Indonesia
NovelToon NovelToon
Suami Kredit

Suami Kredit

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Nikah Kontrak / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: Desau

Jangankan barang, bahkan suami pun bisa dibayar kredit!

Ya, itulah yang dialami Tia. Dia nekat membayar seorang lelaki tampan bernama Sam untuk dijadikan suaminya. Namun karena uang Tia belum cukup, dia terpaksa meminta pembayaran sistem kredit. Bagaimana kocaknya kisah cinta mereka?

"Gaji saya cuma staf admin biasa, Mas. Jadi... tiga juta itu mau saya bayar secara kredit. Cicilan sepuluh kali, tiga ratus ribu per bulan, bunga nol persen. Bagaimana?" - Tiana Anjani.

"Hah?! Mbak bercanda ya?!" - Sam alias Samsudin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 32 - Tak Bisa Mengelak Lagi

Mobil sedan mewah itu akhirnya berhenti mulus di lobi privat sebuah shopping mall paling eksklusif di pusat kota. Tempat yang biasanya dipenuhi pengunjung berbusana glamor itu kini tampak lengang dan dijaga ketat. Manajer butik Chanel bersama tiga orang staf senior bahkan sudah berdiri berbaris di depan pintu kaca yang sengaja dibuka khusus, membungkuk penuh hormat saat pintu Rolls-Royce dibukakan oleh Hendra.

Tia menapakkan kakinya ke atas lantai marmer butik yang mengilap bagaikan cermin. Kepala staf admin yang baru kemarin meratapi nasib di-PHK itu mendadak pusing. Aroma parfum kelas atas dan kilatan pencahayaan warm-white di dalam butik seolah menegaskan bahwa tempat ini bukan ranah rakyat jelata.

"Selamat malam, Bapak, Ibu. Selamat datang," sapa Manajer Butik dengan senyum paling ramah yang sanggup diukirnya. "Seluruh koleksi limited edition terbaru kami dari Paris sudah disiapkan khusus untuk Ibu."

Tia melirik Sam yang berjalan santai di sampingnya. Pria tegap itu masih mengenakan kaus oblong abu-abu dan jins pudar, namun melangkah dengan ketenangan luar biasa yang memancar alami. Aura percaya diri Samsudin membuat pakaian sederhananya malah terlihat bagaikan gaya gaya eccentric-chic ala miliarder yang sedang bersantai.

'Oke, Samsudin... kita lihat sampai mana akting kaya raya kamu ini,' batin Tia mencoba memasang kembali benteng gengsinya, walau lututnya sudah agak gemetaran.

Tia melangkah menuju etalase kaca paling depan. Matanya tertuju pada sebuah tas tangan berbahan quilted lambskin warna hitam dengan rantai berlapis emas 24 karat dan logo ikonik ganda yang berkilau mewah. Tia tahu betul tas ini, tas klasik yang daftar tunggunya di internet bisa mencapai berbulan-bulan dan harganya setara dengan nilai tiga unit sepeda motor matik baru!

"Aku mau yang ini," tunjuk Tia tegas, membusungkan dadanya dan menatap Sam dengan pandangan menantang. "Bisa dibayar sekarang, Mas CEO? Atau mau minta waktu buat telepon bank dulu?"

Manajer butik dengan sigap mengangkat tas tersebut menggunakan sarung tangan kain putih yang halus, memperlihatkannya dengan sangat hati-hati. "Pilihan yang sangat luar biasa, Ibu Tia. Ini adalah Chanel Classic Double Flap Bag dengan aksen hardware emas terbaru. Harganya seratus lima puluh lima juta rupiah."

Tia menelan ludah yang terasa sekeras batu. Seratus lima puluh lima juta rupiah! Angka yang cukup untuk melunasi utang pinjol lima jutanya sebanyak tiga puluh kali lipat! Tia memiringkan kepalanya, menanti kejutan saat Sam mendadak memegangi perutnya alibi mulas atau pura-pura lupa membawa dompet.

Namun, reaksi Sam justru jauh di luar ekspektasi Tia.

Sam sama sekali tidak membelalakkan mata. Pria itu bahkan tidak berkedip. Sam hanya menatap tas itu sejenak, mengamati bahan kulitnya, lalu melirik lembut ke arah Tia yang sedang memasang wajah sok menantang.

"Cuma satu, Mbak?" tanya Sam polos tanpa beban sedikit pun.

Tia melongo kaku. "A-apa?! Cuma satu kamu bilang?!"

Sam membuang napas pelan, merengkuh bahu Tia dengan lengan kekarnya, lalu menoleh ke arah Manajer Butik. "Mbak Manajer, tolong tambahkan tas tote bag bahan caviar leather yang warna krem itu, lalu sepatu heels hitam berlogo emas ukuran 38, sama dua gaun malam sutra yang ada di manekin sana. Sekalian dimasukkan ke dalam bil."

Mulut Tia menganga lebar sampai rasanya mau lepas dari engselnya! "S-Samsudin! Kamu gila ya?! Itu totalsnya bisa sampai setengah miliar!" bisik Tia histeris, menarik kaus oblong Sam kencang-kencang sampai pria itu oleng sedikit. "Jangan kebangetan melawaknya! Nanti kalau kartu kreditmu ditolak, kita bisa dipenjara gara-gara penipuan!"

Sam tertawa pelan, menggenggam jemari Tia yang gemetaran di atas kausnya. "Tenang saja, Mbak Tia. Tidak bakal ada yang dipenjara malam ini."

Tanpa perlu mengeluarkan dompet lusuhnya, Sam cukup memberi isyarat mata singkat pada Hendra. Hendra melangkah maju dengan tenang, mengeluarkan sebuah kartu tebal berwarna hitam pekat tanpa batas limit (Black Card) dari dalam dompet kulitnya, lalu menyerahkannya kepada kasir.

Bip.

Mesin EDC berbunyi halus. Struk transaksi sepanjang lengan orang dewasa tercetak mulus dalam hitungan detik.

"Transaksi berhasil, Bapak Samsudin. Terima kasih banyak atas kunjungannya," ujar kasir dengan bungkukan hormat setinggi sembilan puluh derajat. Empat orang staf butik dengan sigap membungkus barang-barang mewah itu ke dalam kotak-kotak hitam besar berpita putih yang tampak sangat megah.

Tia berdiri membatu di tengah butik mewah tersebut. Pandangannya kosong menatap tumpukan kantong belanja bertuliskan Chanel yang dibopong oleh para pengawal pribadi menuju mobil.

Tidak ada penipuan. Tidak ada kartu kredit ditolak. Tidak ada alibi mulas.

Setengah miliar rupiah melayang hanya dalam waktu lima menit tanpa membuat alis suami kreditnya terangkat sedikit pun.

Seluruh dinding keraguan, alibi denial, dan gengsi tinggi yang dibangun Tia selama tiga puluh lima tahun hidupnya resmi runtuh tak berbekas detik itu juga. Realita menghantam kepalanya dengan kekuatan penuh, Samsudin mantan pawang buaya muara yang disewanya dengan sistem cicilan lima ratus ribu per bulan dan diajak berinvestasi gerobak cilok bakar itu... ternyata benar-benar seorang miliarder kaya raya!

"M-Mas Sam..." bisik Tia dengan suara mencicit paling rapuh yang pernah didengar Sam. Pandangan matanya perlahan naik menatap wajah tegap suaminya.

"Iya, Mbak Tia?" sahut Sam lembut, menyunggingkan senyum manis yang memperlihatkan lesung pipinya.

"Kamu... kamu beneran kaya raya..." gagap Tia, matanya berkedip-kedip kaku bagaikan boneka rusak. "Kamu bukan pengangguran... Kamu bukan pawang buaya miskin lagi..."

Sam tertawa renyah, merangkul pinggang Tia dan membimbing istrinya melangkah keluar dari butik menuju lobi.

"Kan aku sudah bilang dari tadi di kontrakan, Mbak Tia," goda Sam seraya berbisik tepat di telinga Tia yang merona merah. "Aku ini Direktur Utama Norman Corp. Mbak Tia saja yang tidak mau percaya dan malah menuduh aku melawak."

Tia menutup wajahnya yang membara panas dengan kedua telapak tangannya. Rasa malu yang luar biasa dahsyat mendadak membakar seluruh tubuhnya sampai ke ujung kaki.

Ia teringat betapa percaya dirinya ia menangisi nasib PHK di meja makan, betapa bersemangatnya ia membuat draf rencana jualan cilok bakar pedas manis, dan betapa sok pahlawannya ia berjanji akan menopang hidup Sam yang dikira sesama pengangguran!

"Aaaaakh! Samsudin! Malu banget!" teriak Tia tertahan dari balik telapak tangannya, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Sam saat mereka berjalan menuju mobil. "Kenapa kamu tidak tegaskan dari awal sih?! Aku kan jadi kelihatan konyol banget di depanmu!"

Sam terkekeh puas, melingkarkan lengannya hangat memeluk tubuh ramping istrinya. Didekapnya wanita yang kini resmi pasrah dan memercayai seluruh jati dirinya itu dengan rasa penuh cinta.

"Tidak konyol kok, Mbak..." bisik Sam penuh kehangatan saat pintu Rolls-Royce ditutup rapat oleh Hendra. "Justru ketulusan Mbak Tia yang mau berjuang dari nol sama aku kemarin... yang bikin aku makin yakin kalau Mbak Tia adalah wanita terbaik yang dikirim Tuhan buat aku."

Tia perlahan menurunkan tangannya dari wajah, menatap mata tajam Sam di dalam keremangan mobil mewah yang melaju tenang. Tidak ada lagi keraguan, tidak ada lagi kontrak sewaan lima ratus ribu, dan tidak ada lagi kepalsuan.

1
Rommy Wasini Khumaidi
wah...sultan pulang kampung
Faidah Ida
jujur tentang Tia jg Sam sama ibumu....
Ardan
tunjukan pesona mu bang 😄👍
Rommy Wasini Khumaidi
pamer dong sama Nia,buruan tlp Nia,bilang suaminya CEO,trs habis dibeliin tas,sepatu sama gaun seharga setengah milyar
Ardan
beuuhhh duhai senang hati mbak tia,
adiknya memuji suami,
penasaran ntar as acara perkenalan sang CEO, hebohnya gimana tuh 😄
Ardan
duh mustinya bilang ikut untuk mendampingi dong, greget juga nih udah jadi menantu yg diangkat derajatnya oleh harta mertua, kok ga ada empati sih mbak 😌
Arin
Biar tuh pada bengong Tia dan calonnya melihat siapa pemilik perusahaan dia bekerja
Arin
Mas Sam adalah real pewaris yang menyamar🤣🤣🤣🤣😁😁😁😁
Ass Yfa
masih mikirin pinjol...mb Tia pinjolmu udah lunas dari awal
Ass Yfa
kok bentar lagi tamat....yg manis2 aja belum🤭🤭...masih mngglnya mbk lagi😄😄
Arin
Sudah saatnya Tia bahagia. Biarpun dari awal cuman niat nikah kontrak dengan sistem kredit🤭🤭🤭. Demi bungkam mulut saudara-saudaranya. Malah dapat pewaris kaya raya...
Ardan
sedih sih novel bagus kalo udahan, padahal bab nya baru dikit.
Faidah Ida
jgan mengada2 ya thor, no tamat yah, masih mau liat bucin akutnya Sam ke Tia
Dewi kunti
yaaaaahhh mosok Ndak tamat thor
Maya
melongo melongo dah tuh si Tia. jadi org kaya kamu Tia.😄
Anonim
ibunya Tia sama tantenya apa nanti gak pingsan tau menantunya triyulner
Arin
Bagaikan dapat durian runtuh Mba Tia nikah dengan Mas Sam😁. Nikah yang awalnya hanya tuntutan karena sudah berumur. Malah ternyata dapat sang pewaris perusahaan besar
Faidah Ida
atw bucin akut....
Ass Yfa
mau bukti apalagi Tia...sok..mas Sam tunjukkan
Ardan
tenang sam, akan tiba saatnya pada waktu yang tepat untuk sosok sang milyuner muncul dihadapan mba tia👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!