Menikahi seorang duda beranak remaja di usia 19 tahun bukanlah impian Kinanti Larasati. Namun, jerat kemiskinan dan ijazah SMA yang tak bernilai memaksanya menerima perjodohan itu. Pria yang dinikahinya terpaut usia lebih tua darinya sebuah pernikahan yang awalnya ia kira didasari oleh ketulusan demi mengangkat derajat hidupnya.
Selama tiga tahun, Kinanti menelan semua kerumitan itu sendirian. Ia mengalah demi menjinakkan hati anak sambungnya, dan tetap bertahan meski mantan istri suaminya tiada henti mengusik ketenangan rumah tangga mereka.
Kehadiran putri kecilnya, Aira Shakila, sempat menjadi lentera yang menerangi hari-harinya. Namun, tepat saat Aira merayakan ulang tahunnya yang pertama, badai yang sesungguhnya baru saja dimulai. Sebuah rahasia besar yang selama ini disimpan rapat-rapat oleh suaminya mendadak terbongkar ke permukaan.
Ketika topeng sang suami terbuka dan dunia tempatnya bersandar mendadak runtuh, akankah Kinanti tetap bertahan demi masa depan putrinya? Ataukah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E.N Viana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Tamparan pada Ego Sang Tuan
Suara jeritan histeris Valerie di seberang telepon masih terngiang kasar di telinga Baskara, namun sambungan telepon itu telah ia matikan secara sepihak. Jemari tegap Baskara gemetar hebat saat menurunkan ponsel dari telinganya.
Darah di seluruh tubuh pria matang itu bergejolak hebat antara rasa cemas, kaget, dan amarah yang membakar dada. Mata elangnya membelalak sempurna, terkunci rapat pada sosok putri tunggalnya yang sedang duduk santai di sofa ruang keluarga.
Natasha menurunkan gelas jus jeruknya perlahan, meletakkannya di atas meja kaca tanpa menimbulkan bunyi. Wajah remajanya yang cantik tampak begitu tenang, bersih, dan sama sekali tidak memancarkan rasa bersalah.
Melihat ekspresi Baskara yang pucat pasi bercampur murka, Natasha menyunggingkan sebuah senyuman tipis sebuah senyuman sinis dan berani yang seketika membuat darah Baskara makin mendidih.
"Kenapa, Pa? Dia mengadu?" tanya Natasha ringan, suaranya jernih membelah keheningan ruangan.
"Natasha!" bentak Baskara, suaranya menggelegar memenuhi setiap sudut ruang keluarga yang luas itu. Pria itu melangkah lebar, menghampiri Natasha dengan urat-urat di lehernya yang menegang tebal. "Siapa yang mengajarimu bersikap kurang ajar dan kasar seperti itu, hah?! Kau menyerang orang di tempat umum! Kau menyiramnya dengan telur busuk! Di mana pikiran dan sopan santunmu?!"
Natasha tidak tersentak sedikit pun oleh bentakan papanya. Dia justru bersandarkan punggungnya di sofa, menatap Baskara lurus-lurus dengan tatapan menantang.
"Papa yang mengajariku. Siapa lagi?" jawab Natasha santai, nadanya begitu datar tanpa dosa. "Bukankah dulu Papa yang bilang padaku... kalau ada orang yang salah dan mengganggu hidup kita, jangan pernah takut untuk melawan? Kalau perlu, hajar saja dia sampai babak belur. Dan aku cuma melakukan apa yang Papa ajarkan."
Baskara kaku seketika. Lidahnya mendadak terkelu saat kata-katanya sendiri di masa lalu dipukulkan kembali tepat ke wajahnya oleh putrinya sendiri.
"Kau... kau memanfaatkan kata-kata Papa untuk membela tindakan kriminalmu?!" cerca Baskara dengan napas memburu, dadanya naik turun menahan amarah yang kian memuncak.
Natasha terkekeuh pelan sebuah kekehan dingin yang sarat akan sindiran tajam.
"Kriminal?" desis Natasha, matanya memicing menatap papanya. "Masih mending aku cuma menyiramnya dengan telur busuk, Pa. Untung saja mobil putih mewah yang Papa berikan untuk wanita itu dua minggu lalu tidak kubakar atau kuhancurkan di parkiran tadi pagi. Aku masih punya hati nurani, kan, Pa?"
"Natasha!" teriak Baskara, kepalan tangannya mengencang di samping tubuh.
Wajah Natasha dalam sekejap berubah dari santai menjadi datar, keras, dan sedingin es. Binar bermain-main di matanya menguap, berganti menjadi ancaman mutlak dari seorang keturunan Dirgantara.
"Aku sudah memperingatkan Papa jauh-jauh hari," ucap Natasha dengan nada suara rendah yang amat sangat berbahaya. "Aku tidak akan diam kalau sampai wanita ular itu mengacak-acak rumah ini dan mengganggu kehidupan keluarga kita. Dan ingat, Pa... ini bukan peringatan pertama. Ini baru permulaan."
Natasha berdiri dari sofa, menatap papanya dari atas dengan martabat yang tak tergoyahkan.
"Aku akan membuat wanita simpanan Papa itu trauma setengah mati, sampai dia menyesal seumur hidupnya karena pernah berurusan dengan yang namanya Natasha Dirgantara!" tegas Natasha penuh penekanan. "Papa tahu betul bagaimana aku kalau sudah membuat masalah. Dan catat ini baik-baik, Pa... aku tidak akan peduli sedikit pun pada sorotan media, cemoohan orang, atau nama baik keluarga ini jika itu demi melindungi Ibuku!"
Kinanti yang duduk di samping Natasha sejak tadi menyimak setiap kata yang keluar dari mulut anak tirinya. Di dalam hatinya, Kinanti merasa sangat tersentuh oleh keberanian luar biasa Natasha yang pasang badan membela dirinya. Namun, sebagai seorang ibu yang dewasa, Kinanti sadar betul bahwa dia tidak boleh membiarkan Natasha terseret lebih jauh ke dalam lumpur konflik orang dewasa yang kotor ini.
Kinanti perlahan memegang lengan Natasha, mengusapnya dengan kelembutan seorang ibu yang menenangkan.
"Natasha..." panggil Kinanti halus.
Natasha memalingkan wajahnya ke arah Kinanti, dan seketika tatapan matanya yang tajam melunak hangat. "Iya, Bu?"
"Masuklah ke dalam kamarmu, Nak," bisik Kinanti dengan senyuman lembut yang tulus. "Istirahatlah. Tinggalkan Ibu dan Papamu berdua di sini."
Natasha sempat menatap papanya dengan pandangan curiga dan tidak sudi, seolah khawatir Baskara akan melampiaskan amarahnya pada Kinanti. Namun, melihat sorot mata Kinanti yang begitu tenang dan penuh keyakinan, Natasha akhirnya mengangguk patuh.
"Baik, Bu. Kalau Papa berani bentak Ibu lagi, panggil aku ya," ucap Natasha tegas.
Gadis remaja itu membalikkan tubuhnya, melangkah anggun menuju tangga kayu dan menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai dua tanpa menoleh sedikit pun pada Baskara.
Suasana ruang keluarga seketika hening mencekik setelah kepergian Natasha. Hanya terdengar hembusan napas berat dari Baskara yang masih berdiri kaku di tengah ruangan.
Baskara memutarkan tubuhnya secara perlahan, mengarahkan pandangannya yang merah berliput amarah dan kekecewaan kepada Kinanti. Pria tegap itu melangkah mendekati sofa, menunjuk istrinya dengan telunjuk yang gemetar.
"Kau..." tuduh Baskara dengan suara serak yang tertahan di tenggorokan. "Apa kau yang mengajarinya untuk bersikap kurang ajar seperti itu, Kinanti?! Kau yang menyuruh Natasha datang ke apartemen Valerie pagi tadi, kan?! Kau menggunakan anakku untuk melakukan pekerjaan kotormu!"
Kinanti tidak tersentak oleh tuduhan murahan suaminya. Dia tidak meluapkan amarah, tidak berteriak, dan tidak membalas menunjuk.
Gadis desa itu justru menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang teramat sangat anggun, tenang, dan berkelas sebuah senyuman yang membuat tuduhan Baskara mendadak terasa begitu konyol dan kekanak-kanakan.
"Apakah aku pernah bersikap kasar atau kurang ajar seperti itu selama kita bersama, Mas?" tanya Kinanti dengan suara yang teramat halus, jernih, dan tenang bagai air telaga yang membeku.
Baskara terpaku kaku. Kata-kata Kinanti menggantung di udara.
"Apakah aku pernah berkata kasar padamu, menaikkan nada suaraku, atau mengajarimu hal-hal jahat sampai saat ini?" lanjut Kinanti pelan, menatap lurus tepat ke dalam manik mata suaminya. "Tidak pernah bukan? Apalagi sampai menyuruh Natasha mendatangi wanita itu... Kau tahu betul karakter anakmu, Mas. Dia melakukan itu atas kehendak dan amarahnya sendiri, dan aku sama sekali tidak pernah menyuruhnya."
Baskara meremas jarinya sendiri, rahangnya mengatup rapat. Rasa bersalah dan rasa malu mencoba menerobos dinding egonya, namun amarah akibat terpojok membuatnya enggan mengakui kebenaran ucapan istrinya.
Kinanti perlahan mengusap perut buncitnya yang tersanga nyaman di balik terusan hamilnya. Dia menatap Baskara dengan tatapan mata yang begitu datar sebuah tatapan yang tidak lagi menyimpan dendam, rasa cemburu, atau bahkan rasa cinta sedikit pun.
"Entahlah, Mas... aku tidak tahu sudah sejauh mana hubunganmu dengan wanita itu," ucap Kinanti lirih, kata-katanya meluncur begitu ringan tanpa beban emosi. "Apakah kau sudah tidur dengannya, atau memberikan segalanya padanya... aku pun sudah tidak peduli lagi."
Deg!
Jantung Baskara berdesir hebat. Kata 'tidak peduli' dari bibir istrinya terasa jauh lebih menyakitkan daripada pukulan fisik.
"Tapi yang aku tahu dan sangat terlihat jelas di mata semua orang..." lanjut Kinanti, menatap suaminya dengan rasa iba yang amat dingin, "kau terlalu membelanya, Mas. Kau lebih memihak perempuan itu daripada anak kandungmu sendiri. Seistimewa itukah wanita itu di matamu sampai kau tega membentak anakmu yang sedang mempertahankan kehormatan keluarganya?"
Baskara menahan napasnya, dadanya bergemuruh hebat. "Kinanti... aku tidak memihak siapa-siapa! Aku hanya tidak ingin rumah ini menjadi liar dan—"
"Setidaknya bersabarlah sedikit kalau kau ingin hidup dengan wanita itu, Mas," pangkas Kinanti tenang, memotong kalimat penyangkalan Baskara dengan nada suara yang begitu pasrah dan damai.
Baskara membeku sepenuhnya. "Apa maksudmu...?"
Kinanti menegakkan posisi duduknya, menatap lurus tepat ke dalam mata Baskara dengan keheningan yang mematikan.
"Tunggulah sampai anak di dalam kandunganku ini lahir ke dunia," bisik Kinanti dengan senyuman dingin yang teramat indah. "Setelah dia lahir... aku ikhlas, Mas. Aku ikhlas melepasmu jika itu memang membuatmu bahagia bersamanya."
Brak!
Pernyataan "keikhlasan" dari Kinanti menghantam tepat di pusat kesadaran Baskara bagai gumpalan es yang menghancurkan seluruh egonya.
Darah di tubuh Baskara seketika terasa berhenti mengalir. Pria berkuasa yang selalu ingin memegang kendali atas segalanya itu kini berdiri terpaku bagai patung di tengah ruangan. Wajah tegasnya pucat pasi, dan sepasang matanya bergetar hebat dalam guncangan rasa terkejut dan ketakutan yang teramat sangat besar.
Baskara siap menghadapi amarah Kinanti. Dia siap jika Kinanti menangis histeris, menamparnya, atau menuntut penjelasan darinya. Kerana jika Kinanti marah, itu artinya Kinanti masih memiliki perasaan padanya.
Namun... keikhlasan yang diucapkan Kinanti dengan wajah tenang tanpa beban itu adalah bukti mutlak bahwa wanita itu telah mematikan hatinya seutuhnya untuk Baskara. Kinanti tidak sedang merajuk,dia sedang menghitung mundur hari menuju perpisahan mereka.
"Kinanti..." suara Baskara terdengar serak, bergetar memilukan dari tenggorokannya. Pria itu melangkah satu titik mendekat, mengulurkan tangannya yang gemetar hendak meraih jemari Kinanti. "Jangan bicara seperti itu... Aku tidak pernah bilang ingin berpisah darimu... Kau istriku!"
Kinanti secara perlahan menarik tangannya mundur, memposisikan jemarinya melingkar hangat di atas perut buncitnya sendiri menolak sentuhan Baskara dengan cara paling halus namun tak tersentuh.
"Kau yang menciptakan jalan ini sendiri, Mas," sahut Kinanti lembut, menyunggingkan senyum tipis yang menutup seluruh ruang negosiasi. "Istirahatlah. Wajahmu tampak sangat lelah karena sibuk membela wanita itu."
Kinanti perlahan berdiri dari sofa dengan anggun, membelakangi Baskara yang berdiri lemas, lalu melangkah tenang menuju kamarnya.
Baskara tertinggal sendirian di tengah ruang keluarga yang megah itu. Pria tuan pemaksa itu mencengkeram dadanya sendiri yang terasa amat sangat sesak dan sakit. Di dalam rumah mewahnya yang luas, di antara harta dan kekuasaannya yang melimpah, Baskara Dirgantara malam ini menyadari kenyataan yang paling mengerikan.
Dia telah memenangkan perdebatan dengan alasannya, namun dia telah kehilangan putri kandungnya dan membunuh cinta istrinya untuk selamanya. Dan di belahan kota lain, kemurkaan Valerie yang dipermalukan siap meledakkan skandal baru yang akan menyeret nama besar keluarga Dirgantara ke jurang kehancuran.
🤣🤣🤣