Indonesia
NovelToon NovelToon
Janda Perawan Vs Dokter Tampan

Janda Perawan Vs Dokter Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dokter / Janda
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Dua bulan setelah menikah dengan Benni Ardiansyah, kebahagiaan Winarsih Larasati berubah menjadi penderitaan. Saat Benni bekerja sebagai TKI di Jepang, ibu mertuanya menguasai seluruh uang kiriman dan terus menyiksa hidup Winarsih.

Fitnah demi fitnah membuat Benni percaya bahwa istrinya telah berselingkuh, hingga tanpa mencari kebenaran ia memilih menceraikannya.

Kini Winarsih harus berjuang sendiri dengan bekerja mengantar roti. Di tengah perjuangannya, takdir mempertemukannya dengan seorang dokter tampan yang baru ditugaskan dari kota ke desa Sekar Sari.

Akankah pertemuan itu menjadi awal kebahagiaan baru? Ataukah luka masa lalu masih membayangi kehidupan Winarsih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32 : Perdebatan Arga dan Clarissa

Setelah makan malam selesai, para pelayan mulai membereskan meja. Pak Arman dan Ibu Chintya kemudian kembali ke ruang keluarga, sementara Arga hendak naik ke lantai atas. Namun baru beberapa langkah ia berjalan, suara Clarissa terdengar dari belakang.

"Arga."

Arga berhenti dan menoleh. "Ya?"

"Bisa kita bicara sebentar?"

Arga terdiam beberapa saat, kemudian mengangguk. "Di mana?"

"Taman belakang."

Arga mengikuti Clarissa menuju taman belakang rumah. Udara malam terasa sejuk. Lampu-lampu taman menerangi jalan setapak dan beberapa tanaman yang tertata rapi.

Begitu mereka berhenti di dekat gazebo, Clarissa langsung membalikkan tubuh menghadap Arga.

"Aku ingin membicarakan hubungan kita."

Arga menghela napas pelan. "Clarissa, bukankah kita sudah membicarakan ini?"

"Aku masih ingin memperbaikinya."

"Sudah tidak ada yang perlu diperbaiki." Jawaban Arga terdengar tenang, tetapi tegas.

Clarissa menatapnya dengan kecewa. "Kenapa kamu begitu keras?"

"Karena keputusan ini sudah aku pikirkan baik-baik."

"Aku masih mencintaimu, Arga."

Arga terdiam.

Clarissa melangkah mendekat. "Kita sudah bersama hampir satu tahun lebih. Apa kamu bisa melupakan semuanya begitu saja?"

"Aku tidak melupakan semuanya."

"Lalu kenapa kamu tidak memberiku kesempatan?"

"Karena aku memang tidak ingin kembali."

Mata Clarissa mulai berkaca-kaca, tetapi ia segera menahannya. "Karena wanita itu?"

Arga mengerutkan kening. "Siapa?"

"Winarsih."

Nama itu membuat ekspresi Arga berubah. "Jangan membawa dia ke dalam masalah kita."

"Kenapa tidak?" suara Clarissa meninggi. "Bukankah sekarang dia yang ada di pikiranmu?"

Arga menatapnya tajam. "Itu bukan urusanmu."

"Jadi benar?"

Arga menghela napas. "Aku tidak mengatakan aku sudah menjalin hubungan dengan Winarsih."

"Belum," balas Clarissa cepat. "Tapi kamu jelas menyukainya."

Arga tidak menjawab.

Clarissa mengepalkan tangan. "Kalau begitu, aku masih punya kesempatan."

"Tidak." Jawaban itu keluar begitu cepat hingga membuat Clarissa terdiam. "Aku tidak ingin kembali padamu, Clarissa."

"Kenapa?"

"Karena saat ini aku ingin fokus pada pekerjaanku. Aku juga belum ingin berkomitmen dengan siapa pun."

Clarissa menatapnya tidak percaya. "Jadi kamu akan menolak siapa pun yang mendekatimu?"

"Untuk sekarang, iya."

Clarissa tersenyum tipis, tetapi senyumnya penuh sindiran. "Kalau wanita desa itu ingin menikah denganmu bagaimana?"

Arga langsung menatapnya tajam.

"Apa kamu juga akan menolaknya?"

Suasana taman mendadak hening.

Arga melangkah mendekat. "Jadi benar."

Clarissa terdiam.

"Kamu yang mengganggu Winarsih."

Wajah Clarissa seketika berubah. "Aku tidak tahu maksudmu."

"Jangan berbohong."

"Aku tidak pernah..."

"Clarissa." Nada suara Arga membuat wanita itu terdiam. "Aku sudah mengetahui semuanya.

Clarissa menelan ludah.

Arga melanjutkan dengan tatapan dingin. "Sejak kamu datang ke Desa Sekar Sari, kamu terus mencari tahu tentang Winarsih."

"Aku hanya..."

"Kamu juga tahu di mana dia tinggal."

Clarissa diam.

"Kamu tahu kapan aku berada di puskesmas."

Clarissa semakin gugup.

"Dan sekarang kamu bahkan tahu tentang perasaanku kepadanya." Arga menatapnya lekat. "Bagaimana kamu bisa tahu semua itu kalau kamu tidak mengawasinya?"

Clarissa tidak mampu menjawab.

Arga mengembuskan napas panjang. "Jadi apa yang kamu lakukan kepadanya?"

Clarissa akhirnya kehilangan kesabarannya. "Iya!" serunya.

Arga terdiam.

"Aku memang meminta dia menjauh darimu!"

Tatapan Arga langsung berubah keras. "Kenapa?"

"Karena aku masih mencintai kamu Arga!"

"Itu bukan alasan untuk mengancam seseorang."

"Aku hanya ingin dia menjauh!"

"Clarissa, kita sudah putus." Suara Arga terdengar tegas. "Kamu tidak berhak melarang wanita lain mendekatiku."

Clarissa menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Tapi aku tidak bisa melihat kamu bersama wanita seperti dia!"

"Seperti apa?"

Clarissa terdiam.

"Jawab."

"Dia hanya wanita desa!"

Arga menggeleng kecewa. "Jadi itu masalahnya?"

Clarissa tidak menjawab.

"Karena dia berasal dari desa, kamu merasa berhak memperlakukan dia seenaknya?"

"Aku hanya ingin melindungi hubungan kita!"

"Tidak ada lagi hubungan kita."

Kalimat itu terasa seperti tamparan bagi Clarissa.

Arga melanjutkan, "Dan satu hal lagi. Jangan pernah mengancam Winarsih."

"Aku..."

"Kalau kamu benar-benar menghargai aku, berhenti mengganggunya."

Clarissa mengepalkan kedua tangannya. Rasa kesal memenuhi dadanya. Terlebih ketika melihat sorot mata Arga. Kini Arga secara terang-terangan membela wanita desa itu di hadapannya.

"Kenapa kamu begitu membelanya?" tanya Clarissa dengan suara bergetar.

"Karena dia tidak melakukan kesalahan apa pun."

"Atau karena kamu mencintainya?"

Arga terdiam beberapa detik, kemudian ia menjawab dengan tenang. "Aku sendiri sedang mencoba memahami perasaanku. Tapi yang jelas..." Arga menatap Clarissa. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya."

Clarissa semakin marah. Ia merasa Arga sudah benar-benar berubah. Pria yang dulu selalu berada di sisinya kini justru berdiri di depan wanita lain.

"Jadi sekarang kamu memilih dia?"

"Aku tidak sedang memilih siapa pun." Arga berbalik hendak pergi. Namun sebelum melangkah, ia berhenti. "Clarissa."

Wanita itu menatapnya.

"Jangan pernah datang ke Desa Sekar Sari untuk mengganggu Winarsih lagi." Arga kemudian meninggalkan taman.

Clarissa masih berdiri di tempatnya. Kedua tangannya mengepal kuat hingga kukunya menekan telapak tangan.

"Winarsih..." gumamnya dengan tatapan penuh amarah. "Berani sekali kamu membuat Arga membelamu seperti itu."

Senyum tipis muncul di wajahnya, tetapi sama sekali tidak menunjukkan kelembutan. "Kalau Arga ingin melindungimu..." Ia menatap ke arah Arga yang semakin jauh. "Aku akan membuatnya sadar bahwa kamu adalah sumber semua masalahnya."

Setelah Arga pergi meninggalkan taman, Clarissa masih berdiri terpaku di tempatnya. Dadanya naik turun menahan emosi. Perkataan Arga terus terngiang di kepalanya, terutama saat pria itu mengatakan bahwa ia tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti Winarsih.

Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki dari arah pintu belakang. "Clarissa."

Wanita itu segera menoleh.

Ibu Chintya berdiri beberapa langkah darinya. Tatapannya lembut, tetapi ia bisa melihat jelas wajah Clarissa yang sedang menahan amarah dan kecewa.

"Tante..."

Ibu Chintya mendekat perlahan. "Sudahlah, Clarissa. Biarkan Arga tenang dulu."

Clarissa menundukkan wajahnya. "Tapi, Tante..."

"Arga mungkin sedang lelah. Banyak hal yang sedang dia pikirkan. Karena itu, sikapnya tadi mungkin terdengar keras."

Clarissa mengusap sudut matanya yang mulai basah. "Tapi aku tidak menyangka dia akan berbicara seperti itu kepadaku."

Ibu Chintya menghela napas pelan. "Tante mengerti."

Clarissa menatap Ibu Chintya dengan mata berkaca-kaca. "Aku hanya tidak terima, Tante."

"Tidak terima karena apa?"

"Karena Arga membela wanita desa itu di hadapanku." Nada suara Clarissa terdengar penuh kekecewaan. "Aku masih mencintai Arga. Kami pernah bersama. Aku hanya ingin mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki hubungan kami."

Ibu Chintya terdiam beberapa saat.

"Aku tahu, Tante mungkin menganggap aku salah karena masih mengejar Arga setelah hubungan kami berakhir."

"Tante tidak mengatakan begitu."

Clarissa menggigit bibirnya. "Aku hanya... sakit hati melihat Arga begitu peduli kepada wanita lain."

Ibu Chintya menatap Clarissa dengan lembut. "Tante tahu bagaimana perasaanmu."

Clarissa mengangguk pelan.

"Tapi untuk saat ini, biarkan Arga tenang dulu."

Clarissa menarik napas panjang.

"Jangan memaksanya untuk mengambil keputusan malam ini. Semakin kamu mengejarnya, semakin dia merasa tertekan."

Clarissa terdiam.

"Tante hanya ingin kamu pulang dan beristirahat. Besok semuanya mungkin akan terasa lebih baik."

"Iya, Tante."

Ibu Chintya mengusap lembut bahu Clarissa. "Tante tidak ingin kalian saling menyakiti hanya karena emosi."

Clarissa mengangguk pelan. "Aku mengerti."

"Kalau memang masih ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan dengan Arga, bicarakan saat keadaan sudah lebih tenang."

Clarissa menghela napas. "Iya, Tante." Ia kemudian menatap ke arah pintu tempat Arga tadi pergi. "Semoga suatu hari Arga mau melihat perasaanku lagi."

Ibu Chintya tidak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis. "Yang penting sekarang, kamu pulanglah."

Clarissa akhirnya mengangguk. "Baik, Tante. Terima kasih."

"Sama-sama."

Clarissa berjalan meninggalkan taman dengan langkah pelan. Namun begitu punggungnya membelakangi Chintya, ekspresi lembut di wajahnya perlahan menghilang.

Tatapannya kembali berubah dingin. Ia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Arga membela Winarsih.

Sementara Ibu Chintya tetap berdiri di taman, memandang kepergian Clarissa dengan tatapan penuh kekhawatiran.

"Semoga kalian tidak melakukan sesuatu yang akan kalian sesali nanti," gumamnya pelan.

1
Amoera
kasihan winarsih/Sob/
Amoera
wihh, Dokter keren😍
Amoera
suka banget ka sama ceritanya, novel ter-the best🥰
Arditya
Ayo dokter arga pepet terua winarsih🤣
It's me Sky: iya kaka🤣
total 1 replies
Arditya
kagak beres deh ini ada preman, aduh winarsih.
Arditya
kacau ni nenek lampir, ko kesel ya thoor
Arditya
Ko kesel ya, sama si benni😄
Arditya
Gila mertua jahat tuh si Sulastri, ini sih cerita menyayat hati kaum wanita. Apalagi yang punya mertua seperti Sulastri, pingin di rujak bibirnya🤭
Arditya
Karyamu luar biasa sekali thoor, aku suka banget sama ceritanya. Semangat thoor😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!