Miracle. menceritakan Ayyasy dan teman-temannya yang hanya siswa biasa melihat bintang jatuh yang jatuh ke arah gunung belakang komplek mereka. mereka menyentuh batu itu dan mendapatkan kekuatan. setelah mereka mendapatkan kekuatan, ancaman ancaman dari monster monster mulai berdatangan. mereka pun harus menjadi penjaga dunia.
bersamaan dengan itu, mereka juga mulai bertemu dengan pahlawan pahlawan dari kota lain yang memiliki nama tim yang sama yaitu, Miracle
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyasy Asy-Syaif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retakan Dari Empat Penjuru
Pagi di hari libur yang seharunya dipenuhi kedamaian seketika runtuh. Di dalam markas besar Miracle Zenith, sirine peringatan tingkat merah meraung dengan frekuensi yang belum pernah terdengar sebelumnya. Layar monitor utama yang dikendalikan Dimas dan Arunnaqa mendadak menyala merah membara, menampilkan empat sinyal darurat raksasa yang meletup secara bersamaan dari empat arah mata angin.
Seluruh anggota Miracle yang tadinya sedang menikmati suasana santai langsung bersiap dalam posisi tempur.
"Ayyasy! Ini buruk banget!" teriak Dimas sambil mengetik cepat di atas papan keyboard hologramnya. "Anomali kehampaan meletup serentak di Empat Kota! Sektor Inti Energi Kota Kosmik, Jaringan Server Utama Kota Cyber, Lumbung Elemen Kota Harvest, dan Pusat Logistik Kota Zenith... semuanya diserang gelombang energi asing!"
Arunnaqa membelalakkan mata melihat indikator pada layarnya. "Frekuensi energinya sama persis dengan Erebos! Musuh tidak menyasar sekolah kita lagi, tapi langsung menyerang kota asal kita masing-masing!"
Ayyasy dan Night melangkah cepat ke depan meja komando. Melihat peta hologram yang menampakkan empat kota asal mereka mulai terkepung oleh kabut hitam pekat, Ayyasy tersadar akan strategi licik musuh. Erebos sengaja memecah konsentrasi mereka agar mereka tidak bisa bertarung dalam satu barisan utuh.
"Erebos mau memisahkan kita," ujar Night dengan suara dingin dan tegas. Tangannya sudah menggenggam erat gagang pedang samurainya. "Kalau kita bergerak ke satu kota saja, tiga kota lainnya bakal hancur total."
Ayyasy mengepalkan kedua tangannya hingga Dragon Flame Aura keemasan bergetar hebat di sekujur tubuhnya. Sebagai ketua, ia tidak punya waktu untuk ragu.
"Kita terima tantangannya!" tegas Ayyasy dengan suara menggelegar, membakar semangat ke-31 rekannya. "Kita bagi tim sesuai dengan kota asal dan spesialisasi masing-masing! Jangan biarkan satu kota pun jatuh ke tangan Erebos!"
Dengan keputusan cepat, Ayyasy langsung membagi ke-32 pahlawan Miracle menjadi empat divisi tempur:
Tim Kota Zenith: Ayyasy, Night, Rehan, Arkan, Abzari, Azkailah, Sintia, dan Serafe.
Tim Kota Cyber: Arunnaqa, Dhafina, Vikka, Cinta, Gita, Delila, dan Delaya.
Tim Kota Harvest: Davi, Addhe, Nailu, Alya, Rahman, Ghani, Fadhil, Rava, dan Jessica.
Tim Kota Kosmik: Tasya, Tsalwa, Dimas, Nayla, Nayya, Ilham, Iyan, dan Ghofar.
"Dengar semuanya!" seru Ayyasy menatap seluruh anggotanya satu per satu. "Ini pertarungan terpisah pertama kita sejak SMA Perbatasan berdiri. Tapi ingat, di mana pun kita bertarung, kita tetap satu Miracle! Jaga diri kalian dan lindungi kota kita!"
"SIAP, KETUA!" sahut ke-31 anggota Miracle serempak.
Tasya dan Arunnaqa dengan cepat membuka empat jalur portal Black Hole dan enkripsi sihir ruang terpisah di tengah ruangan markas. Tanpa membuang waktu satu detik pun, keempat tim melangkah masuk ke dalam portal masing-masing, meluncur deras menuju pertempuran di kota mereka sendiri.
Kota Cyber: Jaringan Server Utama
Arunnaqa mendarat paling depan di atas plaza jaringan Kota Cyber, diikuti oleh Dhafina, Vikka, Cinta, Gita, Delila, dan Delaya. Pemandangan di kota futuristik ini sungguh mencekam. Menara-menara data raksasa yang biasanya memancarkan cahaya biru terang kini tertutup oleh distorsi petir hitam.
Di udara, Panglima Kehampaan pertama melayang seraya menebarkan gelombang distorsi frekuensi yang merusak seluruh teknologi kota.
"Semua jaringan komunikasi lokal lumpuh!" seru Arunnaqa seraya memusatkan sihir teknologinya untuk membentuk benteng siber. "Dhafina, Vikka, Gita! Ambil posisi dari kejauhan! Cinta, Delila, Delaya, lindungi inti server!"
"Serahkan pada kami, Naqa!" balas Gita seraya mengokang senjata sihir presisinya bersama Vikka, langsung menembakkan hujan peluru laser ke arah pasukan bayangan di udara.
Kota Harvest: Lumbung Elemen Utama
Di saat yang sama, Tim Kota Harvest mendarat di tengah padang lumbung elemen yang luas. Davi memimpin barisan bersama Addhe, Nailu, Alya, Rahman, Ghani, Fadhil, Rava, dan Jessica.
Panglima Kehampaan kedua—sosok raksasa bertubuh batuan kelam—sedang menghentakkan kakinya, menyerap energi sihir alami tanah dan tumbuhan hingga area pertanian emas Kota Harvest berubah menjadi tandus dan kehitaman.
"Jangan biarkan dia menyerap energi tanah lebih banyak lagi!" teriak Davi menghantamkan tanah, memicu dinding batu raksasa untuk menahan laju sang panglima.
"Gua sama Ghani bakal potong pergerakannya dari kiri!" seru Fadhil melompat maju bersama Ghani, sementara Rava dan Jessica memasang perisai berlian tebal untuk melindungi Addhe, Nailu, Alya, dan Rahman yang melancarkan serangan kombinasi sihir alam secara bertubi-tubi.
Kota Kosmik: Observatorium Inti Energi
Di Kota Kosmik, langit biru bertabur pendar bintang buatan kini diselimuti oleh pusaran gravitasi hitam yang liar. Panglima Kehampaan ketiga mencoba meremukkan inti observatorium utama.
Tasya, Tsalwa, Dimas, Nayla, Nayya, Ilham, Iyan, dan Ghofar bergerak cepat dalam formasi lingkaran.
"Gravitasinya kacau banget!" seru Ilham menahan dorongan angin yang kuat.
"Gua bakal kunci koordinat gravitasinya pakai sihir ruang!" balas Tasya memutar jarinya, menciptakan manipulasi ruang counter untuk menetralkan tekanan musuh.
Dimas dengan cepat menganalisis pola gerakan lawan lewat laptop Kosmik-nya. "Iyan, Ghofar! Serang bagian inti pusarannya pas Tasya sama Tsalwa buka celah!"
"Siap!" seru Iyan dan Ghofar kompak seraya melompat menembus gravitasi yang kacau, dibantu oleh tembakan sihir pendukung dari Nayla dan Nayya.
Kota Zenith: Pusat Logistik dan Pertahanan
Sementara itu, di pusat Kota Zenith, suasana tidak kalah membara. Ayyasy dan Night berdiri di garda paling depan, didampingi oleh Rehan, Arkan, Abzari, Azkailah, Sintia, dan Serafe.
Di hadapan mereka, Panglima Kehampaan keempat—sosok bayangan paling pekat yang membawa pedang kelam—melangkah perlahan keluar dari kobaran api hitam yang membakar area pertahanan kota.
"Kalian bertiga ambil barisan belakang!" komando Ayyasy kepada Sintia, Azkailah, dan Serafe. "Serafe jaga kondisi tim, Sintia bekukan pergerakan pasukan kroconya!"
"Siap, Ayyasy!" sahut Sintia langsung melepaskan gelombang proyektil es raksasa yang membekukan barisan bayangan kecil di sekitar mereka.
"Abzari, Arkan, Rehan! Tahan pertahanan garis tengah!" tambah Night dingin.
"Serahkan pada kami, Night!" seru Arkan dan Rehan serempak memicu benteng tanah, sementara Abzari melompat dengan serangan fisiknya yang cepat untuk menghancurkan musuh yang mencoba menerobos.
Ayyasy dan Night saling melirik singkat. Kobaran Dragon Flame Aura milik Ayyasy meletup membara hingga mencapai batas maksimal, menyatu dengan aura pedang samurai bayangan milik Night yang kian pekat.
"Tujuan Erebos mau memisahkan kita," gumam Ayyasy seraya mengunci tatapannya pada panglima musuh di depannya. "Tapi dia lupa... di mana pun kita bertarung, kekuatan Miracle gak bakal pernah berkurang!"
"Ayo selesaikan ini," balas Night singkat.
Dengan tekat yang tak tergoyahkan di empat penjuru kota yang berbeda, ke-32 pahlawan Miracle dari Empat Kota resmi memulai pertempuran sengit mereka demi mempertahankan tanah kelahiran mereka dari keancaman kehampaan Erebos.