Indonesia
NovelToon NovelToon
DIA YANG KU PILIH

DIA YANG KU PILIH

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:338
Nilai: 5
Nama Author: Raudah Sahidah

Telah ku lewati perjalanan panjang dengan air mata...

lelah ku melangkah dengan harapan yang hampa....

ku cari sinar terang tuk jalan gelap didepan mata, namun tak kunjung ku jumpa...


Hati menjerit serta memanjatkan doa....

berharap semua cepat mendapatkan akhir bahagia....


Di tengah hati gudah dan gelisah secercah cahaya datang menerpa....

ke hadiran yang ku nanti telah tiba...

dan ku pilih dirimu tuk melengkapi hidup dan menemani sisa umur ku...


Tak banyak ku pinta padamu cukup cintai ku segenap jiwamu dan bimbing aku agar tetap di jalan yang benar...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raudah Sahidah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prolog

     Prolog 

 

 Sorak sorai kelulusan memenuhi segenap penjuru lapangan sekolah, menggema memecah keheningan yang biasanya hanya diisi suara angin dan burung di siang hari. Matahari mulai naik ke atas menyebarkan cahaya terik di langit, seolah ikut merayakan berakhirnya satu babak panjang perjuangan kami. Setelah pengumuman resmi selesai dibacakan kepala sekolah, suasana berubah menjadi lautan sukacita yang tak terbendung.

 

 Ada siswa yang berteriak histeris melompat ke udara, tak menyangka bahwa setelah bertahun-tahun berjuang menuntaskan tugas, berjuang menghadapi ujian yang terasa mustahil, akhirnya mereka bisa lulus dengan hasil yang sangat memuaskan. Tak sedikit yang menangis haru, memeluk erat teman sebangku, guru, bahkan orang tua yang datang menemani. Tawa, isak tangis, dan ucapan syukur menyatu menjadi satu harmoni yang menyentuh hati.

 

 Namun untuk diriku sendiri, kebahagiaan itu terasa samar, seolah terhalang kabut tebal. Setelah para guru berbaris keluar lapangan satu per satu dan kerumunan perlahan mulai menyebar, aku memilih tetap duduk diam di bangku kayu panjang di sudut paling pinggir, di bawah naungan pohon mangga tua yang rindang. Aku pun merasa lega, tentu saja—rasa berat yang membebani dada selama masa ujian kini telah hilang. Tapi entah mengapa, aku tak mampu ikut berteriak, menangis, atau tertawa lepas seperti yang lain. Bisa dibilang raut wajahku saat ini datar, tanpa ekspresi yang jelas, meski di dalam hati ada ribuan pertanyaan yang saling berebut untuk disuarakan.

 

 Pikiranku melayang jauh, berputar dan saling bertabrakan: tentang masa depan yang belum terlihat ujungnya, tentang tanggung jawab yang harus kupikul, tentang pilihan yang tak lagi bisa kutunda. Aku hanyut dalam lamunan sedemikian rupa hingga sebuah tepukan lembut di bahu membuatku tersentak kaget seketika.

 

“Ran?”

 

“Hah… i-iya… ada apa, Yun?” jawabku terbata-bata, sambil menoleh perlahan. Di sampingku berdiri Yuna, sahabatku sejak kelas satu SMA. Matanya yang bulat menatapku lekat, penuh tanya dan sedikit kecemasan.

 

“Loh, kamu baik-baik saja kan, Ran? Dari tadi diam saja di sini, melamun terus. Aku cari ke mana-mana ternyata kamu ada di sini” ucapnya lagi, lalu ikut duduk di sebelahku.

 

 Aku menarik napas panjang, lalu mengembuskannya pelan. “Iya… tenang saja, aku baik-baik saja kok...Cuma sedikit lelah, itu saja” jawabku berusaha meyakinkan, meski aku tahu itu hanyalah kebohongan yang tipis.

 

“Enggak, bukan itu yang kulihat” potong Yuna tegas. Ia mencondongkan badan sedikit agar bisa menatap mataku tepat. 

“Kalau cuma lelah, matamu tidak akan tampak sedih begitu. Ada apa? Cerita saja kalau ada masalah, kan aku temanmu”ucapnya.

 

 Aku tersenyum tipis, senyum yang tak sampai ke mata. “Benar kok, Yun. Tidak ada apa-apa. Mungkin aku belum terbiasa saja, rasanya seperti mimpi kalau sudah benar-benar lulus” kilah ku.

 

 Yuna diam sejenak, menimbang ucapanku. Ia mengenalku sangat baik selama tiga tahun kebersamaan kami—ia tahu kapan aku berkata jujur dan kapan aku hanya menutupi sesuatu. Tapi kali ini, ia memilih untuk tak memaksaku lebih jauh.

 

“Baiklah… kalau kamu belum mau cerita sekarang, tidak apa-apa. Aku tidak akan memaksa. Tapi ingat, aku selalu ada kalau kamu butuh tempat berbagi, kapan saja....ingat itu” ucapnya lembut, lalu berdiri dan merapikan lipatan rok seragam putih abu-abunya yang sedikit kusut.

 

 Dasar, selalu saja bisa membaca perasaanku, batinku dalam hati sambil menunduk.

 

“Ya sudah, aku pulang duluan ya… Maaf hari ini kita tidak bisa jalan bareng ke warung bakso seperti rencana kita. Soalnya…” Yuna tersenyum malu-malu, pipinya memerah samar.

 

 Aku terkekeh pelan, mencoba mencairkan suasana. “Iya, iya… aku tahu, kamu mau pulang bareng si ayang kesayangan kan? Pergilah, jangan sampai dia menunggu lama nanti marah lho” ucap ku.

 

 Yuna tertawa canggung, memukul pelan lenganku. “Ran...bisa aja kamu ini. Ya sudah, aku berangkat dulu ya. Hati-hati pulangnya!” Ia melambaikan tangan, lalu berjalan menjauh menyusuri jalan setapak menuju gerbang sekolah, hingga sosoknya hilang di antara kerumunan orang.

 

 Kini benar-benar sendirianlah aku di bangku itu. Angin siang berhembus pelan, mengibarkan ujung rambutku. Aku menatap langit yang makin terang warnanya, lalu perlahan berdiri. Sudah cukup lama aku di sini, sebaiknya aku pulang ke rumah Mama. Ya, rumah Mama. Tempat satu-satunya yang membuatku merasa tenang sekaligus sering membuatku merasa bersalah karena tak bisa memberikan apa yang ia harapkan dariku.

 

 Orang tuaku sudah bercerai sejak aku masih duduk di bangku kelas dua SMP. Perpisahan yang tak pernah aku sangka akan terjadi, namun takdir berkata lain. Kini keduanya telah menempuh jalan hidup masing-masing, dengan dunianya yang saling berbeda jauh.

 

 Perkenalkan, namaku Rania Adila Putri. Aku adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Aku punya seorang kakak laki-laki bernama Rian dan kakak perempuan bernama Rina. Sejak perceraian itu, keduanya memilih untuk tetap tinggal bersama Ayah di kota besar. Itu adalah keputusan murni kehendak mereka sendiri, tak ada paksaan dari siapa pun.

 

 Alasannya sederhana namun tajam, mereka tak ingin meninggalkan Ayah yang tinggal sendirian atau lebih tepatnya seperti yang sering kupikirkan yaitu tak mau melepaskan fasilitas mewah, kehidupan nyaman, dan kemapanan yang selama ini mereka nikmati di rumah Ayah. Hanya aku yang memilih untuk ikut berjuang, hidup sederhana bersama Mama yang kembali ke kampung halamannya di desa ini. Sebuah desa yang asri, jauh dari kebisingan kota, namun penuh kenangan hangat masa kecil Mama.

 

 Sejak hari itu, hubungan kami dengan Ayah menjadi renggang. Aku jarang sekali berkunjung ke rumahnya, paling hanya satu atau dua kali setahun, biasanya saat momen Idul Fitri atau Tahun Baru. Rasanya malas dan berat rasanya harus sering ke sana, apalagi harus berhadapan dengan Ibu Tiri yang datang tak lama setelah perceraian itu. Wanita itu seolah menjadi penguasa tunggal di rumah Ayah, menatapku dengan tatapan merendahkan seolah aku hanyalah beban asing yang masuk mengganggu kenyamanan mereka.

 

 Sering aku bertanya-tanya dalam hati, berulang kali tentang apa sebenarnya yang membuat Ayah begitu cepat memutuskan untuk menikah dengan wanita seperti dia? Jika dibandingkan dengan Mama yang sabar, tulus, dan selalu menebarkan kehangatan, penampilan maupun budi pekertinya pun tak sebanding. Ditambah lagi sikapnya yang angkuh, keras kepala, dan sangat arogan. Sungguh membuatku tak betah berlama-lama di dekatnya. Aku juga sering bertanya dalam hati ketika melihat kakak-kakakku yang berbeda di sana, bagaimana bisa mereka betah bertahun-tahun tinggal di sana? Rasanya miris sekali, seolah demi menjaga kemewahan materi, mereka rela menelan semua ketidaknyamanan dan bersikap baik pada wanita yang sering menyakiti hati kami diam-diam.

 

 Langkah kakiku terasa berat saat melangkah pulang. Perjalanan dari sekolah ke rumahku memakan waktu sekitar setengah jam berjalan kaki, melewati sawah yang menghijau dan sungai kecil yang airnya jernih berkilau terkena sinar matahari sore. Biasanya pemandangan ini bisa menenangkan hatiku, tapi hari ini pikiranku masih penuh dengan kekhawatiran.

 

 Sesampainya di rumah yang hanya sebuah rumah panggung sederhana berlantai semen dengan halaman yang luas, aku langsung masuk dan mengurung diri di kamar kecilku. Ruangan itu berukuran tak lebih dari empat kali empat meter, beralas tikar anyaman, hanya berisi satu kasur tipis, meja belajar kayu, dan lemari pakaian bekas peninggalan kakek. Meski sederhana, inilah tempat ternyaman bagiku.

 

 Aku duduk di tepi kasur, menatap dinding yang ditempel foto-foto masa kecilku bersama Mama. Keinginan untuk melanjutkan kuliah membara kuat di dadaku. Sejak kecil aku bermimpi bisa masuk perguruan tinggi, mengambil jurusan pendidikan agar kelak bisa menjadi guru dan mengajar anak-anak desa seperti Mama dulu. Tapi sekarang? Mimpi itu terasa begitu jauh, seolah tak terjangkau tangan. Biaya kuliah tak sedikit, sementara aku tahu betul betapa kerasnya Mama berjuang setiap harinya ia pergi ke ladang, menanam padi dan sayuran, juga menjual hasil kebun di pasar desa hanya untuk memenuhi kebutuhan makan kami sehari-hari. Bagaimana mungkin aku berani memintanya menanggung biaya sebesar itu?

 

 Namun jika aku berhenti di sini, hanya lulusan SMA saja, bagaimana nasib masa depanku? Apakah aku akan terus-menerus hanya bekerja kasar seperti yang dilakukan banyak orang di desa ini? Bukan berati pekerjaan itu rendah, tapi aku ingin lebih. Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa sukses, dan kelak aku bisa membalas segala jerih payah Mama.

 

 Ada sih pilihan lain yai hanyalah satu meminta bantuan pada Ayah. Tapi sekadar memikirkannya saja sudah membuat tenggorokanku tercekat. Aku malas meminta apa pun darinya. Dan aku tahu persis, jika aku berani datang meminta bantuan, ia pasti akan memasang syarat berat menyuruhku pindah kembali tinggal bersamanya, mematuhi semua aturan Ibu Tiri, dan menjauh dari Mama. Itu adalah hal yang paling mustahil untuk kulakukan. Aku tak akan pernah meninggalkan Mama sendirian di sini.

 

 Waktu berlalu begitu cepat hingga langit mulai gelap. Lampu bohlam sepuluh watt di ruang tengah menyala remang. Akhirnya aku memberanikan diri membuka pintu kamar dan melangkah keluar. Di ruang tamu sederhana itu, Mama sedang duduk bersandar di sofa anyaman, menonton televisi dengan volume kecil sambil sesekali mengusap kakinya yang pasti terasa pegal seharian bekerja.

 

“Baru bangun, Nak?” tanyanya lembut saat melihatku muncul, mengira aku tertidur pulas sejak pulang sekolah tadi siang.

 

 Aku mendekat, lalu duduk di sampingnya. “Tidak tidur kok, Ma. Cuman rebahan saja di dalam” jawabku sambil tersenyum tipis.

 

 Mama menoleh, menatapku lekat-lekat. “Ada apa, Rania? Tumben sekali mengurung diri begitu lama di kamar. Biasanya langsung lari ke teras rumah Nenek kalau sudah pulang sekolah”ucapnya setengah bertanya.

 

Aku terdiam sejenak lalu berkata “Mama tahu aku tidak keluar rumah?”tanya ku bingung.

 

“Ya, tahu saja ” jawabnya santai.

 

“Bukan karena Nenek yang cerita ya? Biasanya kalau aku begini, Nenek pasti bercerita” cebokku penasaran.

 

Mama menggeleng pelan. “Bukan Nenek. Coba kamu lihat dirimu dulu, Nak” Ia menunjuk ke arah tubuhku.

 

 Aku menunduk, dan sungguh aku terkejut setengah mati. Ternyata aku masih mengenakan seragam sekolah yang sama dari siang tadi! Kemejanya sudah kusut, ada sedikit noda debu di bagian ujung rok, dan dasi yang sudah longgar tak pernah dilepas. Aku langsung memukul pelan dahiku sendiri. “Ya ampun… kok bisa aku lupa ganti baju sampai begini sih, Ma?” gumamku sambil tertawa kecil yang bercampur heran pada diri sendiri.

 

Mama ikut tertawa, suara tawanya terdengar lembut dan menenangkan hati. Ia mengelus kepalaku pelan. “Kamu ini ya, sampai lupa dunia kalau sudah melamun begitu. Pasti banyak yang dipikirkan ya sampai lupa ganti pakaian? mana tadi mencurigai nenek”ucapnya penuh pengertian di sertai kekehan kecil.

 

“Mah, aku tidak menyalahkan siapa pun kok, tadi cuma kaget saja dan gak sadar kalau masih pakai seragam” elakku sambil tersipu.

 

“Tapi nada bicaramu tadi terdengar seperti mencurigai nenek sendiri, Nak. Apa pun bebanmu, jangan dipendam sendirian ya. Kita hadapi sama-sama” ucapnya lembut namun tegas.

 

“Iya mah,  tapi aku gak papa kok” kataku sambil berdiri. 

“Aku mau mandi dulu ya, Ma. Badan rasanya lengket semua”timpalku.

 

“Jangan lupa ganti baju bersih dan makan ya nanti, sudah Mama siapkan di meja!” seru Mama saat aku melangkah menuju kamar. Aku hanya mengangguk dan melambaikan tangan sebelum menutup pintu kamar ku.

  Sesampainya di dalam kamar aku kembali duduk di tepi kasur, aku menatap pantulan diriku di cermin kecil. Wajahku masih tampak bingung, mata sayu penuh pertanyaan. Memang benar aku tak tidur sedetik pun sejak pulang. Hanya mondar-mandir, berpikir ke sana kemari, menimbang setiap kemungkinan, menimbang berat beban di pundakku yang terasa makin hari makin berat. Sampai-sampai hal sepele seperti mengganti pakaian pun bisa kulupakan.

 

 Namun satu hal yang kini kutahu pasti aku tidak boleh mundur. Aku harus berani mengambil keputusan, entah jalan terjal apa yang harus kulalui. Entah harus bekerja keras sambil kuliah, mencari beasiswa, atau berusaha memohon pada Ayah dengan segala kerendahan hati atau apa pun itu, aku akan berjuang. Demi masa depanku, demi cita-citaku, dan terutama demi membuktikan pada Mama bahwa pengorbanannya selama ini tidak sia-sia.

 

 Malam itu angin berhembus makin kencang, membawa suara jangkrik dari kejauhan. Di balik kegelapan malam, sebuah perjalanan baru yang penuh tantangan perlahan mulai membuka pintunya untukku. Dan aku harus siap melangkah masuk.

Bersambung... 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!