Indonesia
NovelToon NovelToon
Prahara Cinta Adam Hawa

Prahara Cinta Adam Hawa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: budi sulistyo

Adam seorang yatim piatu yang menemukan cinta pada seorang ustadzah cantik bernama Hawa di sebuah masjid.

Sayang, kisah mereka terendus oleh ayah Hawa yang kaya lagi otoriter, seorang single fighter yang over protektif, pilih-pilih. Ia pilihkan jodoh yang bonafit, seimbang menurut derajat kacamata pandangan sendiri padahal seorang bajingan level audzubillah min dzalik.
Demi menjauhkan dengan Adam sementara Hawapun dibuang menempuh pendidikan di India. Dan disanalah ia juga mendapatkan cinta luar biasa dari seorang pujaan kampus nan tampan lagi pintar bernama Qudsi. Hawa menolak demi janji cinta pada Adam.

Sayangnya Adam mengkhianati Hawa menikah dengan Maemunah karena terpaksa.

Waktu bergulir Hawa tahu Adam telah mengkhianati cinta. Ia memutuskan tindakan bodoh menikah dengan laki laki bajingan pilihan ayahnya.

Bagaimana kisah Hawa dan Adam selanjutnya, adakah cinta mereka bersatu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon budi sulistyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengkhianatan Cinta

Aduhai cinta ketika telah menjelma menjadi sebuah

kebencian. Cinta itu kini telah berpaling padahati yang lain

tanpa ijin dan permisi. Terlalu menyakitkan untuk mengingat sejumlah

pengorbanan yang telah dipersembahkan dengan tulus.

“Maafkan bapak, Nak Hawa. Maafkan…!”

jawab Pak Rohim pada Hawa tatkala ia pulang dari desanya hanya untuk kabarkan

pada para sanak bila Maimunah kini ada di Surabaya, telah bersuami dan telah hamil.

“Kenapa dengan mas Adam, Pak. Kenapa? Katakan

dengan jujur.” hati Hawa tak karuan. Akankah ia.. ?

“Adam.. Adam. .. Adam kini sudah

pergi, Nak!! Ia tak lagi ada di kampung ini” ucap Pak Rohim dengan suara terbata-bata,

parau dan bergetar. Ia menunduk, tak kuasa ia tatap wajah ayu laksana artis

korea dihadapannya.

“Kemana, Pak. Tolong katakan!!” kejar Hawa sambil

mengguncang-guncangakan tubuh Pak Rohim.

Pak Rohim serasa tak sanggup ungkapkan

kebenaran. Tapi bila tidak, maka bukankah itu juga akan lebih

menyakitkan hati wanita ini. Wajah Pak Rohim pucat. Malu dan ragu rasanya ia

akan omongkan apa yang tengah terjadi pada Adam. Tapi harus.. Terserah

bagaimana Hawa akan menuntutnya. Ia pasrah.

“Surabaya...” satu kota Pak Rohim sebut.

“Surabaya? Hati Hawa tak tenang ia merangsek bertanya.

“Ngapain?”

“Kerja serabutan”

“Sama siapa?”

Pak Rohim menimbang untuk menjawab. Hawa masih menanti jawaban.

lain. Dan ucapan itu datang jua.

“Emh.. Adam sudah menikah, ndu.” ucap Pak

Rohim lirih.

Jediaarrr... !!

Kata-kata itu terdengar lirih diucapkan namun imbasnya lebih dahsyat

dari alunan seribu lonceng shaolin yang dipukul bersama-sama berdekatan

pada kupingnya. Berdentum sedemikian dahsyat sekuat halilintar adzab. Lunglai

serasa seluruh persendian Hawa seumpama dilolosi dengan racun-racun ular berbisa.

”Apa, Pak? Menikah?”mata Hawa

membesar. Dadanya panas. Kabar model apa yang ia terima. Ia sungguh tak mengira

akan kabar itu.

”Ya, Adam sudah menikah, Nak.” ucap Pak Rohim gemetar.Ia menunduk

nampak bersalah. Tak ia katakan Adam menikah dengan Maemunah keponakannya

sendiri. Dan akibat yang terpaksa.

Dan sudah cukup jelas apa yang laki-laki tua itu ucap.

Tak perlu tafsir statemen itu jatuh di telinga Hawa. Hawa duduk terpekur didepan

Pak Rohim yang masih berdiri seperti onggokan patung, mata Hawa terasa panas,

tak lama air mata jatuh.

“Aduhai cinta, kenapa kau tega khianati hati yang sedemikian suci tak tersentuh..”

“Kenapa kau balas pengorbanan dan kesucian ini dengan pengkhianatanmu yang tajam

mengiris hati”. batin Hawa mendesah pilu.

Pak Rohim diam seribu bahasa. Ia masih menunduk.Ia betul-betul layak

dipersalahkan. Semua karena hadirnya keponakannya dalam hidup Adam.

Dan entah kenapa, slide kenangan manis di negeri India

tersibak muncul begitu saja di haluan pikiran Hawa. Ia kepikiran Qudsi yang begitu

memburunya. Wajah itu muncul seketika. Hatinya bergetar.

“Aku menolakmu demi dia. Tapi dia dengan mudahnya

mengkhianati cinta”.

“Cinta... kenapa engkau begitu kejam padaku. Apa salahku  padamu?”

* *  * *

Hilir-mudik seorang laki-laki dengan kopyah hitam yang meraupi bagian kepalanya

dideretan lorong masjid.  Gagang besi berpucuk kain pel yang selama

hidup tak pernah disentuhnya terpaksa ia sentuh juga. Debu-debu yang dulu hanya

ia lihat dengan pandangan matanya, kini jadi bagian hidupnya yang harus ia bersihkan.

Karma seakan berlalu pada Ustadz Farhan.

Apa yang dulu ia ejek pada Adam kini berlaku pada dirinya.

Dan itu demi anak bayi yang kini lahir dari rahim

istrinya. Belum lagi anak balita yang harus ditanggungnya. Anak hasildari

pernikahan lampau dengan wanita yang pernah ia sia-siakan.

Dan kerja sebagai guru mengaji tak

cukup baginya untuk sekadar suapi beberapa perut itu. dan ia harus melamar juga

sebagai marbot di masjid itu. farhan. Ustadz farhan.

Pagi sebagai marbot, siang sebagai tukang ojek online, sore

sebagai guru ngaji TPQ, dan terkadang iapun juga harus menyisipkan waktu

sebagai broker atau makelar tanah atau rumah.

Jam sudah hampir jam 9 pagi. Ia harus segera pulang dan berkemas.

Ada tanggungan menjemput anak sekolahan dari pelanggan.

“Mas Farhan..”teriak seseorang memanggilnya. Ia berlari dengan tergopoh.

Ia menoleh.

Ada seorang bapak-bapak yang sedang hampiri dia.

”Ya, ada apa, pak Jenal?” Pak jenal adalah warga sekitar Masjid. Pekerjaan serabutan.

Konon ia adalah residivis.

Sesaat pak Jenal berbisik.

“Mau bayaran gede, Mas farhan? Gede ini!”

“Apa?”

“Suvenir”

“He em. Suvenir.  Biasa. Untuk para turis”

“Kemana, Pak?”Mata Ustadz Farhan memicing.

“Kalau omong turis pasti Bali. Paling 12 jam dari Malang”

“Bagaimana? Mau tidak?”

Farhan berpikir sejenak untuk memutuskan, tak ada salahnya ia lakukan job itu.

Dengan upah yang lumayan bagi ukurannya.Pekerjaan apapun ia tempuh untuk persiapan

kelahiran jabang bayi.

“Oke deal”

Merekapun bersepakatan sambil berjabat tangan. Farhan pulang berkemas cepat.

Siang nanti ia harus berangkat ke Bali. Ia harus hubungi Pardi yang bisa menyupir untuk

antar ia kesana. Bagaimana akan menolak, upah 5 juta sudah terbayang di pelupuk matanya.

Minimal bisa untuk buat istrinya Hanum bahagia.

Farhan tak tahu bahaya dan bencana sedang mengintainya.

* *  * *

Area Pantai “Pasir putih” Bondowoso sebuah pick-up tertutup melaju dengan

kecepatan sedang. Dua orang terguncang menimati pesona alam dan angin yang semilir.

Di hadapan mereka akan tersaji pabrik Paiton yang besar.

Tiba-tiba....

Sebuah mobil panther menyalip cepat di mobil yang Farhan kendarai. Ia terkaget.

Bila sang sopir tak sigap mungkin saja mobil itu telah menabrak dengan keras mobil edan itu.

Prilakunya mirip begal yang mencegat korban sesuka hati.

Beberapa orang keluar dengan sigap layaknya bandit yang akan menjarah.

Ada 6 orang dengan pakaian preman namun beberapa memegang senjata api.

Hati Farhan gugup.Wajahnya spontan memucat.

”Selamat siang, pak” ucap tegas salah seorang dari mereka.

”Kami polisi, ingin memeriksa isi muatan bapak..”

”Ta.. tapi, Pak. Ini hanya barang suvenir untuk turis

Bali..”Ucap Farhan terbata-bata. Ingin rasanya ia

kencing di celana. Dua tiga tetes terlanjur keluar. Ia begitu ketakutan.

”Baik, Tapi tolong buka pintu belakang”, paksa orang itu. Matanya tajam seakan hendak

melolosi seluruh sendi badan farhan.

Hati Farhan kecut. Ada apa ini. Apa ada yang salah dengan muatan yang farhan bawa.

Farhan turun dengan gemetar. Langkahnya terseok, tertatih.

Beberapa anggota polisi lalu memeriksa apa yang farhan bawa di pick-up belakang.

Tak lama satau anggota sodorkan satu bungkus pada sang komandan.

Tanpa babibu komandan sigap memerintahkan.

”Tangkap mereka...”.

”Pak.. pak.. apa salah saya, pak..” teriak farhan menghiba. Tapi tak ada satupun yang

peduli. Tak pernah terpikirkan borgol ada dalam bingkai tangannya. Ia pasrah.

Hanya bayangan-bayangan bayi kecil yang digendong

wanita manis kini ada dalam pelupuk matanya. Ia menangis.

”Ilahi, salah apa hamba duhai Allah..”

”Kesalahan macam apa yang hamba buat, hingga garis hidup ini sedemikian rumit..”.

Ia terpekur.

”Kamu memang brengsek, Han. Kebrusuk ngajak-ngajak..” celoteh Pardi teman

yang ia bawa untuk menyopiri.

 Farhan diam.

Sedangkan ia sendiri tak tahu apa yang terjadi.

Ada apa???

* *  * *

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!