"Mulai hari ini, silakan ambil kembali anak laki-laki kebanggaanmu, Ibu. Karena suamiku... selamanya memang hanya milik keluarganya!"
Dulu, rumah tanggaku bersama Mas Bayu begitu harmonis. Dia suami yang manis dan selalu menyerahkan seluruh gajinya padaku. Tapi semua hancur saat kami mengalah untuk pindah dan tinggal satu atap dengan Ibu Mertua serta adik ipar.
Neraka dimulai ketika suami dari adik iparku menganggur. Alih-alih menegur menantunya yang malas, Ibu Mertua justru terus mengamuk dan memanipulasi keadaan. Kena guilt trip dan air mata sang ibu, Mas Bayu tega merebut hak keuanganku. Seluruh gajinya resmi diserahkan ke rekening ibunya demi membiayai ipar parasit.
Saat nafkah anakku dipangkas habis dan suamiku lebih memilih melihatku menangis demi senyum ibunya, aku sadar pernikahan ini sudah mati.
Nggak akan ada lagi tangisan mengemis. Aku akan angkat kaki membawa putriku, mengembalikan Mas Bayu pada keluarganya, dan membuktikan betapa hancurnya hidup mereka tanpa diriku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SUAMIKU SELAMANYA MILIK KELUARGANYA
Hari-hari menuju persidangan pertama di Pengadilan Agama bergerak bagaikan hitungan mundur bom waktu. Di dua tempat yang berbeda, dua kubu sedang menyiapkan senjata terbaik mereka yang satu digerakkan oleh obsesi dendam dan rasa tidak terima, sementara yang lain dipagari oleh keinginan membendung trauma dan melindungi masa depan seorang anak.
Di kediaman orang tua Bayu, suasana rumah semakin dingin bagaikan kuburan. Sejak peristiwa penghentian jatah uang bulanan, komunikasi di antara penghuninya hancur total. Rika dan Fery lebih banyak mengurung diri di kamar belakang, hanya keluar jika perlu menyindir atau melirik tajam ke arah Bayu. Ibu Sumiati sendiri tampak lebih kurus; wajahnya diliputi kegelisahan yang mendalam karena setiap kali ia mencoba membicarakan masalah keuangan, Bayu hanya menjawabnya dengan tatapan kosong yang membekukan darah.
Pagi itu, Bayu duduk di ruang tamu sembari merapikan setelan kemeja batik mewahnya. Di depannya tergeletak dokumen perbaikan gugatan rekonvensi gugatan balik yang telah disusun oleh Anton, pengacaranya. Anton menyarankan strategi 'menyerang adalah pertahanan terbaik'. Mereka tidak hanya menolak gugatan cerai Maya dengan alasan bahwa Maya adalah istri yang nushuz (membangkang), tetapi juga menuntut hak asuh anak secara mutlak serta menuduh Maya melakukan pencemaran nama baik dan perselingkuhan.
Ibu Sumiati melangkah pelan dari arah dapur, membawa secangkir teh hangat yang ia letakkan di meja dengan hati-hati. Ia menatap anak sulungnya yang sedang mengancingkan lengan kemeja.
"Bayu..." panggil Ibu Sumiati dengan suara bergetar pelan. "Sidang pertamamu hari ini, kan?"
Bayu tidak langsung mendongak. Tangannya sibuk merapikan kerah bajunya di depan kaca kecil yang tergantung di dinding. "Iya, Bu. Hari ini sidang mediasi."
Ibu Sumiati menarik napas berat, lalu duduk di tepi sofa. "Bayu, Ibu mau tanya... apa tidak ada cara lain? Apa kamu benar-benar harus mempertahankan pernikahan yang sudah hancur begini? Kalau Maya memang sudah tidak mau"
"Ibu diam saja," potong Bayu dingin, membalikkan badan dan menatap ibunya dengan mata yang tajam. "Ini bukan lagi cuma soal Maya mau atau tidak mau. Ini soal harga diri Bayu! Dia sudah membuat Bayu dipermalukan di depan orang banyak. Dia bawa Naya pergi seolah-olah Bayu ini ayah yang jahat! Bayu tidak akan biarkan dia menang begitu saja di pengadilan!"
"Tapi Bayu... biaya pengacara itu tidak murah," sela Ibu Sumiati lirih, mencoba menyentuh sisi realistis anaknya. "Kamu pakai uang tabunganmu buat bayar Pengacara Anton itu, kan? Lalu bagaimana dengan rumah ini? Listrik bulan ini belum dibayar, Rika juga"
"Biarkan Rika dan suaminya yang bayar!" bentak Bayu kasar, membuat Ibu Sumiati terlonjak pelan. "Mereka punya tangan dan kaki! Jangan selalu minta dari Bayu! Uang Bayu sekarang fokus untuk memenangkan persidangan ini. Kalau Bayu berhasil dapatkan Naya kembali, Maya pasti tidak punya pilihan selain menyerah dan menurut lagi pada Bayu."
Ibu Sumiati mengelus dadanya, menyembunyikan rasa cemas yang kian membuncah. Ia tahu betul, dalam pikiran Bayu saat ini, Naya bukan lagi sekadar putri kecil yang dicintai, melainkan piala kemenangan yang harus direbut untuk membuktikan dominasinya atas Maya.
Dari arah koridor kamar belakang, Rika melintas sambil bersedekap dada. Ia menatap Bayu dengan senyum sinis yang sarat cemoohan.
"Semoga sukses ya, Mas," sindir Rika dengan nada menyakitkan. "Semoga tabungan Mas Bayu tidak ludes cuma buat mengejar Mbak Maya yang jelas-jelas sudah tidak sudi sama Mas. Jangan sampai nanti sudah jatuh, tertimpa tangga, terus malah kami yang diminta menanggung hidup Mas."
Bayu menunjuk wajah adiknya dengan tatapan membunuh. "Tutup mulutmu, Rika! Kalau kamu tidak bisa bantu apa-apa, lebih baik kamu angkat kaki dari rumah ini sekarang!"
"Rumah ini rumah Ibu, bukan rumah Mas Bayu!" balas Rika tak mau kalah sebelum akhirnya masuk kembali ke kamarnya dan membanting pintu.
Bayu menyambar tas kerjanya dan berkas hukum di meja dengan napas memburu. Tanpa berpamitan pada ibunya, ia melangkah keluar rumah, menyalakan mesin mobilnya kasar, dan memacu kendaraan itu menuju Pengadilan Agama.
Sementara itu, di kediaman Ibra, suasana pagi berlangsung jauh lebih tenang, meski ketegangan terselubung tetap tak bisa dihindari.
Di ruang makan yang luas dan terang oleh sinar matahari pagi, Maya sedang menyisipkan kotak bekal ke dalam tas sekolah Naya. Anak kecil itu sudah terlihat jauh lebih ceria dibandingkan beberapa hari lalu. Warna pipinya telah kembali kemerahan, dan tawa renyahnya sesekali terdengar saat berbincang dengan Bik Nana. Kehadiran lingkungan yang aman dan jauh dari bentakan telah perlahan-lahan memulihkan trauma traumatik yang sempat menghantuinya.
Ibra turun dari lantai dua dengan setelan jas hitam elegan yang disetrika sempurna. Langkah kakinya yang mantap menghentikan obrolan di meja makan. Maya menoleh, dan untuk sesaat, matanya terpaku pada ketampanan dan wibawa alami yang dipancarkan oleh pria di hadapannya.
"Pagi, Naya. Pagi, Maya," sapa Ibra dengan suara beratnya yang hangat.
"Pagi, Om Ibra!" seru Naya riang. "Naya hari ini bawa bekal roti selai cokelat buatan Mimo!"
Ibra tersenyum tipis, mengusap lembut kepala Naya. "Bagus. Makan yang banyak ya di sekolah, supaya makin pintar."
Setelah Naya diantar oleh pengemudi pribadi menuju sekolah TK-nya, suasana di ruang makan berubah menjadi lebih intim dan serius. Bik Nana dengan sigap menuangkan kopi hitam hangat untuk Ibra dan teh chamomile untuk Maya sebelum mengundurkan diri ke dapur.
Maya memegang cangkir tehnya dengan kedua tangan, merasakan kehangatan yang menjalar ke jemarinya yang dingin.
"Jemari kamu gemetar, Maya," panggil Ibra pelan. Pandangannya yang tajam tidak pernah luput memperhatikan detail terkecil dari gestur wanita itu.
Maya menatap Ibra, tersenyum canggung sembari menurunkan cangkirnya.
"Saya... saya jujur sangat gugup, Kak. Hari ini sidang pertama. Walaupun Pak Hendra bilang ini baru tahap pemeriksaan berkas dan mediasi, saya tetap merasa cemas membayangkan harus bertemu Mas Bayu lagi di dalam ruang sidang."
Ibra menyandarkan punggungnya di kursi, menatap Maya dengan ketenangan yang menular.
"Ketakutanmu itu wajar, Maya. Kamu sudah bertahun-tahun hidup di bawah bayang-bayang intimidasi dia. Otak dan tubuhmu secara refleks bereaksi ketika tahu akan berhadapan lagi dengan sumber traumamu," tutur Ibra bijak. "Tapi ingat satu hal: hari ini kamu tidak datang sebagai korban yang lemah. Kamu datang sebagai seorang ibu yang menuntut keadilan dan kebebasan."
Maya mengangguk pelan, menyerap setiap kata yang diucapkan Ibra bagaikan dahaga yang tersiram air sejuk.
"Pak Hendra dan timnya sudah berada di pengadilan sejak satu jam lalu untuk memastikan segala sesuatunya siap," lanjut Ibra. Ia melirik jam tangan mewahnya. "Mobil kita sudah siap di depan. Aku akan mengantarmu sampai ke dalam komplek pengadilan."
Maya terperanjat sedikit. "Kak Ibra ikut? Tapi... bukankah Kak Ibra ada rapat penting dengan dewan komisaris pagi ini?"
Ibra menatap mata Maya tanpa ragu. "Jadwal rapatnya sudah aku geser ke siang hari. Kehadiranku di sisimu jauh lebih penting hari ini. Aku ingin pria itu tahu sejak detik pertama persidangan dibuka, bahwa kamu memiliki pelindung yang tidak akan pernah membiarkannya menyentuh atau menekanmu lagi."
Rasa hangat membuncah di dalam dada Maya, mengikis sisa-sisa rasa takut yang sempat bersarang di benaknya. Pengorbanan dan kepedulian Ibra begitu nyata, begitu kokoh, hingga Maya merasa malu jika ia masih harus menunjukkan keraguan.
Pukul 08.45 WIB, area parkir Pengadilan Agama mulai dipadati oleh pengunjung dan para pencari keadilan. Gedung berarsitektur khas dengan tiang-tiang tinggi itu tampak kokoh di bawah terik matahari yang mulai menyengat.
Mobil sedan hitam milik Bayu tiba lebih dulu. Bayu turun dengan wajah tegang, disambut oleh Anton yang sudah menunggu di lobi depan bersama seorang asisten hukumnya.
"Bagaimana, Anton? Semua dokumen aman?" tanya Bayu langsung tanpa basa-basi.
"Tenang, Bayu. Semua draft tanggapan dan gugatan rekonvensi sudah siap," jawab Anton dengan senyum percaya diri. "Strategi kita hari ini adalah menolak mediasi. Kita tegaskan bahwa kamu masih ingin mempertahankan rumah tangga, tapi jika Maya tetap bersikeras cerai, kita layangkan tuduhan nushuz dan tuntut hak asuh anak secara penuh. Kita buat psikologisnya guncang sejak mediasi pertama."
Bayu mengepalkan tangannya, mengangguk puas. "Bagus. Aku mau dia paham kalau melawan aku adalah kesalahan besar."
Namun, belum sempat mereka melangkah masuk ke dalam koridor gedung, sebuah iring-iringan dua mobil SUV hitam mewah meluncur mulus memasuki area parkir khusus pengadilan. Kehadiran mobil-mobil bernilai miliaran rupiah itu seketika mencuri perhatian orang-orang di sekitar pelataran, termasuk Bayu dan pengacaranya.
Pintu mobil SUV pertama terbuka, dan empat orang pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam rapi tim pengamanan dan asisten hukum turun terlebih dahulu. Salah satu dari mereka membukakan pintu mobil SUV kedua yang berada di tengah.
Langkah Bayu terhenti seketika. Matanya membelalak lebar saat melihat siapa yang keluar dari dalam mobil tersebut.
Ibra turun lebih dulu. Pria itu berdiri tegap dengan keanggunan dan dominasi yang tak terbantahkan. Ia kemudian mengulurkan tangannya ke dalam kabin mobil, membantu Maya turun dengan sangat hati-hati.
Maya keluar dari mobil dengan penampilan yang sangat berbeda dari Maya yang dulu diingat Bayu. Ia mengenakan setelan busana muslimah berwarna navy yang elegan, dipadu dengan hijab senada yang terpasang rapi. Wajahnya dipoles riasan tipis yang mempertegas kecantikan alaminya, dan langkah kakinya meski masih menyimpan sedikit kecemasan terlihat jauh lebih mantap dan berwibawa.
Di belakang mereka, Pak Hendra beserta tiga pengacara senior dari firma hukum papan atas melangkah mendampingi dengan tas berkas tebal di tangan masing-masing.
Bayu merasakan darahnya mendidih seketika. Gigi-giginya bergeletuk menahan amarah yang meledak di dalam dada. Ia melihat bagaimana Ibra berdiri begitu dekat di samping Maya, menutupi wanita itu dari pandangan liar pengunjung pengadilan, seolah mengumumkan kepada dunia bahwa Maya berada di bawah perlindungan mutlaknya.
"Itu... itu laki-laki bajingan yang aku ceritakan, Ton!" bisik Bayu kasar pada Anton, jarinya menunjuk gemetar ke arah Ibra.
Anton menyipitkan matanya, mengamati sosok Ibra dan tim hukum yang mendampingi Maya. Wajah percaya diri Anton mendadak sedikit memudar saat mengenali sosok Pak Hendra.
"Sial..." gumam Anton pelan dengan dahi berkerut.
"Kenapa, Ton?" tanya Bayu heran melihat perubahan ekspresi pengacaranya.
"Pria yang mendampingi Maya itu Hendra Wijaya," bisik Anton dengan suara rendah yang cemas. "Dia pengacara spesialis hukum keluarga paling mahal dan tidak pernah kalah di pengadilan tinggi. Kenapa Maya bisa menyewa pengacara kaliber begitu?!"
"Itu bukan uang Maya!" desis Bayu dengan mata menyala penuh kebencian. "Itu uang laki-laki di sebelahnya! Laki-laki itu yang membiayai semuanya!"
Di sisi lain pelataran, Maya sempat menghentikan langkahnya saat matanya tak sengaja bertabrakan dengan tatapan tajam Bayu dari jarak puluhan meter. Rasa dingin sempat merayapi tengkuknya, membangkitkan memori-memori kelam akan bentakan dan perlakuan kasar pria itu selama bertahun-tahun.
Namun, sebelum rasa takut itu sempat menguasai dirinya, sebuah tangan yang hangat dan kokoh menyentuh pundak belakangnya secara halus.
Ibra berdiri di sampingnya, menatap lurus ke arah Bayu dengan pandangan dingin yang merendahkan.
"Jangan menundukkan kepalamu, Maya," bisik Ibra tepat di samping telinga Maya, suaranya tenang namun sarat kekuatan yang luar biasa. "Tatap matanya. Biarkan dia tahu bahwa wanita yang dulu selalu dia intimidasi, hari ini berdiri tegak untuk mengambil kembali hak dan martabatnya."
Maya menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan. Ia menegakkan punggungnya, mengangkat dagunya, dan membalas tatapan Bayu dengan pandangan yang tak lagi menyimpan ketakutan.
Perseteruan diam di pelataran pengadilan itu menjadi pembuka bagi pertempuran hukum yang sesungguhnya. Kedua belah pihak kini melangkah masuk menuju lorong gedung Pengadilan Agama, di mana takdir, keadilan, dan pembalasan dendam akan diuji di hadapan meja hijau.