Disebuah kerajaan bulan yang dihuni ribuan manusia Srigala. Disaat gerhana bulan merah, permaisuri Lira baru saja melahirkan seorang anak perempuan yang cantik namun tidak memiliki aura Srigala yang membuat sang Raja Argan harus membunuh anak kandungnya sendiri karena dianggap aib.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chinta Maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 032 : Cahaya di Balik Kabut Hitam
Seraphina melangkah masuk ke hutan larangan. Kabut hitam pekat segera menyelimutinya; pepohonan tua berakar raksasa seolah merentangkan dahan menghalangi jalannya. Angin dingin berdesis, membawa bisikan mengerikan, ribuan suara menyebut nama-nama asing.
Belum berjalan jauh, tiga sosok berjubah kelabu tua tiba-tiba melompat menghadangnya. Wajah mereka pucat, mata berkilat hijau beracun menatap tajam tanpa berkedip.
"Berhenti, gadis kecil. Kamu tak boleh melintasi hutan kami," ucap penyihir pertama dengan suara serak. Ia Morgus, pemimpin mereka bertiga.
Seraphina berhenti, tangannya mengepal erat. "Minggir. Aku tak bermusuhan, tapi datang untuk mengakhiri penderitaan yang kalian tebarkan di Kerajaan Bulan Perak."
Vorka, penyihir kedua, tertawa melengking hingga telinga perih. "Ha ha ha! Bodoh sekali! Kau kira kekuatanmu bisa melawan kami? Wabah di kerajaannmu baru permulaan! Air minum dan tanah pertanianmu sudah kami racuni!"
Zorvath, penyihir ketiga, melangkah maju, telapak tangannya memancarkan asap hitam berbau busuk. "Serahkan dirimu sekarang… Mungkin Tuanku berkenan menjadikanmu pelayan, bukan debu yang terbang tertiup angin!"
Seraphina menatap mereka tajam, tak bergeming. "Kalian menyakiti rakyatku, mencemari sumber air, dan menuruti kebencian tuan kalian yang tak berperasaan. Itu bukan kekuatan, melainkan pengecut, menyerang mereka yang tak berdaya!"
Morgus mengamuk, mengangkat tongkat beracun berujung hijau berkilau dan mengarahkannya ke dada Seraphina. "Kurang ajar! Rasakan kutukan kabut ini, kau akan lumpuh dan tak bisa bergerak sedikit pun!"
Morgus melambaikan tangan, asap hitam melesat bagaikan panah ke arah Seraphina. Ia hendak melompat menghindar, namun asap itu berbelok arah, mengepungnya rapat seolah punya kehendak sendiri. Napasnya berat, pandangannya kabur, tubuhnya melemah seolah tenaganya disedot habis.
Seraphina berusaha bertahan, dadanya sesak. "Apa… ini sihir mematikan…"
Di saat itu, liontin perak pemberian Nazar tiba-tiba bersinar terang. Cahaya putih keperakan yang hangat memancar, mendorong asap hitam mundur hingga lenyap seketika. Kekuatan baru mengalir deras ke seluruh tubuh Seraphina, membawa kehangatan dan harapan.
Seraphina menatap tajam, berdiri tegak kembali. "Lihatlah! Cahaya tak bisa ditelan kegelapan, kebenaran takkan pernah kalah oleh kejahatan!"
Vorka terkejut mundur selangkah, matanya terbelalak. "Cahaya… dari Liontin Pelindung Kuno? Bagaimana bisa ia memilikinya? Benda itu sudah hilang ratusan tahun lalu!"
Seraphina melangkah maju, suaranya bergema di sela pepohonan. "Pergilah dan biarkan aku menemui Tuanmu, atau cahaya ini akan melenyapkan sihir gelap kalian serta membebaskan jiwamu dari belenggu kegelapan!"
Ketiga penyihir saling pandang, ragu. Cahaya liontin makin terang, tubuh mereka terasa terbakar perih seperti disentuh api yang tak terpadamkan.
Morgus meringis menahan sakit. "Sihir pelindung kuno… Kekuatan ini tak bisa kami lawan… Tuanku tak pernah memberi tahu kami soal ini…"
"Aku tak bermaksud menyakiti kalian," ucap Seraphina tegas namun tenang. "Mundurlah sekarang. Sampaikan pada tuanmu, aku datang untuk mengakhiri segalanya, dan tak ada yang bisa menghalangiku!"
Ketiga penyihir itu akhirnya mundur perlahan, lenyap dalam kabut sambil merapalkan kutukan yang makin lemah hingga hilang. Jalan kini terbuka menuju pusat hutan, tempat cahaya merah samar berpendar di sanalah Elara bersembunyi.
Seraphina menatap ke depan, tangan menyentuh liontin perak di dadanya. "Aku datang. Dan kali ini, kau takkan bisa lari dari kesalahanmu. Semua penderitaan harus berakhir hari ini."
Ia melangkah mantap, semakin dalam menuju sarang sihir gelap itu, siap menghadapi segalanya.