''Apa bisnis Anda kurang luas, Tuan Dexter Yang Terhormat? Sehingga pernikahan pun kau jadikan bisnis,'' sindir Talita melirik sinis pria itu.
''Terserah apapun tanggapanmu, aku tidak peduli. Yang jelas aku hanya butuh dirimu sebagai istri di depan orang tuaku," balas pria itu dengan santainya.
''Egois, kau pikir aku ini robot," geram Talita dengan tatapan tajamnya.
-
-
''Dasar rubah betina," gumamnya menahan geram.
''Dasar kancil menyebalkan," balas Talita dengan senyum mengejek.
___________
Demi melunasi hutang keluarga, Talita Cecilia Kusuma harus terjebak dalam pernikahan penuh sandiwara bersama Dexter Edden Clyde yang merupakan seorang CEO perusahaan terbesar Asia.
Mampukah Talita menghadapi semua itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbak miss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32
Talita melangkah ragu saat menginjakkan kaki di sebuah hotel bintang lima. Sesampainya di lobby, netranya menangkap teman prianya tengah melakukan check-in.
''Jeff, apa kau yakin ini tempat yang tepat?" tanya Talita penuh keraguan.
''Sangat yakin, Ta. Dengan begini dia akan semakin percaya kalau kamu benar-benar mengkhianatinya," ucap Jeff pelan seraya menerima kunci kamarnya.
Pria itu tampak mengutak-atik ponselnya untuk menghubungi teman-temannya yang akan turut membantu melancarkan misinya.
''Kamu gak usah takut. Kita tidak hanya berdua. Nanti ada dua temanku. Mereka laki-laki dan perempuan. Agar kamu yakin aku tidak akan aneh-aneh padamu."
Talita hanya mengangguk. Dia tetap melangkah memasuki lift meski dalam hatinya timbul perasaan berkecamuk. Entah kenapa rasa bimbang tiba-tiba menyusup ke dalam hatinya saat rencana mereka tinggal selangkah lagi.
Beberapa menit kemudian, pintu lift terbuka pada lantai yang dituju. Jeff memimpin jalan untuk mencari nomor kamar yang sesuai dengan kunci.
''Jeff pindah tempat aja yuk." Talita menahan lengan pria itu ketika hendak membuka pintu.
''Kenapa, Ta? Aku udah check-in lho ... Teman-temanku juga hampir sampai."
''Gak tau tiba-tiba perasaanku gak enak. Please ... pindah tempat aja. Masa kamu gak punya apartemen?" pinta Talita dengan wajah memelas. Binar penuh harap tergambar jelas di wajahnya.
Jeff terdiam sejenak, kemudian mengangguk menyetujui. Mungkin Talita merasa tidak nyaman dengan tempat ini, pikirnya.
''Baiklah, kita ganti ke apartemenku tapi lokasinya agak jauh. Gak apa-apa, ‘kan? Sekalian tunggu teman-temanku."
''Iya, gak apa-apa," balas gadis itu dengan senyum manisnya.
...----------------...
Di sisi lain, kegelisahan Dexter semakin tak menentu ketika mengetahui titik akhir lokasi pria yang bersama istrinya. Tatapannya tak beralih sedikitpun dari layar lipat, bahkan pria itu terus saja mengomeli sang asisten yang dianggap terlalu lambat mengendarai mobilnya.
''Apa kemampuan mengemudimu menurun, Ran? Untuk sampai ke pusat kota saja lama sekali," cibir Dexter untuk yang kesekian kalinya.
''Sabar, Bos. Kita terjebak macet," jawab Randi menahan kesal.
''Awas saja sampai kita terlambat di hotel itu. Gajimu bulan ini kupangkas lima puluh persen," ancam Dexter.
''Astaga, Bos. Tega sekali Anda. Itu tabunganku merried, Bos." Randi menatap atasannya dari kaca spion depan dengan wajah memelas.
''Mana ada yang mau sama lelaki lelet sepertimu," sanggah Dexter tanpa perasaan.
Randi mendengus kesal mendengarnya. Terkadang mulut atasannya memang harus disumpal sambal mercon level seratus.
''Ente kadang-kadang, Bos," gumamnya.
Arina yang sedari tadi menyimak perdebatan kedua pria itu hanya bisa menahan tawanya. Namun, sedetik kemudian dia teringat ucapan Dexter yang mengatakan sebuah hotel, itu artinya sahabatnya benar-benar melakukan aksinya.
''Talita, lo kok nekad banget sih. Lo gak tau apa suami lo mati-matian nyariin," batinnya resah.
Netranya melirik pria yang berada di sampingnya. Dia segera menyenggol kaki pria itu untuk meminta kepastian.
''Ada apa?"
''Kita mau kemana?" tanya gadis itu dengan nada pelan.
''Hotel pusat kota, kenapa?"
''Masa Talita sampai nekad begitu, sih?" tanyanya lagi.
''Ya, itu ‘kan temanmu. Kamu yang lebih tau seluk beluknya." Randi menimpali acuh.
''Dia gadis baik-baik ya," sanggah Arina tidak terima.
''Jika gadis baik-baik, kenapa bisa ke hotel bersama pria lain?" Randi mengutarakan pendapatnya.
''Khilaf," jawabnya sewot.
Randi hanya mengedikkan bahu acuh, baginya percuma berdebat dengan gadis labil.
...----------------...
Jeff benar-benar memenuhi keinginan Talita. Dia segera meluncur ke lokasi apartemen sesaat setelah kedua temannya tiba.
''Jeff, lokasi ponselmu sudah kau nonaktifkan?" tanya Vito tanpa mengalihkan perhatian dari kemudinya.
''Belum, kenapa memangnya?"
''Buat jaga-jaga aja. Musuhmu orang berpengaruh, dia punya seribu cara untuk melacak keberadaan kalian," ucapnya lagi.
Yang dikatakan pria itu ada benarnya juga, tanpa berpikir panjang dia segera menonaktifkan fitur lokasi pada ponselnya.
''Kalian yakin ingin melakukan ini? Dampaknya berpengaruh besar untuk reputasi kalian." Vito bertanya untuk memastikan.
''Sangat yakin!" jawab Talita mantap dari kurs belakang.
''Kau tenang saja, Vit. Aku sudah mengaturnya dengan rapi." Jeff menimpali.
Tanpa sepengetahuan Talita, sewaktu menunggu kedatangan teman-temannya. Jeff sudah menghubungi kakaknya jika ada perubahan rencana. Dan Gracia menyetujui, lalu meminta kiriman foto-foto kemesraan mereka sesegera mungkin jika sudah selesai.
''Aku heran sama kamu. Banyak wanita yang ingin ada di posisimu, tapi kenapa kamu pengen banget lepas darinya?" Reva yang sejak tadi bungkam pun membuka suara.
''Tidak ada gunanya mempertahankan hubungan toxic," jawab Talita datar.
Tidak mungkin dia mengatakan jika nekad melakukan ini demi rasa cintanya kepada Jeff. Mentalnya tidak sekuat itu.
Meskipun banyak pertanyaan yang ingin diutarakan, Reva memilih diam. Karena menurutnya bukan ranahnya untuk mengetahui terlalu dalam masalah orang lain.
Empat puluh lima menit kemudian, mereka tiba di tempat tujuan. Dengan sigap, Jeff membukakan pintu untuk gadis pujaannya, lalu menggenggam lembut tangannya menuju unitnya. Talita yang mendapat perlakuan manis seperti itu hanya bisa menahan senyumnya. Sungguh, jika tidak ingat malu mungkin dia sudah berjingkrak kegirangan saat itu juga.
Sesampainya di unit yang dituju, mereka semua segera mempersiapkan segalanya. Talita diminta ke kamar terlebih dahulu dengan mengenakan pakaian yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Meskipun tampak ragu, tetapi gadis itu memilih menurut. Setelah selesai, Reva mengarahkan agar Talita tiduran di tempat tidur dengan selimut menutupi keseluruhan tubuhnya, kemudian disusul Jeff dengan bertelanjang dada.
Reva mengarahkan seolah-olah keduanya tengah berada di bawah selimut yang sama tanpa mengenakan sehelai benang pun, lalu meminta rekannya untuk memotret pasangan itu dengan berbagai pose mesra yang sangat yang sangat meyakinkan.
''Oke, done," ucap Vito yang baru saja mengambil gambar terakhir.
Pria itu segera memperlihatkan hasil jepretannya kepada temannya.
''Lo emang hebat, Vit. Gak salah gue minta bantuan lo. Hasil kerja kalian akan gue transfer ke rekening masing-masing." Jeff berucap penuh kepuasan.
''Mana aku coba lihat," pinta Talita yang merasa penasaran.
Jeff segera memperlihatkan hasilnya. Talita berdecak takjub, semua terlihat sangat alami. Mereka seolah-olah telah melakukan hubungan terlarang itu.
''Bagaimana, Ta?" tanya Vito.
''Bagus banget, terlihat sangat natural. Gue yakin setelah melihat semua ini si Kancil bakal nalak gue," ungkap Talita penuh antusias. Kebebasan yang dia dambakan sudah terpampang di depan mata.
''Dan aku yang akan menggantikan posisinya," batin Jeff menatap lekat wanita di sisinya.
Suara deheman keras berhasil membuyarkan kekaguman pria itu. Dia langsung salah tingkah karena aksinya diketahui temannya.
''Setelah ini gerak cepat, Bro," bisik Vito menyenggol keras lengan kekarnya.
''Pasti," balas Jeff tak kalah berbisik.
''Oke, Ta. Waktunya kita pamit. Kerjaan kita udah menunggu," pamit Vito.
''Oh, maaf. Ini kameranya. Keasikan lihat gambar sampai lupa waktu. Sekali lagi, makasih udah mau bantu," ujar Talita seraya menyodorkan benda di tangannya.
''Oh, ya, Jeff. Semua file udah aku kirim ke nomor yang kamu minta," ucap Reva setelah merapikan peralatannya.
''Siplah."
''Buruan turun, jangan keasikan sekasur berdua. Bahaya!" kelakar Vito.
''Iye, udah sono pergi. Gue mau mesra-mesraan," kata Jeff seraya melempar bantal yang ada di dekatnya.
aku kok kurang sreg dg tokoh wanita nya, kesannya murahan, lebih suka disentuh laki2 yg bukan suaminya, daripada suami sendiri.
perempuan kok nakal.
dibandingkan cinta dg pernikahan yg sah, yg mana lebih suci di mata tuhan?
kamu mengagungkan kata cinta dg laki2 yg tdk halal utk kamu, sementara ada suami kamu yg jelas2 halal, kenapa otak kamu sebagai perempuan ga berpikir kesana.
aku malah jijik dg tokoh perempuannya, ga mau disentuh suami sendiri, tp kalau laki2 lain boleh, iru sih namanya murahan.
semangat
mampir y