Spin-of Baby's breath untuk Aretha
Arlo dan Queena sudah bersahabat sejak kecil, sebenarnya di bilang sahabat juga bukan atau lebih tepatnya musuh bebuyutan. Lebih pada Queena adalah sasaran empuk kejahilan dan kenakalan Arlo, si cantik putri dari pasangan Rega dan Rhea tersebut sudah menjadi target keusilan putra Hana dan Leo sedari Queena masih bayi.
“Apa? Mi-mom jangan bercanda, ya!” Arlo terkejut saat mi-mom Hana memberikan usulan untuk menikahkan Arlo dan Queena diusia mereka yang masih muda.
Arlo mengusak rambutnya frustasi, kecerobohannya memanjat balkon kamar Queena membuatnya terjebak dalam situasi yang membuat kedua orang tuanya dan orang tua Queena murka. Dan satu-satunya orang yang harus di salahkan adalah kakak sepupu Arlo yang tidak lain adalag Gavin.
Lalu apa alasan Arlo dan Queena menyembunyikan pernikahan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32 # Menuju halal
Tidak berbeda dengan rumah papi Leo, rumah keluarga Regantara juga sedang sibuk dengan persiapan akad nikah Queena dan Arlo. Untungnya ada papa Dio dan mama Almira, kedua orang tua Rafa tersebut membantu mama Rhea dan papa Rega untuk menyiapkan banyak hal. Kedua orang tua Azura bersama dua adik mama Rhea dan kelaurga juga ikut membantu, sehingga semuanya bisa selesai tepat waktu.
“Tegang banget, bro.” Aiden menepuk pundak sepupu sekaligus iparnya tersebut, dia sengaja memcandai papa Rega yang terlihat tegang.
“Coba saja kalau nanti Aila nikah, bro. Bakal kamu rasain apa yang aku rasakan saat ini,” jawab papa Rega.
“Dia bukan hanya tegang, Aiden. Malah sudah tegangan tinggi,” sahut papa Dio.
“Bagaimana tidak tegangan tinggi, bang. Calon mantunya saja Arlo,” balas Rayen yang tidak lain suami Alya adik kedua mama Rhea.
“Ck … gara-gara anak Arka dan Kia ini,” gerutu papa Rega.
Papa Dio, Aiden dan Rayen tertawa mendengar papa Rega sedang menggerutu.
Taman samping rumah Queena kini di sulap menjadi tempat untuk akad nikah, mbak Yuyun dan karyawan rumah itu ikut wira wiri membantu pihak yang di percaya untuk mengatur acara sederhana tersebut.
Taman samping rumah keluarga Regantara diubah menjadi pelaminan dengan konsep garden party. Arch gate berbentuk lingkaran berhias bunga-bunga segar menjadi latar tempat akad yang akan di langsungkan pagi itu.
Sepaket kursi tiffani akrilik dan meja akrilik berpadu dengan table runner kain tipis sudah siap menjadi tempat untuk Arlo mengambil tanggung jawab Queena dari papa Rega. Vas kaca (bud vases) berisi tiga tangkai bunga tulip menghiasi meja akad. Tidak lupa kursi tamu di susun setengah melingkar mengelilingi meja akad, agar menambah kesan penuh kehangatan dan membuat keluarga merasa dekat dan penuh hangat pada momen ijab kabul.
Kombinasi tulip warna soft pink dengan krem menambah kesan manis, lembut nan halus namun tetap terlihat mewah. Queena menyukai bunga tulip, karena itu mama Rhea dan mama Almira mengusung tema tersebut.
Long table lay out (meja panjang) juga telah diatur sedemikian rupa, mereka memang tidak mengundang banyak orang. Karena memang Queena menginginkan intimate wedding. Konsep Family-Style Dining dengan menu Nusantara menjadi pilihan keluarga papa Rega, mama Rhea ingin suasana menjadi lebih hangat. Tamu undangan yang kebanyakan adalah keluarga bisa menikmati hidangan dengan santai, mereka juga bisa mengobrol penuh hangat.
Mereka tidak mengundang banyak orang, bahkan circle kurang setengah ons hanya papa Dio dan mama Almira yang datang. Ayah Arka dan bunda Kia bahkan tidak hadir, namun mereka tahu kalau hari itu salah satu keponakan tercinta mereka akan menikah. Kedua orang tua Gavin tersebut sedang dalam misi untuk menyatukan Gavin dan Aretha, mereka sedang menyusun rencana untuk menikahkan keduanya. Namun keduanya sempat melakukan video call dengan Arlo, ayah Arka maupun bunda Kia memberikan beberapa wejangan untuk sang keponakan. Dari pihak keluarga Arlo ada Arya beserta anak dan istrinya, Arya adalah kakak kedua mi-mom Hana.
***
Dean melongokkan kepalanya ke dalam kamar tamu, di mana sang kakak baru saja selesai di make up.
“Ada apa, sayang?” mama Rhea melihat Dean diambang pintu.
“Dean boleh masuk, ma?” tanyanya diangguki mama Rhea.
Dean masuk ke dalam kamar tamu, dia duduk di samping sang mama. Remaja tersebut terpana melihat penampilan sang kakak yang terlihat anggun dan mempesona bak princess, hijab dan gaun mama Rhea begitu pas dan cocok di pakai Queena.
“Mama ngelahirin bidadari kayangan,” Dean memeluk mamanya dari samping.
Mama Rhea terkekeh, dia mengusap pipi putranya. “Mamanya kultur bakteri dan virus itu,” ucap mama Rhea.
“Ini kalau mbak Aretha, bang Enzo sama baby Cimol tahu… mereka pasti marah,” ucap Dean. Ketiga sepupunya tersebut memang belum di beri tahu tentang pernikahan Queena, untuk saat ini hanya daddy Axel dan mommy Rena yang di beri tahu.
“Nanti kita beritahu setelah misi menikahkan mbak Aretha sama bang Gavin selesai,” keluarga besar Huan dan Pradipta memang sedang dalam misi menyiapkan pernikahan Gavin dan Aretha, mommy Rena dan bunda Kia sedang bekerja sama menyusun rencana tersebut.
“Daddy sama mommy berarti tidak datang, ma?”
“Datang, daddy jadi saksi pernikahannya kakak. Tapi hanya sebentar, setelah itu mereka harus bertemu om Arka dan aunty Kia. Mereka ada janji temu dengan Vendor,”
Dean menggaruk tengkuknya. “Orang tua ada saja ulahnya. Habis kak Ueena terbitlah mbak Aretha yang bakal mencak-mencak,” celetuknya membuat mama Rhea tertawa. Benar adanya ucapan Dean, karena kedua orang tua Aretha dan Gavin juga sedang merencanakan pernikahan tanpa sepengetahuan keduanya.
Tok … Tok
“Misi… abang ganteng mau lihat adek,” Alvian datang bersama dengan Aila sang adik, pria itu masuk dan menyapa mama Rhea lebih dulu.
“Kakak cantek banget,” celetuk Aila, remaja itu langsung berdiri di samping Queena yang duduk, dia memandang kagum kakak sepupunya tersebut.
Queena tersenyum. “Aila juga cantik,” balas Queena.
Alvian menghampiri kedua adiknya, dia memiringkan kepalanya melihat kearah cermin. “Aku sama mbak Aretha beneran kamu langkahi ini, Ueena? Tega banget si adek ini,” celetukan Alvian membuat Queena mencebik.
“Bang Vian salahin saja bang Gavin. Gara-gara dia Arlo bertingkah,” Queena hampir saja kesal.
“Jangan ngambek dong, dek. Sudah mau mulai ini. Oke-oke, nanti abang lempar bang Gavin ke kutub. Senyum dulu dong,” ucap Alvian.
“Abang jangan bilang mbak Aretha dulu, ya! Nanti dia sedih kalau tahu aku nikah sama Arlo gara-gara bang Gavin,” pinta Queena.
“Cimol sama Enzo juga tidak boleh?” tanya Alvian diangguki Queena.
“Oke. Abang janji jaga rahasia,”
Alvian tidak lagi menganggu adik sepupunya tersebut, dia beralih pada mama Rhea. “Arlo dan penghulu sudah datang, aunty. Sebentar lagi acara di mulai,” ucap Alvian, dia memang di minta papa Rega untuk memberitahu mama Rhea.
“Oke, sayang. Tolong bilang om Rega kalau yang di sini sudah siap,” jawab mama Rhea.
Alvian dan Dean keluar dari kamar tamu, mereka kembali ke taman untuk bersiap menyaksikan janji suci yang akan di ikrarkan Arlo pada Queena. Tidak lama kemudian Karin dan Alya datang, mereka siap menjadi pendamping keponakan tercintanya tersebut.
“Ueena sudah siap, mbak?” tanya aunty Karin yang tidak lain mama Alvian dan Aila.
“Sudah, Rin. Anak aku cantik banget, kan?”
Karin dan Alya mengangguk. “Cantik banget, mbak. Gaun mbak Rhea cocok banget di pakai Ueena,“ jawab aunty karin.
“Aku sama mbak Karin sampai pangling ini,” sahut aunty Alya.
“Aunty…” Queena berkaca-kaca melihat mama dan kedua auntynya.
Ketiga wanita setengah baya tersebut tersenyum kearah Queena. Mama Rhea menangkupkan kedua tangannya pada dagu Queena. “Nangisnya di tunda dulu, biar tidak di tertawakan Arlo. Anak mama hari ini adalah princess kesayangan semua orang,” mama Rhea sedang menenangkan putrinya.
“Yuk… itu suara penghulu sudah mau mulai,” mama Rhea membantu putrinya bangkit dari kursi, aunty Karin bersama aunty Alya berdiri di sisi kanan dan kiri Queena. Mereka menggandeng lengan Queena.
“Mama Rhea sama Aila saja,” putri bungsu Aiden dan Karin tersebut mengalungkan kedua tangannya pada lengan mama Rhea. “Boleh,” jawab mama Rhea dengan senyuman yang selalu meneduhkan.
Queena beberapa kali menarik napas dan menghembuskannya perlahan, dia sedang mengurangi rasa gugupnya. Aunty Karin dan aunty Alya menepuk lembut lengan keponakannya tersebut.
“Aunty dulu juga seperti ini, sayang. Kamu hanya perlu rileks, hari ini adalah milikmu. InshaAllah semua akan berjalan dengan lancar,” aunty karin menangkan.
“Aku dulu juga sama. Malah sampai bolak balik ke kamar mandi,” imbuh aunty Alya.
Queena hanya tersenyum dan mengangguk, perasaannya hari itu campur aduk. Sulit untuk dirinya menggambarkan apa yang sedang dia rasakan saat itu.
Tidak berbeda dengan Queena, karena Arlo juga sama groginya. Saat itu Arlo duduk di kursi tiffani, kedua tangannya saling menggenggam diatas meja akrilik dengan table runner tipis berhiaskan vas kaca dengan bunga tulip segar. Di hadapannya duduk papa rega dan penghulu, di ujung kanan dan kiri meja duduk saksi nikah dari kedua belah pihak. Ada daddy Axel sebagai saksi dari pihak Queena, dan ada uncle Arya yang menggantikan ayah Arka sebagai saksi dari pihak Arlo.
“Sudah siap, nak Arlo?” tanya penghulu.
Arlo mengangguk. “Saya siap,” jawabnya.