🔴SINOPSIS
KEJADIAN YANG TAK MASUK AKAL MENIMPA SEORANG GADIS MALANG YANG SELALU DI BULLY
Elena Adriana adalah manusia yang dibuang oleh temannya sendiri di hutan. Tetapi dibalik kejadian itu Elena menolong seorang Pangeran tampan dari kutukan yang mematikan.
Dan sekarang Elena dilindungi oleh Pangeran agar tidak ada yang menyakitinya lagi.
Disisi lain Pangeran berniat untuk menikahi Elena karena janji yang diucapkan dulu. TETAPI ELENA BELUM MENCINTAI PANGERAN.
Akankah Elena menerima Pangeran dihidupnya?
Ikuti terus cerita ini🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana jahat!
Kelas 12 MIPA-1
Alin segera menoleh ke arah Tirtan yang sedang masuk ke dalam kelas. Ia tampak memasang wajah muram, serta terlihat murung dan kesal.
Alin mengamatinya dengan penasaran. Seluruh gerak gerik Tirtan saat masuk ke dalam kelas sangat berbeda dengan biasanya. Ia terlihat ingin saja mengutuk seseorang.
"Eh lu ga papa kan?" tanya Adel dengan wajah yang penasaran.
Tirtan hanya diam beberapa saat sebelum akhirnya ia mulai menghela napasnya setelah mendengar ucapan Adel. Ia menggeleng kepala, dengan nada kesal dan murung ia menjawab pertanyaan Adel.
"Gua?? Lu masih peduli Ama gua?" sahut Tirtan sambil menghela napas panjang.
Seluruh murid yang berada di kelas hanya diam, beberapa kepala hanya menoleh kesana kemari. Tirtan sangat berbeda dengan biasanya, seolah semua masalah dunia saat ini sedang berada di pundaknya.
"Udah udah, gak usah peduli sama dia" ketus Aura tanpa menoleh ke arah Alin.
Tirtan meletakan tangan kanannya di atas meja, kepala masih tertunduk sehingga kepalanya sejajar dengan meja tersebut. Ia menyentuh meja dengan jari tangan dengan cukup keras yang membuat beberapa orang menjadi kaget dengan kerasnya suara tersebut.
"Dih kenapa sih Tirtan" cibir Keysa.
Suara cibiran Keysa membuat kepala Tirtan tersentak dan akhirnya kembali terangkat sehingga wajahnya kini sudah tidak tertunduk. Ia menoleh secara cepat ke arah Keysa yang tadi berbicara.
Ekspresi kesal kembali muncul di wajah Tirtan saat menoleh ke arah Keysa yang terasa menyebalkan. ia ingin sekali menarik kepala Keysa sehingga ia lebih dekat ke dirinya.
Namun, setelah beberapa saat akhirnya ia hanya bernafas panjang, menenangkan dirinya dengan kepala tertunduk. Ia sangat ingin menghancurkan kepala Keysa dengan tangan sendiri, namun hanya berusaha untuk tidak melakukan hal tersebut.
Kepala Tirtan kembali diletakan di atas meja sehingga kembali tertunduk dan kepala sejajar dengan meja.
...************...
Istana Penyihir Vane
Sasa sedang berdiri sembari menatap jendela,
Sebenarnya sasa bukan anak kandung penyihir Vane, vane hanya menyadari kesunyiannya sampai-sampai melakukan tindakan menyebalkan dengan melakukan penculikan anak yang dikira akan bisa meredakan kesepiannya tersebut dan rahasia ini tidak diketahui oleh Sasa sampai kini.
"Anakku, kamu jangan sedih, nanti akan ada saatnya Arthur jadi milikmu" kata Vane sembari menghampiri anak semata wayangnya.
Sasa menghela napas dan kemudian mengubah posisinya sehingga kini hanya menyandar ke jendela dengan kepala tertunduk sehingga pandangan mata hanya tertuju kepada tanah. Namun, ia segera kembali menoleh saat mendengar ucapan bundanya.
"Bunda selalu berkata seperti itu, kapan Sasa bisa menikah dengan Pangeran Arthur Bunda? Kapan?!" ketus Sasa menahan amarahnya itu.
Vane mendengar ucapan Sasa dengan wajah lembut. Ia kemudian berjalan dan duduk di sofa tepat di samping kursi tempat duduk Sasa. Ia menaruh tangan kanannya pada tangan Sasa.
"Kamu tau Sasa?" tanya Vane melirik ke arah Sasa.
"Arthur sudah terbebas dari kutukan Bunda" sambung Vane dengan wajah serius.
Ekspresi serius yang terpampang di wajah Vane membuat Sasa penasaran dengan ucapan bundanya tersebut. Ia hanya diam, menunggu tindakan selanjutnya dari bundanya.
"Kenapa Bunda membebaskannya??" tanya Sasa penasaran.
"Bunda tidak membebaskannya Sasa" jawab Vane menatap mata Sasa.
"Terus siapa yang membebaskan Pangeran?? Bunda bilang Arthur sudah disembunyikan di tempat yang sangat jauh tapi apa? Ternyata Arthur bisa bebas dari Kutukan Bunda" sambung Sasa merasa sangat kesal. Ia sangat penasaran ingin tahu alasan dibalik penyebab Arthur bisa bebas dari kutukan tersebut dengan mudah.
"Bunda juga tidak tahu, seharusnya Arthur memohon ampun pada Bunda untuk membebaskannya" jelas Vane panjang lebar.
"Sasa udah muak sama rencana Bunda yang terus gagal gagal dan gagal" ekspresi sinis terpampang jelas di wajah Sasa saat ia melirik ke arah Bundanya tersebut. Ia sudah cukup fed up dengan terus-menerus nya gagal rencana bundanya tersebut untuk merapatkan persatuan dirinya dan Arthur.
Sasa memalingkan wajahnya dari Vane.
"Kali ini ramuan yang diciptakan oleh Bunda pasti berhasil" ujar Vane dengan semangat.
Sasa tidak menjawab sekata pun.
"Kalau Sasa tidak mendukung bunda, lebih baik bunda mati saja." sambung Vane menyerah dengan perilaku Sasa.
Sasa menoleh ke arah Vane.
"Bukan gitu Bunda, emang Bunda punya rencana apa?? Sasa selalu dukung Bunda" sahut Sasa menyentuh tangan Bundanya dengan lembut.
"Rencana Bunda adalah memanah tangan kanan Arthur dengan anak panah yang sudah diolesi ramuan yang dibuat Bunda sendiri" jelas Vane menatap mata Sasa.
Sasa terlihat ragu dengan rencana penyihir vane.
Sasa berkata dengan nada yang ragu-ragu,
"B-Bunda yakin ramuan ini akan berhasil?"
"Yakin sayang"
Sasa terlihat takut dengan akibat apabila rencana tersebut gagal.
Sasa bertanya dengan nada yang ketakutan, "Apabila ramuan itu berhasil, apa yang akan terjadi terhadap Arthur?"
"Rencana Bunda adalah membuat ramuan khusus yang akan membuat tangan Arthur akan keluar nanah, terasa sakit, dan melepuh. Akibatnya, Arthur akan tertidur dalam waktu yang panjang."
"Bunda jahat! Hal tersebut adalah penyalahgunaan kekerasan fisik kepada Arthur. Sasa tidak akan mendukung tindakan tersebut." Sasa menatap tajam Vane.
"Sasa, dengarkan Bunda. Bunda jauh lebih pintar dari siapa pun. Bunda sendiri yang membuat ramuan itu dan sudah membuat obat untuk penyakit yang mungkin terjadi akibat itu. Itu akan bekerja sempurna!" ucap Vane dengan tegas.
"Tapi--,"
"Tidak perlu 'tapi', hanya diam saja dan ikuti saja apa yang Bunda katakan!" Vane terus menatap mata Sasa dalam rangka meyakinkan bahwa ia yakin dengan pernyataannya.
"Cepat atau lambat pasti Raja Erlangga datang untuk mengemis bantuan kita. Hanya Bunda yang memiliki obat untuk menyembuhkan penyakit maut yang sedang di alami oleh Arthur."
Sasa terdiam.
"Raja Erlangga akan datang untuk meminta obat itu. Dan untuk mendapatkannya, Arthur harus menikahi Sasa, anak yang paling cantik yang dimiliki oleh Bunda."
"Beneran Bunda??"
"Benar! Semua sudah direncanakan dengan sangat teliti sehingga kamu akan bisa menjadi pasangan dengan Arthur, pangeran yang kamu cintai."
Sasa dengan mata yang berbinar gembira memandang kepada Vane.
"Makasih ya bunda... aku sayang... banget sama bunda" Sasa sangat bersemangat untuk membuat semua perhitungannya menjadi kenyataan.
...*************...
Ruang UKS
Elena masih menatap luka Arthur.
"Udah tau lagi sakit malah di bela belain masuk sekolah" ucap Elena menoleh ke arah Arthur.
Elena menggeleng kepala dan kembali menatap luka Arthur. Ia menghela napas dan kembali untuk bersiap membuat kompres. Namun tiba-tiba saja Arthur menahan tangan Elena untuk menghentikan gerakan Elena.
"Ga usah, Lena." Ucap Arthur dengan senyum. "Nanti luka gua sembuh sendiri kok."
Elena menghela napas, kesal dengan tindakan Arthur.
"Arthur, gue udah pernah ngomong ini berkali-kali sebelumnya, biarin gue bantu." Ucap Elena dengan wajah kesal.
"Siapa sih yang udah nyerang lo waktu itu Arthur?!"
"Ga tau, kayaknya ada yang iri sama ketampanan gua ini" sahut Arthur sembari merapikan rambutnya itu.
"Hahaha, iya deh, lo tampan." Ucap Elena dengan nada sarkas.
Ia kemudian duduk di hadapan Arthur dengan menghela napas lagi.
"Sekarang lo diem dikit. Biar gue yang urusin luka di tangan Lo."
Kemudian ia membersihkan luka Arthur dengan kapas sehingga penyakit tidak mengakibatkan infeksi. Lalu ia ingin melap luka tersebut dengan disinfektan sebelum membalut.
"Tunggu sebentar" bisik Arthur. Ia sempat menyentak tangan yang hendak mengobati luka di jarinya saat bell masuk berbunyi.
Bell masuk terdengar menggelegar yang membangunkan semua murid di sekolah termasuk Elena membuatnya terdiam sejenak.
"Sialan.." bisiknya pelan.
Elena hanya bisa menghela nafas menerima kenyataan bahwa ia tak akan bisa meneruskan bantuan pertama pada luka Arthur untuk sementara waktu. Ia kembali menaruh alat-alatnya kedalam kotak, kemudian ia bangkit memasuki kelas.
"Gue masuk ke kelas dulu ya" ucap Elena menatap Arthur.
Arthur hanya bisa terdiam, melihat Elena yang sudah memulai melangkah untuk pergi. Namun beberapa saat kemudian, ia kembali memanggil Elena.
"Eh, Lena." panggilnya.
Elena merasakan suara panggilannya sehingga secara otomatis dirinya berpaling sehingga dapat menatap Arthur dengan jelas.
"Umm.."
Arthur mencari-cari kata yang tepat sebelum melanjutkan ucapannya.
"Makasih ya, atas bantuan pertama tadi.." katanya, namun ia kembali diam beberapa saat, sehingga keheningan menyelimuti kedua orang tersebut.
Elena hanya memberikan senyum tipis ke arah Arthur sebelum akhirnya mengangguk.
Lalu ia kembali memulai langkahnya sehingga beberapa saat kemudian, kehadirannya pun menghilang dari pandangan Arthur.
...*************...
POV Clovis
Kini Clovis berada di rumah Arthur, ia hanya bisa duduk sembari menunggu, berharap tidak ada hal buruk yang terjadi pada Arthur.
"Pangeran sakit apa yah? Padahal saya rajin sediain ramuan buat Pangeran setiap pagi" Ia kembali merutuki dirinya sendiri, tak henti-henti bertanya kenapa Arthur bisa berada dalam kondisi tersebut.
Ia menoleh ke arah jam dinding yang menunjukan pukul 14:41.
Perasaan Clovis sangat bimbang karena terus memikirkan keadaan Pangeran Arthur.
"Pangeran... saya takut dihukum karena gagal menjaga Pangeran" keluh Clovis dengan wajah yang sangat sedih.
Ia sudah beberapa menit kemudian tidak berkedip saat terus melirik pada jam, membuatnya sangat lelah sehingga kepala menunduk terlebih ia tidak tidur dengan nyenyak akibat khawatir dengan Arthur.
3 jam kemudian
Clovis langsung menarik nafas dengan keras dan beberapa kali sehingga dirinya kembali sadar. Ia terus mengusap-usap matanya sehingga kedua matanya kembali lebih jelas melihat keadaan sekitarnya. Ia merasakan beberapa detik kemudian namanya dipanggil oleh suara yang tidak asing sehingga dirinya kembali menoleh ke arah jam dinding dan ternyata Clovis sudah telat menjemput Arthur.
"Terlambat dua menit" gerutu Clovis, ia langsung bangkit dari sofa.
Lalu Clovis langsung pergi ke sekolah Arthur.
Ia berjalan dengan cepat sehingga segera tiba di depan kelas 12 MIPA-1 beberapa saat kemudian. Ia mengamati beberapa siswa-siswi yang keluar dari kelas tersebut sehingga berharap dapat melihat Elena di antara siswa-siswi tersebut.