Bagi Aris dan ibunya, Tita adalah istri sempurna: kaya, penurut, dan sabar. Saat Tita divonis tak bisa memberi keturunan, mereka berlagak menerima dengan lapang dada. Padahal di belakangnya, Aris diam-diam menikah siri demi mendapatkan anak sambil terus menikmati kemewahan dari uang Tita.
Mereka pikir Tita bodoh. Padahal, Tita sudah tahu segalanya.
Tanpa air mata atau labrakan emosional, Tita tersenyum dingin. Ia mulai memutus aliran dana, merebut asetnya, dan menjebak bisnis Aris ke jurang utang.
"Kalian pikir bisa hidup mewah di atas penderitaanku? Mari kita lihat seberapa lama kalian bertahan tanpa sepeser pun uangku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SKENARIO KEHANCURAN UNTUK SUAMIKU
Suara denting sendok dan garpu yang beradu di atas piring porselen perlahan mulai surut. Jamuan makan siang di restoran fine dining kawasan Marina Bay itu menyisakan kepuasan dan piring-piring yang hampir bersih. Aroma teh krisan hangat menguar lembut, menemani suasana obrolan santai kami yang kian mencair.
Mama Felix mengusap bibirnya dengan serbet kain sebelum menatapku dengan tatapan penuh kehangatan.
"Tita..." panggil Mama Felix lembut, menyandarkan kedua lengannya di meja.
"Soal tempat tinggalmu selama di Singapura bagaimana? Tante dan Om tahu Olan memang punya rumah sendiri di sini, tapi..."
"Iya, Tita," timpal Papa Felix dengan nada suara bapak yang bijak. "Rumah Olan kan rumah bujangan. Walaupun ada asisten rumah tangga, pasti kurang nyaman buat kamu kalau harus mengurus segala sesuatunya sendiri di sana."
Belum sempat aku menjawab atau Kak Olan memprotes tentang rumah bujangannya yang selalu bersih, Valerie tiba-tiba memotong dengan nada antusias.
"Tita harus tinggal di rumah kita, Ma, Pa!" seru Valerie sembari menggenggam tanganku erat. "Pokoknya Tita nggak boleh nginep di rumah Kak Olan! Rumah kita kan luas banget, kamar tamu VIP di lantai dua juga sudah dihias cantik dari kemarin!"
Mama Felix langsung mengangguk cepat, wajahnya berbinar penuh persetujuan. "Aduh, bener banget kata Valerie! Tante sudah minta pelayan merapikan kamar khusus buat kamu, Tita. Ada balkonnya langsung menghadap ke taman belakang. Tante sengaja pilih sprei dan dekorasi warna pastel kesukaanmu."
"Tapi Tante..." panggilku sungkan, merasa tidak enak hati jika harus merepotkan. "Tita datang tiga hari lebih awal ini kan sebenarnya berniat membantu persiapan pernikahan Valerie. Nanti malah merepotkan Tante dan Om kalau Tita menumpang di sana."
"Sama sekali tidak merepotkan, Tita," sahut Papa Felix tegas namun ramah. "Kehadiranmu justru membuat rumah kami lebih ramai dan hangat."
Valerie menyandarkan kepalanya di bahuku dengan manja. "Iya, Tita! Walaupun semua vendor pernikahan dan wedding organizer sudah beres mengurus semuanya dari A sampai Z, aku tuh butuh temen ngobrol, temen food tasting, sama temen pijat spa sebelum hari H! Kalau Tita di rumah kita, kita kan bisa puas menghabiskan waktu berdua sebelum aku diboyong suamiku nanti!"
"Tuh, denger sendiri kan?" celetuk Kak Olan dari samping Ko Felix sembari menyeruput tehnya santai. "Mending kamu di rumah Felix aja, Ta. Daripada di rumah Kakak, ntar kamu bosen ngelihat muka Kakak terus tiap hari."
Ko Felix yang sejak tadi diam mendengarkan, merapikan posisi duduknya. Pria itu menatapku dengan binar mata yang tenang namun pasti.
"Menginaplah di rumah kami, Tita. Lebih aman dan nyaman buatmu. Ibu dan Valerie juga sangat senang kalau kamu ada di sana," ucap Ko Felix singkat dengan suara beratnya yang mantap.
Melihat antusiasme seluruh keluarga Tan yang begitu tulus menginginkan kehadiranku, rasa canggung di dadaku lumer seketika. Aku menatap Mama Felix dan Valerie bergantian lalu tersenyum lebar.
"Kalau begitu... Tita ikut menginap di rumah Tante dan Om ya. Terima kasih banyak," jawabku tulus.
"Huraayy!" jerit Valerie girang, melambaikan tangannya ke udara sampai-sampai Ko Felix menatap adiknya itu dengan gelengan kepala pasrah.
Di tengah perbincangan riang tentang persiapan gaun pengantin dan dekorasi pernikahan, sebuah keraguan kecil melintas di benakku. Aku mengingat beberapa tradisi pernikahan keluarga besar yang pernah kudengar sebelumnya.
Aku memajukan posisi dudukku sedikit, menatap Valerie dengan cermat.
"Val... aku mau tanya deh," bisikku pelan namun cukup terdengar oleh seluruh meja. "Bukannya biasanya calon pengantin perempuan itu ada masa pingitan ya? Memangnya kamu nggak dipingit sama sekali sama keluarga calon suamimu?"
Mendengar pertanyaanku, tawa Valerie langsung pecah. Bahkan Mama Felix dan Kak Olan ikut terkekeh geli.
"Aduh, Tita sayang..." Valerie mengibaskan tangannya santai. "Tradisi pingit-mempingit yang ketat banget begitu mah nggak berlaku di keluarga kita! Kita di sini pakai aturan yang bebas dan modern aja. Yang penting calon pengantin dijaga kesehatannya, nggak stres dan jangan kelayapan sendirian malam-malam."
"Betul itu, Tita," sambung Mama Felix tersenyum. "Yang penting menjelang pernikahan itu calon pengantinnya rileks. Papa dan Mama nggak mau membebani Valerie dengan aturan yang bikin stres. Makanya, kehadiranmu di rumah sangat membantu supaya Valerie ada teman mengobrol dan pikirannya tenang."
Aku mengangguk-angguk paham. Kebijakan dan kelonggaran berpikir keluarga Tan membuatku makin kagum. Sangat jauh berbeda dari tradisi keluarga Aris dulu yang penuh dengan tuntutan kaku, aturan sepihak, dan kepalsuan yang melilit.
Selesai makan siang, iring-iringan mobil membawa kami menuju kawasan perumahan elit di wilayah Bukit Timah salah satu kawasan paling eksklusif dan tenang di Singapura.
Mobil berbelok memasuki sebuah gerbang besi tempa berukir indah yang terbuka otomatis. Di balik gerbang tersebut, terhampar sebuah rumah mewah bergaya modern tropis berlantai tiga yang megah. Halaman depannya dihiasi rumput hijau yang terpangkas rapi, pepohonan rimbun, dan sebuah kolam renang berair jernih di sisi samping.
"Selamat datang di rumah, Tita!" seru Valerie saat mobil berhenti tepat di depan lobiteras utama.
Ko Felix lebih dulu turun dari mobil. Dengan sigap, pria tinggi berbadan tegap itu melangkah ke bagasi belakang dan dibantu oleh dua orang staf rumah tangga keluarga Tan untuk mengangkut seluruh koper-koper besarku.
"Bawa koper Tita ke kamar utama lantai dua ya," perintah Ko Felix tegas dan sopan kepada para stafnya.
"Baik, Tuan Felix," jawab staf tersebut penuh rasa hormat.
Aku melangkah masuk menyusuri lorong utama rumah. Interior dalamnya begitu menawan dengan paduan marmer putih, dinding kayu hangat, serta pencahayaan alami yang masuk melalui jendela-jendela kaca raksasa. Tidak ada kesan pamer atau berlebihan, melainkan kemewahan yang sangat berkelas dan menenangkan.
"Ayo, Tita! Aku anterin ke kamarmu!" ajak Valerie bersemangat, menarik lenganku menuju tangga melingkar.
Kami naik ke lantai dua. Valerie membuka sebuah pintu kayu jati tebal di ujung koridor. Begitu pintu terbuka, mataku langsung membelalak takjub.
Kamar itu sangat luas, dengan ranjang king size berbalut sprei warna rose gold dan krem lembut. Di sudut ruangan, ada area sofa santai, meja rias berlampu anggun, dan pintu kaca besar yang mengarah ke balkon pribadi. Dari atas balkon, pemandangan taman hijau dan gemericik air kolam renang di bawah terlihat begitu menyegarkan.
"Gimana, Tita? Suka nggak?" tanya Valerie penasaran.
"Val... ini bagus banget. Mewah banget," bisikku haru, meraba permukaan selimut yang begitu halus.
"Ini semua Ma sama Ko Felix yang nyiapin dari kemarin tahu!" bocor Valerie sembari mengedipkan matanya nakal. "Ko Felix bahkan sempet rewel minta ganti warna tirai biar nggak terlalu gelap buat kamu."
Pipi rasanya mendadak menghangat mendengar ucapan Valerie. Ko Felix yang terlihat dingin dan kaku dari luar itu ternyata memperhatikan detail sekecil ini demi kenyamananku.
Dari arah pintu, Ko Felix muncul membawa salah satu tas jinjing bahuku yang tertinggal di mobil. Pria itu berdiri di ambang pintu, menatapku dengan raut wajah tenangnya.
"Semuanya sudah sesuai, Tita? Kalau ada yang kurang atau butuh sesuatu, bilang padaku atau Valerie," ucap Ko Felix pelan.
Aku berbalik menatap Ko Felix, lalu menyunggingkan senyuman paling tulus yang kumiliki. "Semuanya sempurna, Ko Felix. Terima kasih banyak ya... buat Ko Felix, Tante, Om, dan Valerie."
Ko Felix menatap senyumanku selama beberapa detik. Tatapannya yang pekat melunak, dan sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat menawan.
"Sama-sama, Tita. Istirahatlah dulu, nanti malam kita makan malam bersama di rumah," jawab Ko Felix hangat sebelum berbalik dan melangkah pergi.
Aku mendudukkan diri di tepi ranjang empuk itu, memandangi buket bunga mawar peach di atas meja. Rasa damai yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhku. Di rumah ini, di antara orang-orang yang tulus menyayangiku, aku tahu bahwa hidupku yang baru telah benar-benar merekah indah.
boleh laa bonchap ny kak ,,
aku sll merasa dapat kejutan tamat 😥
ko udh tmat aja....krain msh puanjanggg crtanya....tp msih ada bonchap kn kk???
untng d sbelah ga ada orang....🤭🤭🤭
pepet trs ko,jgn smp d tkung cwok lain lg....😁😁😁