Indonesia
NovelToon NovelToon
Menjadi Sepupu Tirimu

Menjadi Sepupu Tirimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: arina_ar

Setelah dikhianati, Vivian bersumpah. "Aku akan buat dia menyesal...!"
Kesempatan itu datang ketika ibunya menikah kembali. Dan tanpa diduga, ayah sambungnya adalah paman dari kekasihnya.
Sempurna...
Vivian memanfaatkan kakak tirinya. Pura-pura dekat, pura-pura mesra, hanya untuk membalaskan rasa sakit hatinya.
Rencana berjalan lancar.
Sampai suatu malam Vivian sadar...
Ia terjebak dalam permainannya sendiri, benih cinta mulai tumbuh diantara batas yang tak seharusnya. Cinta terlarang yang sulit dilepaskan...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kamu, milikku

Vivian masih duduk anteng, matanya tak lepas dari Raynor yang sibuk dengan lembaran berkas, posisinya berdiri karena kursinya ditempati sang adik tiri.

Menit bergulir terasa lambat, dan kebosanan perlahan mulai menyergap. Tangannya meraih ponsel dari tas, sudah lama sekali ia tak membuka media sosial, terlalu sibuk dengan segala perubahan yang terjadi dalam hidupnya.

Jemarinya mengetuk layar, membuka aplikasi yang sudah beberapa hari tak ia sentuh. Tak lama berselang, satu unggahan muncul di berandanya , dipublikasikan dua hari yang lalu, dari akun milik Satria.

Jantung Vivian seketika berhenti berdetak. Di layar sana, terpampang jelas foto dirinya bersama Satria ketika di pantai, tubuh mereka begitu dekat, tatapan Satria penuh kehangatan, seolah mereka sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara.

Padahal saat itu ia sama sekali tak menyadari foto itu diambil, dan kini tersebar luas, di sukai ribuan orang, dan diserbu ratusan komentar.

Vivian membeku. Ponsel di tangannya hampir jatuh. Matanya membelalak sempurna, napasnya tercekat di tenggorokan.

"Ini... apa ini..." gumamnya lirih, suaranya nyaris tak terdengar, penuh ketakutan. "Kenapa... kenapa ada foto seperti ini..."

Di sampingnya, Raynor yang semula fokus pada dokumen, menyadari perubahan drastis Vivian. Wajah gadis itu pucat pasi, bibirnya gemetar, tatapannya kosong namun penuh kepanikan.

"Kenapa?" tanya Raynor cepat, suaranya tegas namun penuh kekhawatiran. Tanpa menunggu jawaban, dengan gerakan sigap dan cepat, ia merebut ponsel dari genggaman Vivian, yang sejak tadi hanya diam.

Ia melirik layar yang menyala. Wajahnya yang sedingin es seketika berubah merah padam, urat di lehernya menonjol menahan amukan yang meledak di dada. Matanya menyala, penuh kemarahan, napasnya memburu kasar.

"Satria..." geram Raynor rendah, nama itu meluncur dari bibirnya bagai kutukan.

"Kak Raynor... aku..."

Raynor menatapnya sekilas, matanya melembut sejenak melihat ketakutan di wajah gadis itu, sebelum kembali menatap layar ponsel dengan amarah yang berkali lipat lebih besar.

"Dia... Sengaja cari perkara," ucapnya tegas, namun tangannya meremas ponsel itu begitu kuat seolah ingin menghancurkannya.

Di luar jendela, langit siang yang cerah perlahan tertutup awan kelabu, seolah turut merasakan badai yang baru saja pecah di ruangan itu.

Raynor menarik tangan Vivian, melangkah cepat menuju gedung kantor pusat. Kali ini tak ada lagi sembunyi-sembunyi, ia menggandeng tangan Vivian begitu erat, terang-terangan di hadapan seluruh karyawan yang sedang sibuk berlalu-lalang di lobi utama.

Tatapan semua mata seketika tertuju pada mereka, penuh keheranan, bisik-bisik mulai terdengar samar.

"Liat deh, itu Adik tuan Raynor yang jalang itu kan... yang foto mesra bareng Satria sampai viral itu ..."

"Iya, berani banget, kok mau sih tuan Raynor gandeng dia begitu, padahal gosipnya lagi panas..."

"Pasti cuma soal selera, katanya sih dia cewe nggak benar..."

Cibiran, tatapan sinis, dan bisikan tajam itu semuanya sampai ke telinga Raynor. Namun ia sama sekali tak menanggapi, seolah suara mereka hanyalah angin lalu yang tak berarti.

Baginya, urusan mereka terlalu receh untuk dihiraukan saat ini, yang ada di kepalanya hanyalah amarah yang membara dan keinginan untuk segera membawa Vivian jauh dari pandangan orang-orang.

Sesampainya di mobil di area parkir, Raynor membuka pintu dengan kasar, mendorong Vivian masuk ke kursi penumpang, lalu masuk ke sisi pengemudi dan menutup pintu rapat-rapat.

Belum sempat Vivian mengucap sepatah katapun, tubuh Raynor sudah menekan maju, kedua tangannya mengunci wajah Vivian dengan kasar namun penuh gairah yang meledak-ledak.

Tanpa peringatan, bibirnya menyambar bibir Vivian begitu brutal, penuh amarah, kecemburuan, dan rasa memiliki yang tak tertahankan.

Raynor menumpahkan segala emosi yang selama ini ia tahan, marah karena Satria berani menyentuh miliknya, cemburu membayangkan foto intim itu, sekaligus rasa takut kehilangan gadis yang ia klaim sebagai miliknya.

Vivian terkejut, matanya terbelalak sesaat sebelum perlahan terpejam pasrah. Ia merasakan debaran jantung Raynor yang mengamuk seirama. Ciuman itu, napasnya memburu, tangannya meremas bahu Vivian kuat-kuat seolah ingin menyatukan tubuh mereka agar tak ada celah sedikit pun untuk orang lain masuk.

"Kamu, milikku..." gumam Raynor di sela-sela ciuman yang masih penuh gejolak itu, suaranya parau dan berat. "Hanya milikku... Tak ada yang boleh menyentuhmu, termasuk Satria..."

Vivian tak mampu menjawab, hanya bisa membalas pelukan itu dengan gemetar, merasakan betapa besarnya badai yang sedang mengamuk di dalam dada pria yang kini menjadi satu-satunya tempat berlindungnya.

Di dalam mobil, dunia luar seolah lenyap, hanya ada mereka berdua, terperangkap dalam ciuman penuh gairah dan kemarahan yang tak terpadamkan.

Mobil kembali melaju pelan membelah jalanan siang. Vivian duduk memeluk lututnya sendiri, matanya tak lepas menatap wajah Raynor yang tengah fokus mengemudi. Hatinya masih berdebar sisa-sisa ciuman tadi yang begitu mengguncang.

"Kenapa kakak selalu menciumku?" cicitnya lirih, suaranya nyaris hilang di deru angin AC mobil, lalu menunduk dalam menahan malu.

Raynor tersenyum kecil di balik kemudi, sudut bibirnya terangkat. "Nggak suka?"

"Bukan gitu, Kak!" jawab Vivian cepat, sedikit panik, wajahnya merona merah seketika.

"Berarti... kamu suka?" goda Raynor, matanya sekilas melirik jahil ke arah gadis di sebelahnya.

"Eh, bukan gitu maksudnya..." Vivian makin panik, tangannya melambai gelagapan, wajahnya semakin tertunduk dalam.

Raynor tiba-tiba menginjak rem pelan, menepikan mobilnya, dan menghentikan mobil sepenuhnya. Ia melepas sabuk pengaman, tubuhnya condong perlahan mendekat ke arah Vivian.

"Mau apa, Kak?" tanya Vivian dengan dada berdebar kencang, matanya menatap cemas sekaligus terpaku pada wajah pria itu.

"Mau ini," ucap Raynor rendah.

Vivian spontan memejamkan mata rapat-rapat, jantungnya seakan berhenti berdetak.

Klik...

Bunyi kunci sabuk pengaman Vivian terbuka. Raynor menatap gadis yang masih terpejam itu dengan senyum penuh kemenangan. Dengan gemas ia mencubit pelan hidung Vivian.

"Kakak iiih... apaan sih..." Vivian meringis manja, matanya terbuka menatap Raynor yang tertawa kecil.

"Udah nyampe, ayo turun," ucap Raynor santai, cepat membuka pintu dan keluar.

Vivian masih duduk terpaku sejenak di kursi penumpang, menepuk dadanya yang berdebar kencang. "Ya ampun... ternyata aku yang kepedean..." gumamnya malu sendiri, lalu tersenyum salah tingkah sembari turun mengikuti Raynor.

Mereka berjalan masuk ke lobi kantor pusat. Langkah mereka seketika disambut ratusan pasang mata karyawan yang memandang terkejut, bahkan beberapa tampak menunduk takut.

Kabar tentang gadis yang dulu pernah ditindas di kantor, lalu dibela habis-habisan oleh sang CEO, hingga berujung pemecatan massal para tersangka. Kini sudah tersebar luas, membuat sebagian cukup takut dan segan padanya. Berbeda di kantor cabang yang sebagian masih ada yang tak menghormati Vivian.

Tak ada satu pun yang berani bersuara atau melirik sinis kali ini. Di hadapan mereka, Raynor menggandeng tangan Vivian erat, penuh kepemilikan dan perlindungan mutlak.

1
Jumi
Aaa ... Raynor ini tipe yg dingin2 hangat😍
arina_ar: dingin karena belum ketemu pawangnya aja, wkwkwk
total 1 replies
Jumi
Jadi orang kota ribet y🤣
❤️⃟WᵃfVebi Gusriyeni
Tapi cara kenalannya itu loh Pak🤣
M-Asanji
suka vivian manis dan baik
M-Asanji
bikin kesal 😤
Jumi
nggak apa, sesaat itu sangat berharga
❤️⃟WᵃfVebi Gusriyeni
Vivian aduuuhh🤣 harusnya tendang aja dia Viii/Facepalm/
jani's
persaingan Stella dan Vivian,tp kayaknya Stella akan bertepuk sebelah tangan kayaknya
jani's
aku suka tokoh Vivian kayaknya orangnya tulus
Jumi
Jangan menyimpan 'barang' rusak
falea sezi
😒 serakah klo mau. ma vivian ya putusin pengharum ruangan🤣
❤️⃟WᵃfVebi Gusriyeni
Biasanya yg suka begini, uangnya gak seberapa🤣 Vivian kamu best👍
Allea
masih bodoh di bab ini
Allea
katanya jijik dipeluk diem bae munalah 🤭🤣😅
falea sezi
goblok jujur bodoh lu pergokin dia kmren😒 ehh maaf mc oon jd males Thor mau kasih hadiah sayang bgt vote buat novel kayak gini🤣🤣
falea sezi
cuma gt doank harusnya di sp karyawan mu pakk🤣 ceo bodoh
falea sezi
🤣🤣 satria bodoh
falea sezi
klo q jd vivian mending kos cari krja ngapain numpang di rmh ibumu saudara tiri uda ada pcr g bs di gebet🤣
falea sezi
🤣🤣lemah kok mau bales dendam bodoh
arina_ar
sabar kak, huhu.... author juga ikutan geregetan nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!