Karin mengira semuanya telah berakhir saat tubuhnya terjatuh ke dasar jurang. Namun ketika membuka mata, ia justru kembali menjadi gadis berusia dua puluh tahun dan mendapati kedua orang tuanya masih hidup.
Kesempatan kedua itu membuatnya bersumpah mengubah takdir. Ia harus menyelamatkan keluarganya dan menghindari pernikahan dengan Giorgino, pria yang kelak menghancurkan hidupnya.
Demi menggagalkan rencana perjodohan, Karin nekat mengaku telah memiliki kekasih. Masalahnya, pria itu tidak pernah ada.
Dalam kepanikannya, hanya satu nama yang terlintas di benaknya—Kai, mahasiswa berandal yang dingin, cuek, dan terkenal sebagai badboy kampus.
Namun semakin dekat dengannya, Karin menyadari bahwa kehidupan keduanya ternyata menyimpan rahasia yang jauh lebih besar daripada sekadar kesempatan hidup kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batas Yang Mulai Terlihat
BAB 33
Pagi itu, Kai datang lebih awal dari biasanya. Ia memarkir motor di sisi gedung fakultas, lalu berjalan menuju ruang kelas sambil membawa beberapa buku. Udara masih cukup sejuk. Beberapa mahasiswa baru mulai berdatangan.
Baru beberapa langkah memasuki koridor, suara seseorang memanggilnya.
"Kai."
Kai menoleh.
Maureen berjalan mendekat.
"Pagi."
"Pagi."
Maureen tersenyum. Di tangannya terdapat dua gelas kopi.
"Aku beli satu untuk kamu."
Kai melihat gelas itu sebentar.
"Terima kasih, tapi aku nggak biasa minum kopi pagi."
Maureen terdiam sesaat, mengingat Kai pernah terlihat membelikan Karin kopi di pagi hari di kampus.
"Oh..."
Ia tetap mengulurkan gelas tersebut.
"Kalau begitu nanti saja diminum."
Kai menggeleng pelan.
"Nggak usah. Kamu saja."
Maureen menarik tangannya kembali. Ekspresinya sedikit berubah, tetapi ia segera tersenyum lagi.
"Belakangan kamu sibuk sekali."
"Biasa."
"Kerja, kuliah, tugas..."
Kai hanya mengangguk.
Maureen berjalan di sampingnya.
"Kamu nanti langsung ke bengkel?"
Kai melirik sekilas.
"Iya."
"Aku pernah lihat bengkel tempat kamu kerja."
Langkah Kai sedikit melambat.
"Kapan?"
Maureen tampak gugup sesaat.
"Oh... aku cuma pernah lewat."
Kai tidak menjawab. Ada sesuatu yang terasa aneh.
Beberapa waktu terakhir, Maureen terlalu sering mengetahui hal-hal tentang dirinya. Awalnya ia menganggap itu kebetulan. Tentang tugas, tentang jadwal, tentang bengkel, bahkan tentang kebiasaannya.
Namun semakin sering terjadi, semakin sulit bagi Kai menganggap semuanya sebagai kebetulan.
"Kamu sering memperhatikan aku?" tanyanya tiba-tiba.
Maureen terdiam.
"Apa?"
"Belakangan ini."
Nada suara Kai tetap tenang, tidak terdengar menuduh.
Maureen tersenyum kecil.
"Mungkin karena kita sering bertemu."
"Begitu?"
"Iya."
Kai mengangguk. Ia tidak melanjutkan pertanyaan. Namun sejak saat itu, ia mulai memperhatikan sesuatu yang sebelumnya tidak ia pikirkan bahwa Maureen memang semakin sering mencari kesempatan untuk berada di dekatnya.
-
-
-
Di dalam kelas, Karin duduk bersama Nia.
Sesekali pandangannya mengarah ke pintu kelas, sekadar melamun sambil menunggu dosen datang.
"Kamu lagi nunggu dosen ya?" tanya Nia.
"Nggak ada."
"Terus kenapa lihat pintu terus?"
Karin menggeleng.
"Nggak sadar."
Nia tersenyum jahil.
"Jangan bilang kamu nunggu seseorang."
Karin belum sempat menjawab ketika sosok Kai terlihat melintas di depan kelas, melewati koridor.
Seketika pandangan mereka bertemu dari arah pintu. Karin tersenyum kecil. Kai membalas dengan anggukan singkat sebelum terus berjalan.
Hal sederhana itu saja sudah cukup membuat Karin merasa tenang.
Nia memperhatikan mereka berdua bergantian.
"Ya ampun."
"Apa?"
"Kalian itu."
"Kami kenapa?"
"Sudahlah."
Nia kembali membuka bukunya sambil menahan senyum.
Karin hanya menggeleng.
Setelah itu, dosen datang. Dan perkuliahan pun di mulai.
Jam kuliah berjalan cukup padat. Ketika waktu istirahat tiba, sebagian mahasiswa keluar menuju kantin.
Karin baru saja berdiri ketika Kai menghampirinya.
"Makan?"
"Boleh."
Mereka berjalan bersama menuju kantin.
Nia yang melihat itu hanya mengangkat tangan.
"Aku sama Raka duluan."
Karin mengangguk.
Di tengah perjalanan, Kai berkata,
"Besok aku mungkin terlambat."
"Kenapa?"
"Pak Surya dapat banyak pekerjaan."
"Kamu nggak capek?"
"Capek."
Karin tersenyum.
"Tapi tetap berangkat?"
"Iya."
"Kenapa?"
Kai terdiam sebentar.
"Karena harus."
Karin menghela napas kecil.
"Kamu itu..."
"Apa?"
"Terlalu serius."
Kai tersenyum tipis.
"Kalau aku nggak serius, siapa yang mau bayar biaya hidup?"
Karin tidak bisa membantah. Ia hanya tersenyum.
Namun percakapan sederhana itu justru membuatnya semakin memahami Kai. Bukan karena Kai menceritakan banyak hal. Justru karena sedikit demi sedikit Karin melihat sendiri bagaimana pria itu menjalani kehidupannya.
-
-
-
Sore harinya, setelah kelas selesai, Kai berjalan menuju parkiran. Baru saja ia hendak mengenakan helm, Maureen kembali muncul.
"Kai."
Kai menoleh.
"Ada apa?"
"Besok kamu kerja?"
"Iya."
"Aku boleh ikut?"
Kai mengerutkan kening.
"Ke bengkel?"
"Iya."
"Untuk apa?"
Maureen tersenyum.
"Aku penasaran."
Kai terdiam.
"Kenapa penasaran?"
Maureen terlihat mencari alasan.
"Aku ingin tahu pekerjaanmu."
Kai menghela napas pelan.
"Maureen."
"Iya?"
"Kamu akhir-akhir ini terlalu sering bertanya tentang aku."
Senyum Maureen perlahan menghilang.
"Aku cuma ingin mengenalmu."
Kai menatapnya beberapa detik. Kalimat itu membuatnya semakin yakin. Bukan sekadar rasa ingin tahu, melainkan ada sesuatu yang berbeda dari cara Maureen memperlakukannya.
"Aku rasa nggak perlu."
Maureen tampak terkejut.
"Kenapa?"
"Aku nggak nyaman kalau seseorang terlalu mencampuri kehidupan pribadi."
Nada Kai tetap lembut, namun kali ini tegas.
Maureen terdiam. Untuk pertama kalinya ia merasa Kai benar-benar sedang memasang batas.
"Kamu pikir aku mengganggu?"
"Bukan begitu."
"Lalu?"
"Aku cuma ingin kita tetap biasa saja."
Maureen menatapnya cukup lama. Ia ingin membantah. Ingin mengatakan bahwa ia tidak sekadar ingin mengenal Kai.
Ia ingin lebih dekat. Bahkan lebih dari itu. Namun Maureen menahan semuanya.
"Baik."
Kai mengangguk.
"Terima kasih sudah mengerti."
Ia mengenakan helm. Namun sebelum pergi, Maureen kembali berkata,
"Kai."
"Hm?"
"Kalau suatu hari aku butuh kamu... kamu akan datang?"
Kai terdiam sesaat.
"Kalau memang penting."
Jawaban itu sederhana. Tetapi bagi Maureen, justru terdengar seperti sebuah harapan.
"Baik."
Kai kemudian pergi. Maureen berdiri sendirian di parkiran. Tatapannya mengikuti motor Kai sampai menghilang di balik gerbang.
Tangannya mengepal perlahan. Seharusnya ia berhenti. Seharusnya ia menjaga jarak. Namun yang muncul justru rasa takut kehilangan kesempatan.
"Aku sudah terlalu jauh..." Ia mengembuskan napas. "Dan aku nggak mau berhenti sekarang."
-
-
-
Malam harinya, Karin sedang mengerjakan tugas ketika ponselnya bergetar.
Pesan dari Kai.
Sudah makan?
Karin tersenyum.
Sudah. Kamu?
Beberapa saat kemudian balasan masuk.
Sudah. Jangan tidur terlalu malam.
Karin mengetik beberapa kata, lalu menghapusnya. Beberapa detik kemudian, ia kembali mengetik.
Kamu juga. Besok jangan terlalu capek.
Balasan Kai datang tidak lama kemudian.
Iya.
Karin tersenyum kecil sambil meletakkan ponselnya.
Di tempat lain, Kai juga menatap layar ponselnya beberapa saat sambil tersenyum tipis. Ia kemudian meletakkannya di meja.
Pikirannya kembali kepada Maureen. Ia tidak ingin salah memahami perempuan itu.
Namun satu hal sudah mulai jelas. Maureen bukan lagi sekadar seseorang yang kebetulan sering bertemu dengannya. Perempuan itu sedang berusaha mendekatinya. Dan Kai mulai merasa tidak nyaman.
Sementara itu, tanpa disadari Kai, Maureen duduk sendirian di kamarnya sambil membuka beberapa foto yang tersimpan di ponselnya.
Ada foto Kai di kampus. Ada foto Kai bersama teman-temannya. Bahkan ada beberapa foto yang diambil dari kejauhan.
Maureen menatap salah satunya cukup lama. Di foto itu, Kai sedang tersenyum kepada Karin.
Tatapannya berubah.
"Aku ingin kamu." Jarinya menggenggam ponsel semakin erat. "Kenapa harus Karin?"
Ia tahu sejak awal bahwa semua ini hanyalah bagian dari rencana Gio. Namun sekarang semuanya sudah berubah. Ia tidak lagi ingin sekadar membantu Gio membuat Karin ragu. Ia ingin mendapatkan Kai untuk dirinya sendiri.
Maureen sekarang rasa suka yang awalnya hanya pura-pura telah berubah menjadi keinginan untuk memiliki. Apa pun caranya.
-
-
-
Bersambung...