaku di dalam sejarah," ucap Rick.
"Aku dan Brenda akan berada di belakangmu dari belakang sebagai tim pendukung," ucap Max.
"Aku cuma mau punya peliharaan imut kayak Miu," ucap Ren.
"Miu."
"Aku akan mengobatimu jika kamu terluka Hans," ucap Alex.
"Aku akan melindungimu dari belakang selama pertempuran, jadi kamu bisa tenang melawan musuh yang ada di depan tanpa menghiraukan punggungmu," ucap Cici.
Lyon berdiri lalu menurunkan setengah badannya. "Hans, aku berjanji akan bertarung bersamamu di garis depan, untuk itu bantu aku lebih kuat."
Hans melihat Terra yang begitu gelisah seperti ingin mengatakan sesuatu. " Kenapa Ter? Ada yang ingin kamu katakan?"
"Hmmmm...."
"Hmmmm... Aku, cuma mau menjadi pendamping hidupmu kemanapun kamu pergi sampai mati memisahkan kita."
"HAAAAA!!!!" Semua yang ada terkejut dengan perkataan Terra.
Hans hanya terdiam. Wajah Terra yang terus memerah membuatnya merasa malu dan berlari meninggalkan mereka semua.