Indonesia
NovelToon NovelToon
Bertukar Takdir Dengan Kembaranku

Bertukar Takdir Dengan Kembaranku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: raya Abc

Emma dan Ella Taylor, sepasang gadis kembar, terpisah sejak kecil akibat perceraian orang tua. Emma tumbuh di New York menjadi wanita pemarah dan sulit mengendalikan emosi, sementara Ella yang dibesarkan di Inggris justru bersifat pendiam, penakut, dan terbiasa mengalah.

Setelah dua puluh tahun, mereka bertemu secara tak terduga di atas kapal pesiar mewah.
Saling bercerita tentang beban hidup masing-masing, keduanya mengambil keputusan nekat untuk bertukar identitas dan menjalani hidup satu sama lain.

Akankah pertukaran ini menjadi jalan keluar, atau justru menjerumuskan mereka ke dalam masalah yang jauh lebih rumit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raya Abc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cemburu Yang Disangkal

Pagi itu, Emma sudah duduk di meja makan.

Secangkir kopi berada di hadapannya, tetapi sejak tadi tidak banyak disentuh.

Pikirannya hanya tertuju pada satu hal.

Ella datang hari ini.

Bersama Roman.

Dan untuk pertama kalinya sejak pertukaran mereka dimulai, Emma merasa keberadaan saudari kembarnya di London benar-benar bisa mengacaukan semuanya.

Ia bahkan belum menemukan cara paling aman agar mereka bisa bertemu tanpa diketahui siapa pun.

Lamunannya terputus ketika suara langkah terdengar dari tangga.

Ralph muncul beberapa saat kemudian dengan pakaian kerja yang rapi.

Emma melirik sekilas.

Pria itu langsung duduk di hadapannya.

"Selamat pagi."

"Pagi."

Ralph memperhatikannya.

Emma terlihat berbeda pagi ini.

Lebih diam dari biasanya.

"Kau tidak tidur nyenyak?"

Emma mengaduk kopinya.

"Aku tidur nyenyak."

"Kelihatannya tidak."

"Aku baik-baik saja."

Ralph mengangkat alis.

Jawaban pendek.

Lagi.

Ia mulai terbiasa.

"Semalam kau menungguku?"

Emma berhenti mengaduk.

"Tentu saja tidak."

Ralph mengambil kopinya.

"Bagus."

Emma meliriknya.

"Kau pulang jam berapa?"

Ralph menjawab santai.

"Cukup malam."

"Ke mana?"

Pertanyaan itu keluar terlalu cepat.

Ralph menatapnya.

Emma segera menyadari kesalahannya.

Ia pura-pura kembali memperhatikan cangkir.

Ralph justru tersenyum kecil.

"Kenapa ingin tahu apa yang kulakukan?"

"Aku hanya bertanya."

"Aku pergi ke rumah Lauren."

Tangan Emma berhenti.

Ia perlahan mengangkat wajah.

"Rumah Lauren?"

"Ya."

"Kau pergi ke sana?"

Ralph mengangguk.

"Acara makan malam."

Wajah Emma langsung berubah.

Kesal.

Bukan karena Lauren.

Melainkan karena ia merasa Ralph terlalu mudah kembali kepada keluarga mantan kekasihnya.

Pria itu adalah suami Ella.

Seharusnya ia tidak terus-menerus berada di sekitar keluarga wanita yang pernah dicintainya.

"Untuk apa?"

Ralph menatapnya.

"Karena aku diundang."

"Dan kau datang."

"Ya."

Emma mendengus.

"Dasar padahal kau sudah menikah."

Ralph terdiam.

Kemudian sudut bibirnya naik.

"Kau cemburu?"

Emma langsung menatap tajam.

"Tidak."

"Kelihatannya begitu."

"Aku hanya tidak suka."

"Apa bedanya?"

Emma terdiam.

Ia tidak mungkin mengatakan bahwa dirinya kesal karena Ralph adalah suami saudari kembarnya.

Apalagi ada bagian kecil dalam dirinya yang memang tidak nyaman membayangkan Ralph masih begitu dekat dengan wanita lain.

Bahkan jika wanita itu sudah meninggal.

"Itu tidak penting."

Emma hendak berdiri.

Namun Ralph lebih cepat menyadari sesuatu.

Ia bangkit dari kursinya dan berjalan mengitari meja.

Emma belum sempat menjauh ketika Ralph berhenti tepat di belakang kursinya.

"Aku minta maaf."

Emma membeku.

Ralph sedikit menunduk.

Jarak mereka menjadi sangat dekat.

Emma dapat merasakan kehadirannya di belakang tubuhnya.

Aroma sabun yang baru digunakan Ralph bercampur dengan aroma parfum yang biasa dikenakannya.

Emma menelan ludah.

"Untuk apa?"

"Karena membuatmu kesal."

Emma tidak menjawab.

Ralph tersenyum kecil.

"Aku hanya datang untuk menghormati Lauren."

"Aku tahu."

"Tapi kau tetap marah."

"Aku tidak marah."

"Baik."

Ralph sengaja mengatakannya dengan nada seolah tidak percaya.

Emma semakin kesal.

Ia segera berdiri.

"Aku sudah kenyang."

Namun gerakannya terlalu cepat.

Begitu berdiri, jarak mereka justru menjadi semakin dekat.

Ralph spontan menahan tubuhnya agar Emma tidak kehilangan keseimbangan.

Keduanya terdiam.

Emma membeku.

Ralph menunduk menatapnya.

Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara.

"Emma..."

"Sudah."

Emma buru-buru menjawab.

"Kau dimaafkan."

Ralph tersenyum.

"Semudah itu?"

"Iya."

Emma segera menjauh.

Namun wajahnya sudah terlanjur memerah.

Ralph hanya memperhatikannya pergi.

Satu hal semakin jelas baginya.

Emma boleh mengatakan dirinya tidak cemburu sebanyak apa pun.

Namun ekspresi wajahnya selalu mengatakan hal yang berbeda.

Ralph kembali duduk di kursinya.

Ia merapikan jasnya yang sempat sedikit bergeser, lalu mengambil cangkir kopi dengan tenang.

Senyum tipis masih terlihat di wajahnya.

Seolah kejadian beberapa menit lalu sama sekali tidak mengganggunya.

Ia kembali melanjutkan sarapan.

Sementara itu, Emma sudah lebih dulu meninggalkan ruang makan.

Langkahnya cepat menuju kamar.

Begitu pintu tertutup, Emma bersandar di sana dan mengembuskan napas panjang.

"Menyebalkan."

Ia berjalan menuju cermin.

Wajahnya masih terlihat sedikit merah.

Yang membuatnya kesal bukan hanya sikap Ralph.

Melainkan dirinya sendiri.

Kenapa jantungnya selalu berdebar setiap pria itu mendekat?

Kenapa beberapa godaan kecil dari Ralph bisa membuat pikirannya kacau?

Emma menatap pantulan dirinya.

"Sadarlah."

Ia menepuk pipinya pelan.

"Kau hanya sementara di sini."

Tangannya kembali turun.

Ia mengingat alasan dirinya berada di rumah ini.

Pertukaran kehidupan.

Hanya sementara.

Suatu hari nanti Ella akan kembali ke tempatnya.

Dan Emma juga harus kembali ke kehidupannya sendiri.

Tidak boleh ada perasaan yang ikut terbawa.

"Ini bukan hidupmu."

Emma berbalik meninggalkan cermin.

Namun baru beberapa langkah, wajah Ralph kembali muncul dalam pikirannya.

Tatapannya.

Senyumnya.

Cara pria itu berdiri begitu dekat tadi.

Emma mengerutkan kening.

"Kenapa aku malah memikirkannya lagi?"

Ia mengambil bantal lalu melemparkannya ke sofa.

Semakin ia berusaha mengabaikan perasaan itu...

semakin sulit ia menghilangkannya.

 

Pukul dua dini hari di New York.

Kamar Ella masih diterangi lampu.

Beberapa pakaian telah tersusun di atas tempat tidur, sementara koper terbuka di lantai.

Ella masih belum tidur.

Ia memeriksa kembali barang-barangnya untuk ketiga kalinya.

Paspor.

Dokumen pekerjaan.

Pakaian.

Laptop.

Charger.

Semuanya sudah masuk.

Namun ia tetap merasa ada sesuatu yang kurang.

Ella duduk di tepi tempat tidur.

Tatapannya jatuh pada koper.

Besok ia akan kembali ke London.

Tempat yang seharusnya menjadi rumahnya.

Tempat yang selama ini ia kenal sejak kecil.

Namun anehnya...

justru New York yang belakangan terasa lebih nyaman.

Di sini ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa harus terus memikirkan kehidupan bangsawan, rumah besar, aturan keluarga, dan segala sesuatu yang selama ini membuatnya merasa tertekan.

Ella menghela napas.

"Padahal aku akan kembali ke rumah."

Kalimat itu terdengar aneh bahkan bagi dirinya sendiri.

Ia kemudian teringat sesuatu.

Roman.

Mereka akan pergi bersama.

Selama satu minggu.

Ella menunduk.

Senyum kecil muncul tanpa sadar.

Ia masih mengingat kejadian di kantin.

Lantai licin.

Tubuhnya hampir terjatuh.

Kemudian tangan Roman yang sigap menangkapnya.

Dan pelukan singkat itu.

Wajah Ella langsung memanas.

"Astaga..."

Ia menutup wajah dengan kedua tangan.

Kenapa ia masih mengingatnya?

Roman selama ini adalah rivalnya.

Pria yang selalu membuat saudari kembarnya kesal.

Pria yang tidak pernah mau mengalah.

Namun belakangan...

setiap kali pria itu mendekat, Ella justru menjadi gugup.

Bahkan sekarang hanya dengan memikirkan perjalanan mereka bersama, ia sudah salah tingkah sendiri.

"Ini hanya perjalanan pekerjaan."

Ella mencoba meyakinkan dirinya.

"Satu minggu."

Ia mengangguk pelan.

"Tidak ada apa-apa."

Namun senyum kecil kembali muncul.

Ia segera berdiri dan memasukkan beberapa barang terakhir ke dalam koper.

Kemudian menutupnya.

Selesai.

Ella berdiri di tengah kamar dan menatap koper tersebut.

Besok ia akan kembali ke London.

Kembali ke tempat yang selama ini ia tinggalkan.

Dan untuk pertama kalinya...

ia tidak tahu apakah ia lebih gugup menghadapi London...

atau menghadapi Roman yang akan berada di sampingnya sepanjang perjalanan.

1
RAYA
🤭🤭🤭
putmelyana
awwww gak suka bgt baca chapter yg ini😍
RAYA
makasi🤗🤗
putmelyana
semangat thor
RAYA
butuh kipas kayaknya🤭🤭
putmelyana
kiw kiw ada yg panas niyeeee🤣
RAYA
terima kasih kak🤗🤗 tungguin next nya ya
putmelyana
next Thor ceritanya bagus bgt 😍
putmelyana
next Thor ceritanya
RAYA: ditunggu ya🤗🤗
total 1 replies
putmelyana
next Thor ceritanya makin seruuuuu
putmelyana
dihhh gak tau mau
putmelyana
woilah cerita paling aku sukai update trus thor😍
RAYA: makasi kk🤗🤗
total 1 replies
RAYA
🤭🤭🤭
Sriza Juniarti
jadi deg deg an....
Sriza Juniarti
lanjut kk..seruuu
RAYA: ditunggu ya kak 🤗🤗
total 1 replies
RAYA
ditunggu ya kak makasi udah setia membaca cerita nya😍😍
putmelyana
update setiap hari Thor
RAYA
pasti kk terima kasih sudah terus ngikutin🙏🙏
putmelyana
up setiap hari Thor
Sriza Juniarti
lanjut kk..terus berkaeya..bagus banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!