Lianna "Lia" Souw punya satu rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun.
Sejak kecil, tubuhnya mengeluarkan wangi manis setiap kali ia kenyang — warisan ramuan turun-temurun dari neneknya. Wangi yang membuatnya terlalu "mengundang", terlalu berbahaya. Maka Lia belajar satu hal: **menahan lapar, menyembunyikan wanginya, dan tidak menarik perhatian siapa pun.**
Kabur dari ayah yang nyaris menjualnya demi melunasi utang, Lia mendarat di rumah megah Keluarga Wijaya di PIK — jadi pembantu tinggal-dalam yang memasak masakan rumahan dan mengurus cucu kesayangan Popo. Rencananya sederhana: kerja diam-diam, kumpulkan uang, lalu pergi.
Sampai ia bertemu **Sebastian Wijaya.**
Tuan muda keluarga konglomerat itu dingin, menahan diri, tak tersentuh — seperti puncak salju yang tak pernah mencair. Semua wanita ia tolak. Sampai malam itu, saat wangi manis Lia menguar di udara… dan pertahanan diri yang selama ini jadi kebanggaannya **retak untuk pertama kalinya.**
"Mulai sekarang," bisiknya rendah, mengurung Lia di antara dirinya dan pintu, "kamu hanya boleh makan sampai kenyang… di depanku."
Lia pikir ia hanya perlu bertahan sampai cukup uang untuk pergi. Ia tidak pernah menyangka pria sedingin es itu akan menuliskan rumah dan seluruh hartanya atas namanya, melepas mahkota pewaris demi merangkak naik dari nol bersamanya, dan berkata pada seluruh dunia dengan mata paling lembut:
*"Istriku manja. Memang harus dimanja."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Bab 32: Saling Membuka Luka Lama
Sepulang dari ruko, Lia meminta Sebastian berhenti di sebuah warung kopi terbuka dekat pantai.
Robby memilih meja lain beberapa meter jauhnya. Lia dan Sebastian duduk di sudut yang menghadap laut kelabu, ditemani dua cangkir teh dan suara kendaraan dari jalan.
“Saya belum menceritakan semuanya,” kata Lia.
Sebastian menunggu tanpa mendesak.
“Soal tubuh saya.”
“Kamu tidak wajib menjelaskan kalau belum siap.”
“Saya mau Sebas tahu dari saya, bukan menebak.”
Lia merapatkan kardigan. Angin sore dingin, tetapi telapak tangannya berkeringat.
“Waktu kecil saya sering sakit. Demam, batuk, susah makan. Popo Hwa membuat ramuan dari resep keluarga. Saya minum lama sekali, mungkin bertahun-tahun.”
Ia menceritakan yang ia ketahui. Setelah tubuhnya membaik, berat badannya naik dan kulitnya menjadi lebih hangat setiap kali kenyang. Pada masa remaja, aroma buah manis mulai muncul dari tubuh, terutama setelah makan banyak atau mandi air panas.
“Popo Hwa bilang itu bukan penyakit,” kata Lia. “Katanya cuma perubahan tubuh setelah lama minum jamu. Tapi saya belum pernah mendapat penjelasan lengkap soal bahan atau dampak jangka panjang.”
Sebastian mengerutkan kening. “Kamu pernah diperiksa dokter?”
“Pemeriksaan biasa. Gula darah dan tekanan normal. Saya tidak berani bilang soal aromanya.”
“Kenapa?”
“Takut ditertawakan atau dianggap aneh. Papa pernah bilang kalau calon suami tahu tubuh saya seperti ini, dia bisa meminta uang lebih banyak.”
Rahang Sebastian mengeras.
“Saya mulai sengaja lapar supaya aroma berkurang. Lama-lama saya percaya tubuh ini masalah.”
“Tubuhmu bukan masalah.”
“Sebas suka karena wanginya.”
“Saya suka wanginya,” ia mengakui. “Tapi kalau besok aroma itu hilang, saya tetap memilihmu.”
Mata Lia terasa panas.
“Suatu hari saya ingin bertanya lagi kepada Popo Hwa,” katanya. “Saya ingin tahu apa sebenarnya ramuan itu dan apakah benar tidak berbahaya.”
“Saya ikut kalau kamu mau.”
“Bukan untuk menginterogasi Popo.”
“Untuk mendengar.”
Lia mengangguk. Kebenaran penuh tetap berada di Singkawang, tetapi untuk pertama kalinya ia tidak perlu mencarinya sendirian.
“Sekarang giliran Sebas,” katanya.
Sebastian memandang laut. “Hidup saya tidak seburuk hidupmu.”
“Luka tidak harus dilombakan.”
Kalimat itu membuatnya tersenyum tipis.
“Sejak kecil saya disiapkan menjadi orang yang melanjutkan usaha keluarga. Sekolah, jurusan, teman, bahkan meja tempat saya duduk dalam acara bisnis dipilih berdasarkan kegunaan.”
Saat remaja, Sebastian pernah mendapat tawaran pertukaran belajar bidang desain bangunan yang sangat ia inginkan. Hendra menolaknya karena sekolah tujuan tidak memiliki jaringan bisnis yang dianggap cukup berguna. Sebagai gantinya, Sebastian dikirim ke program lain bersama anak-anak mitra keluarga.
“Saya tetap belajar banyak,” katanya. “Tapi saya ingat perasaan ketika sesuatu yang saya inginkan dianggap tidak relevan karena tidak menguntungkan nama keluarga.”
“Makanya Sebas selalu memberi saya pilihan?”
“Saya sedang berusaha tidak mengulang cara mereka.”
“Mereka tetap menyayangi Sebas.”
“Saya tahu. Mama mengingat semua kebutuhan saya, Papa mempercayakan proyek besar. Cinta mereka nyata. Hanya saja cinta bisa terasa sempit kalau selalu datang bersama rancangan hidup.”
Lia memahami. Herman menggunakan utang untuk merampas pilihannya. Keluarga Wijaya menggunakan fasilitas dan nama baik. Bentuknya berbeda, tetapi keduanya bisa membuat seseorang lupa suara sendiri.
“Sebas tidak pernah menolak?”
“Saya pikir menerima adalah cara menjaga rumah tetap tenang.”
Ia bercerita tentang Hendra yang mengajarinya membaca laporan proyek sebelum cukup umur memahami permainan, Cornelia yang memilihkan lingkaran pergaulan, dan setiap pencapaian yang dianggap kewajiban, bukan pilihan.
“Saya suka pekerjaan saya,” katanya. “Saya memang suka bangunan, tanah, dan angka. Tapi saya tidak suka ketika pernikahan dipakai untuk melengkapi struktur bisnis.”
“Jessica?”
“Mama sedang mengatur agar kami lebih sering bertemu.”
“Sebas akan menolak?”
“Saya sudah menolak, tapi Mama menganggap saya hanya belum memberi kesempatan.”
“Kalau dipaksa bertemu?”
“Saya tidak akan mempermalukan Jessica. Dia bukan musuh. Saya akan mengatakan tidak tertarik.”
“Dan tentang saya?”
Sebastian berpikir sejenak. “Saya tidak akan memakai namamu sebagai alasan sebelum kita siap menghadapi akibat. Tapi saya juga tidak akan memberi harapan kepadanya.”
Lia lega mendengar Jessica tidak akan dijadikan perempuan jahat hanya karena keluarga mendorongnya.
Lia menahan napas. “Jessica tahu soal saya?”
“Belum. Keluarga juga belum tahu kita resmi.”
“Kalau dia baik dan cocok dengan keluarga?”
“Tetap bukan kamu.”
“Sebas bisa kehilangan banyak.”
“Saya sedang menyiapkan supaya tidak bergantung pada apa yang bisa mereka ambil.”
Sebastian menjelaskan bahwa proyek Nara memberinya pengalaman dan jaringan pribadi, meski saat ini masih berada di bawah lingkup pekerjaan keluarga. Ia mulai memisahkan hasil kerja yang benar-benar dibangun olehnya dari fasilitas yang hanya diberikan nama Wijaya.
“Saya belum akan bertindak gegabah,” katanya. “Tapi saya punya rencana.”
“Rencana apa?”
“Membangun sesuatu yang berdiri tanpa pernikahan bisnis.”
“Dengan nama Nara?”
“Nara sekarang masih nama proyek yang saya tangani, bukan perusahaan saya.” Sebastian menegaskan. “Kalau suatu hari saya berdiri sendiri, saya mungkin mempertahankan semangatnya, bukan mengambil aset atau nama milik keluarga.”
“Kenapa Nara?”
“Karena artinya dekat dengan manusia. Saya ingin membangun tempat yang dipakai orang hidup, bukan sekadar angka di laporan.”
Lia tersenyum. “Terdengar seperti mimpi besar.”
“Mimpi besar dimulai dari satu klien dan satu meja sewaan.”
“Sama seperti toko saya dimulai dari satu baju?”
“Tepat.”
Lia menyentuh cangkir. “Seperti saya ingin punya toko atas nama sendiri.”
“Ya. Kita berdua perlu kaki sendiri.”
Mereka saling memandang, menyadari kesamaan yang sebelumnya tersembunyi. Lia pernah direndahkan karena tidak punya nama. Sebastian justru terperangkap oleh nama yang terlalu besar.
“Ada hal lain yang harus saya akui,” kata Sebastian.
Ia menceritakan penyelidikan Robby tentang Herman, batas legal yang digunakan, dan salinan bukti uang muka pernikahan terbaru. Wajah Lia perlahan memucat.
“Sebas tahu sebelum saya cerita di mobil?”
“Iya.”
“Kenapa diam?”
“Saya pikir sedang melindungimu sampai bukti lengkap.”
“Tapi itu hidup saya.”
“Saya salah.”
Lia berdiri dan berjalan ke pagar warung. Amarah serta rasa dikhianati bercampur. Sebastian tidak mengejar. Ia tetap di kursi, memberi jarak.
Beberapa menit kemudian, Lia kembali.
“Apa Herman diawasi sekarang?”
“Hanya informasi ancaman yang masuk secara legal. Tidak ada orang mengikuti terus-menerus.”
“Mulai sekarang, semua kabar tentang Papa diberitahukan kepada saya.”
“Setuju.”
“Saya yang memutuskan kapan merespons.”
“Setuju.”
“Kalau dia datang, jangan langsung bayar utangnya.”
“Saya tidak akan membayar.”
Lia duduk kembali. “Saya masih marah.”
“Kamu berhak.”
“Tapi terima kasih akhirnya jujur.”
Sebastian mengulurkan tangan di atas meja, tidak menyentuh sampai Lia meletakkan tangannya sendiri.
“Rumah yang kita bicarakan tadi,” katanya, “kalau suatu hari kita punya, namamu akan ada di sana. Bukan sebagai tamu dan bukan sebagai rahasia.”
Lia menggenggam jarinya. “Jangan janjikan terlalu jauh.”
“Baik. Untuk sekarang, saya janji satu hal saja. Saya tidak akan lagi menyimpan bahaya yang menyangkut hidupmu atas nama perlindungan.”
Matahari tenggelam di balik gedung. Teh mereka sudah dingin, tetapi tangan keduanya tetap bertaut.
Di atas meja, dua masa lalu yang berbeda akhirnya tidak lagi berdiri sebagai tembok. Mereka berubah menjadi peta tentang apa yang tidak ingin dibangun kembali.