Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri Gemuk Yang Selalu Di Remehkan

Istri Gemuk Yang Selalu Di Remehkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: yani 11

Sejak tubuhnya menggemuk, Laila tak pernah lagi dihargai oleh suaminya. Ia terus dihina karena penampilannya, padahal sang suami sendiri hanya mampu memberi nafkah seadanya. Demi membeli satu botol skincare impiannya, Laila diam-diam menyisihkan sisa uang belanja setiap hari. Namun, ketika sebuah kesempatan mengubah hidupnya, pria yang dulu merendahkannya justru mulai menyesal. Akankah Laila memaafkan, atau memilih meninggalkan semua luka yang pernah ia terima?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.27

Raka berdiri tepat di depan Adrian. Tatapannya penuh ejekan, seolah kemenangan sudah berada sepenuhnya di tangannya.

"Lihat dirimu." Raka menyeringai. Wajahnya dipenuhi kemenangan dan penghinaan. "Kau masih anak miskin yang sama."

Adrian perlahan mengangkat wajahnya. Meski darah mengalir dari pelipisnya, sorot matanya sama sekali tidak menunjukkan rasa takut.

"Tidak." Adrian menjawab pelan, tetapi suaranya terdengar tegas. Wajahnya dipenuhi keteguhan. "Aku memang pernah miskin."

Adrian perlahan berdiri. Tubuhnya sempat goyah, tetapi ia segera menegakkan tubuhnya kembali. Tatapannya tidak pernah lepas dari Raka.

"Tapi aku tidak pernah merasa rendah hanya karena tidak punya harta." lanjut Adrian dengan suara mantap. Wajahnya menunjukkan harga diri yang tidak bisa dihancurkan oleh hinaan siapa pun.

Raka terdiam. Rahangnya mengeras, sementara kedua tangannya mengepal kuat karena ucapan Adrian tepat mengenai harga dirinya.

Adrian mengusap darah yang mengalir di pelipisnya. Ia kemudian menatap darah yang menempel di telapak tangannya sebelum kembali menatap Raka.

"Yang membuat seseorang benar-benar miskin adalah ketika dia kehilangan hati nuraninya." lanjut Adrian tegas. Wajahnya dipenuhi keberanian dan keyakinan.

Wajah Raka berubah merah karena marah. Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan keras.

"Diam!" bentaknya. Matanya melotot penuh amarah, seolah ia tidak sanggup lagi mendengar kenyataan yang diucapkan Adrian.

Raka kembali menyerang. Tinju kanannya meluncur deras ke arah wajah Adrian. Namun kali ini Adrian tidak menghindar.

Dengan gerakan cepat, Adrian menangkap tangan Raka. Ia memutar pergelangan tangan pria itu hingga Raka kehilangan keseimbangan, kemudian membanting tubuhnya ke lantai.

Bruk!

Raka mengerang kesakitan. Wajahnya meringis, sementara tangannya berusaha menopang tubuhnya yang terjatuh.

Nathan segera memanfaatkan kesempatan tersebut. Ia menarik lengan Rani dan membawanya menjauh dari pertarungan.

"Rani, cepat!" seru Nathan. Wajahnya dipenuhi kewaspadaan. Tatapannya terus mengawasi Raka untuk memastikan pria itu tidak kembali menyerang.

"Tapi Adrian!" balas Rani panik. Wajahnya dipenuhi kecemasan. Ia berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Nathan sambil terus menoleh ke arah Adrian.

"Dia akan menyusul!" jawab Nathan tegas. Wajahnya menunjukkan keyakinan, meskipun kekhawatiran masih terlihat jelas di matanya.

Rani tetap menoleh. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya ketika melihat Adrian masih berdiri sendirian menghadapi Raka.

"Adrian!" teriak Rani. Suaranya bergetar karena takut sesuatu yang buruk terjadi pada pria yang dicintainya.

Adrian yang masih berhadapan dengan Raka segera menatap ke arahnya. Sorot matanya melembut ketika melihat Rani menangis.

"Pergilah!" teriak Adrian. Wajahnya dipenuhi tekad. "Aku akan menyusul!"

Rani menggeleng kuat. Air matanya akhirnya jatuh membasahi pipinya.

"Aku tidak mau meninggalkanmu!" jawabnya sambil menangis. Wajahnya dipenuhi ketakutan. Tangannya terulur ke arah Adrian seolah ingin kembali menghampirinya.

Adrian tersenyum tipis. Meski tubuhnya terluka dan napasnya mulai berat, ia berusaha menunjukkan senyum yang menenangkan.

"Kali ini percaya padaku." ucapnya lembut. Wajahnya dipenuhi kasih sayang. Tatapannya seolah ingin meyakinkan Rani bahwa ia tidak akan membiarkan dirinya terluka lebih jauh.

Rani akhirnya ditarik Nathan keluar dari ruangan. Namun, ia terus menoleh ke belakang dengan air mata yang tidak berhenti mengalir.

Sementara itu, Raka kembali bangkit. Ia memegangi bahunya yang terasa sakit, lalu menatap Adrian dengan kebencian yang semakin membara.

"Kau pikir ini selesai?" tanyanya terengah-engah. Wajahnya dipenuhi kebencian. Napasnya kasar dan tubuhnya terlihat mulai kelelahan.

Adrian menatapnya tajam. Wajahnya tetap tenang meskipun tubuhnya dipenuhi luka.

"Sudah selesai." jawab Adrian dingin. Wajahnya dipenuhi ketegasan. "Dan setelah ini, kau akan mempertanggungjawabkan semuanya."

Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara sirene yang semakin mendekat.

Ngiung... ngiiung...

Raka langsung membeku. Wajahnya yang semula dipenuhi amarah berubah menjadi pucat.

Nathan ternyata sudah menghubungi pihak berwenang sebelum mereka memasuki bangunan tersebut. Semua rencana Raka telah berakhir.

Raka menatap Adrian dengan penuh kebencian. Matanya berkilat penuh dendam.

"Kau..." gumamnya geram. Bibirnya bergetar menahan amarah dan rasa tidak terima.

Adrian hanya berdiri tegak meskipun tubuhnya terluka. Ia menatap Raka tanpa sedikit pun rasa takut.

"Aku tidak akan menjadi seperti dirimu." ucap Adrian pelan. Wajahnya dipenuhi keteguhan. "Aku memilih bangkit. Kau memilih tenggelam dalam kebencianmu sendiri."

Raka terdiam. Untuk sesaat, ia tidak mampu membalas perkataan Adrian.

Tak lama kemudian, beberapa petugas datang dan langsung membekuk Raka. Pria itu meronta dan berteriak, tetapi semua usahanya sia-sia.

"Jangan sentuh aku!" teriak Raka. Wajahnya dipenuhi kepanikan dan kemarahan.

Tangannya akhirnya diborgol. Raka hanya bisa menatap Adrian dengan tatapan penuh dendam sebelum dibawa pergi.

Adrian baru saja hendak melangkah ketika tubuhnya tiba-tiba kehilangan keseimbangan.

Pandangan matanya berkunang-kunang. Kakinya terasa lemas dan tubuhnya hampir ambruk ke lantai.

"Adrian!" teriak Rani.

Rani berlari menghampirinya. Wajahnya dipenuhi kepanikan. Ia segera menangkap tubuh Adrian sebelum pria itu jatuh sepenuhnya.

"Adrian, lihat aku!" seru Rani panik. Wajahnya dipenuhi air mata. Tangannya gemetar saat memegang kedua pipi Adrian.

Adrian membuka matanya perlahan. Pandangannya masih samar, tetapi wajah Rani perlahan terlihat jelas di hadapannya.

"Aku bilang... aku akan menyelamatkanmu." gumamnya lemah. Wajahnya dipenuhi kelegaan. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum kecil.

Rani menangis sambil menggenggam tangannya erat. Jari-jarinya bergetar karena takut kehilangan Adrian.

"Kenapa kau selalu seperti ini?" tanyanya lirih. Wajahnya dipenuhi kesedihan. Air matanya terus mengalir tanpa mampu ia tahan.

Adrian tersenyum lemah. Tatapannya berubah lembut saat memandang Rani.

"Mungkin karena..." jawabnya pelan. Wajahnya dipenuhi haru. Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan perkataannya.

"Aku sudah pernah kehilanganmu sekali." lanjut Adrian lirih. Wajahnya menunjukkan kesedihan yang selama ini ia pendam seorang diri.

Rani terdiam. Napasnya tertahan. Entah mengapa, kata-kata Adrian terasa begitu familiar di telinganya.

"Dan aku tidak ingin kehilanganmu untuk kedua kalinya." lanjut Adrian lirih. Wajahnya dipenuhi ketulusan. Tatapannya seolah menyimpan perasaan yang telah ia pendam selama bertahun-tahun.

Rani menatapnya dengan air mata yang terus mengalir. Dadanya terasa sesak dan jantungnya berdetak semakin cepat.

Tiba-tiba sebuah ingatan lama muncul dalam benaknya.

Seorang anak laki-laki kurus. Seragam sekolah yang lusuh. Sepasang sepatu yang sudah usang. Wajah kecil yang selalu murung karena sering dijauhi dan diremehkan anak-anak lain. Kemudian muncul seorang gadis kecil yang berdiri di hadapannya sambil tersenyum hangat.

"Aku akan menjadi temanmu." Suara gadis kecil itu terdengar jelas dalam ingatan Rani. Wajahnya dipenuhi ketulusan dan keceriaan.

Mata Rani melebar. Napasnya tercekat ketika potongan-potongan kenangan yang selama ini terkubur perlahan tersusun kembali.

Anak laki-laki itu...Senyum kecilnya...Tatapan sedihnya...Dan janji masa kecil mereka.

"Adrian..." bisiknya. Wajah Rani dipenuhi keterkejutan dan haru.

Adrian menatapnya dengan bingung. Ia mencoba mengangkat tubuhnya sedikit meskipun masih lemah.

"Kenapa?" tanyanya lirih. Wajahnya dipenuhi kebingungan. Matanya memperhatikan perubahan ekspresi Rani dengan penuh tanda tanya.

Rani menggenggam tangannya lebih erat. Air matanya semakin deras, tetapi kali ini bukan hanya karena kesedihan.

"Aku ingat..." ucap Rani terbata. Wajahnya dipenuhi keterkejutan dan haru. Suaranya bergetar saat akhirnya menyadari kebenaran yang selama ini tersembunyi.

Rani menatap tepat ke mata Adrian.

"Aku akhirnya ingat siapa kamu." lanjutnya lirih. Wajahnya dipenuhi kebahagiaan yang bercampur tangis. "Kamu adalah anak laki-laki yang dulu selalu sendirian. Anak laki-laki yang pernah aku janjikan akan menjadi temanku."

Adrian membeku. Matanya perlahan membesar. Seolah dunia berhenti bergerak selama beberapa detik.

"Rani..." gumamnya. Wajahnya dipenuhi haru. Senyum kecil perlahan muncul di bibirnya, sementara matanya mulai berkaca-kaca.

Rani mengangguk sambil menangis.

Tangannya tidak pernah melepaskan tangan Adrian.

"Aku minta maaf..." bisiknya. Wajahnya dipenuhi penyesalan. "Aku sudah melupakanmu begitu lama."

Adrian menggeleng perlahan. Tatapannya penuh kelembutan.

"Jangan minta maaf." jawabnya lembut. Wajahnya dipenuhi kasih sayang. "Yang penting sekarang... kamu sudah mengingatku."

Rani tersenyum di tengah tangisnya. Untuk pertama kalinya, rasa kehilangan yang selama ini tidak ia pahami terasa menemukan jawabannya.

Adrian menatap Rani dengan mata berkaca-kaca. Semua penantian, luka, dan kesepian yang ia rasakan selama bertahun-tahun seakan terbayar pada saat itu.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, dua orang yang pernah terpisah oleh waktu akhirnya kembali menemukan satu sama lain.

Bukan sebagai dua orang asing. Bukan sebagai dua orang yang kebetulan bertemu.

Melainkan sebagai dua hati yang sejak kecil ternyata tidak pernah benar-benar kehilangan jalan untuk kembali.

1
sunaryati jarum
Makin penasaran siapa Rani sebenarnya,apa anak orang kaya yang warisannya diperebutkan orang tidak berhak
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
sunaryati jarum
Rani.anak.orang kaya yang disingkirkan atau ada orang yang suka pada Adrian
sunaryati jarum
Kamu tidak tertarik wanita karena mengharapkan Rania,Nak Adrian
sunaryati jarum
Balas budi atau ada Rasa Nak Adrian
sunaryati jarum
Tekad yang bagus Rani
sunaryati jarum
Yang menolong ternyata teman.kecilmu
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu...
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
Feni sang penulis novel
wow Saya suka dengan ceritanya Saya suka dengan alur bagian hemat harga tertawa sinis sudut bibirnya berangkat mengejek semangat terus ya kak bikin karyanya Saya suka banget dengan alur ceritanya semuanya Saya suka oh iya kak bolehkah saya mempromokan kenapa baru saya novel saya ada 3 sih tapi kalau kakak suka semuanya tolong berikan komentar dan bintang 5-nya ya kak semangat terus terima kasih
Fransiska aghata
oke kak, makasih udah mampir😁
Ayu Ara12
next dong kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!