Pernah dikhianati membuat Kinara menyepi, menjauh dari dunia percintaan yang sempat membawanya terpuruk dan patah hati.
"Semua pria, sama saja. Pengkhianat dan pemain wanita." Satu kalimat yang pernah Kinara ucapannya di hadapan pria yang baru saja ia kenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adzana Raisha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernikahan
Persiapan pernikahan Kinara dan Dipta sudah mencapai titik finish saat Kinara yang merupakan mempelai wanita sudah memasuki sebuah kamar hotel yang rencananya akan digunakan sebagai tempat akad sekaligus resepsi pada esok hari. Sungguh sesuatu yang membuat Kinara tercengang sebab sama sekali tak ada pembahasan bila pernikahan dirinya dan Dipta akan dilangsungkah semeriah ini.
Semula sang gadis sempat meminta penjelasan pada sang Kakak, namun Firman menjawab jika dirinya pun hanya mengikuti alur yang sudah dibuat oleh keluarga Dipta tanpa bermaksud merubahnya.
"Seharusnya aku sadar jika keluarga Dipta bukan dari kalangan sembarangan," gumam Kinara begitu mendengar jumlah undangan yang dibagikan.
Ribuan undangan, tentu rumahnya tak akan muat menampung tamu sebanyak itu.
Kinara masih termenung di kamar hotel. Dirinya pun masih melakukan serangkaian perawatan seluruh khusus calon pengantin dengan bantuan dua pekerja rumah kecantikan yang sepertinya sudah dipersiapkan juga oleh Dipta. Beberapa saat lalu, Delia yang merupakan adik dari Dipta, masuk ke kamarnya. Mereka yang sudah sempat berkenalan, berbicara cukup akrab. Seperti halnya keluarga Dipta, Delia menerima Kinara dengan tangan terbuka. Dia begitu senang akan memiliki Kakak perempuan yang berwajah manis dan menggemaskan.
Delia yang memang cukup banyak bicara, terasa nyambung bila berbicara dengan Kinara yang juga cerewet sepertinya.
"Aku tidak mengira jika Kak Dipta akan menikah secepat ini," ucap Delia di hadapan sang calon Kakak Ipar. "Tapi sepertinya bukan itu saja sih yang menjadi sumber pertanyaan. Aku justru masih tak percaya jika pada Akhirnya Kak Dipta bisa bertemu lagi dengan Kak Kinara."
Kinara menelaah ucapan Delia. Ya, hampir seluruh keluarga Dipta berkata demikian. Tak percaya jika kami kembali dipertemukan. Ya tuhan, memang selama ini apa saja yang Dipta katakan pada keluarganya tentang dirinya?.
"Kakak tau, saat itu aku masih kecil. Hampir setiap hari aku mendengar Kak Dipta memanggil namamu. Seperti orang Frustrasi yang terkadang ingin menyakiti diri sendiri." Delia seperti mengenang kisah masa lalu saat sang Kakak mendengar kabar akan kepindahan gadis yang disuka. "Ayah dan Ibu kebingungan. Mereka tidak mengira jika Kak Dipta sudah mulai tertarik dengan seorang gadis." Delia kembali bercerita. Tentang masa kecilnya yang melihat sang Kakak seperti terobsesi dengan seorang wanita.
Foto Kinara yang diambil secara diam-diam, hampir memenuhi dinding kamar. Bukan hanya kamar, ada beberapa pula yang disandingkan dengan foto keluarga. Jadi wajar saja jika kehadiran Kinara pertama kalinya di rumah Dipta langsung dikenali oleh para penghuni rumah.
"Aku kira perasaan Kak Dipta hanya semacam cinta monyet saja, tapi ternyata tidak. Fikirannya hanya tertuju padamu sampai tak tertarik pada gadis lain." Lagi-lagi sebuah kenyataan seperti menyadarkan Kinara, betapa selama ini isi hati Dipta tak pernah berubah.
Kinara menghela nafas. Dalam duduknya ia mengingat kembali pembicaraannya dengan Delia beberapa saat lalu.
Pintu kamar diketuk berulang. Kinara terperanjat akibat terkejut. Ia pun lekas bangkit dan memeriksa siapa gerakan yang datang.
"Nara," sapa seseorang begitu pintu terbuka.
"Kak Dipta," jawab Kinara saat wajah Dipta muncul dengan bibir mengulas senyum.
"Bagaimana perasaanmu, apa kau juga berdebar-debar sepertiku, dan tak sabar menati hari esok datang?."
Bagaimana ini, Kinara kesulitan merangkai kata. Sesungguhnya ia pun berdebar, tetapi untuk jujur pun rasanya malu.
"Pak Dosen mau masuk kedalam?." Kinara menawarkan.
"Tidak, Naraku. Di sini kita hanya berdua, tidak pantas jika ada orang yang melihat lalu berfikir macam-macam."
Benar juga.
"Aku hanya ingin mengatakan selamat malam, beristirahatlah untuk menyambut hari bersejarah kita."
Hati Kinara menghangat. Ucapan Dipta seperti sebuah pelukan yang senantiasa hadir saat dirinya merasa kedinginan.
"Selamat malam juga, Pak Dosen. Aku sungguh tak sabar menanti hari esok tiba." Seperti pasangan kekasih pada umumnya, Kini Kinara seperti tak ragu lagi untuk mengungkapkan rasa serta bentuk perhatiannya pada Dipta meski masih kaku.
Ketahuilah, Kinara yang semula kebingungan dan berfikir untuk menolak Dipta, Kini nyatanya mulai melunak saat sang Pria membuktikan sedalam apa perasaannya. Dipta layak disayangi dan mendapatka cinta darinya. Kini tak ada sejejak keraguan pun dalam diri Kinara untuk bersanding dengan Dipta dipelaminan sampai maut memisahkan.
💗💗💗💗💗
"Bagaimana para saksi, SAH?."
"SAAHHH...."
"Alhamdulilah...."
Sepasang mempelai serta seluh keluarga serta tamu undangan mengusap kedua telapak tangan kewajah seraya mengucap 'Hamdalah'. Kini Dipta dan Kinara sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Mereka sudah terikat oleh sebuah akad bernama pernikahan sebagai pelengkap ibadah bagi keduanya.
Senyum terulas dari bibir Ibunda Dipta. Sudut matanya berarair, ia sampai menangis dalam rasa bahagiannya. Begitu pun Firman, sekuat tenaga ia menahan tangis di depan sang adik. Ia merasa lega namun juga tak mampu menutupi kesedihan. Akan tetapi pertahan Firman pun ambrol saat Kinara justru menangis dipeluknya.
Dihari bahagia Kinara, tentunya dirinya tak ingin bersedih. Akan tetapi ketika mengingat mendiang kedua orang tuanya, hati sang gadis luruh jua. Firman yang menjadi wali nikah sedari semalam sudah memperingatkan sang adik untuk tetap kuat dan tabah meski apa pun terjadi.
Terbukti dalam proses akad sampai selesai, Kinara mampu menyimpan tangis dan membanjir saat kata SAH sudah terdengar.
"Nara, sudah. Ini hari bahagiamu, berhentilah menangis." Kinara sampai digiring kesebuah ruangan. Selain untuk beristirahat sejenak juga untuk meredakan tangis di hadapan tetamu undangan.
Kinara hanya mengangguk meski masih sesegukan dalam dekapan Firman. Di kursi lain Dipta hanya menatap kedekatan sang istri dengan Kakak iparnya. Tentu ia tak cemburu, Dipta cukup memahami sebab selama ini Kinara hanya memiliki Firman sebagai sandaran.
"Kau sudah menikah sekarang. Sudah menjadi seorang istri dan mungkin beberapa bulan kedepan kau akan menjadi calon Ibu." Firman menepuk-nepuk pelan bahu sang adik. Guna meredakan tangis dan mengatur nafas. "Sekarang tanggung jawab Kakak untuk menjagamu sudah berpindah pada suamimu. Kalian harus saling menyayangi serta melindungi." Firman kini beralih menatap Dipta. "Dipta, setelah ini aku titipkan Kinara padamu. Dia kini Istrimu. Jagalah dia, senangkanlah hatinya dan jangan pernah menyakitinya," pesan Firman pada Dipta. Selayaknya seorang Kakak yang menyerahkan adik satu-satunya pada sang suami, tentu Firman tak ingin jika sesuatu hal buruk terjadi dikehidupan pernikahan mereka kelak.
"Tentu, Kak. Saya akan menjamin, hidup Kinara akan bahagia bersama saya."
Tangis Kinara mereda. Setelah pembicaraan serius antara kedua pria tersebut, Dipta dan Kinara harus bersiap untuk acara resepsi yang digelar dihari yang sama dengan akad.
Kini Firman bisa bernafas lega. Beginilah takdir hidup. Saat terkhianati dengan seseorang, di hari selanjutnya sang adik dipertemukan dengan pria lain yang lebih bertanggung jawab.
"Benar kata pepatah, jika semua pasti akan indah pada masanya." Firman tersenyum, dari kejauhan dirinya melihat sang adik tertawa bahagia bersama Dipta di pelaminan. Mungkin selepas memastikan sang adik bahagia, dirinya pun bersiap untuk mulai mencari kebahagiaannya sendiri.
Tbc