Menikah dengan pria yang dicintai, tak lantas membuat hidup Luna bahagia. Nyatanya, ia harus menelan pil pahit kehidupan setelah menikah dengan Arfan.
Semua disebabkan oleh toxic-nya sikap sang ibu mertua. Bukan hanya sok kuasa terhadap sang putra, ia juga selalu menyiksa batin Luna dengan segala tingkah absurdnya.
Akankah Luna kuat bertahan seatap dengan mertua yang begitu rupa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Apriria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nahas Dalam Pencarian
Entah bagaimana awalnya, Bu Tiwi mendadak saja ingin ikut Arfan untuk mencari Luna.
“Biar kubantu ikut mencari. Siapa tahu dia masih berada di sekitar sini. Kita ke terminal dan stasiun atau juga bandara mungkin?” Bu Tiwi mengusulkan ide pemikirannya.
“Rasanya kalau bandara nggak mungkin, Bu. Dia tidak punya banyak uang. Bahkan, kurasa ia tidak bawa uang. Ya Allah,” keluh Arfan teringat bahwa memang ia tak pernah memberi Luna uang banyak. Hanya sedikit sisa setelah diberikannya kepada Bu Tiwi untuk dikelola. Sungguh di saat-saat itu ia jadi merasa begitu snagat bersalah pada sang istri. Bagaimana kalau Luna terlunta-lunta di jalanan tanpa membawa uang? Astaga!
Di hari ketiga itu, Luna juga memutuskan untuk sudah selesai menenangkan dirinya sendirian. Ia sudah loumayan bisa ikhlas menerima bila memang pernikahannya dengan Arfan harus berakhir sampai di situ saja. Ya, tak bisa dipertahankan selama Bu Tiwi masih merecoki urusan rumah tangga mereka sampai ke ranah yang paling privasi. Ia naik kereta kembali ke kotanya dan berniat akan langsung pulang ke rumah Bu Ainun. Di sana nantinya ia akan meminta bantuan ibunya atau mungkin pakdhenya untuk mewakilinya mengurus perceraian mereka. Dan sementara itu ia akan mencari pekerjaan. Ia sudah menghubungi salah seorang temannya yang katanya bisa mengusahakan pekerjaan untuknya.
Dan sore itu ketika ia telah sampai di stasiun di kotanya, Luna terperangah ketika melihat sosok Arfan dan Bu Tiwi tengah berada di sekitar peron. Apa mereka mencarinya? Astaga! Hampir saja Luna menjatuhkan koper saking kagetnya. Namun, ia segera menguasai diri dan mencoba untuk tidak menarik perhatian dan terus berjalan dengan berdesakan di kerumunan agar tak terlihat oleh suami dan juga ibu mertuanya. Untuk apa mereka berdua mencarinya hingga ke stasiun segala? Luna terheran dibuatnya. Dikiranya Bu Tiwi akan jauh lebih senang bila ia tidak ada di rumah.
Atau mungkin dia mencarinya untuk diomeli dan diamuk di tempat umum? Dih! Ia terus berjalan tanpa sadar bahwa Arfan sudah menangkap sosoknya. Suaminya itu telah melihat Luna dan meneriaki istrinya itu dari kejauhan.
“Luna! Luna!”pekiknya berseru-seru. Pria itu gegas mengejar Luna, menyeruak kerumunan dan bahkan sempat menabrak beberapa orang hingga mendapat omelan. Tak dihiraukannya sambil terus meminta maaf pada siapa pun yang ditabraknya.
“Luna!” Arfan terus meneriaki Luna sambil dikejar pula dari belakang oleh Bu Tiwi yang berjalan cepat dengan napas tersengal-sengal. Wanita separuh baya itu menyesal kenapa tadi ikut ke sana. Kini ia merasa sangat kelelahan.
Arfan hampir berhasil mencekal lengan Luna ketika terdengar suara teriakan dari Bu Tiwi. Serta merta Luna dan Arfan menoleh ke arah asal suara dan terperanjat kala melihat Bu Tiwi sudah terbaring di aspal palataran stasiun itu setelah terempas oleh sebuah taxi yang hendak melintas di situ.
“Ibu itu tidak melihat jalan ketika menyeberang,” ka sang supir taxi membela diri yang memang kemudian diangguki oleh banyak saksi. Beruntung taxi itu sedang akan merapat berhenti untuk menurunkan penumpang hingga tak terlalu keras saat mengenai tubuh Bu Tiwi. Namun, tetap saja benturan itu menyebabkan sang waniat apruh baya lemah itu terpental ke aspal, tak berdaya.
“IBU!” Pekikan bersamaan yang keluar dair mulut Arfan dan Luna menggema di udara bersamaan dengan langkah berlarian mereka berdua ke arah tubuh Bu Tiwi yang sudah bersimbah darah.
Petugas keamanan stasiun dan beberapa orang berkerumun untuk mmemberikan bantuan dan mengangkat tubuh Bu Tiwi yang pingsan dan Arfan meminta mereka menuju ke mobilnya yang terparkir di situ.
“Ini ibu saya. Tolong masukkan ke dalam mobil itu!” pekik Arfan tergopoh diikuti oleh Luna yang bahkan lupa pada kemarahannya dan ikut masuk ke jok belakang untuk memangku tubuh sang ibu mertua. Isaknya mulai terdengar memilukan. Ia tak tega melihat darah bercucuran dari kening dan sebagian sisi kepala Bu Tiwi. Rasanya perih juga turut menghunjam tubuhnya sendiri.
Arfan gegas menyetir mobil dengan kencang ke rumah sakit terdekat dari sana. Ia tak henti menoleh ke arah ibunya yang pingsan seketika saat tubuhnya terpental dari taxi tadi. Diiringi suara sesenggukan Luna yang miris, akhirnya mereka sampai ke depan gedung IGD rumah sakit dan Arfan segera meneriaki petugas jaga untuk membawakan brankar dorong untuk membawa ibunya.
Bu Tiwi langsung mendapat penanganan cepat di sana dengan Luna dan Arfan yang berjalan hilir mudik di depan ruang IGD tersebut. Tak bisa tenang sebelum mendengar kabarapa pun dari [etugas kesehatan yang menangani Bu Tiwi di dalam sana.
Hampir setengah jam kemudian ada petugas yang keluar dari ruangan dan mengabarkan bahwa Bu Tiwi membutuhkan donor darah A+ yang sayangnya sedang minimal stoknya di rumah sakit itu.
“Adakah di sini yang keluarga kandung pasien?” tanya sang nakes.
“Saya putranya, Suster.” Spontan Arfan langsung maju mendekat dengan dada yang bergemuruh kencang, cemas dan panik.
“Pasien membutuhkan banyak darah. Pihak bank darah sudah kami hubungi dan stok A+ di sana hanya sedikit. Kita butuhnya agak banyak. Apakah ada di antara keluarga yang bisa dimintai donor?” Sang nakes bertanya lagi.
“Saya B, Suster,” keluh Arfan langsung mengempaskan tubuhnya di kursi tunggu depan ruangan. Golongan darahnya memang B, sama seperti mendiang ayahnya.
Lalu tanpa diduga, Luna menjawab dengan ragu-ragu. “Saya A, Sus. Tapi kurang tahu rhesusnya negatif atau positif. Saya ... belum pernah cek darah lengkap sebelumnya.
Sang suster lalu mengajak Luna untuk diperiksa dahulu di laboratorium. Beruntung sekali ternyata golongan darah Luna A+ sehingga tanpa pikir panjang ia langsung setuju untuk donor.
“Ambil seberapa pun yang dibutuhkan Ibu, Sus.” Luna berkata dengan mantap. Ia langsung tenang karena bisa membantu sang ibu mertua yang menurut hematnya mengalami kecelakaan tadi akibat mencari dirinya. Itu artinya Bu Tiwi kecelakaan karena salahnya.
Usai diambil darahnya, Arfan merengkuh Luna yang tampak letih. Sepasang suami istri itu saling berpelukan diiringi tangis antara lega dan masih diliputi kecemasan akan keselamatan Bu Tiwi. Tak berapa lama kemudian, dokter sudah keluardan berkata bahwa Bu Tiwi sudah melewati masa kritisnya. Beliau akan segera dipindahkan ke ruang rawat inap dan mereka akan bisa menemuinya nanti di sana.
“Alhamdulillaaah ....” gumam syukur terdengar dari bibir keduanya. Arfan dan Luna kembali berpelukan meluapkan kelegaan masing-masing. Luna memang membenci sikap ibu mertuanya selama ini, tetapi bila dihadapkan pada kondisi yang mengancam nyawa serupa itu, tentu rasa menyayanginya terhadap ibu kandung sang suami mengalahkan rasa benci itu sendiri. Bahkan sedari tadi ia tak lepas tulus berdoa dalam hati demi keselamatan sang ibu mertua.
***
kl aku punya mertua kaya gtuu pastii udh aku ajakiin gulet
semangat kak updatenya 🌹
itulah cara menghargai dan menghormati diri sendiri. kita idup bukan utk dihina. merdeka💪 cucian mana cucian, rasanya mau gue remes2😤😤😤
masukan dariku kata tegur di ganti kritikan saja 😁