Alesya Seraphina dijatuhi hukuman seumur hidup setelah dituduh membunuh sahabatnya secara brutal. Bukti video menunjukkan dirinya sebagai pelaku, tetapi Alesya sama sekali tidak mengingat kejadian itu.
Di ADX Florence, penjara paling mematikan, ia justru bertemu kembali dengan Kael Jendral Kanagara—sahabat masa lalunya yang kini menjadi ketua mafia paling ditakuti.
Kael tidak tahu sisi berbahaya Alesya. Alesya pun tidak tahu alasan Kael berada di sana.
Di balik dinding penjara, rahasia, pengkhianatan, dan cinta berbahaya mulai terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @_Mastura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SETELAH DARAH DAN API
Peluru melesat ke segala arah.
Suara tembakan menggema di setiap sudut ADX Florence, memantul dari dinding-dinding beton yang selama bertahun-tahun menjadi saksi bisu kehidupan para penghuninya.
Kini, semuanya telah berubah menjadi neraka.
Bercak darah menghiasi lantai. Tubuh para narapidana dan sipir bergelimpangan tanpa nyawa. Tidak ada lagi teriakan. Tidak ada lagi permohonan. Tidak ada lagi suara langkah kaki yang tergesa-gesa.
Hanya keheningan yang tersisa.
Dari sekian banyak manusia yang sebelumnya memenuhi tempat itu, kini hanya lima orang yang masih berdiri.
Namun...
Masih ada satu orang lagi.
Seorang wanita hamil.
Wanita yang beberapa waktu lalu pernah diselamatkan Alesya.
Ia terduduk di lantai dengan tubuh gemetar. Air matanya mengalir deras, sementara kedua tangannya melindungi perutnya yang membesar.
"Tolong... jangan bunuh aku."
Suaranya nyaris tidak terdengar.
"Kasihan anakku..."
Jessica menatap wanita itu dengan malas. Bukan karena tidak melihat ketakutannya, tetapi karena keadaan mereka tidak lagi memungkinkan untuk membawa siapa pun.
"Kami nggak punya waktu buat mengurusmu."
Alesya terdiam.
Tatapannya beralih kepada Kael.
"Kita bantu aja, yaaa..." suaranya melembut. "Kasihan anaknya."
Kael tidak menjawab.
Hanya beberapa detik kemudian, pria itu berkata dingin,
"Kita nggak bisa mengambil risiko."
"Tapi kan—"
"Alesya."
Nada suara Kael sedikit meninggi.
Alesya langsung terdiam. Tatapannya berubah tajam menatap pria di hadapannya.
"Tapi dia sedang mengandung."
"Itu bukan urusan kita."
Kael menatap lurus ke arahnya.
"Kita cuma bisa menyelamatkan diri kita sendiri."
"Tapi—"
DOR!
Satu suara tembakan memecah udara.
Semuanya tersentak.
Wanita itu jatuh seketika.
Darren berdiri beberapa langkah dari mereka dengan pistol masih terarah ke depan. Wajahnya datar, seolah apa yang baru saja terjadi bukanlah sesuatu yang perlu dipikirkan.
Alesya membeku.
Tatapannya perlahan turun kepada tubuh wanita itu.
Lalu kembali terangkat, Menatap Darren. Beberapa detik berlalu tanpa suara.
"Kau gila."
Alesya hendak melangkah maju, tetapi Kael langsung menahan pinggang nya.
"Apa yang dia lakukan benar."
Alesya menoleh tajam.
"Benar?"
"Kita nggak bisa membawa orang lebih banyak daripada yang mampu kita lindungi."
Suara Kael tetap dingin.
Dante yang sejak tadi diam akhirnya ikut bersuara.
"Ini ADX."
Tatapannya menyapu tempat yang kini dipenuhi mayat.
"Orang-orang yang berakhir di sini bukan karena setelah berbuat baik"
Ia berhenti sejenak.
"Mereka hanya ingin belas kasihan."
Dante kemudian menarik lengan Jessica.
"Ayo."
Jessica tidak berkata apa-apa. Ia mengikuti langkah Dante meninggalkan ruangan. Seharusnya mereka sudah pergi sejak tadi. Namun adegan singkat itu membuat langkah mereka tertunda.
Darren pun berbalik.
Bukan mengikuti Dante.
Ia justru berjalan menuju ruangan bawah tanah.
Alesya masih berdiri di tempatnya. Matanya kembali tertuju kepada wanita yang terbaring tak bergerak di lantai. Wajahnya menyimpan kesedihan yang tidak mampu ia sembunyikan.
Alesya kemudian merapatkan kedua tangannya di depan dada. Seperti seseorang yang sedang berdoa.
"Beristirahatlah dengan tenang..."
Suaranya lirih.
"Aku nggak bisa mendoakanmu untuk terlahir kembali."
Setelah itu, Alesya berdiri.
Ia menatap Kael.
"Ayo."
Gadis itu berjalan lebih dahulu.
Kael hanya diam.
Kemudian mengikuti langkahnya.
Ruang Bawah Tanah
Reana duduk sendirian di atas sebuah kursi.
Tubuhnya meringkuk. Kedua lututnya ia tekuk di atas dudukan kursi, sementara kedua tangannya memeluk kaki sendiri.
Pikirannya tidak tenang.
Meski berada jauh dari pusat kekacauan, suara tembakan masih terdengar samar dari kejauhan.
DOR!
DOR!
Setiap suara membuat jantungnya berdegup lebih cepat.
"Semoga aja kalian nggak kenapa-kenapa..."
Bisiknya.
Namun kegelisahan itu perlahan menghilang ketika terdengar suara pintu besi terbuka.
KREEEK...
Darren muncul dari balik pintu.
Reana langsung bangkit.
"Darren!"
Tanpa berpikir panjang, ia berlari dan menghambur ke dalam pelukan pria itu.
Darren sempat terdiam.
Kemudian kedua tangannya perlahan membalas pelukan tersebut.
Reana memeluknya erat.
Rasa khawatir yang sejak tadi menumpuk seakan runtuh begitu saja.
Gadis itu mendongak.
"Semua baik-baik aja, kan?"
Darren hanya mengangguk pelan. Ada luka kecil di wajahnya. Darah tipis mengalir dari pelipisnya. Namun pria itu bahkan tidak memperdulikannya.
Ia justru menundukkan kepala dan mengecup singkat dahi Reana.
"Ayo pergi."
Darren kemudian melepaskan pakaian luarnya dan menyampirkannya pada tubuh Reana. Sebelum gadis itu sempat bertanya, Darren sudah mengangkat tubuhnya ke dalam gendongan.
"Darren... aku bisa jalan sendiri."
"Di luar banyak darah dan mayat."
Tatapan Darren turun kepadanya.
"Jangan sampai kaki kamu kotor."
Reana terdiam.
Ia kemudian mengalungkan kedua tangannya ke leher Darren.
Tidak membantah lagi.
Mereka berjalan melewati koridor.
Koridor yang sebelumnya dipenuhi manusia kini berubah menjadi lautan kematian. Mayat para narapidana dan sipir tergeletak di sepanjang jalan.
Reana menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher Darren.
Ia tidak ingin melihat.
"Jangan dilihat."
Suara Darren terdengar pelan.
Berbeda dari biasanya, Ada kelembutan yang hanya muncul ketika ia berbicara kepada Reana.
Darren terus berjalan.
Membawanya keluar dari tempat itu.
Mereka akhirnya sampai di luar, matahari hampir menjulang keluar.
Jauh dari bangunan ADX Florence.
Keenam orang itu berdiri di sebuah tempat terbuka, memandangi bangunan penjara yang sebentar lagi hanya akan menjadi kenangan.
Dante berdiri beberapa langkah di depan mereka.
Sebuah alat kendali berada di tangannya.
"Aku ledakkan sekarang."
Kael hanya mengangguk.
Dante menekan tombol.
Satu detik.
Dua detik.
Kemudian—
DUAR!
Ledakan pertama mengguncang tanah.
Api menjulang tinggi.
DUAR!
Ledakan kedua menyusul dengan kekuatan yang lebih besar.
Bangunan ADX Florence runtuh perlahan.
Dinding beton yang selama ini berdiri kokoh akhirnya menyerah pada kehancuran. Debu dan asap membubung ke udara, Satu demi satu bangunan ambruk. Menelan segala sesuatu yang tertinggal di dalamnya.
ADX Florence...
Kini hanya menjadi puing-puing.
Alesya memandangi kehancuran itu dalam diam.
Lalu tiba-tiba ia mengembuskan napas panjang.
"Akhirnya bebas..."
Suaranya terdengar seperti seseorang yang baru saja melepaskan beban bertahun-tahun dari dadanya. Jessica ikut mengembuskan napas lega. Tangannya kemudian bergelayut pada lengan Dante.
Pria itu hanya melirik sekilas.
Tidak mengatakan apa-apa.
Di sisi lain, Reana berdiri di samping Darren.
Pria itu menatapnya cukup lama.
Reana hanya membalas dengan senyum kecil.
Senyum yang mengatakan bahwa untuk pertama kalinya setelah sekian lama...
Mereka benar-benar berhasil keluar.
Namun sebelum suasana itu berlangsung lebih lama—
"Ayo."
Suara Kael tiba-tiba terdengar.
Alesya menoleh.
Kael sudah berdiri di sampingnya. Tanpa banyak bicara, tangan pria itu meraih tangan Alesya. Jari-jari mereka bertaut. Alesya sempat menatap tangan mereka, Kemudian menatap Kael.
Pria itu tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya mulai berjalan. Menuju sebuah danau yang terbentang tidak jauh dari sana.
Alesya akhirnya mengikuti.
Di belakang mereka, ADX Florence terus runtuh dalam kepulan asap.
Dan untuk pertama kalinya...
Tidak ada lagi dinding.
Tidak ada lagi jeruji.
Tidak ada lagi pintu besi yang mengurung mereka.
Hanya jalan panjang yang terbentang di hadapan mereka.
Namun mereka semua tahu—
kebebasan bukanlah akhir dari cerita.
Itu hanyalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.
***