Berpura-pura menjadi pembantu di rumah suami sendiri adalah hal yang menyakitkan bagi Anjani. Penderitaannya baru dimulai saat suaminya membawa istri baru ke rumah mereka. Sedangkan Anjani harus bersabar karena Kevin tidak mau mengakuinya sebagai istri.
Masalah pun baru datang, dimana ternyata Donita malah menyelingkuhi Kevin dengan Manajernya. Saat itu baru lah Anjani pun diakui Kevin, bahkan pria itu semakin baik kepadanya. Akankah Anjani memberikan kesempatan kedua pada Kevin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Puluh Dua
Baru saja Anjani memejamkan mata, Ia terpaksa membuka lagi matanya mendengar suara pintunya di buka dengan keras. Melihat Donita di ambang pintu dengan ekspresi wajah marahnya, membuat perasaannya takut. Perempuan itu mendekatinya, dan tiba-tiba menampar pipinya.
"Dasar wanita gatel gak tahu diri, kamu pasti yang godain Kevin duluan kan? Cih bisa-bisanya dia ke goda sama cewek kampung dan gak menarik kaya kamu. Bilang apa aja kamu sama Kevin buat ngehasut dia hah?!" teriak Donita di depannya.
Tamparan di pipi Anjani sangat keras, membuat pandangannya sempat buram. "Saya gak godain Mas Kevin begitu, lagi pula kami memang suami istri dari awal, dari sebelum kamu pindah ke rumah ini juga." Anjani tidak tahu mendapatkan keberanian dari mana saat mengatakan ini.
Sebelah sudut bibir Donita terangkat. "Wah-wah, ada yang sudah berani ya manggil Kevin sama sebutan itu, menjijikan sekali," dengusnya.
Anjani lalu berdiri di depan Donita, Ia berusaha menekan rasa takutnya karena harus membela harga dirinya. "Selama ini aku sudah lelah berpura-pura begini, tapi karena Mas Kevin pun sudah mengakui aku, jadi kamu gak bisa bersikap semena-mena sama aku!" tegasnya.
Donita malah tertawa sambil bertepuk tangan, ekspresinya itu membuat Anjani merasa tersinggung karena seperti sedang menatapnya rendah. Tetapi Ia tidak boleh gentar, sudah cukup selama ini Donita bersikap semena-mena kepadanya. Anjani sudah muak.
Melihat Donita yang malah mendekati lemarinya, membuat Anjani bingung dan bersikap awas. Ternyata perempuan itu mengeluarkan semua baju-bajunya, sampai berantakan di lantai. Anjani tentu saja panik, Ia pun segera mendekat dan berusaha menahan Donita.
"Kamu apa-apaan sih Donita? Mau apa kamu?!" kesal Anjani dan berhasil mendorong perempuan itu sampai menjauh dari lemari.
Donita terlihat mengatur nafasnya. "Pergi kamu dari sini, aku muak lihat wajah kamu. Kalau kamu gak mau pergi, aku akan seret kamu keluar dari sini!"
"Punya hak apa kamu berani ngusir aku? Aku di sini tinggal sudah lebih lama dari kamu, ini juga rumah Mas Kevin dan dia yang berhak usir aku!" balas Anjani kembali mendapat keberanian.
Tetapi sepertinya amarah Donita belum surut, perempuan itu seperti kerasukan dan membawa tas besar di bawah lalu memasukan semua baju-bajunya ke dalam. Anjani sudah berusaha menahan, tapi Donita yang marah kekuatannya terasa lebih besar.
Melihat Donita yang membawa tasnya menuju luar, membuat Anjani pun terpaksa mengikuti. Dengan santainya Donita pun melempar tasnya jauh, sampai terkena air hujan. Anjani sempat menatap kesal Donita, tapi Ia segera mengambil tasnya itu.
Sebelum Anjani kembali masuk, Donita dengan segera masuk ke rumahnya dan mengunci pintunya. Melihat sikap semena-mena perempuan itu, membuat Anjani terus mengucap istighfar dan tidak terpancing emosi lagi. Ia lalu memilih duduk menyender di teras rumah sambil memperhatikan hujan yang turun lumayan deras.
"Mas Kevin kemana sih? Kalau dia ada di rumah, pasti dengar keributan aku sama Donita. Apa dia tidak peduli ya?" Senyuman kecut terukir di bibir Anjani. "Itu berarti Mas Kevin memang bohong, dia gak serius dengan perasaannya ke aku."
Hari sudah gelap lagi, hujan yang deras di sertai udara yang dingin membuat Anjani memeluk tubuhnya sendiri. Kepalanya yang sempat Ia tumpukan di atas lutut, kembali terangkat mendengar mobil yang masuk dan berhenti tidak jauh di depannya. Anjani memicingkan mata, apakah itu Kevin?
Saat si pengendara turun lalu berlari kecil ke teras rumah, barulah Anjani bisa melihat jelas jika itu memang Kevin. Suaminya itu terlihat bingung juga terkejut melihat dirinya diam di sana. Kevin lalu menarik tangan Anjani untuk berdiri, sambil memperhatikan penampilannya, tapi paling lama di pipi kirinya.
Kevin lalu memegang pipi Anjani, saat Ia sentuh sudut bibirnya yang terluka membuat perempuan itu meringis kesakitan. "Anjani kamu kenapa? Siapa yang nampar kamu?" tanyanya terkejut.
"Siapa lagi kalau bukan Donita, dia datang ke kamar aku lalu tiba-tiba nampar aku. Terus dia juga keluarin semua baju-baju aku, aku disuruh pergi sama dia dari rumah ini." Entahlah apa Anjani sedang mengadu atau hanya menjawab pertanyaan saja.
Kevin terdengar menggeram pelan tidak suka. "Kurang ajar, berani-beraninya dia lakuin ini ke kamu. Kamu gak bisa pergi, aku gak akan biarin kamu pergi. Maaf sempat keluar sebentar, kita masuk lagi ya?" bujuknya.
Dengan baiknya Kevin membawakan tas besar milik Anjani, lalu sebelah tangannya lagi menggenggam tangan perempuan itu. Untung saja Kevin punya cadangan kunci lain, jadi bisa masuk dengan mudah. Matanya memperhatikan sekitar, berusaha mencari sosok Donita.
Saat mereka melewati tangga, akhirnya yang dicari pun muncul juga. Donita terlihat turun dari tangga dengan cepat untuk menghampiri mereka. Kevin bisa merasakan genggaman tangan Anjani mengerat, mungkin perempuan itu sedikit takut. Kevin akan melindunginya.
"Heh wanita gatal, ngapain kamu masuk kesini lagi. Kamu sudah aku usir, bener-bener gak tahu malu ya!" kesal Donita, semakin geram melihat mereka masuk ke rumah sambil berpegangan tangan.
Kevin akhirnya membuka suara. "Punya hak apa kamu ngusir Anjani dari sini? Ini rumah aku, aku gak akan biarin Anjani pergi!" tegasnya.
"Tapi Mas dia--"
"Dia juga istri aku, istri pertama aku. Seharusnya kamu bisa lebih hormat sama dia. Satu lagi, aku gak suka sama sikap kasar kamu, apalagi sampai pukul Anjani. Kamu mau ngerasain juga kaya dia?!" desis Kevin tajam.
Anjani ikut terkejut mendengar itu, apa Kevin berarti akan menampar Donita juga karena dirinya? Anjani pikir itu terlalu berlebihan. Ia lalu menggoyangkan tautan tangan mereka, membuat Kevin pun kembali menatapnya. Dan dalam sekejap, ekspresi wajahnya yang galak berubah menjadi lembut saat bertatapan dengan Anjani.
Donita mengepalkan kedua tangannya. "Kurang ajar, gara-gara dia kamu jadi berubah begini. Aku gak mau Mas, aku gak sudi. Aku mau kamu cerain dia, cuman aku yang istri kamu!" jeritnya protes.
"Aku gak salah denger kan?" Kevin lalu tertawa sinis sambil menatap jijik Donita. "Seharusnya kata-kata itu untuk kamu, kamu gak sadar kamu yang sudah buat aku jadi berubah Donita. Aku kecewa sama kamu karena kamu selingkuh, dan seharusnya yang aku ceraikan itu kamu."
"Mas aku kan sudah minta maaf, aku juga sudah akhirin hubungan sama Raka kok. Aku saja sudah, sekarang kamu ya? Aku mohon!" pinta Donita dengan wajah memelas nya.
Ekspresi wajah Kevin dalam sekejap berubah menjadi datar. "Kamu pikir semudah itu bisa maafin kamu? Perasaan aku sudah terlanjur kecewa Donita, hal yang paling aku gak suka itu selingkuh. Untuk apa juga kamu putusin Raka? Silahkan lanjut saja, tapi mari kita berpisah," katanya.
kalau hubungan mereka baik-baik aja mahh gak akan mungkin si Kevin berani ngakuin gtu... dan selama nya jd pembantu mereka berdua 😡😡😡😡