Indonesia
NovelToon NovelToon
Aetherist: Takdir Para Terpilih

Aetherist: Takdir Para Terpilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:335
Nilai: 5
Nama Author: seravya

Dahulu sekali, saat dunia ini hanya sebuah dataran luas, para makhluk yang menghuninya bertarung demi sebuah kekuasaan. Satu di antaranya adalah manusia—kaum yang paling lemah.

Pernahkah kalian mendengar tentang para manusia pengendali elemen? Aetherist, begitulah mereka dipanggil.

Berabad-abad lalu sejak para Aetherist pertama berhasil menyelamatkan manusia dan membentengi wilayah mereka dengan Aetherwall. Kini, ancaman dari kegelapan mulai menyeruak keluar.

Para Aetherist muda kini dihadapkan pada tantangan dari sang Penguasa Kehampaan. Perang besar pertama dan terbesar yang pernah mereka hadapi.

Petualangan penuh keajaiban, tekad, semangat, luka, air mata, juga cinta menanti mereka. Kehadiran makhluk lain yang entah menjadi sekutu atau musuh—Elf, Mermaid, Vampire, hingga Werewolf.

Akankah para Aetherist muda ini mampu memimpin umat manusia lepas dari kehampaan, atau justru membawa kehancuran bagi peradaban?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seravya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Jangan lagi

^^^"A-Airyn?! Airyn, itu kau?!"^^^

Sosok pria di dalam layar proyeksi hologram terpampang jelas di hadapan Airyn. Itu Kaelen—sang paman yang tidak ditemuinya selama beberapa hari terakhir.

Penampilan sang raja terlihat agak berantakan dengan kumis halus dan janggut tipis yang mulai tumbuh memenuhi rahangnya.

"Paman!" seru Airyn berbinar gembira saat akhirnya bisa melihat wajah sang paman lagi.

^^^"Huhu... Ke mana saja kau, Airyn?! Tidak memberi kabar sama sekali... Kau sudah lupa dengan pamanmu yang malang ini?!"^^^

keluh Kaelen dramatis seraya mendekatkan wajahnya ke permukaan cermin meja rias Airyn di Tidebay.

"Haduh... Paman, maafkan aku! Aku benar-benar lupa," ujar Airyn jujur, meringis karena memang sibuk dengan rutinitas barunya.

^^^"Hiks... Keponakanku sudah tidak sayang lagi padaku..."^^^

Kaelen sengaja memasang raut mengenas agar Airyn makin didera rasa bersalah. Dan tentu saja, taktik itu sukses membuat Airyn makin kelimpungan menenangkan sang paman.

Kaelen mendongakkan wajahnya. Tatapannya tak sengaja bertumpu pada sosok Teira yang berdiri tenang di belakang Airyn.

^^^"Ehem! Siapa pemuda di belakangmu itu?!"^^^

pangkas Kaelen cepat, seketika mengubah raut wajahnya menjadi tegas dan penuh selidik. Teira yang ditunjuk hanya sanggup menyunggingkan senyum canggung menghadapi tatapan protektif sang Raja Tidebay.

"Ah! Ini Teira, dia juga seorang Aetherist dari Voltara," terang Airyn memperkenalkan temannya.

^^^"Oh... Dia tidak jahat atau bertindak tidak sopan padamu, kan?"^^^

desak Kaelen curiga.

Teira di belakang Airyn sebenarnya sudah pasrah jika gadis itu menjelek-jelekkan perangainya di depan sang paman.

"Tentu saja tidak, Paman! Dia sangat baik. Teira yang meminjamkan alat canggih ini agar aku bisa menghubungi Paman," bela Airyn hangat.

Mendengar pujian tulus itu, wajah Teira mendadak memerah canggung. Pemuda bersurai ungu itu buru-buru memalingkan badan dan bergeser menjauh agar Airyn bisa leluasa mengobrol dengan pamannya.

Airyn bercerita panjang lebar malam itu—mulai dari megahnya Kota Asteria di bawah tanah, kelas fisik pagi yang menyiksa, hingga pengalaman belajarnya bersama murid-murid biasa di akademi.

"Minggu depan akan ada Turnamen Duel Fisik antar-Aetherist, Paman," pangkas Airyn membagikan keresahannya.

^^^"Oh ya? Siapa lawanmu?"^^^

"Emery, Aetherist logam. Postur tubuhnya tegap dan berotot, aku sungguh ragu bisa menang darinya," keluh Airyn memasang wajah lesu.

^^^"Jangan terlalu dibebani pikiran, Airyn. Lakukan saja yang terbaik. Yang paling penting, jangan sampai kau terluka. Jaga dirimu baik-baik,"^^^

pesan Kaelen lembut. Pria itu tidak memedulikan apakah Airyn akan menang atau tidak; keselamatan dan kesehatan keponakannya adalah prioritas utama.

"Iya, Paman, aku paham. Sudah dulu ya, semakin malam aku takut kesiangan besok," pamit Airyn seraya bersiap menutup sambungan.

^^^"Rajin-rajinlah mengontakku!"^^^

pinta Kaelen di penghujung transmisi sebelum pendar proyeksi lenyap.

Airyn mengedarkan pandangannya ke sekeliling perpustakaan yang sunyi. Teira rupanya sudah merebahkan tubuhnya di atas salah satu sofa panjang tak jauh dari sana. Airyn melangkah mendekat, meletakkan bola kristal di meja sebelah Teira.

"Terima kasih banyak ya," bisik Airyn lembut. Gadis itu lalu merebahkan tubuhnya di sofa panjang lainnya di seberang Teira untuk tidur.

"Gadis ini benar-benar tidak aman untuk kesehatan jantungku..." gumam Teira dalam hati. Rupanya ia masih terjaga saat Airyn perlahan terlelap.

"Ugh..."

Airyn terbangun saat rasa setruman halus yang menggelitik kulit merayapi lengannya. Teira sudah berdiri tak jauh di sampingnya.

"Kau menyetrumku?!" pekik Airyn, bergerak berniat memukuli pemuda itu. Pantas saja Snow murka saat dibangunkan dengan metode ini—rasa kebasnya benar-benar menyengat!

Namun, Teira dengan cepat meletakkan telunjuk di bibirnya, memberi isyarat agar Airyn bungkam. Derap langkah kaki teratur mendadak terdengar dari balik lorong rak perpustakaan.

Keduanya bergegas memutarkan badan, bersembunyi di balik barisan rak buku yang tinggi. Perlahan mereka mengendap mendekati pintu keluar yang ternyata sudah terbuka sedikit. Mungkinkah pengawas perpustakaan sudah datang sepagi ini?

Teira menyambar pergelangan tangan Airyn dan menariknya keluar dari ruangan, tepat saat mata gadis itu menangkap sekelebat jubah hitam yang melintas di antara jajaran rak buku.

"Untung saja kita tidak ketahuan..." gumam Airyn saat mereka berhasil keluar dan menaiki tangga menuju lorong asrama.

"Siapa sosok berjubah itu tadi?" tanya Airyn saat mereka tiba di lantai tiga.

"Aku tidak tahu. Mungkin saja staf pengawas perpustakaan," sahut Teira yang juga tidak dapat memastikan identitas sosok tersebut.

"Jam berapa sekarang?"

Teira merogoh jam saku dari balik kemejanya. "Hampir jam empat pagi. Sebentar lagi latihan fisik dimulai."

"Aku akan bersiap," pangkas Airyn melangkah menuju lorong asrama putri.

"Tunggu sebentar." Teira meraih pergelangan tangan Airyn, menghentikan langkah gadis itu. Airyn menoleh bingung.

"Ini." Teira menyerahkan sesuatu ke jemari Airyn.

Airyn tersentak kaget mendapati bola kristal komunikasi yang semalam mereka gunakan kini berada di genggamannya.

"Ambillah. Kau jauh lebih membutuhkannya ketimbang aku," ujar Teira memalingkan wajah, rona merah tipis menghiasi kedua pipinya yang tersembunyi dibalik gelapnya lorong.

Dada Airyn dihinggapi rasa haru yang membuncah. Ia melangkah maju berniat memeluk Teira sebagai ungkapan terima kasih, namun pemuda itu dengan sigap melompat mundur menghindar.

"J-jangan terlalu percaya diri! Anggap saja itu barang pinjaman!" cetus Teira gelagapan.

Airyn menyunggingkan senyum hangat melihat kepanikan pemuda di hadapannya. "Aku sangat menghargainya. Terima kasih banyak, Teira."

Melihat senyuman tulus Airyn, secara refleks tangan Teira terangkat dan mengelus lembut puncak kepala Airyn.

"Yakk! Singkirkan tanganmu!" pekik Airyn refleks menghindar, takut rambutnya diacak-acak lagi.

Teira yang baru tersadar dari aksinya seketika berbalik cepat dan melangkah pergi dengan gerakan kaku.

"Hei! Kau mau ke mana?" panggil Airyn.

"Berganti pakaian!" sahutnya singkat.

Sebelum Airyn sempat bertanya di mana pemuda itu akan berganti pakaian, Teira sudah melesat hilang dengan kecepatannya.

Airyn seketika teringat—mungkinkah pemuda bersurai ungu itu menjadikan area perpustakaan sebagai tempat tinggal rahasianya?

Airyn buru-buru kembali ke kamar. Saat melintasi lorong, ia berusaha mengontrol napasnya dan memutar kenop pintu kamar dengan sangat perlahan.

"Kau sudah bangun, Airyn?"

Suara itu membuat Airyn tersentak kaget di ambang pintu. Emery baru saja melangkah keluar dari kamarnya seraya meregangkan otot.

"H-halo, Emery..." balas Airyn gelagapan.

Mati aku! Harus jawab apa kalau dia bertanya macam-macam?! Tak mungkin aku mengaku habis terkunci di perpustakaan bersama Teira semalaman!

"Oh, ganti bajumu dan bangunkan Flora ya," ujar Emery santai sebelum berbalik menuju kamarnya sendiri untuk membangunkan Stella.

Airyn menghembuskan napas lega yang panjang. Ia masuk ke kamar, mendapati Flora yang masih terbuai di alam mimpi. Airyn membangunkan sahabatnya dengan lembut, lalu keduanya bergegas mengenakan seragam olahraga untuk menghadapi rutinitas pemanasan fisik pagi bersama Profesor Ignatius.

Usai sesi maraton pagi yang menguras seluruh tenaga, Airyn terduduk lemas di bangku kantin. Bawah kakinya terasa sangat pegal. Flora dan William di sampingnya pun memancarkan raut lelah yang sama. Hanya Emery yang tampak masih bugar bertenaga.

Sementara itu, Teira menduduki meja terpisah di sudut kantin, enggan berbaur dengan Aetherist lainnya. Airyn memperhatikan pemuda itu dari kejauhan—Teira sama sekali tidak memancarkan tanda-tanda kelelahan. Airyn yakin pemuda itu telah memanfaatkan kemampuan gerakan secepat kilatnya saat berlari tadi tanpa disadari oleh murid-murid lainnya.

Usai menyantap sarapan, para Aetherist muda menghadiri kelas teori pagi gabungan bersama murid akademi. Pembelajaran berjalan lancar hingga siang hari, di mana mereka kembali memasuki ruang rahasia yang kini mereka sebut sebagai 'Ruang Putih'.

Sesi kelas siang diisi penuh oleh Profesor Seraphina dengan membedah isi naskah kuno. Pembelajaran teori yang monoton itu terasa sangat membosankan, membuat beberapa murid—termasuk Airyn—berjuang keras menahan kantuk.

Sore harinya, karena jam makan malam masih cukup lama, Airyn, Flora, dan William memutuskan untuk singgah ke perpustakaan akademi. Airyn masih gigih berburu naskah teknik bertarung untuk membantunya menghadapi Emery.

"Oh, kau masih berburu buku teknik pertarungan fisik?"

Sebuah suara mendadak menyela. Teira tahu-tahu sudah menarik kursi dan bergabung di meja baca mereka.

"Loh? Bagaimana Teira bisa tahu kau sedang mencari buku itu, Airyn?" tanya William heran mendapati kehadiran Teira yang tiba-tiba.

"Oh, itu karena..." Teira baru akan membuka suara.

"Aku kemarin sore sudah sempat menyusuri lorong buku ini dan tidak sengaja berpapasan dengan Teira!" potong Airyn cepat, mendahului penjelasan Teira sebelum pemuda itu membeberkan insiden terkunci semalaman.

Teira hanya menyunggingkan senyum miring tanpa membantah, sementara William menatap keduanya dengan sorot mata penuh curiga.

1
Sheila
omo
Sheila
mampus
Sheila
Gedek banget
Sheila
Oh, my...
Sheila
lucu banget lagii
Nizam Rayna
pada suatu hari ada hidup binatang rusa dia sedang berjalan di
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!